Skip to content

Kisah Pribumi yang Terpinggirkan

January 7, 2013

Sampai saat tanah moyangku

Tersentuh sebuah rencana dari serakahnya kota

Terlihat murung wajah pribumi

Terdengar langkah hewan bernyanyi

—Iwan Fals

 

            Penggalan lagu Ujung Aspal Pondok Gede di atas sepertinya tepat menggambarkan nasib pribumi Jakarta, kaum Betawi. Meski orang-orang Betawi adalah penduduk asli kota yang pada 22 Juni lalu berulang tahun ke-482, mereka justru tersisihkan oleh laju pembangunan di tanah kelahiran mereka sendiri. Jakarta cuma menyisakan sedikit tanah untuk kantong-kantong pemukiman Betawi, seperti Condet, Pasar Baru, Palmerah, dan lain-lain. Sisanya, minggir ke daerah penyangga seperti Tangerang, Depok dan Bekasi.

Penulis muda, Ratih Kumala, merekam kronik kehidupan kaum pribumi yang terpinggirkan itu dalam novel terbarunya, Kronik Betawi. Sebelumnya, novel ini pernah dimuat secara berkala di harian Republika (Agustus-Desember 2008) dalam bentuk cerita bersambung. Dengan gaya narasi yang mudah dipahami dan kental nuansa Betawi, novel ini menyuguhkan kisah kehidupan orang-orang Betawi dalam keseharian mereka, pola pikir, dan permasalahan yang lazim mereka hadapi.

Cerita bermula ketika Haji Jaelani dikagetkan oleh banjir yang tiba-tiba menggenangi seisi rumahnya pada dini hari jelang Subuh. Meskipun ia mulai terbiasa dengan banjir, namun hatinya miris juga. Daerah Karet yang ia tempati sejak bersama istri pertamanya yang telah meninggal, Rimah, dulu tak pernah dilanda banjir. Namun kini lingkungan telah rusak dan Karet menjadi langganan banjir.

Haji Jaelani adalah anak tertua dari Bung Juned, yang di masa mudanya dikenal berani. Bung Juned pernah belajar silat pada Haji Ung atau Jiung, pahlawan Betawi yang juga kakek Benyamin Sueb. Jaelani memiliki dua orang saudara, Haji Jarkasi dan Juleha. Dari ketiga tokoh inilah jalinan cerita dalam novel ini bergulir, dengan alur maju-mundur (flash back) yang jika dirunut bisa bermula dari zaman penjajahan Belanda, Jepang, orde lama, orde baru, hingga masa reformasi.

Ketiga anak Bung Juned dan Ipah itu kemudian membentuk keluarga mereka masing-masing. Perkawinan Jaelani dan Rimah menghasilkan tiga orang anak: Juned, Japri, dan Enoh. Ketika Jaelani duda, ia menikahi Salomah dan dikaruniai seorang anak, Fauzan. Jarkasi menikahi Enden dan dikaruniai anak semata wayan, Edah. Malangnya, Juleha yang menikah dengan Jiih tidak mendapatkan keturunan, sehingga Jiih pun menikah lagi dengan perempuan lain.

Konflik mulai muncul ketika banyak pengembang yang datang ke Karet untuk membeli tanah-tanah penduduk. Menurut rencana, wilayah Karet dan Kuningan akan dikembangkan menjadi daerah bisnis bergengsi nantinya. Jaelani yang bersikeras untuk mempertahankan tanahnya itu akhirnya menyerah juga pada petugas Badan Otorita. Sebelumnya, ia sempat mengusir dua orang berpenampilan parlente yang mengaku-aku tanah itu milik Sultan Agung. Warga sekitarnya menjual tanah mereka satu persatu, tak mungkin Jaelani bertahan sendirian. Ia dan keluarganya akhirnya memilih pindah ke tanah relokasi di Pondok Rangon.

Duri dalam keluarga Jaelani adalah dua anak tertuanya: Juned dan Japri. Setelah ditinggal oleh ibu kandungnya, mereka berubah menjadi bandel. Bahkan, mereka pun memutuskan untuk berhenti sekolah ketika SMP. Mereka juga masih meminta uang pada Jaelani meskipun keduanya telah berumah tangga. Ketika Jaelani menyerahkan peternakan sapi di Pondok Rangon kepada mereka, justru mereka melimpahkan segala urusan kandang pada Paiman, pemuda asal Boyolali yang kelak menjadi peternak sapi sukses berkat ketekunannya mempelajari peternakan sapi selama bekerja kepada mereka.

Motor yang dibelikan oleh Jaelani pun juga dipakai untuk mengojek, bukan sebagai sarana untuk mengurus sapi. Puncak kekesalan Jaelani adalah ketika motor Juned diambil orang karena kalah trek-trekan. Ia tak mau lagi mengurusi dua anaknya yang sudah bangkotan itu. Toh, akhirnya ia kasihan juga pada mereka sehingga ia pun membuat kontrakan agar keduanya memiliki sumber penghasilan sendiri.

Beda dengan kakaknya Jaelani yang mengikuti jejak ayah mereka mengurus peternakan sapi dan menjual susu, Jarkasi menekuni dunia seni, khususnya gambang kromong. Walaupun kesenian tradisional Betawi yang merupakan campuran antara budaya Cina, Betawi dan Arab itu mulai tergerus oleh modernisasi, ia tetap bertahan. Order manggung mulai sepi, anak-anak muda tak ada yang tertarik menggeluti kesenian tradisional. Namun, diam-diam ia berharap pada anaknya Edah yang nampaknya tertarik pada seni tradisional.

Edah mahir menari dan bercita-cita menari sampai ke luar negeri. Sayangnya, Enden tak suka anaknya menari. Baginya, perempuan yang menari itu gampangan dan bisa dipakai. Ketika Edah mendapatkan kesempatan misi kebudayaan ke Belanda, Enden tak setuju. Namun, berkat jaminan Juleha, cita-cita Edah pun terkabul. Ia berangkat ke Belanda.

Juleha adalah tokoh yang paling menderita dalam novel ini. Ia dimadu oleh suaminya, persis seperti yang dialaminya oleh ibunya, Ipah. Jiih, suaminya, dulunya adalah seorang pemuda mesjid yang santun dan saleh. Setelah Jiih menjadi haji, ia pun populer sebagai penceramah hingga memiliki jadwal ceramah di Radio Kayu Manis. Sayangnya, citra yang baik di mata orang lain itu tidak sama di mata Juleha. Ia merasa dikhianati dan dizalimi gara-gara si buah hati tak kunjung lahir dari rahimnya.

Sang suami akhirnya mengakui bahwa ia telah berijab kabul dengan perempuan lain sebelum Juleha memberikan ijin. Perasaannya makin hancur ketika istri kedua Jiih mampu memberikan anak. Ia membunuh perasaan sepi dengan mengurusi perusahaan percetakan yang mulai tak terurus sejak Jiih lebih banyak meluangkan waktu untuk istri keduanya. Juleha kemudian juga terkenal sebagai penceramah bagi ibu-ibu, berbagi bersama yang lain tentang pengalaman hidupnya dan mengambil hikmahnya.

Pribumi yang terpinggirkan

            Meskipun Jakarta sempat memiliki seorang gubernur yang asli orang Betawi, namun nasib pribumi Jakarta ini masih sama: kian terpinggirkan oleh derap pembangunan. Dalam novel ini, tokoh Jaelani beberapa kali bermonolog, menceritakan kegundahannya akan masa depan kaumnya.

Ketika ia bertemu dengan Paiman, pemuda Boyolali yang pernah bekerja di peternakannya, ia tertegun. Pemuda yang dulunya cuma mengurusi sapi miliknya dan selalu belepotan tahi itu kini sudah punya 200 ekor sapi serta telah membina keluarga sendiri. Ia menyayangkan kedua anaknya, Japri dan Juned yang justru tak mau belajar mengurus peternakan yang dulu ia wariskan.

Suatu kali Jaelani, Fauzan dan Salempang—menantunya, menyusuri kawasan Kuningan dimana dulu pernah beridiri rumahnya yang asri. Kawasan itu telah berubah menjadi pusat bisnis, dengan ruko dimana-mana. Ia terperangah. Seandainya dulu ia tak menjual tanahnya, mungkin kini ia tinggal menikmati hasil sewa ruko miliknya. Nasi sudah menjadi bubur. Kawasan-kawasan elit Jakarta telah berpindah tangan ke para pengembang yang sebagian besar, ironisnya, adalah pendatang.

Konflik Antar Generasi

            Meskipun Juned dan Japri adalah produk gagal Jaelani, ia memiliki seorang anak bernama Fauzan yang lulus UMPTN dan bahkan akhirnya lolos beasiswa ke Amerika. Di pundak anak bungsunya inilah Jaelani menaruh harapan akan generasi muda Betawi. Tiap anaknya berangkat kuliah, Jaelani membayangkan anaknya itu akan menjadi insinyur kelak seperti Si Doel Anak Sekolahan.

Jaelani menyesalkan keputusannya dulu untuk membolehkan Juned dan Japri putus dari bangku sekolah, padahal ia mampu membiayai mereka. Justru, mereka lebih senang ongkang-ongkang kaki dan minta disuapi hingga mereka berumah tangga. Apa daya, Jaelani cuma bisa mengelus dada mengingat betapa dulu ia harus kerja keras untuk memperoleh uang dan membeli sapi.

Edah, anak Jarkasi, mencerminkan generasi muda Betawi yang masih peduli terhadap kesenian tradisional. Namun, justru emaknya sendiri, Enden, yang berpikiran kolot malah tidak suka anaknya menekuni tari tradisional. Apalagi, Edah pernah ditipu oleh seseorang yang mengiming-iminginya menari di Jepang, padahal itu adalah kedok perdagangan manusia (trafficking).

Konflik beda generasi ini mencerminkan kondisi sosial masyarakat Betawi saat ini, dimana di satu sisi generasi muda Betawi identik dengan tingkat pendidikan yang rendah dan pengangguran. Di sisi lain, masih ada pemuda-pemudi Betawi yang berpikiran maju dan tak mau kalah bersaing dengan para pendatang. Mereka ini memandang pendidikan itu penting dan perlu usaha keras untuk mencapai kesuksesan.

Kekuatan novel ini adalah pada penggambaran karakter tiap tokohnya yang kuat. Masing-masing tokoh memiliki peran yang penting dan seolah-olah bukan sekadar tempelan dalam novel ini. Di samping itu, alur seting yang maju mundur yang mau tak mau latar Jakarta tempo doeloe harus diceritakan secara akurat tak menjadi halangan yang berarti bagi penulis. Pembaca dibawa seolah-olah kembali ke masa lalu, dimana jalanan Jakarta masih lengang, trem masih beroperasi, dan gambang kromong masih menjadi primadona di masyarakat.

Sayangnya, dramatisasi konflik kurang menggelegar sehingga berbagai momen yang sebenarnya bisa dipicu untuk menciptakan konflik yang membara justru terasa hambar. Misalnya, Juleha yang dimadu oleh suaminya dan dalam hatinya ia ingin ribut besar dengan suaminya. Pembaca mungkin akan dikecewakan karena yang ada cuma sindiran-sindiran kecil, bahkan Juleha yang kemudian menjadi penceramah yang sukses menyaingi suaminya menjadi penyelesaian yang ganjil.

Cerita ditutup dengan perpisahan antara Jaelani dengan Fauzan, anaknya yang mendapatkan beasiswa S2 ke Amerika Serikat. Dengan penuh harapan akan perubahan nasib kaumnya, si babe mengingatkan anaknya untuk pulang ke Indonesia lagi kelak agar menjadi pemimpin yang baik.

“Jan, lu boleh pergi jauh-jauh. Cuma gue pesen, lu balik lagi ke Indonesia, dan jadi pemimpin kite ye!”

“Iye Beh.”

Eko Budi Nugroho

kronik-betawi

Data Buku:

Judul Buku      : Kronik Betawi

Penulis             : Ratih Kumala

Penerbit           : PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit     : Cetakan I, Juni 2009

Harga buku     : 40.000,-

Jumlah hal.      : 225 halaman

From → review buku

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: