Skip to content

Tentang Perjuangan Meraih Mimpi

December 17, 2012

Image        

          Meskipun keadaan serba sulit, kita harus tetap berjuang demi mewujudkan impian. Kira-kira itu lah pesan tersirat dari novel berjudul A Single Shard karya penulis asal Amerika Serikat keturunan Korea, Linda Sue Park. Melalui karakter bernama Tree-ear, pembaca akan tersentuh betapa upaya sekecil apa pun jika dikerjakan dengan sungguh-sungguh dan penuh keyakinan akan berbuah manis.

            Di desa Ch’ulp’o di pantai barat Korea, hiduplah dua gelandangan beda usia, Tree-ear dan Crane-man. Mereka tinggal di kolong jembatan, bertahan hidup dengan mengais sisa makanan di tumpukan sampah atau berburu di hutan. Meskipun begitu, Tree-ear bertekad untuk mengubah nasibnya menjadi lebih baik.

            Setting waktu novel ini adalah pada abad ke-12, di mana kerajinan keramik seladon—keramik berglasir hijau jernih—asal Korea sedang berada pada masa keemasannya mengungguli keramik China. Desa Ch’ulp’o yang di peta modern masuk dalam distrik Kaesong, Korea Utara adalah salah satu pusat produksi keramik seladon terbaik.

            Tree-ear yang baru berusia 12 tahun sudah menetapkan tujuannya: menjadi perajin keramik terbaik. Maka, ia sering mengintip Min—salah satu perajin ulung di desa itu, yang tengah berkarya. Namun, tanpa sengaja ia memecahkan salah satu keramik mahal milik Min dan terpaksa harus bekerja tanpa dibayar untuk melunasi hutangnya.

            Ketika hutangnya lunas, Tree-ear tetap ingin mengabdi kepada Min agar ia bisa belajar kepadanya. Dengan giat ia melakukan apa saja yang diperintahkan oleh Min. Namun sayang, Min tetap enggan mengajarinya membuat keramik. Menurut tradisi, para perajin keramik hanya menurunkan keahliannya kepada putra kandung saja. Hyung-gun, putra semata wayan Min, telah tiada.

             Tree-ear tak berkecil hati. Crane-man yang bijak menyemangatinya, “angin yang meniup satu pintu hingga tertutup sering kali membuka pintu lainnya” (hal. 122). Kesempatan yang lain itu terbuka ketika Min diharuskan mengirim sampel keramik ke Songdo untuk memenangkan tender memasok keramik kerajaan.

            Dengan berani, Tree-ear menawarkan diri untuk menggantikan majikannya menempuh perjalanan panjang ke Songdo, ibukota kerajaan kala itu. Berhari-hari ia berjalan kaki melewati bukit, lembah dan hutan demi membuktikan kemampuannya sekaligus membalas kebaikan Min dan istrinya yang telah memberinya makanan.

            Ketika beristirahat di sebuah bukit di Puyo, Tree-ear disergap oleh dua perampok. Kecewa karena hanya menemukan dua vas keramik, mereka pun melemparkan vas-vas itu ke jurang hingga hancur. Tree-ear yang sudah menempuh setengah perjalanan tak ingin usahanya sia-sia. Ia memungut kepingan pecahan vas terbesar dan membebatnya dengan tanah liat.

            Dalam keadaan lemah dan kurang makan, Tree-ear sampai di Songdo. Asisten Kim memarahinya karena cuma kepingan vas saja yang mampu ia tunjukkan. Namun, itu cukup bagi Kim yang ahli keramik. Kesempurnaan bentuk, glasir dan torehan yang terlihat di kepingan itu meyakinkannya untuk memilih Min sebagai pemasok keramik kerajaan.

            Sekembalinya di Ch’ulp’o, Tree-ear mendapati sahabat karibnya, Crane-man telah tiada. Namun, di saat bersamaan ia pun mendapatkan keluarga dan rumah baru karena Min dan istrinya memintanya tinggal bersama mereka. Ia juga mendapatkan nama baru, Hyung-pil. Yang paling mengharukan, Min pun luluh dan mau mengajarinya membuat keramik. Impian Tree-ear akhirnya terwujud setelah upaya yang melelahkan dan tak kenal menyerah.

            Novel ini sangat inspiratif dan menarik meskipun sejatinya ditujukan bagi usia anak-anak dan remaja. Penggarapannya juga tak main-main karena penulis melakukan riset pustaka mendalam untuk menelusuri sejarah keramik seladon Korea. Ia juga giat berkunjung ke berbagai museum untuk melihat langsung keindahan keramik seladon peninggalan dinasti Koryo (918-1392).

Tak ayal, pembaca akan dibuat kagum oleh gambaran proses pembuatan keramik yang rumit dan lama, berbagai jenis karya keramik seladon yang indah, bahkan panorama desa Ch’ulp’o dan aspek sosio-kultural masyarakat Korea pada masa itu. Wajar jika novel ini meraih Newbery Medal Award pada tahun 2002.

Data Buku:

Judul               : A Single Shard: Sekeping Mimpi Bocah Yatim Piatu dari Desa Ch’ulp’o

Penulis             : Linda Sue Park

Penerjemah      : Maria M. Lubis

Penerbit           : Atria, Jakarta

Cetakan           : I, Maret 2012

Tebal               : xxv + 191 halaman

Harga              : Rp. 35.000,-

From → review buku

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: