Skip to content

Drama Kelam Agen Spionase Remaja

December 17, 2012

Usianya baru 15 tahun ketika Christopher Creighton memulai tugas pertamanya sebagai agen spionase untuk Sekutu. Ia memata-matai rapat rahasia antara pemimpin Belgia dengan Menteri Luar Negeri Jerman, Joachim von Ribbentrop dari atap château tempatnya menginap.

Dengan latar belakangnya sebagai pelajar, anggota Sea Scout dan berteman akrab dengan Pangeran Paul—anak pemilik château—Creighton sama sekali tidak mencurigakan. Itulah mengapa ia direkrut oleh John, sahabat ayahnya yang bekerja di bawah komando Winston Churchill.

Christopher Creighton adalah sosok yang nyata, namun Brian Garfield—penulis novel biografis ini—menjelaskan bahwa itu bukanlah nama sebenarnya dengan alasan keselematan sang narasumber. Dalam 572 halaman buku ini, pembaca diajak mengikuti petulangan menegangkan agen remaja itu selama empat tahun bertugas di dinas intelijen Inggris.

Nama sandi Creighton adalah Christopher Robin. Sedangkan para petinggi militer di atasnya, yakni Churchill, John dan Metcalf berturut-turut adalah Tigger, Owl dan Pooh. Nama-nama tokoh kartun itulah yang mewarnai novel ini dengan serangkaian konspirasi tingkat tinggi dengan Creighton sebagai aktor lapangannya.

Di misi pertamanya, Creighton harus lari dari château karena serangan blitzkrieg Jerman merangsek cepat. Ia terjebak di Dunkirk, di mana kenyataan perang yang getir terpampang di depannya. Mayat-mayat tentara dan petani Belgia bergelimpangan di mana-mana.

Tugas Creighton yang kedua adalah di Teluk Donegal, Irlandia. Dengan mengenakan seragam Sea Scout-nya dan menuntun sepeda, ia diabaikan oleh para tentara yang menjaga sebuah pantai curam tersembunyi yang diduga menjadi pangkalan rahasia armada U-boats Jerman.

Di sini lah untuk pertama kalinya ia membunuh orang. Ia beruntung karena tentara muda yang memergokinya kurang berpengalaman. Dengan memakai seragam tentara itu, Creighton menyusup ke pangkalan rahasia tersebut. Ketika kedoknya terungkap, ia terpaksa terjun ke laut dan berenang bermil-mil ke perairan Londonderry hingga nyaris pingsan.

Tigger dan Owl memutuskan untuk membekali Creighton dengan kemampuan dan keterampilan spionase yang lebih tinggi. Bocah 16 tahun itu dikirim ke Number Two RAF Initial Training Wing di Fens, Prancis. Usianya dipalsukan empat tahun dan namanya diubah menjadi Peter Hamilton. Latihan yang sangat keras, ujian mental dan fisik menjadi menu sehari-hari.

Creighton bahkan dihajar dan dikeroyok oleh beberapa tentara yang menyamar untuk mengujinya. Ia lulus. Meskipun disiksa, ia tak membocorkan rahasia. Di akhir pelatihan, ia dan keempat temannya diharuskan menghadapi tawanan Jerman. Meski dibekali belati, Creighton menghabisi lawannya dengan tangan kosong.

Nurani remaja tersebut mulai terusik ketika ia ditugasi menenggelamkan sebuah kapal selam Belanda berikut seluruh awaknya berjumlah 56 orang. Dengan menyamar sebagai teknisi marinir, ia memodifikasi torpedo-torpedo itu menjadi bom waktu. Semua itu hanya agar informasi rencana penyerbuan Jepang di Pearl Harbor tidak bocor.

Bahkan, di London pun ia diperintah Owl untuk menghabisi tiga perwira Inggris yang tanpa sengaja memecahkan kode rahasia penyerbuan Pearl Harbor. Satu diantaranya adalah Anne, perempuan muda yang sempat dikencaninya.

Inggris dan Sekutu memang berharap penyerbuan Jepang ke Pearl Harbor tidak bocor sehingga Amerika Serikat yang tadinya netral akan terluka dan marah. Seperti yang diharapkan, negara dengan kapasitas industri dan militer kuat itu pun akhirnya bergabung dengan Sekutu.

Ketika Creighton makin muak dengan perannya sebagai agen spionase, ia justru terseret semakin jauh. Di Dublin, ia menjalin komunikasi dengan seorang perwira Abhwer—angkatan laut Jerman—Rudi Breucher. Ia berpura-pura menjadi pembelot. Rencana penyerangan Sekutu ke Dieppe sengaja dibocorkannya.

Tentu saja pembocoran rahasia itu hanya bagian dari taktik. Owl berdalih bahwa lebih baik mengorbankan lima ribu pasukan hari ini daripada harus kehilangan lima puluh ribu pasukan esok hari.

Creighton merasa bersalah karena ia melihat sendiri ribuan pasukan Sekutu—sebagian besar yang dikorbankan adalah pasukan Kanda yang belum teruji—menjadi sasaran empuk senapan-senapan mesin Jerman. Salah satu temannya, Roberts, pun tewas diberondong.

Tugas Creighton belum usai. Di usianya yang belum genap 18 tahun, Afrika Utara menjadi destinasi berikutnya. Ditemani oleh seorang pemuda Prancis, Fernand Bonnier, ia bertugas mengeksekusi Darlan, pemimpin Vichy yang diragukan loyalitasnya kepada Sekutu.

Skenarionya adalah usai menembak Darlan, ia secepatnya kabur dan Bonnier harus ditemukan di tempat kejadian agar tuduhan tidak mengarah ke Inggris. Rupanya janji para petinggi militer untuk menyelamatkan Bonnier tidak ditepati. Bonnier akhirnya dieksekusi di depan regu tembak sebagai tumbal konspirasi tingkat tinggi.

Serangan besar-besaran Sekutu terhadap pantai Normandia yang diduduki Jerman yang terkenal dengan istilah D-Day ternyata tak luput dari “jasa” Creighton. Ia terlibat di dalamnya dengan menjual informasi palsu kepada Jerman.

Kepada Albert Leeb, Kolonel SS yang menginterogasinya, Creighton menyebutkan pantai Calais sebagai target utama, padahal Normandia lah sasaran sebenarnya. Pendaratan pasukan Sekutu besar-besaran di pantai-pantai berkode Juno, Omaha, Swords pada 5 Juni 1944 itu menjadi titik balik Perang Dunia II. Jerman kalah telak.

Ketika perang mereda, Creighton kembali ke London dan bertemu kembali dengan bos besarnya, Churchill. Setelah kegetiran yang ia alami dan amarah terpendamnya atas kemanusiaan yang koyak, ia tetap menyukai Churchill. Ya, ia tetap setia sebagai pengawalnya, paladin-nya.

Image

Data Buku:

Judul buku      : The Paladin

Penulis             : Brian Garfield

Penerjemah      : Dwi Davisia

Penerbit           : Ufuk Press

Cetakan           : I, 2011

Tebal buku      : 575 hlm.

Harga              : Rp. 74.900,-

From → review buku

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: