Skip to content

Sejarah Jam Tangan Swiss: dari Perhiasan, Fashion Hingga Kotak Musik

Selama berabad-abad, Swiss sangat dikenal dengan industri jam tangannya. Padahal, ketika Eropa mulai melakukan pencatatan waktu secara mekanis pada abad ke-14, Swiss masih tertinggal jauh di belakang.

resized_650x365_origimage_560770

Pembuatan jam tangan dimulai di Swiss ketika para pemberontak Huguenot memindahkan pabrik alat pencatat waktu portabel ke Jenewa pada pertengahan kedua abad ke-16. Pada waktu itu, Jenewa merupakan ibukota kaum Calvin yang sangat ramai.

Alternatif selain perhiasan

Salah satu penyokong utama kesejahteraan ekonomi Jenewa adalah para perajin perhiasan. Di bawah aturan ketat kaum Calvin, yang melarang orang-orang memamerkan kekayaan, para warga dilarang memakai perhiasan. Aturan ketat itu pun mendorong para perajin untuk membuat “barang-barang” baru yang dapat menunjukkan keterampilan mereka—mereka pun menemukan cara pembuatan jam tangan. Industri ini menciptakan keahlian baru, jam tangan kemudian diekspor ke Asia dan koloni-koloni Amerika.

Menyebar ke Seantero Swiss

Awalnya, inovasi dan produksi jam tangan hanya ada di Jenewa. Tidak lama kemudian, industri baru ini menyebar melintasi pegunungan Jura ke daerah-daerah lain. Pada abad ke-17, semua keluarga di distrik Neuchatel bekerja di pabrik pembuatan jam, kebanyakan membuat jam saku dan instrumen-instrumennya. Pada 1800-an, Neuchatel mulai memproduksi jam pendulum, yang kelak bakal menyaingi jam-jam pendulum buatan Paris yang sudah berdiri selama beberapa dekade. Pada abad ke-19, industri pembuatan jam telah menyebar ke distrik-distrik di wilayah Soloturn dan Bern. Pada 1890, separuh dari jam-jam tangan dan komponen lainnya yang diekspor oleh Swiss diproduksi di Saint-Imier (Bernese Jura), the Franches-Montagnes, Ajoi dan Bel. Di akhir abad tersebut, industri pembuatan jam tangan Swiss telah merambah ke Basle dan Schaffhaussen.

Swiss menjadi negara produsen jam tangan

Industri jam tangan Swiss terus bersinar selama abad ke-19. Pada pertengahan abad itu, Swiss menggeser posisi Inggris sebagai produsen jam tangan dunia nomor satu. Kompetitor serius pertama industri jam tangan Swiss muncul pada pertengahan kedua abad ke-19, ketika industri manufaktur jam tangan Amerika Serikat mulai memproduksi komponen-komponen jam tangan secara massal. Komponen-komponen tersebut begitu simpel sehingga bisa digunakan untuk berbagai model jam tangan. Dampaknya bagi industri jam tangan Swiss sangat mengerikan: dalam sepuluh tahun, ekspor jam tangan Swiss ke Amerika Serikat menurun drastic hingga 75%. Ini merupakan pukulan telak bagi industri jam tangan Swiss. Mereka kemudian merespon perubahan pasar tersebut dengan beralih ke industri massal komponen-komponen mekanik jam tangan yang akurat.

Inovasi

Pada awal abad ke-20, produsen jam tangan Swiss menambahkan fitur-fitur baru pada jam-jam buatan mereka seperti kalender dan fungsi stop watch dengan tujuan untuk mengembalikan daya saing produk-produk mereka. Pada 1920-an, Rolex untuk pertama kalinya memperkenalkan jam tangan anti air, sementara pada 1926 di Grenchen, distrik bagian wilayah Solothurn, jam tangan otomatis pertama di dunia dibuat. Inovasi-inovasi menakjubkan dalam hal mekanika dan produksi ini melambungkan industri jam tangan lokal Swiss kembali. Para produsen jam tangan Swiss bergairah lagi, dan selama beberapa dekade berikutnya menguasai peringkat-peringkat tertinggi dalam dunia industri jam tangan dunia.

Kesempatan yang terlewatkan

Revolusi terbesar dalam industri jam tangan dunia pada abad ke-20 dipelopori oleh Swiss dengan penemuan jam quartz. Meskipun jam quartz pertama dikembangkan di Centre Electronique Horloger (CEH-Centre for Electronic Watches) di Nauchatel pada 1967, perusahaan-perusahaan jam tangan Swiss melewatkan kesempatan untuk meraup keuntungan besar dari penemuan revolusioner itu. Penemuan tersebut dilupakan dan diabaikan saja. Justru, penemuan itu dikembangkan oleh Jepang dan Amerika Serikat yang membuat dua negara itu menjadi yang terdepan dalam inovasi produk jam tangan mereka, sedangkan Swiss justru membatasi diri mereka sendiri untuk maju. Perkembangan jam tangan quartz mendorong berkurangnya permintaan terhadap jam tangan tradisional dan, pada pertengahan1970-an, industri jam tangan Swiss terancam bangkrut.

Swatch dan titik balik

Industri jam tangan Swiss kembali ke posisi puncak di pasar global—dikarenakan oleh kebetulan yang tak terlalu disukai: seorang penasehat ekonomi memakai jam tangan Swiss yang elegan—sejak itu, jam tangan Swiss seolah terlahir kembali sebagai aksesoris fashion dan gaya hidup. Swatch, jam tangan quartz analog, kombinasi antara kualitas tinggi dengan harga murah, pertama kali diperkenalkan ke publik pada 1983. Swatch pun menyelamatkan pasar jam tangan Swiss dan melambungkan kembali industri jam tangan nasional. Tiga puluh tahun setelah krisis, konversi produksi jam tangan Swiss (dari sekadar penunjuk waktu menjadi aksesoris fashion) menandai kisah suksesnya dan industri jam tangan sekali lagi menjadi sektor perekonomian yang paling menjanjikan bagi Swiss.

Watch Valley

Jika di Amerika Serikat ada Silicon Valley, di Swiss ada Watch Valley. Selama lebih dari satu abad, 90% produksi jam tangan Swiss berpusat di Jura Arc. Daerah ini kini dikenal sebagai Watch Valley—Tanah Presisi. Rute situs-situs budaya berupa pabrik pembuatan jam sepanjang 200 km dibuka pada awal abad ke-21. Terdapat 38 tempat di sepanjang rute ini, mulai dari ziarah ke pabrik-pabrik kuno dan tradisional hingga pabrik-pabrik jam tangan top dunia dan museum-museum khusus, di mana berbagai rahasia seputar jam tangan dibeberkan dan karya-karya besar unik dipamerkan. Apa pun seputar alat penunjuk waktu dapat ditemui di sini—jam tangan, jam dinding, jam saku, jam meja, dan chime (denting jam). Pembuatan jam adalah tema utama dari tour tersebut, namun wilayah yang memiliki kekayaan tradisi dan budaya ini juga menawarkan keindahan alam. Berkebalikan dengan tema tour-nya tentang mesin penunjuk waktu, daerah ini memiliki latar yang sangat indah yang membuat para turis bisa lupa waktu. Danau, pegunungan, kebun-kebun anggur, dan pedesaan yang permai mengundang anda untuk bersantai-santai.

Alat-alat Mesin

Tidak hanya pembuatan jam, namun sejumlah pabrik alat produksi juga ada di Watch Valley—dan semuanya masih berfungsi. Beberapa pabrik ini menjadi perusahaan top dunia dalam industri produk-produk niche khusus. Misalnya, Vallorbe di distrik Vaud yang bangga dengan nama mereka karena menjadi ibukota dunia alat pengatur presisi jam, atau Moutier di distrik Jura yang telah dikenal sejak 1880 sebagi produsen mesin bubut otomatis dengan kepala pasak otomatis—sebuah penemuan yang merevolusi industri pembuatan jam.

Kotak Musik dan Mesin Musik

Sejarah pembuatan jam tangan terkait erat dengan perkembangan instrumen-instrumen musik mekanis. Pengetahuan tentang cara menyatukan puzzle potongan waktu yang rumit diadopsi dalam teknologi lain demi mewujudkan mimpi manusia membuat mesin asisten otomatis. Oleh karena itu, misalnya, Jaquet-Droz bersaudara dan para asistennya membuat tiga android (semacam robot yang menyerupai manusia) di 1770, yang diperkenalkan ke publik pada 1774. Kesuksesan itu seharusnya luar biasa. Sebuah media kontemporer menyebutkan bahwa waktu itu orang-orang berbondong-bondong ke sana, kebun-kebun dan alun-alun penuh dengan decak kagum. Selama lebih dari satu abad, android-android itu berkeliling Eropa dan dipertontonkan dengan tiket masuk.

Pada awal 1796, pembuat jam Jenewa, Antoine Favre dari Geneva Societe des Arts memperkenalkan kotak musik: sebuah alat pemutar musik gaya baru yang “memainkan dua nada dan meniru suara mandolin, yang disatukan di bagian bawah dari kotak seukuran bungkus rokok.” Penemuan Favre itu bekerja berdasarkan roller yang berputar dengan pin-pin yang menancap pada piringan baja tipis. Pabrik kotak musik di Jenewa dan Vallee de Joux kemudian bermunculan. Mereka berasal dari perusahaan-perusahaan pembuat jam dan perhiasan. Industri kotak musik lalu berkembang menjadi sektor independen di mana saat itu kotak musik begitu digemari. Mereka mengembangkan struktur, lapisan kayu,ukiran, dan pahatan yang rumit untuk memberikan kesan mewah pada produk mereka.

Pada pertengahan kedua abad ke-19, industri kotak musik di Jenewa, Vallee de Joux, Sainte-Croix dan seluruh Jura mencapai puncaknya. Para produsen kotak musik sukses dengan cepat dan menjadi bos-bos besar di wilayah itu. Kotak musik berevolusi menjadi sebuah keahlian baru dan menandai kesuksesan ekspor bagi perekonomian Swiss yang membentuk gambaran tentang Swiss yang modern dan inovatif.

Artikel di atas disadur dari artikel berjudul “Watchmaking–on the cutting edge of time”

sumber: http://www.myswitzerland.com

Fenomena Xiaomi dan Kebangkitan Industri Nasional

Sebelumnya saya tidak akan pernah tahu bahwa Xiaomi adalah brand produk smartphone terbaru yang saat ini sedang booming, terutama di Asia, jika tidak mendengar celetukan adik saya. Waktu itu dia bilang bahwa daripada membeli handphone Samsung second, lebih baik beli handphone Xiaomi.

“HP apan tuh?” tanya saya karena memang merk itu samar-samar pernah saya dengar.

“HP China tapi kualitasnya setara dengan Iphone dan Samsung. Harganya lebih murah lagi.”

Saya tak terlalu percaya, tetapi akhirnya penasaran juga. Dulu pernah booming juga produk smartphone berkualitas bagus asal China, yakni Oppo. Di kala produk-produk sejenis asal China membanting harganya, Oppo dengan percaya dirinya membandrol produk mereka setara merk-merk konvensional lain yang sudah berdiri kokoh dalam pasar ponsel pintar. Isu yang berkembang kemudian bahwa Oppo mengalami kemunduran kualitas, entah benar atau tidak, tetapi banyak yang menyebutkan bahwa kuliitasnya tidak sebaik ketika pertama kali muncul di pasar.

Hari ini saya membaca sebuah artikel di Tempo.co tentang Xiaomi yang merangsek ke tangga teratas pangsa pasar ponsel pintar. Dalam artikel itu disebutkan bahwa Xiaomi kini merupakan pembuat smartphone terbesar ketiga di dunia. Menurut riset IDC terbaru, posisi itu sebagian besar karena keberhasilan penjualan ponsel high-end MI4. Ini merupakan pertama kalinya Xiaomi masuk ke dalam daftar lima produsen smartphone IDC.

Xiaomi memang menyematkan fitur-fitur canggih dalam produknya. Keunggulan tersebut masih didukung oleh harga jualnya yang lebih murah dibandingkan merk tenama seperti Iphone dan Samsung. Produk terbaru mereka, yakni MI4 menawarkan layar lebar 5 inci, resolusi 1.920 x 1.080 piksel. Prosesornya Snapdragon 801 2.5 gigahertz dengan RAM 3 gb. Jenis chipset tersebut kini menjadi yang tercepat untuk kategori perangkat bergerak. Kamera utamanya beresolusi 13 mp dan kamera depannya 8mp!!

Sistem operasi yang digunakan Xiaomi adalah MIUI5, modifikasi dari platform Android. MIUI adalah platform yang mendukung aplikasi lokal yang dapat disesuikan di setiap negara. Dengan segala kecanggihan fiturnya itu, Mi4 dengan kapasitas memori 16 gb dibanderol US$ 320 atau sekitar Rp 3,7 juta saja!!

Tentu menggiurkan sekali bukan dengan harga yang relatif murah konsumen bisa mendapatkan ponsel pintar kelas premium. Bandingkan jika konsumen ingin memiliki ponsel terbaru besutan Samsung atau Iphone, berapa dana yang harus disiapkan?

Di Indonesia, Xiaomi belum lama diperkenalkan ke publik. Mereka baru masuk ke pasar Indonesia pada Agustus kemarin dengan cara menggaet salah satu toko online besar untuk melayani pre-order produk mereka. Indonesia memang selalu menjadi pasar yang menggiurkan bagi produsen ponsel pintar. Anak-anak muda kita kini sangat melek teknologi dan internet meskipun memang masih sebatas sebagai konsumen. Perang harga di antara para produsen smartphone, terutama produk China, tentu semakin menyenangkan konsumen.

Strategi yang dipakai oleh perusahaan yang baru berdiri pada 2010 ini adalah marketing via internet murni. Mereka mampu memangkas ongkos distribusi dan iklan konvensional yang membebani biaya operasional dan berimbas pada harga jual yang tinggi. Menarik memang! Dalam hal ini, mereka hanya memikirkan biaya pengiriman. Promosi pun berjalan dengan sendirinya dan kilat dengan strategi menggandeng toko online utama seperti Lazada di Indonesia. Para netizen yang latah pun men-share produk baru Xiaomi tersebut dan… Voila! Iklan gratis itu meluncur bak bola salju dari share berantai di dunia maya.

Kita bisa belajar dari strategi Xiaomi dalam mengekspansi pasar. Setidaknya, mereka berani menempuh cara-cara non konvensional yang terbukti sampai saat ini mampu menempatkan mereka di urutan ketiga produsen ponsel pintar dunia dalam hal penjualan.

Ketika saya membaca sebuah artikel lain tentang ekspansi Xiaomi ke Indonesia, bahkan ada laporan yang menyebutkan bahwa sebanyak 10.000 unit Redmi 1S, produk Xiaomi yang pertama diperkenalkan di Indonesia, ludes dalam waktu 12 menit melalui pemesanan online!!

Tak percaya? Sebagai gambaran, Xiaomi Redmi 1S dipersenjatai dengan prosesor quad-core Snapdragon 400 1,6 GHz. Produk ini bahkan disebut-sebut sejajar dengan beberapa merk terkenal seperti Motorola Moto G, Sony Xperia M2, Asus Zenfone 5, hingga Oppo Find 5 Mini. Parahnya, harganya cuma Rp 1,5 juta saja bro!! Bandingkan dengan adik saya yang beberapa waktu lalu membeli Zenfone 5 seharga sekitar Rp 2,5 juta.

Namun, fenomena fantastis Xiaomi tersebut ternodai dengan tuduhan bahwa produk-produk Xiaomi menjiplak Iphone. Tempo hari saya sempat melihat tagline di berita televisi bahwa bos Xiaomi di Tiongkok telah mengakui bahwa mereka memang menjiplak Iphone yang mereka akui sebagai ponsel dengan rancangan paling indah di dunia. Apa pun itu, fenomena Xiaomi ini bisa menjadi contoh bagi kita, bangsa Indonesia, untuk bangkit menjadi negara produsen yang berdikari. Lihat lah China, yang dalam beberapa dekade terakhir ini sibuk mengejar pertumbuhan ekonominya dengan berbagai cara. Mereka membanjiri dunia dengan produk-produk buatan mereka yang kerap dicap murahan, jiplakan, dan mutunya rendah. Namun toh mereka bertahan. Lambat laun, tentu produk-produk mereka akan semakin sempurna berkat pengalaman dan riset.

Kita ingat betapa dulu Jepang pasca Perang Dunia II juga mengejar pertumbuhan ekonominya dengan industrialisasi besar-besaran. Industri otomotif mereka dulu ditertawakan Barat, dianggap menjiplak dan tidak orisinal. Mereka sulit menembus pasar Eropa dan Amerika walaupun di Asia mereka mulai berjaya. Tapi, lihat lah kini. Mobil-mobil buatan Jepang bersliweran di mana-mana, di berbagai penjuru dunia. Korea pun menyusul kini dengan metode yang hampir sama. Nah, kini Tiongkok pun tengah berlari dengan nafas yang panjang dan langkah yang kadang brutal tapi jelas arah mereka ke depan!!

Kita boleh berharap banyak pada pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Sudah saatnya kita merevolusi mental kita sendiri, untuk berjaya di negeri seniri, untuk bertaji di regional kita, dan cukup dipandang oleh dunia. Mari kita memandang langkah ke depan dengan optimis, bahwa Indonesia tidak akan dilirik hanya sebagai pasar menggiurkan saja, kita harus bangkit menjadi produsen dunia yang patut diperhitungkan sebagai kekuatan ekonomi baru, setidaknya di Asia.

Mendalami Seluk Beluk Bisnis Properti

            Iklim investasi di Indonesia menggeliat seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan meningkatnya daya beli masyarakat. Kini orang-orang semakin melek finansial dan tak lagi sekadar menaruh uang di bank secara konvensional alias menabung. Investasi dianggap sebagai langkah cerdas untuk mengamankan dan mendayagunakan uang. Permasalahannya, jenis investasi apa yang dapat dipilih?

Banyak jenis pilihan investasi. Ada produk-produk perbankan seperti surat utang, reksa dana, obligasi dan sebagainya. Pasar saham juga menjanjikan keuntungan tinggi meski pun juga memiliki resiko tinggi. Di sektor riil, investasi emas juga semakin digandrungi. Kini, investasi juga merambah sektor yang sebelumnya hanya diisi oleh investor-investor lama, yakni properti.

Berbeda dengan jenis investasi lain, berinvestasi dalam bidang properti cenderung lebih sedikit mengandung resiko. Harga tanah yang terus melambung setiap tahunnya tentu saja membuat industri properti layak dilirik sebagai investasi menjanjikan. Walaupun perlu timing yang tepat untuk membeli dan menjual properti agar mendapatkan laba maksimal, properti memiliki keunggulan berupa kestabilan yang tak dipunyai oleh jenis investasi lainnya.

Tak banyak masyarakat yang paham betul mengenai investasi properti. Buktinya, para pemain dalam bisnis ini masih didominasi oleh muka-muka lama dan pengembang-pengembang besar yang telah puluhan tahun berkecimpung dalam manisnya bisnis properti. Anggapan bahwa properti merupakan investasi yang sangat mahal dan rumit membuat orang-orang berpikir dua kali untuk terjun di dalamnya.

Padahal, bisnis properti tak selamanya menuntut nominal yang sangat mahal dan kerumitan birokrasi untuk mengurus berbagai dokumen pendukungnya. Ada celah dan trik yang dapat dimainkan oleh para pebisnis properti untuk mengatasi kendala tersebut. Berbagai produk pendukung kemudahan modal kini tersedia. Biro-biro jasa properti pun banyak yang menawarkan kemudahan proses pengurusan surat tanah dan bangunan.

Buku berjudul Kaya Raya dengan Bisnis Properti ini mencoba untuk memberikan penjelasan tentang seluk beluk bisnis properti mulai dari A sampai Z. Pembahasannya detail dan terstruktur rapi mulai dari deskripsi tentang apa itu bisnis properti dan jenis-jenisnya, persiapan sebelum dan sesudah membeli properti, cara membangun bisnis properti, berbagai permasalahan yang mungkin timbul dalam bisnis ini dan solusi untuk mengatasinya.

Bagi mereka yang berminat untuk mendalami dan berinvestasi dalam bisnis properti, buku ini cocok sebagai pengantar yang lengkap dan rinci. Penjelasannya juga mudah dipahami oleh mereka yang mungkin sama sekali awam dunia properti di Indonesia.

Data buku:

Judul Buku          : Kaya Raya dengan Bisnis Properti

Penulis                 : Evita P. Purnamasari

Penerbit              : Kobis

Cetakan               : I, 2014

Tebal buku          : 274 halaman

ISBN                     : 978-602-288-107-0

Suka Duka Memiliki Pulsar

Yogyakarta, 29 Oktober 2014

 

Pagi ini saya niatnya mau ke agen kapal, berkunjung ke rumah sahabat, dan mampir ke toko buku untuk mengecek judul-judul terbaru. Tapi sayang, baru saja selesai mencuci motor, tiba-tiba motor saya tidak mau menyala. Motor saya ini merknya Bajaj Pulsar Dtsi 200 cc keluaran 2009. Parahnya, tidak ada kick starter sebagai alternatif jika starter elektrik tidak berfungsi.

Saya memiliki motor ini hampir sekitar satu tahun. Waktu itu beli motor karena memang butuh alat transportasi usai pulang dari berlayar. Di rumah ada beberapa motor matic dan bebek tapi semuanya terpakai oleh adik dan ayah. Sudah lama saya ingin memiliki motor laki-laki dan waktu itu Pulsar kelihatannya menarik karena walaupun tak sekompetitif merk Jepang tapi harganya beda jauh. Pulsar ini keluaran India, kualitasnya lebih baik dari motor-motor Cina yang dulu sempat booming tapi akhirnya tak terdengar lagi kabarnya.

Sayangnya, saya baru menyadari bahwa induk Pulsar di Indonesia, Bajaj Auto Indonesia (BAI) telah hengkang dari Indonesia karena tidak mampu memenuhi target penjualan. Mereka akhirnya memakai strategi yang diterapkan di beberapa negara Asia Tenggara dan Eropa, yakni menggandeng Kawasaki untuk memasarkan produk mereka. Jadi, lahir lah Kawasaki Bajaj Pulsar 200 NS yang baru-baru ini menyabet gelar rookie of the year dari salah satu media otomotif.

Strategi Bajaj dengan menggandeng Kawasaki untuk memasarkan produk-produk terbaru mereka memang jitu. Dengan label Kawasaki yang sudah lama memiliki image motor sport premium, Pulsar generasi baru pun seakan di rebranding dengan tampilan segar, teknologi mutakhir namun harganya terjangkau jika dibandingkan dengan produk-produk asli Kawasaki. Pulsar 200 NS sebenarnya masih mengandalkan teknologi bawaan Bajaj, seperti busi yang lebih dari satu, yakni tiga biji!! (triple spark).

Yang disesalkan dari keputusan BAI untuk hengkang dari Indonesia dan memasrahkan penjualan produknya pada Kawasaki adalah terlantarnya para pemilik Pulsar seri sebelum 200 NS. Seperti saya ini. Saya baru sadar setelah membeli motor Pulsar 200cc bahwa BAI sudah hengkang ketika sulit menemukan bengkel resmi Bajaj di Jogja. Setelah browsing-browsing di internet, rupanya banyak bengkel resmi Bajaj berguguran satu demi satu seiring ambruknya BAI. Untungnya, masih ada bengkel resmi yang bertahan di Jalan Magelang, samping terminal Jombor, walaupun dealer-nya telah berganti nama menjadi Viar tapi bengkelnya tetap mengerjakan motor-motor Bajaj.

Urusan spare part pun juga bisa dibilang sulit. Saya mengikuti forum-forum para pemakai Pulsar di dunia maya, dan mereka kadang mengakali kelangkaan spare part ini dengan cara memutilasi sesama Pulsar. Beberapa pemilik Pulsar menjual part-part motor mereka secara eceran karena dinilai lebih menguntungkan daripada menjual motornya secara utuh. Miris juga sebenarnya karena dengan begitu justru akan semakin menurunkan populasi Pulsar series sebelum NS tentunya. Dengan menurunnya populasi motor ini, maka bengkel-bengkel khusus Pulsar yang kini masih bertahan tentu akan semakin sulit bertahan. Jika saya terpaksa harus menjual Pulsar saya, saya tidak ingin menjualnya secara eceran. Terlalu berharga untuk memutilasinya karena bagaimana pun ini adalah motor kopling pertama saya, motor laki-laki pertama saya, motor dengan kubikasi mesin 200 cc pertama saya, motor yang pernah membuat saya tiga kali terjatuh “konyol”, motor dengan suspensi belakang monoshock pertama saya (meskipun monoshock modifikasi dari pemilik sebelumnya), motor pertama yang pernah saya geber hingga 115 km/ jam (saya belum pernah berani menggeber motor dengan kecepatan di atas 100 km/ jam sebelumnya).

Yang menjengkelkan dari memiliki motor nyaman namun spare part dan bengkel susah ya begini, jika sudah mulai kambuh-kambuhan bikin pusing. Beberapa waktu lalu saya menemukan sebuah bengkel Pulsar yang cukup lumayan hasil kerja mekaniknya, sebut saja A Motor. Mekaniknya adalah mantan mekanik bengkel resmi Bajaj di Jalan Magelang. Saya sudah beberapa kali ke sana untuk servis rutin dan mengganti gear set. Saya sempat memesan rantai kamprat dan sudah membayarnya. Namun hingga kini bengkel itu tak pernah buka lagi. Entah ada apa. Ternyata, dari informasi mekanik bengkel resmi di Jln Magelang, mekanik sekaligus pemilik bengkel itu tersangkut kasus penggelapan mobil. Ia sudah beberapa kali tersangkut kasus penggelapan rupanya. Bengkelnya pun juga kerap berpindah-pindah. Entah benar atau tidak, padahal saya sudah pas banget dengan garapan bengkel tersebut. Mekaniknya juga menurut saya ramah, jauh dari kesan seorang penipu.

Saya tak memiliki kemampuan mekanik tingkat dasar sekali pun. Mungkin hanya tahu mengendorkan dan mengencangkan sekrup saja. Dan rupanya, saya bisa dikatakan nekat membeli Pulsar. Nyatanya, banyak para pemilik Pulsar yang memang paham betul jeroan mesin motor, terutama Pulsar yang karakternya berbeda dari merk-merk Jepang. Mesin Pulsar lebih cepat panas daripada motor lain karena businya kembar. Letak part-partnya juga kadang tidak lazim. Saya pernah hendak mengganti olie di sebuah bengkel biasa, ternyata mekaniknya sulit menemukan lubang pembuangan olie. Setelah saya tunjukkan letaknya, baru ia tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala. Katanya, “Baru kali ini saya pegang motor Pulsar mas.”

Baru saja saya bertanya di forum para pemilik Pulsar di media sosial tentang problem motor saya. Ada yang menyarankan untuk mengecek aki, bendik, dan dynamo. Ada yang menyuruh untuk mendorong motor saja hingga menyala. Ada juga yang bilang bahwa body com motor minta diganti. Saran terakhir ini rasanya agak masuk akal karena saya rasa ini bukan hanya karena tersiram air saat saya mencuci motor tadi. Suara kreek kreeek saat saya men-starter motor mengisyaratkan ada yang tidak beres di dalam sana. Saya belum pernah tahu apa itu body com, bahkan baru dengar kali ini. Banyak part yang baru saya tahu ada di dalam jeroan Pulsar, seperti misalnya balancer yang membuat bunyi mesinnya swiiing swiing itu. Saya mengetahuinya ketika melihat mekanik bengkel resmi membongkar mesin motor saya. Kata mekanik cuma Pulsar dan beberapa motor lain yang menggunakan balancer sedangkan motor-motor Jepang rata-rata tidak menggunakannya. Menurut saran seorang Pulsarian, body com harganya sekitar lima puluh ribu. Letaknya ada di dalam magnet motor. Entah lah, saya benar-benar tidak paham. Tetapi, saya punya keinginan kuat untuk sekali-kali membongkar mesin motor saya sendiri. Seandainya punya peralatan mekanik lengkap tentu lebih menyenangkan.

A.S. Roma vs Bayern Munchen, Antara Totti dan Guardiola

Yogyakarta, 22 Oktober 2014

 

Dini hari tadi saya berniat menonton salah satu partai Liga Champions Eropa, A.S. Roma vs Bayern Munchen. Sayang, SCTV lebih memilih menyiarkan langsung Barcelona vs Ajax. Jadi, saya menunggu laga tim kesayangan saya, A.S. Roma sambil mengantuk menyaksikan tayangan langsung yang kurang menarik itu. Tapi, karena saya mengantuk sekali, akhirnya saya pun tertidur pulas.

Pagi ini saya mengecek hasil pertandingan tersebut, dan di fans page Roma Club Indonesia, saya mengetahui bahwa tim ibukota Italia itu kalah 1-7 di kandangnya sendiri. Setengah kaget dan setengah mafhum saya merasakannya. Kaget karena hasil akhirnya begitu mencolok. Agak mafhum karena memang dari dulu A.S. Roma masih kurang memiliki pengalaman dan mental yang kokoh untuk bersaing di level Eropa. Tentu berbeda rasanya bertanding dalam liga domestik dan berjuang melawan juara-juara lain dari benua biru.

Satu hal yang menarik, pelatih Munchen, Pepp Guardiola, adalah mantan pemain yang sempat merumput di Olimpico pada 2001 kalau saya tidak salah, dan ia pun dulu kalah bersaing di lini tengah skuad A.S. Roma yang saat itu sangat solid sebagai juara serie A. Guardiola hanya bermain untuk Roma selama enam bulan. Pencapaian yang tentunya tidak mengesankan. Ia pun akhirnya pensiun dini empat tahun berikutnya. Bandingkan dengan il capitano Francesco Totti yang di usianya ke-38 masih aktif bermain untuk Roma dengan level yang tinggi.

Tetapi, ketidakberuntungan Guardiola sebagai pemain rupanya berbanding terbalik dengan peruntungannya sebagai pelatih. Ia sukses meramu Barcelona menjelma menjadi tim yang sangat menakutkan, tidak hanya di Spanyol tetapi juga di Eropa. Ia mendasarkan permainan Barcelona pada penguasaan bola yang kokoh dengan tiki-taka-nya yang khas dan variasi serangan yang sulit diterka ketika memasuki area pertahanan lawan. Di Munchen pun ia bisa dibilang sukses. Di musim pertamanya di tanah Bavaria, ia sukses membawa Thomas Muller cs merih titel juara Bundesliga.

Ada banyak hal yang dapat kita maknai dari satu laga dini hari tadi. Saya sebenarnya sangat ingin menyaksikan Francesco Totti bermain. Beberapa kali laga Roma di serie A tidak ditayangkan oleh stasiun TV lokal. Padahal, tentu sangat menyenangkan masih bisa menyaksikan sang legenda hidup itu. Ia adalah produk binaan tim primavera A.S. Roma. Totti sendiri bergabung dengan Roma sejak belia. Ia juga dipercaya menjadi kapten Roma pada usia awal dua puluh tahunan. Hingga kini pun, posisi dan perannya sebagai jenderal di lapangan tak tergantikan.

Totti pernah diincar klub-klub besar Eropa. Tak hanya di serie A, ia pernah diincar Real Madrid, Manchester United, dan lain-lain. Namun, rupanya ia sudah begitu jatuh hati pada A.S. Roma. Ia bertahan di klub ibukota ini, merasakan kejayaan, keterpurukan, dan upaya mengangkat kembali kejayaan itu bersama para pelatih Roma yang datang dan pergi silih berganti. Tak ada pemain yang begitu loyal dan bermain begitu lama untuk satu klub sepanjang karirnya seperti Totti. Bagi saya, ia bukan hanya sekadar bintang lapangan, dedikasi dan keteguhannya layak menjadikan ia panutan bagi siapa pun dalam bidang apa pun.

Guardiola, yang usianya tak terlampau jauh dari Totti, adalah fenomena lain. Mungkin ia adalah salah satu pelatih yang memili otak brilian. Jika dibandingkan pelatih lain, tentu ia masih terlalu muda untuk menangani klub-klub besar dengan sejarah prestasi fantastis semacam Barcelona dan Bayern Munchen. Tetapi, ia membuktikannya dengan segudang prestasi yang diraihnya bersama anak-anak asuhnya. Mungkin ia tidak terlalu sukses sebagai pemain sepak bola profesional, tetapi hal itu tidak membuatnya terpuruk dan meratapi nasib. Masih banyak peluang untuk meraih kesuksesan di bidang yang lain.

Cara Guardiola melirik peluang di bidang yang lain dapat kita jadikan contoh dalam mengupayakan alternatif pilihan dalam hidup. Ia tidak terpaku pada kemandekan karirnya sebagai pemain sepak bola. Cedera yang terus menghantuinya membuatnya sadar bahwa momentum sebagai pemain sepak bola sudah lewat. Ia tentu tak mungkin lagi memaksakan fisiknya yang memang sudah tidak memungkinkan untuk mencapai level tertinggi seperti sebelumnya. Maka, ia melihat alternatif lain. Ia mulai menjadi asisten pelatih Barcelona dan belajar banyak hal baru dari pelatih-pelatih yang lebih senior. Rupanya ia memang cerdas. Tidak membutuhkan waktu lama baginya untuk menjelma menjadi pelatih muda berprestasi yang disegani di Spanyol, bahkan Eropa. Seandianya saja waktu itu dia tidak memiliki keberanian untuk memutuskan gantung sepatu di usia yang masih relatif muda dan banting setir mempelajari ilmu kepelatihan, tentu ia hanya akan menjadi pemain tua yang sakit-sakitan dan rutin menghuni bangku cadangan di klub tidak terkenal. Tapi Pepp menolak itu, ia mengejar takdirnya sebagai orang yang patut dikenal dan disegani.

Asa, Cinta dan Sepak Bola

artikel ini dimuat di rubrik Perada Koran Jakarta (edisi 5 Juli 2011)

Ikal, bocah kelas 6 SD itu tercekat. Ia mendengar cerita tentang masa muda ayahnya dari seorang pemburu tua setelah ia tunjukkan foto seorang pemain bola remaja tengah menimang piala. Ternyata, itu adalah ayahnya sendiri  waktu  berusia17 tahun. Foto itu diambil sesaat setelah kesebelasan pribumi—yang diisi oleh para kuli tambang, berhasil mengalahkan kesebelasan karyawan Belanda dalam kompetisi Disctric beheerder.

Terjawab sudah tentang kaki kiri ayahnya yang cacat. Lutut kiri ayahnya diremukkan oleh serdadu Belanda yang geram karena golnya. Karirnya sebagai pemain sepakbola berbakat pun berakhir tragis dan singkat.

Itulah penggalan novel terbaru Andrea Hirata, Sebelas Patriot. Diilhami oleh kisah kehidupan ayahnya, Andrea hendak menularkan semangat patriotisme dan cinta tim nasional Indonesia dari sang ayah. Meskipun gaya bahasanya ringan, Sebelas Patriot tetap memukau dengan menghadirkan drama mengharukan hubungan ayah dan anak, perjuangan meraih asa, dan makna dibalik permainan sepak bola.

Dikisahkan, Ikal yang beranjak dewasa lalu bertekad untuk mewujudkan mimpi ayahnya menjadi pemain tim nasional Indonesia. Untuk itu, ia harus melewati jenjang bertingkat yang terjal, diantaranya bergabung di klub kampung, mengikuti seleksi tingkat kabupaten, baru dapat bergabung dengan tim junior provinsi. Ikal berjuang gigih, namun gagal di tingkat kabupaten. Berkali-kali ia mencoba lagi namun tak berhasil. Meskipun ayahnya tak pernah menuntutnya menjadi pemain sepak bola, ia merasa bersalah.

Dengan bijak, ayahnya menyemangati, “Prestasi tertinggi seseorang, medali emasnya, adalah jiwa besarnya” (hlm. 61).

Sang ayah kemudian menghadiahinya raket kayu untuk berlatih bulu tangkis. Ternyata ia berbakat dalam bidang itu. Demikianlah sang ayah mengajarkan nilai-nilai perjuangan. Jika gagal di satu bidang, ada banyak alternatif lain yang bisa diperjuangkan.

Ikal akhirnya mendapatkan beasiswa di Universitas Sorbonne, Perancis. Karena ia teringat akan ayahnya yang penggemar Real Madrid dan Luis Figo, ia nekat ke Madrid untuk berburu kaos Figo. Seorang perempuan lokal, Adriana, menawarinya kaos Figo betanda tangan asli. Harganya 250 euro. Di kantongnya cuma ada 60 euro. Namun, ia tak mau menyerah. Ia pergi ke Plaça de Catalunya di Barcelona, kiblat para backpacker sedunia berkumpul, sehingga ia bisa mencari info pekerjaan apa pun dari mereka.

Ia akhirnya berhasil mengumpulkan 250 euro setelah bekerja keras sebagai pembantu umum di tim junior Barcelona tiap malam, sebagai tukang cat dan angkut furnitur tiap siang, dan terkadang mengamen di jalanan Barcelona bersama backpacker lainnya.

Adriana ternyata masih menyimpan kaos Figo itu meskipun banyak orang ingin membelinya karena ia yakin bahwa Ikal pasti datang. Dan, Ikal benar-benar datang kembali membawa uangnya demi kaos itu, semata untuk menyenangkan ayahnya di Indonesia.

Adriana mengajak Ikal menonton pertandingan Madrid versus Valencia. Di stadion Santiago Bernabéu itulah Ikal memahami makna sepakbola—permainan yang bukan sekadar 22 orang berebut bola dengan konyol. Ya, sepakbola mengingatkannya pada patriotisme 11 kuli tambang, termasuk ayahnya, melawan Belanda. Sepakbola-lah yang membuat ayahnya dengan lantang berteriak “Indonesia!, Indonesia!” meskipun untuk itu ia harus membayarnya dengan lutut koyak.

Peresensi adalah Eko Budi Nugroho, penulis dan penerjemah lepas. Tinggal di Rawamangun, Jakarta Timur.

270330_2110181987936_164397_n

Judul buku      : Sebelas Patriot

Penulis             : Andrea Hirata

Penerbit           : Bentang

Tahun terbit     : Cetakan I, Juni 2011

Tebal buku      : 108 halaman

Harga              : Rp 33.000,-

Sayap Cinta yang Tak Lagi Terkepak

artikel ini dimuat di rubrik Perada Koran Jakarta (edisi 18 Juni 2011)

Novel ini pertama kali terbit dalam bahasa Arab berjudul Al-Ajnihah al-mutakassirah pada 1922. Versi bahasa Inggrisnya adalah Broken Wings. Setelah muncul beberapa versi dalam bahasa Indonesia, kini terbit versi terjemahan Sapardi Djoko Damono, penyair kondang negeri ini. Bahasa metaforis Gibran tentu lebih “terasa” dalam terjemahan Sapardi.

Menceritakan kisah percintaan antara seorang pemuda (yang juga narator) dan perempuan bernama Selma Karamy. Keduanya ditemukan oleh takdir, ketika si pemuda berkunjung ke rumah Farris Effandi Karamy, ayah Selma, yang juga teman lama dari ayah si pemuda.

Dalam beberapa kunjungan, si pemuda merasakan getaran cinta terhadap Selma. Malangnya, di malam ketika dua sejoli itu menyatakan perasaan, Farris memberikan kabar buruk bahwa ia harus menerima pinangan Mansour Bey Galib untuk putrinya. Mansour adalah kemenakan dari Uskup Bulos Galib, pemegang otoritas tertinggi gereja. Dalam hal ini, Gibran tak hanya menggali kisah percintaan saja, namun juga kesewenang-wenangan pihak gereja.

Setelah menikah, Selma tetap menemui si pemuda secara diam-diam sebulan sekali di sebuah kuil kuno. Kisah percintaan itu berakhir tragis. Pertemuan rahasia mereka makin dicurigai. Selma pun memutuskan untuk mengakhiri pertemuan itu. “Jangan menaruh perhatian padaku, Kekasihku, dan jangan merasa kasihan padaku sebab jiwa yang pernah melihat bayangan Tuhan, tidak pernah takut akan iblis. Dan mata yang pernah melihat Surga tidak akan dekat dengan rasa sakit dunia,” kata Selma (hlm 144).

Lima tahun setelah pernikahannya, Selma melahirkan bayi laki-laki. Persalinannya berakhir maut. Bayinya yang sudah lama didambakan oleh sang suami, meninggal tak lama setelah dilahirkan. Dengan kesedihan yang dalam, Selma pun berujar, “Ini aku, Anakku, bawa aku, dan mari kita tinggalkan gua yang gelap ini” (hlm 155). Sang ibu pun menyusul bayinya meraih kebebasan dari dunia fana.

Gibran, si narator, mengikuti pemakaman itu dari kejauhan. Kepada si penggali kubur ia berkata, “Di lubang ini Anda juga sudah menguburkan hatiku.” Ketika suasana makam telah sepi, pemuda malang itu pun menjatuhkan diri dan meratap di makam Selma.

Kisah cinta dalam Sayap-Sayap Patah ini tak terlalu istimewa. Lebih sederhana dibandingkan Romeo dan Juliet yang memiliki struktur lebih rumit. Namun, novel ini menawarkan keunggulan lain. “Bahasa yang sangat metaforis,” begitulah Sapardi menjelaskan keistimewaan karya Gibran dalam khazanah sastra dunia.

Peresensi adalah Eko Budi Nugroho, penulis dan penerjemah lepas

255163_2036644669549_6227734_n

Judul : Sayap-Sayap Patah

Penulis : Kahlil Gibran

Penerjemah : Sapardi Djoko Damono

Penerbit : Bentang

Tahun : I, April 2011

Tebal : xiv 162 halaman

Harga : Rp36.000.