Skip to content

Takdir Jabang Tetuko

December 17, 2012

           Belasan tahun silam ia tak lebih dari sekadar orok merah. Semua yang ada padanya menghadirkan kebahagiaan bagi siapa pun yang melihat. Hanya satu hal yang membuat geger orang-orang, tali pusarnya tak kunjung tanggal hingga satu tahun usianya. Tak ada satu pun pisau atau pedang buatan manusia yang dapat menanggalkannya, pusaka Cakra milik Kresna sekalipun. Arjuna, putra tertua Pandawa, terpaksa memohon petunjuk kepada dewa.

        Tak dinanya, Karna yang mengetahui rencana Arjuna itu bersiasat. Takdir telah tersemat, dewa pun tak luput dari khilaf. Pusaka terhebat milik dewa, mata tombak Kontawijaya berhasil direbut oleh Karna, keturunan Pandawa yang membelot ke Korawa. Sejatinya, pusaka itulah yang dipinta oleh Arjuna untuk menanggalkan tali pusar keponakannya, bayi Bimasena-Arimbi.

            Apa boleh buat, Arjuna hanya mampu membawa pulang sarung Kontawijaya yang terbuat dari kayu Mastaba. Namun toh sarung kayu bertuah itu saja sudah cukup untuk mengakhiri permasalahan. Ya, tali pusar itu pun akhirnya tanggal oleh sabetan sarung Kontawijaya. Maka, timbul kekhawatiran di kalangan Pandawa. Tak terbayangkan, jika sarung kayunya yang tiada tajam saja sudah sedemikian saktinya, bagaimana dengan mata tombaknya yang kini jatuh di tangan Korawa?

            Kelak kekhawatiran para punggawa Pandawa itu akan terjawab oleh takdir bayi mungil itu. Ya, bayi itu telah mewarisi takdir sebagai penyelamat Pandawa. Begitu tali pusar bayi itu tanggal, sarung kayu Mastaba tiba-tiba melebur, larut lenyap ke dalam perut si bayi. Di perut itulah kelak mata tombak Kontawijaya akan kembali disarungkan.

            Bayi itu tumbuh sehat. Oleh Bimasena, ayahnya yang keturunan ketiga Pandawa, ia diberi nama Jabang Tetuko. Dari Arimbi, ibunya yang berdarah raksasa, ia mewarisi perawakan yang besar dan kuat. Taring tajam mencuat dari mulut merahnya, mengumbar aura kengerian.

         Perawakannya yang menyeramkan itu lamat-lamat menyadarkan Jabang Tetuko bahwa ia berbeda dari sepupu-sepupunya yang lain. “Mereka tak punyai seringai raksasa sepertiku,” pikirnya. Dari kejauhan, bocah itu  hanya bisa menatap kerumunan anak seusianya yang lincah bermain dan bercanda di taman.

         Aikh, mengapa ia tak bergabung dengan mereka? Ia berbeda dari mereka, ia sadar itu. Pernah sekali waktu ia mencoba mendekati mereka, sekadar ingin ikut bermain dan bercanda. Naluri anak kecil memang selalu ingin bergabung dengan teman sebayanya. Namun, yang terjadi justru kepanikan. Anak-anak itu berhamburan lari. Ada yang menjerit-jerit, ada yang melemparinya dengan batu. “Lari, ada butho! Lari…!,” begitu teriak mereka. Jabang Tetuko yang malang. Tahukah mereka bahwa ia hanya ingin ikut bercanda dan bermain?

            Maka, takdir bagi Jabang Tetuko hanyalah mengabdi. Dan, pengabdian yang paling memungkinkan bagi setengah manusia setengah raksasa sepertinya adalah di medan peperangan. Berperang demi kemuliaan Pandawa, itulah takdir bocah kesepian itu.

         Jabang Tetuko pun rela dibenamkan di kawah Candradimuka. Kulitnya hangus terbakar oleh pijar lava. Paru-parunya gosong oleh sulfur dan gas beracun. Dewa-dewa langit mengaduk-aduknya di kawah itu, meraciknya dengan segala mustika mandraguna, seolah ia adalah mahakarya kuliner bercitarasa tinggi, yang dipersiapkan demi perhelatan akbar nanti, Perang Bharatayuda.

         Kesaktian dewa dan seluruh ilmu kanuragan dari segala penjuru dunia melarut dalam diri Jabang Tetuko. Namun, dalam hati bocah itu merasa kesepian. Lama sudah ia tempuh jalan kesunyian ini demi kejayaan dan keselamatan Pandawa. Bagaimanapun juga, ia masih seorang bocah yang ingin berlarian di padang sabana atau memanjati pepohonan seperti sepupu-sepupunya.

            Jabang Tetuko telah beranjak remaja ketika para dewa memutuskan untuk mengangkatnya dari wajan membara kawah Candradimuka. Tak ada makhluk mana pun yang mampu bertahan sekian lama di mulut gunung berapi seperti dirinya. Ia jauh lebih sakti sekarang. Lava pijar dan gas beracun telah menempa tubuhnya. Belum lagi aneka mustika dewa yang dibenamkan di tubuhnya, melengkapi sarung Kontawijaya yang telah bersemayam di perutnya.

            Apa yang diharapkan dari remaja tanggung yang telah dikurung dan diasingkan sekian lama ini? Tentu dewa-dewa ingin melihat hasil kreasi mereka. Jabang Tetuko diangkat ke kahyangan. Tugas pertamanya sebagai abdi wakil negeri Pandawa adalah mengenyahkan raksasa-raksasa yang lancang berbuat onar di kahyangan.

            Bimasena, sang ayah, dan Kresna, pamannya yang sangat memperhatikan perkembangannya, menanti dengan hati berdebar di bumi. Arimbi, sang ibu, sangat merindukan bocah kecilnya. Arimbi tak sadar, buah hatinya kini bukan bocahnya yang dulu lagi. Jabang Tetuko tak mengenal bermain di rerumputan dan memanjati pepohonan seperti sepupunya yang lain. Ia hanya mengenal panasnya terbakar pijar lava dan perihnya menghirup sulfur beracun. Semua rasa sakit itu telah menjadikannya monster yang buas.

            Begitu Jabang Tetuko diberi tugas pertama oleh dewa, matanya nyalang, mewarisi bara api kawah Candradimuka, merah oleh amarah. Langkah kakinya saja membuat langit bergemuruh. Ia membantai raksasa-raksasa pembuat onar itu. Padahal, mereka jauh lebih besar dan lebih tua darinya. Jabang Tetuko hanyalah pemuda tanggung. Namun, kesaktiannya tak terbantahkan. Darah raksasa-raksasa itu tumpah bak sungai, menghadirkan badai hujan darah di bumi.

         Jabang Tetuko memuaskan nafsu raksasa dalam dirinya. Dibukanya mulutnya lebar-lebar. Ia membunuh raksasa-raksasa itu dengan taringnya, khas kebuasan raksasa. Ia makin tak terkendali. Meskipun raksasa-raksasa itu lari terbirit-birit, ia tetap mengejar mereka, menerkam dan membelah tubuh mereka dengan taringnya. Tak boleh ada satu korban pun yang luput. Dewa-dewa pun kalut. Mereka khawatir kahyangan akan porak poranda oleh serangan membabi buta monster ciptaan mereka sendiri.

            Kresna menyusul ke kahyangan dan memotong taring Jabang Tetuko. Ia tak ingin keponakannya yang telah ia persiapkan sebagai calon panglima perang Bharatayuda itu mewarisi kebengisan bangsa raksasa. Ketika taringnya telah tanggal, Jabang Tetuko pun mendapatkan nama baru yang lebih berbau ksatria: Gatotkaca.

         Bersamaan dengan keberhasilannya di misi pertama, pemuda itu dihadiahi zirah dan perlengkapan perang oleh Batara Guru: Caping Basunanda, Terompah Padakacarma, dan Kotang Antrakusuma yang memungkinkannya melesat di angkasa melebihi kecepatan suara.

            Reputasi Jabang Tetuko makin diakui. Ia menguasai segala ilmu silat. Ototnya mengeras serupa kawat. Tulangnya pun sekuat besi. Tak ada senjata yang dapat melukainya. Bimasena sangat membanggakan anaknya itu. Bahkan, ia pun sadar bahwa kesaktian dirinya dan kuku Pancanaka-nya tak berarti apa pun dibandingkan dengan kehebatan sang anak.

            “Kau lihat, istriku, anak kita, Gatotkaca itu kini telah berkembang pesat. Kelak ia akan menjadi pemimpin Pandawa yang disegani,” kata Bimasena kepada Arimbi suatu malam.

            “Aku turut bangga kepadanya, suamiku. Namun, aku merindukan Jabang Tetuko-ku yang dulu. Belum lama aku menimangnya namun kau dan Kresna telah merenggutnya dariku. Kalian ceburkan Jabang-ku ke kawah Candradimuka. Ibu mana yang tak sedih melihat anaknya diperlakukan seperti itu…” suara Arimbi parau. Isak mulai terdengar.

            Bimasena menghela nafas panjang. Diraihnya tangan istrinya dan ia usap. Arimbi, wanita berdarah raksasa itu rupanya tak memiliki hati raksasa. Ia mudah menangis.

            “Tak usah kau bersedih, istriku. Biarkan anak kita menjalani takdirnya. Ia terlahir sebagai penyelamat Pandawa. Kelak, di pundaknya lah kemenangan kita di perang Bharatayuda akan tereguk.”

            “Aku rindu Jabang Tetuko-ku yang dulu.”

***

            Gatotkaca telah menjelma menjadi mesin perang yang sempurna. Pandawa beruntung memilikinya. Perang besar yang kelak pecah demi mempertaruhkan harga diri Pandawa dan Korawa bukan tak mungkin akan ditentukan oleh kehadiran Gatotkaca. Kini kumis melintang menambah kesan sangar di wajahnya. Ia bukan lagi seorang remaja tanggung yang kesepian. Ia bahkan telah siap meminang Pregiwa, putri Arjuna. Namun, ia merasa perlu meminta nasehat dari ibunya. Ibu yang telah lama tak dikenalnya.

            “Ibu, saya hendak menyunting Pregiwa, putri paman Arjuna. Mohon doa restu dari ibu.”

            “Anakku, Jabang Tetuko, menikah lah dengan wanita pilihanmu. Pregiwa adalah wanita yang sempurna untukmu.”

            “Terima kasih ibu. Saya mohon pamit.”

            “Apa kau hendak pergi begitu saja? Tak rindukah kau pada ibumu, Jabang?”

         Kalimat ibunya yang diucapkan dengan suara parau itu mengejutkan Gatotkaca yang hendak beranjak keluar. Ia menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuh raksasanya. Dipandanginya sang ibu, wanita yang telah mewariskan darah raksasa dalam dirinya. Begitu asing, begitu tak tersentuh.

            “Ibu, saya……”

            “Ya, sudahlah. Aku tahu kau tidak membutuhkanku lagi. Tentu Pregiwa akan menjadi wanita yang melengkapi dirimu. Aku hanyalah wanita yang kebetulan melahirkanmu dan mengalirkan darah raksasa di tubuhmu. Maafkan ibu nak.”

            “Maaf? Untuk apa bu?”

            “Untuk darah raksasamu. Untuk takdir hidupmu yang kesepian dan penuh rasa sakit dan kebencian.”

            “Kenapa ibu merisaukan takdir saya? Saya bangga menjadi pembela Pandawa. Saya rela menjadi martir untuk melawan kekejian Korawa. Ibu tentu paham maksud saya. Saya ingin memenangkan pertarungan ini bu. Dan lagi, nama saya sekarang Gatotkaca!”

            Arimbi membisu. Namun hatinya terisak. Ia tak mengenal lagi Jabang Tetuko, bocah kecilnya dulu. Hatinya menangis, bukan oleh perangai anaknya yang asing, namun oleh takdir malang anaknya itu. Takdir yang kelak akan mengorbankannya di perhelatan akbar perang Bharatayuda, yang di matanya tak lebih dari perang saudara memuakkan demi gengsi dan kekuasaan.

 

Rawamangun, Juni-Juli 2011

 

Eko B. Nugroho

Lahir di Sleman, 20 Agustus 1985. Menulis cepen dan resensi buku di beberapa media massa.

From → cerpen

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: