Skip to content

Senja di Taman Tiananmen

December 21, 2012

“Lihat lah, koh, kamerad-kamerad kami sedang berorasi dengan gagah berani. Kau beruntung menjadi saksi tonggak sejarah demokrasi di negeri kami.”

Mukamu memerah. Mungkin karena terik yang tak mampu kau tahan lebih lama, meski pun aku tahu sebagai kader Liga Pemuda Komunis Tiongkok kau takkan pernah mengeluh kecuali sekarat. Atau, mungkin saja merah di wajahmu itu karena semangat yang menyala-nyala. Merah, semerah lautan anak-anak muda di taman ini. Oh ya, sebelumnya kami berdua memang sepakat menyebut tempat ini taman, bukan lapangan seperti kebanyakan orang menyebutnya.

***

            Setahun yang lalu, ketika aku baru memasuki awal-awal semester kuliahku di Peking. Beruntung bagiku mendapatkan beasiswa di negeri yang sangat kudambakan ini. Sebab, dalam diriku mengalir darah Tiongkok dari leluhurku. Entah tingal berapa persennya saja, sebab fisikku pun tak mirip orang Tiongkok. Dan di taman ini lah aku bertemu denganmu, Chai Ling, perempuan mungil yang enerjik.

“Indah bukan taman ini?” pertanyaanmu mengejutkanku yang tengah kebingungan sekaligus takjub dengan luasnya tempat yang konon sudah tersohor sejak zaman dinasti Qing itu.

“Eh, taman? Bukankah orang-orang menyebutnya lapangan? Lapangan Tiananmen?”

“Hmm, mungkin kalian orang-orang asing terbiasa menyebutnya lapangan. Tak mengapa. Orang-orang dari provinsi lain pun kerap menyebutnya lapangan. Tapi, bagi kami warga Peking, ini adalah taman yang indah.”

“Memang indah. Taman Tiananmen.” Entah mengapa aku bisa langsung sepakat denganmu di hari pertama kita bertemu itu.

“Dari mana asalmu? Aksenmu payah sekali.”

“Aku dari Indonesia. Program pertukaran mahasiswa.”

“Aah… Indonesia. Aku suka Indonesia. Soekarno!”

Indonesia lebih dari sekadar Soekarno, gumamku. Tapi, apa boleh buat. Soekarno memang memiliki pesona yang besar.

“Apakah kau ditempatkan di Universitas Peking?”

“Bagaimana kau tahu itu?”

“Aku juga kuliah di sana. Fakultas psikologi. Sejak tadi aku melihatmu berjalan linglung dari kampus menuju taman ini.”

Begitulah pertemuan kita yang menyenangkan di waktu senja di Taman Tiananmen. Sejak itu, kau kerap mengajakku menghabiskan sore menunggu senja di taman rakyat tersebut. Berjalan mengitari dari sudut ke sudut, yang akan membuat betisku nyeri begitu tiba di asrama malam hari. Namun, anehnya aku akan mengikuti ritualmu lagi esok sore. Berjalan di pelataran raksasa itu, menatap potret raksasa “Ketua Besar Mao,” begitu jelasmu dengan bangga dan mata berkaca-kaca.

“Ketua Besar Mao telah berjuang sekuat tenaga demi mewujudkan revolusi. Sudah sepantasnya kami menghormati jasa-jasa besar beliau dan Partai.”

Melihatku terdiam dan terpana dengan ukuran potret itu—sebenarnya sudah berkali-kali aku melihatnya, dan berkali-kali pula aku terpana akan ukurannya yang sangat besar itu—kau tersenyum simpul, lalu menyimpulkan dengan polos, “Kau tentu terbawa suasana, bukan? Kau pasti sedang mengingat Jenderal Besar Revolusi, Soekarno-mu ya?”

Aku tetap terdiam. Sekuat apa pun aku mencoba untuk menghayati suasana penghormatanmu atas Ketua Besar Mao-mu, aku tetap tak sanggup merasakan hal yang sama. Hmm, setidaknya mungkin karena kini di negeriku sudah ada Jenderal besar lain yang sedang berkuasa. Sejatinya, aku pun tak terlalu mengenal Soekarno.

“Tunggu dulu… Coba kau ulangi lagi, siapa namamu?,” tanyamu di senja yang lain di taman kita itu. Kau mencoba menahan tawa, mukamu memerah. Akh, rupanya aku baru sadar bahwa mukamu mudah memerah.

“Eko,” jawabku singkat tanpa embel-embel Partosoebroto, yang tentunya akan lebih membuatmu terpingkal-pingkal.

“Ei-koh..” kau mengulang namaku dengan terbata. Apa memang sesulit itu? Apalagi jika kutambahi nama belakangku.

Kau menahan tawa lagi. Katamu, kau akan memanggilku koh saja agar mudah diucapkan dan mudah diingat. Ya, mudah diingat. Aku suka yang terakhir. Namun, begitu kau menjelaskan sambil terbahak-bahak bahwa kata itu mengingatkanmu pada seorang pria tua dengan tongkat, aku langsung masam.

“Chai Ling,” aku menirukan namamu tanpa kesulitan. Rupanya orang-orang Indonesia memang dikenal memiliki lidah yang fleksibel, mudah menyesuaikan dengan berbagai kerumitan bahasa asing. Ah, beruntung benar aku sebagai orang Indonesia.

Namun, panggilan biasa itu tak bertahan lama. Suatu senja yang lain di taman yang sama, aku memanggilmu Ling-er. Kau tersipu. Dan, lagi-lagi mukamu memerah. Entah, merah karena matahari yang masih lumayan benderang atau karena darahmu terpompa terlalu cepat sebab jantungmu bergetar terlalu cepat pula. Mukamu memang terlalu sering memerah.

Sepanjang semester-semester awal itu, aku merasakan waktu-waktu terbaik dalam masa studiku di sini. Sore hari selalu menjadi waktu yang aku nanti-nantikan. Kau sendiri dua tingkat di atasku, seharusnya aku memanggilmu senior dan memperlihatkan kecanggungan di depanmu. Terlebih, di kampus kau dikenal sebagai aktivis Liga yang vokal dan cerdas. Tetapi, akh, jika senja telah tiba di taman kami ini, aku cuma ingin memanggilmu Ling-er, Ling-er, Ling-er berulang kali hingga merah di wajahmu itu permanen seperti warna bendera Partai yang kau banggakan itu.

Tetapi, semenjak eskalasi politik kian memanas usai pemecatan Hu Yaobang, sekretaris jenderal Partai Komunis Tiongkok, kita jadi jarang bertemu. Kau kian bersemangat untuk menggalang massa, berkeliling di tiap fakultas dan kampus-kampus. Sesekali aku berpapasan denganmu, mukamu nampak kuyu, jelas kau kelelahan. Namun, semangatmu tak hilang. Kau masih menyungging senyum dan berkata kepadaku, “Maaf, demi revolusi.”

“Kapan kita berjalan-jalan di taman lagi, Ling-er?”

“Tak lama lagi, koh. Tak lama lagi. Kita akan berjalan-jalan di taman. Kita semua. Orang-orang ini.”

“Bukan kita berdua saja?” Aku merasa seperti bocah ingusan yang merengek pada ibunya.

Kau tersenyum lagi. “Tunggu kabar dariku, koh. Aku akan mengabarimu segera.”

Ling-er…

Aku mulai menjalani hari-hari yang membosankan di kampus. Banyak mahasiswa yang tidak menghadiri perkuliahan. Terlebih, ketika ada pengumuman bahwa Hu Yaobang meninggal dunia. Sontak, gelombang duka cita menyeruak. Aku merasakan sebuah gelombang solidaritas yang sangat tinggi dari mahasiswa-mahasiswa berbagai kampus.

Ketika pulang ke asrama, kamar-kamar telah sepi. Rico, teman seperjuanganku dari tanah air, memberitahuku bahwa Chai Ling sempat datang ke asrama dan mengabariku bahwa ia telah bergerak bersama mahasiswa ke Taman Tiananmen. Meskipun ia tak meninggalkan pesan agar aku menyusulnya ke sana, aku langsung bergegas mengambil jaket jeansku dan berlari turun.

“ko… Kita semua mahasiswa Indonesia sudah diberitahu harus tetap tinggal di asrama. Jangan ikut-ikutan!”, teriak Rico. Aku tak peduli. Aku harus menemui Ling-er-ku.

Memasuki jalan arteri Chang’an, manusia-manusia tumpah ruah bak banjir bandang. Sepertinya tidak saja mahasiswa, namun juga seluruh penduduk Peking ikut menangisi kematian Hu Yaobang, yang dikenal sebagai pejabat jujur itu. Aku terus berlari menuju Taman Tiananmen.

Di tengah taman, kau seperti sebuah titik kecil yang rapuh, berdiri di atas podium, diselingi kibaran panji-panji dan poster-poster besar. Namun, pidatomu bergema sampai ke seantero taman. Seolah-olah, ratusan ribu manusia yang berkumpul di sini tersihir oleh suaramu. Bahkan kurasa Monumen Pahlawan Rakyat yang menjulang tinggi itu pun bergetar.

Aku terus merangsek maju hingga sampai di seberang podium. Kau turun dengan gerakan yang tangkas, memberikan tempat bagi kamerad Wang Dan, sang komandan serikat mahasiswa untuk berorasi. Wajahmu memerah, seperti biasa.

Kau mendatangiku dan menyerocos tentang pengerahan massa besar-besaran, tentang kamerad-kamerad kalian yang lantang berpidato, tentang tuntutan-tuntutan terhadap pemerintah, tentang Tiongkok baru, dan tentang kita tentunya. Ya, tentang kita.

“Kau seharusnya tidak ke sini, koh… Bukankah mahasiswa-mahasiswa asing sudah diperingatkan tidak boleh ikut-ikutan di sini?”

“Ah, aku ke sini bukan untuk ikut-kutan. Aku cuma…

“Apa koh?”

“Cuma ingin melewatkan senja denganmu di taman ini seperti dulu.”

Kali itu senja di taman Tiananmen terasa begitu meriah. Lautan manusia terus membludak, disertai umbul-umbul, poster-poster dan yel-yel. Aku bahkan turut menyanyikan Internationale bersama Ling-er. Tentu lain ceritanya jika di Indonesia. Aku bisa diciduk lantaran lagu itu berbau komunis.

Beberapa hari berikutnya aku melihatmu timbul tenggelam dalam lautan manusia yang makin bergemuruh dan makin marah. Ribuan mahasiswa duduk di tengah-tengah lapangan, mendirikan tenda-tenda dan menggelar aksi mogok makan. Kurasa kau pun ada di salah satu tenda itu sedang terbujur lemah dengan bibir mungilmu yang kering. “Demi demokrasi, demi Tiongkok baru,” ujarmu tentang semua ini.

***

            Aku menyesal sekali di saat-saat terakhir itu aku tak dapat menemuimu untuk pamit. Situasi memburuk di Peking, dan kami, mahasiswa-mahasiswa Indonesia terpaksa harus dievakuasi dari asrama kami. Aku sempat menyusuri jalanan Chang’an yang dipenuhi bis-bis dan blokade-blokade yang dibangun mahasiswa dan warga. Seolah bakal ada perang pecah di sini.

Kini aku cuma bisa menatap getir berita di layar televisi mengenai peristiwa penyerbuan pasukan tentara pembebasan rakyat ke Tianamen.

4 Juni 1989. Tank-tank, kendaraan lapis baja, dan artileri-artileri berat dikerahkan. Unit-unit kesatuan elit dan polisi anti huru hara bersenjata lengkap mengepung para demonstran tak bersenjata.

Aku sudah mencoba mengontak beberapa rekanmu di Tiongkok, namun tak ada kabar. Akh, aku masih ingin menikmati senja bersamamu di Taman Tianamen, Ling-er.

 

Ambarketawang, Maret 2012

Eko Budi Nugroho, menulis cerpen dan resensi buku.

From → cerpen

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: