Skip to content

Kisah Seorang Bohemian dan Cintanya yang Gagal

December 17, 2012

            Snow Country atau dalam bahasa aslinya berjudul Yukiguni adalah novel peraih nobel sastra 1968 karya maestro prosa lirik Jepang, Yasunari Kawabata. Berkisah tentang hubungan yang rumit antara Shimamura—pria yang telah beristri—dengan geisha muda di daerah terpencil wilayah utara yang dingin dan bersalju, Komako.

Shimamura adalah seorang bohemian, tak memiliki pekerjaan tetap, dan menaruh perhatian besar pada seni, khususnya tarian Barat. Ia tinggal di Tokyo bersama istri dan anak-anaknya. Namun, semenjak ia mengenal Komako, hampir tiap tahun ia selalu mengunjungi penginapan dan pemandian air panas di pegunungan itu untuk menemui Komako.

            Komako adalah perempuan berusia belasan tahun yang memutuskan menjadi geisha untuk membalas budi seorang guru musik yang telah menolongnya. Ia bekerja keras demi membayar pengobatan penyakit TBC akut yang diderita Yukio, putra sang guru musik.

Sejak awal, tidak dikisahkan secara detail pertemuan pertama Shimamura dan Komako. Kisah dalam novel ini justru dimulai dengan perjalanan panjang dalam gerbong kereta yang ditempuh Shimamura untuk memenuhi janjinya, kembali menemui Komako kedua kalinya.

            Secara kebetulan, di dalam gerbong itu turut pula Yukio bersama perempuan cantik yang merawatnya, Yuko. Shimamura terpesona oleh kecantikan Yuko, ia pun menikmati paras rupawan perempuan itu dari pantulan bayangan di kaca jendela kereta. Di antara keasyikannya memandang wajah Yuko secara diam-diam dan menikmati pemandangan matahari senja di perbukitan di luar kereta, telunjuk tangan kirinya menghadirkan ingatan tetang Komako yang gemar menggenggam erat telunjuknya seperti bayi yang mungil.

            Bulan Desember salju turun sangat tebal di desa tujuan Shimamura. Ia menuju sebuah penginapan sekaligus pemandian air panas yang memang lazim menyediakan jasa geisha bagi para tamu. Ia tak menginginkan yang lain, hanya Komako seorang. Dalam diri geisha remaja itu, Shimamura menemukan sosok teman yang hangat, tak seperti geisha-geisha gunung lainnya yang tidak cerdas.

Komako menyimpan hasrat pada sastra dan berbakat dalam musik, meskipun Shimamura menganggap pengetahuan sastra perempuan itu rendah. Di samping pesona kulitnya yang bersih, Komako juga rajin merapikan barang-barang Shimamura.

Namun, yang paling membuat pria beristri itu selalu kembali lagi ke daerah bersalju itu adalah fakta bahwa Komako mencintainya, dan sebaliknya. Padahal, jatuh cinta adalah sebuah “kesalahan fatal” dalam hubungan “sambil lalu” antara pelancong dan geisha.           

            Saat itu, Shimamura menepati janjinya untuk kembali menemui Komako. Perempuan itu telah berusia sekitar 19 atau 20 tahun, namun hidup yang keras menempa pemikirannya menjadi terlalu dewasa. Shimamura ingin meluapkan hasrat kelelakiannya, namun ketika ia kembali dari pendakian gunung, ia justru merasa lebih mendambakan seorang teman mengobrol.

Bersama geisha lain, Shimamura kehilangan hasratnya. Nyatanya, Shimamura dan Komako saling mencintai, meskipun cinta itu tak diluapkan dengan perasaan yang menggebu-gebu. Justru, perasaan cinta itu lah yang kerap membuat hubungan keduanya terlihat ganjil. Mereka saling menyukai, dan mungkin ingin memiliki. Namun, semakin mereka mencoba untuk menuntaskan perasaan mereka, rupanya cinta mereka telah gagal sejak kali pertama mereka bertemu.  

Bagaimana pun,  Shimamura hanyalah pelancong seperti kebanyakan pria lain yang berkunjung ke desa itu tiap musim. Komako menyadarinya, pun Shimamura tetap teringat pada keluarganya di Tokyo. Meski demikian, Komako selalu mampir ke penginapan Shimamura usai menemani para tamunya di perjamuan-perjamuan lain. Dan tak jarang, obrolan mereka kerap berujung pada semacam ketakutan. Ya, ketakutan akan perpisahan, kesia-siaan, dan lagi-lagi cinta yang gagal.   

            Hubungan antara Shimamura dan Komako kian bertambah rumit ketika Shimamura akhirnya tahu bahwa Komako bekerja keras demi mengongkosi pengobatan Yukio—yang menurut desas-desus telah bertunangan dengan Komako. Di lain pihak, ketertarikan Shimamura pada Yuko juga makin tumbuh.

Yuko, perempuan berpembawaan serius dan kaku itu, tinggal bersama Komako di rumah sang guru musik untuk merawat Yukio. Meskipun rumor mengatakan Yukio adalah tunangan Komako, namun justru Yuko-lah yang terlihat seperti kekasih pemuda itu. Pertalian antara Komako dan Yuko juga janggal. Mereka tinggal serumah bersama untuk merawat Yukio, namun tak jelas siapa sebenarnya yang menjad kekasih pria malang itu.

            Ketika Yukio sekarat, Komako justru memilih pergi ke stasiun untuk mengantarkan Shimamura pulang ke Tokyo. Ia tak menghiraukan Yuko yang menjemputnya pulang. “Jangan tolol, pulang lah,” kata Shimamura. Namun toh akhirnya ia membiarkan perempuan itu tetap mengantarkannya, berdiri mematung di stasiun hingga kereta Shimamura menjauh, seolah isyarat bahwa ia akan menanti kedatangan Shimamura di musim berikutnya.

            Kawabata sepertinya tak memberi ruang bagi kehidupan Shimamura di Tokyo bersama keluarganya. Ia hanya memberi deskripsi singkat perihal lelaki itu: tidak memiliki pekerjaan tetap dan hidup dari warisan orang tuanya. Dalam beberapa bagian, terlihat bahwa Shimamura berencana untuk menerjemahkan beberapa buku asing. Ia juga pernah menulis tentang tarian balet Barat yang belum pernah disaksikannya. Ia gemar mendaki gunung untuk sekadar berkeringat dan merasakan semangat hidupnya kembali mengalir.

            Dalam kunjungan berikutnya, Shimamura mendapati bahwa Komako telah tumbuh menjadi perempuan yang lebih dewasa. Usianya sekitar 22 tahun. Ia juga telah memperlihatkan gelagat seorang geisha yang bukan amatiran lagi. Komako menandatangani kontrak selama 4 tahun dengan seorang pemilik warung dan ia telah pindah dari rumah sang guru musik.

Sementara itu, Shimamura mendapati pula bahwa Yuko kini bekerja di penginapan, namun hanya mengurusi bagian dapur. Beberapa kali mereka berpapasan dalam diam dan Shimamura masih merasa berdebar-debar oleh tatapan tajam Yuko.

            Komako tetap rutin mengunjungi Shimamura usai bekerja hingga larut malam. Ia sering muncul di penginapan Shimamura dalam keadaan mabuk. Emosinya menjadi labil, kadang hangat namun dalam tempo beberapa menit saja bisa menjadi begitu dingin.

Hubungan antara Komako dan Yuko masih tetap misterius. Keduanya tentu memiliki kedekatan, karena mereka pernah tinggal serumah dan kemungkinan mencintai pria yang sama, namun dalam beberapa bagian terlihat Komako membenci Yuko. Ia menganggap Yuko agak sinting, terlebih pasca kematian Yukio. Setelah pemakaman Yukio, Yuko selalu mengunjungi makamnya setiap hari.

            Novel ini memang tidak cocok untuk dijadikan sebagai semacam bacaan sekilas di perjalanan. Konflik-konflik batin dari hubungan yang rumit antara Shimamura, Komako, dan Yuko terjalin begitu rapih sehingga pembaca tidak akan menemukan banyak dialog meledak-ledak, emosional dan berteriak. Tipikal drama klasik Jepang yang sunyi namun dalam.

            Kisah percintaan antara Shimamura dan Komako tidak memiliki akhir yang jelas. Ada dua kemungkinan menurut saya yang melatari ketidakjelasan hubungan mereka: keduanya sama-sama bimbang atau justru sama-sama yakin akan kegagalan cinta mereka.

Di bagian akhir, Yuko ditemukan jatuh dari balkon gudang ulat sutra yang terbakar. Komako menangis, namun ia justru berteriak, “Gadis ini gila. Dia gila.”

Dan, Shimamura yang terseok-seok oleh kerumunan orang hanya bisa mendapati bahwa pada akhirnya cinta yang coba ia rajut itu memang mustahil berhasil. Ia tengadahkan kepalanya, dan Bima Sakti mengalir ke dalam dirinya dengan membawa raungan (halaman 188).  

            Kelebihan lain dari membaca mahakarya Kawabata ini, setidaknya bagi saya, bagaikan bertamasya di negeri asing yang eksotis atau menonton film drama non Hollywood. Novel ini menawarkan pemandangan yang indah tentang pedesaan di utara Jepang yang terpencil yang selalu bersalju berikut corak budaya masyarakatnya.

Meskipun Kawabata tak menyebutkan jelas nama daerah bersalju-nya, dalam beberapa sumber yang saya telusuri, disebutkan bahwa latar tempat novel ini mengacu pada Yuzawa, desa kecil di utara Jepang antara Gunma dan Niigata. Bahkan, ada foto seorang geisha muda bernama Matsuei dari tahun 1934 yang konon menjadi model Kawabata dalam melukiskan sosok Komako.      

Well, sejauh ini saya baru dua kali membaca novel ini dan memang belum mampu menemukan pemahaman yang mencukupi. Mungkin di kesempatan berikutnya saya dapat memaknainya lebih baik. Selamat membaca.

Data Buku:

Judul               : Snow Country: Daerah Salju

Penulis             : Yasunari Kawabata

Penerjemah      : A. S. Laksana

Penerbit           : Gagas Media

Cetakan           : I, 2009

Tebal               : 188 halaman

Image

From → review buku

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: