Skip to content

Kontroversi Partai Demokrat Versi Mr. Slamet

December 17, 2012

Mendengar nama Partai Demokrat, tentu bayangan yang akan terlintas di benak kita adalah partai yang tengah berkuasa saat ini. Namun, buku yang ditulis oleh Hendri F. Isnaeni, wartawan Majalah Historia Online ini menguak Partai Demokrat yang berbeda.

Adalah Mr. Mas Slamet, seorang mantan pegawai negeri di akhir masa kekuasaan Belanda lah yang mendirikan Partai Demokrat. Berbeda dengan partai politik saat ini yang bertujuan untuk memenangkan pemilu, partai tersebut didirikan untuk memperjuangkan aspirasinya menolak kemerdekaan Hindia.

Mas Slamet yakin bahwa Hindia justru bakal maju pesat jika tetap berada dalam kekuasaan Belanda. Hal itu tidak mengherankan, mengingat Mas Slamet sendiri menikmati kemapanan dan karier gemilang di bawah kekuasaan Belanda.

Dengan lantang, Mas Slamet melawan para pemuda saat itu yang memperjuangkan kemerdekaan. Ia juga menuding Soekarno sebagai antek Jepang. Sebal, para pemuda pun menculik dan memukulinya.

Di samping mendirikan Partai Demokrat dan Liga Demokrasi, sang intelektual Jawa yang kecewa karena kehilangan karier mapannya sebagai Ajun Pemeriksa Keuangan di kantor keuangan pemerintah Belanda itu mengadu kepada Ratu Wilhelmina.

Dengan biaya pemerintah Belanda, Mas Slamet memulai kampanyenya di Eropa dan Amerika Serikat mengenai pandangan anti-kemerdekaan Hindia dan kebenciannya terhadap fasis Jepang.

Dalam sebuah wawancara yang dimuat oleh media Belanda, Utrechts Nieuwsblad pada 27 Mei 1946, Mas Slamet mengutarakan pengaduannya kepada pemerintah Belanda yang intinya: pertama, Jepang harus meninggalkan Hindia; kedua, para kolaborator Jepang harus dibersihkan; ketiga, para simpatisan Jepang harus diawasi (hal. 38).

Di samping menolak keras kehadiran pasukan Jepang, Mas Slamet juga mengkhawatirkan masa depan Hindia jika lepas dari kekuasaan Belanda. Menurutnya, menghentikan hubungan budaya antara Belanda dan Hindia akan berakibat fatal karena Hindia masih sangat membutuhkan bantuan Belanda.

Gerakan anti kemerdekaan Mas Slamet bersama Partai Demokratnya lambat laun tak terdengar gaungnya. Seruan akan kemerdekaan Hindia terlalu deras. Tak mendapatkan dukungan, Mas Slamet akhirnya mengikuti jejak Raden Abdul Kadir Widjojoatmodjo—pribumi yang berada di pihak Van Mook saat perundingan Renville—menetap di negeri kincir angin.

Kisah kontroversi Mr Mas Slamet dan Partai Demokratnya ini cukup menarik disimak karena bagaimana pun sejarah adalah guru terbaik. Meskipun pahit dan memuakkan, sejarah ini perlu diketahui oleh generasi muda sebagai pelajaran berharga agar tidak terjatuh di lubang yang sama.

Data Buku:

Judul               : Mr. Slamet dan Partai Demokrat

Penulis             : Hendri F. Isnaeni

Penerbit           : Ufuk Press, Jakarta

Cetakan           : I, 2011

Tebal               : iv + 187 halaman

Image

From → review buku

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: