Skip to content

Gerakan Intelektual Melawan Dominasi

December 19, 2012

Kemajuan sebuah bangsa turut ditentukan oleh kaum intelektualnya. Para cerdik cendekia diharapkan memberikan sumbangsih bagi masyarakat. Namun, kadang independensi dan otonomi intelektual dipertanyakan ketika bersinggungan dengan kekuasaan. Di manakah posisi intelektual?

Ada tiga pendekatan yang mendedah posisi intelektual. Pertama, merujuk pada pandangan Julien Benda yang melihat intelektual berposisi di atas awan. Intelektual yang bekerja untuk pemerintah atau perusahaan sejatinya mengkhianati kebenaran. Paradigma ini dikenal dengan Bendaisme.

Kedua, pendekatan yang dipopulerkan oleh Antonio Gramsci. Menurutnya, semua orang adalah intelektual, namun tidak semua orang mempunyai fungsi intelektual dalam masyarakat. Intelektual yang bergabung dengan penguasa tidak melanggar kebenaran profesinya, namun melanggar kepentingan kelas sosialnya.

Pendekatan ketiga datang dari pemikiran Karl Mannheim dalam karyanya, Ideologi dan Utopia. Ia berpendapat bahwa intelektual bukanlah bagian dari kelas mana pun, namun merupakan orang bebas (free-floating). Intelektual bertugas memberikan saling pengertian di antara kelas-kelas dan menjaga nilai-nilai di masyarakat.

Tiga pendekatan di atas dikritik oleh Pierre Bourdieu, sosiolog Prancis. Menurutnya, pendekatan-pendekatan tersebut gagal untuk melihat intelektual secara komprehensif. Pandangan Bendaisme menempatkan intelektual di menara gading. Teori Gramsci pun bisa terjebak dalam soal kekuasaan. Sedangkan pendekatan Mannheim terlalu utopis.

Buku karya Arizal Mutahir ini berikhtiar untuk menelaah pemikiran Bourdieu tentang intelektual. Bagi Bourdieu, intelektual menanggung kepentingan universal, yakni mempertahankan kebenaran dan keberpihakan pada yang tertindas (hal. 9).

Bourdieu, pertama-tama, mengkritisi pertentangan antara dua paradigma: objektivisme versus subjektivisme. “Pertentangan yang tak masuk akal antara individu dan masyarakat,” begitu komentarnya (hal. 50).

Untuk menjembatani dua kubu itu, Bourdieu menawarkan metode ‘strukturalis genetis’, yakni sebuah cara berpikir relasional di mana struktur objektif dan representasi-representasi subjektif, agen dan pelaku, terjalin berkelindan secara dialektis.

Maka, dunia sosial di mata Bourdieu tidak semata hanya kumpulan perilaku individu maupun tindakan yang ditentukan oleh struktur, namun merupakan praktik sosial. Ia merumuskannya dengan persamaan: (Habitus x Modal) + Arena = Praktik.

Habitus merupakan seperangkat pengetahuan, nilai, atau cara bertindak agen sosial yang umumnya bekerja di bawah aras ketidaksadaran. Modal adalah hubungan sosial atau energi sosial yang menentukan kedudukan sosial. Arena adalah sistem dan relasi yang erat kaitannya dengan ruang sosial. Pertarungan demi posisi sosial para agen terjadi dalam arena.

Agen-agen sosial menjalankan strategi-strategi demi akumulasi modal simbolis. Mereka yang memiliki modal simbolis melimpah—seperti gelar, status bangsawan, atau jabatan—akan mendominasi arena. Inilah yang disebut sebagai kekerasan simbolis.

Kaitannya dengan intelektual, Bourdieu sangat menekankan agar otonomi intelektual dipertahankan meskipun dalam ‘pertarungan’ tersebut terkadang arena kekuasaan begitu mendominasi dan menghegemoni arena produksi budaya.

Menurut Bourdieu, otonomnya sebuah arena tergantung dari kemauan agen yang ada di dalamnya untuk mempertahankan prinsip dan aturan yang berlaku di sana (hal. 121). Integritas intelektual terhadap prinsip keilmuannya pun diuji.

Intelektual Kolektif

Mewabahnya globalisasi mengancam otonomi intelektual. Globalisasi oleh Bourdieu disebut sebagai universalisme palsu (fake universalism) karena melayani kepentingan kaum dominan. Parahnya, intelektual kerap mengidap ketidaksadaran kolektif, mudah percaya pada perspektifnya sendiri yang mungkin saja dipengaruhi oleh keadaan sekitar.

Ideologi neoliberalisme menjadikan dunia semakin komersial. Hal itu disokong oleh ‘hubungan haram’ antara kekuatan media, politik dan ekonomi. Intelektual makin terpinggirkan. Teknokrat, bankir, CEO perusahaan lebih berkuasa untuk menentukan kebijakan dan arah politik dunia.

Bourdieu menawarkan sebuah gerakan yang ia sebut intelektual kolektif (collective intellectual), berupa gerakan lintas budaya, bangsa, negara dan multidisipliner. Gerakan ini memiliki struktur bebas, jaringan informal, dan tidak terkonsenterasi di satu pusat. Beragam aliran pemikiran, perspektif dan cita-cita juga diakomodasi. Gerakan ini juga menekankan kemandirian intelektual serta keterlibatan politik.

Tak sekadar berteori, dalam tataran praksis pun Bourdieu konsisten dengan keyakinannya bahwa intelektual harus berpihak kepada kelas yang terdominasi. Pada 12 Desember 1995, ia turun dalam aksi pemogokan umum. Maret 1996, ia menandatangani petisi pembangkangan sipil melawan hukum Prancis yang memperketat legislasi imigrasi. Bahkan, ketika kaum pengangguran menduduki kampusnya pada 1998, ia justru memihak mereka.

Bourdieu juga mendukung intelektual Aljazair, menolak penghapusan subsidi atas nama pasar bebas, membela kaum tuna wisma, buruh, bahkan lesbian dan gay. Sikap politiknya yang cenderung menentang kebijakan pemerintah membuatnya diserang oleh media-media Prancis. Namun, ia tak surut karena menurutnya itulah yang harus dilakukan intelektual, yakni sebagai ‘juru bicara’ bagi kaum yang tertindas.

***

            Buku ini menjadi oase menyegarkan di tengah minimnya literatur pemikiran Bourdieu di Indonesia. Gerakan intelektual kolektif Bourdieu layak dipertimbangkan sebagai model gerakan pembaruan pasca reformasi. Sudah saatnya kaum intelektual berkumpul, merumuskan gerakan bersama demi Indonesia yang lebih baik, bukan berdiam diri di menara gading atau justru melacurkan diri dengan proyek-proyek penguasa.

Eko Budi Nugroho

Penulis lepas dan penerjemah. Bermukim di Rawamangun, Jakarta Timur.

Data Buku:

intelektual kolektif pierre bourdieu

Judul               : Intelektual Kolektif Pierre Bourdieu: Sebuah Gerakan Untuk Melawan Dominasi

Penulis             : Arizal Mutahir

Penerbit          : Kreasi Wacana, Yogyakarta

Tahun              : I, 2011

Tebal               : x + 222 halaman

ISBN               : 978-602-8784-24-5

Harga             : Rp 35.000,00

From → review buku

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: