Skip to content

Menulis itu Melawan Lupa

December 17, 2012

“Apabila kau berhenti menulis, kau akan hilang dalam pusaran sejarah.”

 

            Itulah sepenggal kata-kata Pram dalam novel terakhir Tetralogi Buru-nya, Rumah Kaca. Menulis itu ibarat menjaga ingatan dari bahaya lupa. Apalagi, jika lupa itu telah menggejala secara kolektif seperti kebiasaan negeri ini. Sindrom itu akan lebih parah lagi bila didukung oleh budaya yang jauh dari aksara. Pram sendiri adalah korban kebrutalan rezim yang anti aksara itu. Koleksi buku dan karyanya yang tak ternilai harganya lenyap menjadi abu di tangan tentara. Sungguh nista!

            Namun, satu-satunya sastrawan Asia yang namanya berkali-kali dinominasikan meraih nobel itu tetap menulis. Ia tak mau menyerah pada lupa. Selama 14 tahun yang melelahkan di Pulau Buru yang terpencil dan ganas, dengan ancaman malaria  pula, empat novel fenomenal lahir dari tangannya. Tetralogi Bumi Manusia, dikenal juga Tetralogi Buru—Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Seorang tokoh intelektual bumiputera yang terjebak antara pergulatan Barat-Timur di era kolonialisme, Minke, menjadi sentral cerita. Ia adalah representasi dari Tirto Adhi Soerjo, seorang pelopor jurnalisme bumiputera, pendiri surat kabar Medan Prijaji.

            Lewat Tetralogi Buru, Pram menceritakan betapa kekuatan tulisan melebihi ancaman bayonet atau bedil sekalipun. Sebab, tulisan mampu menggerakkan, mempengaruhi, bahkan memprovokasi orang-orang untuk melawan. Ya, melawan ketidakadilan tentunya. Betapa kuatnya pengaruh tulisan itu sehingga banyak contoh rezim-rezim yang fobia terhadap tulisan merasa perlu untuk membunuhi putra-putra terbaiknya sendiri yang menyuarakan suaranya lewat aksara.

            Kartini tentu takkan kita kenal sebagai seorang perempuan emansipatoris jika ia tak menulis surat-surat kepada teman Eropanya, yang kemudian diterbitkan dalam bentuk buku, “Habis Gelap Terbitlah Terang.” Anne Frank cuma berakhir menjadi mayat tanpa nama di salah satu kamp konsenterasi NAZI seandainya saja ia tak menulis buku diary-nya yang berisi suara polos gadis mungil tentang kekejaman perang. Hindia Belanda tentunya tak perlu bersusah payah menciduk Soewardi Soerjoningrat jika pemuda kurus itu tak berulah dengan menulis sebuah esai “Seandainya Aku Seorang Belanda” (Als ik eens Nederlander was) yang membuat merah kuping Ratu Wilhelmina. Darah Salman Rushdie tentunya takkan halal untuk dibunuh jika ia tak menulis novel kontroversialnya, “The Satanic Verses.” Wiji Thukul mungkin sekarang masih hidup dengan nyaman jika waktu itu ia tidak mengkritik dengan lantang rezim Soeharto dengan puisi-puisinya. Mundur ke belakang, kita punya Edward Douwes Dekker, yang menulis Max Havelaar, novel tentang ketidakadilan di daerah Parangkujang, Lebak, Banten di era persekongkolan antara pemerintah kolonial dan kaum feodal bumiputera. Multatuli—nama samaran Dekker, dikucilkan karena tulisannya itu, namun namanya harum dimana-mana.

Masih banyak lagi contoh-contoh yang bisa disebutkan, kita punya almarhum Udin, wartawan Bernas Jogja yang hingga kini kasus pembunuhannya seolah menguap ke udara. Yang terbaru, wartawan Radar Bali yang dipukuli dengan balok kayu hingga menemui ajalnya setelah ia menulis laporan kasus korupsi.

Meskipun demikian, ada contoh-contoh suram pengaruh tulisan. Diantaranya Oswald, si pembunuh John F. Kennedy, yang terinspirasi dari novel Catcher in the Rye-nya yang emosional itu. Ada pula pembunuhan berantai yang dilakukan oleh seorang perempuan di Inggris gara-gara ia membaca novel detektif Agatha Christie. Ruang Baca Tempo pun sempat membahas “buku-buku berdarah” ini dengan judul “Buku yang Membunuh.” Menulis itu ibarat pisau bermata dua, tinggal mana yang dipilih oleh si penulis: untuk lebih beradab atau justru biadab.   

Intinya, menulis itu adalah sebuah panggilan kemanusiaan. Sebab, menulis itu bukan sekadar mengoceh tanpa juntrungan. Menulis itu untuk dibaca, oleh kita sendiri, dan mungkin juga orang lain. Mungkin juga orang-orang lain di pojok dunia sana. Kita takkan pernah tahu kemana tulisan kita akan mengembara. Napoleon Hill muda mungkin takkan menyangka hasil wawancaranya terhadap 500 responden lebih orang-orang sukses macam Andrew Carnegie, Henry Ford, Alexander Graham Bell, Asa Candler dan banyak lagi akan menginspirasi jutaan orang di penjuru dunia. Bukunya itu, Think and Grow Rich, telah diterjemahkan dan direvisi berkali-kali. Versi terbarunya kini adalah The New Think and Grow Rich yang diterbitkan oleh Ufuk Press.  

Kita tahu di era kepemimpinan khalifah, para penulis andal pun dibutuhkan untuk melacak dan mencatat berbagai mushab ayat-ayat suci Al-Qur’an yang tersebar dan terserak setelah wafatnya Rasulullah SAW. Saat itu, khalifah Umar bin Khattab khawatir kitabullah itu akan lenyap seiring dengan uzurnya para penghafal Al-Qur’an. Disamping itu, ada kecemasan bahwa Al-Qur’an akan dipalsukan. Kita lalu mengenal nama Zaid bin Tsabit, yang memelopori pencatatan kitab suci Al-Qur’an. Sejarah Arab Jahiliyah sebenarnya jauh dari aksara, namun kita lihat betapa gigih mereka, terutama setelah kejayaan Islam, menuntut ilmu dan mengembangkan budaya aksara.

Semuanya itu tentunya untuk melawan lupa. Ingatan itu ada batasnya. Otak hanya akan bekerja sempurna selama kurang lebih 60-70 tahun, setelah itu akan menurun drastis. Malah, kini ada kecenderungan pikun di usia muda. Waduh!! Jadi, kita yang masih muda-muda ini, dari sekarang tulislah apa yang ada di otak kita itu. Ambil kertas, pulpen dan mulailah menulis. Ya, mungkin kalau sekarang tinggal nyalakan komputer lalu mulai deh memijit-mijit tuts keyboard. Jauh lebih praktis daripada Pram yang harus menulis di lembaran-lembaran kertas pembungkus semen di sel penjaranya sebab kertas sulit didapat. Mesin ketik pemberian filsuf eksistensialis Prancis, Jean Paul Sartre, pun tak pernah sampai ke tangannya (baca Saya Terbakar Amarah Sendirian). Lebih nyaman daripada Stephen Hawkings, fisikawan Amerika yang lumpuh sejak usia 21 tahun. Jauh lebih nyaman ketimbang Jean yang menulis bukunya, The Bell and The Butterfly dengan kedipan mata kirinya saja. Editor terkenal Prancis itu mengalami lumpuh setelah mengalami serangan stroke mendadak. Film tentang dirinya pernah ditayangkan di Metro TV dengan judul bukunya.  

Jadi, seperti kata Helvy Tiana Rosa, pendiri komunitas Lingkar Pena, dalam workshop penulisan fiksi beberapa waktu lalu di kampus UNJ, “menulis itu adalah sebuah kebutuhan”, jadikanlah kegiatan menulis itu kebutuhan kita. Jika kita belum menulis, kita wajib untuk memenuhi kebutuhan itu. Walaupun, kata Roland Barthes—semiotikawan strukturalis sekaligus pos-strukturalis Prancis, dalam tulisan pengarang telah mati (The Death of The Author), setidaknya kita masih bisa berharap pada penafsiran orang-orang yang membaca tulisan kita. Adieu.   

 

Jakarta, 28 Mei 2009

From → artikel lepas

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: