Skip to content

Mengisi Waktu: Buku dan Menulis

January 10, 2013

Jogja, 10 Januari 2013

 

                Aku rasa aku telah berada di titik jenuh menunggu jadwal keberangkatanku ke U.S.A.  Berada di rumah terus menerus adalah kesia-siaan, aku paham itu. Energi yang tak tersalurkan, pikiran yang tak terasah oleh lingkungan yang sama. Tempo hari aku mencoba melamar di toko kue Cokro di Pakuncen. Aku mendapatkan link dari ibuku. Tempatnya lumayan modern dengan display yang menarik. Aku merasa bakal betah bekerja di sana nanti. Bagaimana pun, membayangkan bekerja di antara adonan kue itu mengasyikkan.

Mungkin melelahkan, tapi kelihatannya seksi sekali memakai baju putih dan keringatmu harum kue. Sayang, kepala HRD-nya mensyaratkan ijazah asli untuk dititipkan di sana selama satu tahun masa kontrak. Kontan saja aku keberatan sebab takut sewaktu-waktu ada panggilan dari U.S.A dan terpaksa aku harus mengakhiri kontrak itu di tengah jalan, yang berarti wajib membayar denda dua kali gaji pokok baru bisa mengambil ijasahku kembali.

                Jadi lah kini aku harus lebih lama lagi bersabar di rumah. Untuk membunuh bosan, aku nostalgia lagi dengan kegemaranku dulu: membaca. Beberapa kali aku mampir di toko buku seperti Toga Mas atau Social Agency Baru, namun sebetulnya aku kurang nyaman dengan cara mereka men-display buku-bukunya. Terlalu ruwet dan memusingkan. Seharusnya buku-buku dipajang dengan cover depan mereka menghadap ke pengunjung, bukan disimpan menyamping seperti di perpustakaan.

Dulu aku terbiasa betah berlama-lama di toko buku ketika di Jakarta seperti di Gunung Agung atau Gramedia. Meskipun kadang tak membeli, membaca judul-judul yang menarik pun serasa rekreasi yang menyegarkan. Namun di toko-toko buku Jogja aku malah pusing. Memang belum sempat mampir ke Gramedia Jogja sih.

                Rutinitas membaca baru kugalakkan kembali baru-baru ini untuk menyegarkan rutinitasku. Sekitar sebulan atau dua bulan yang lalu aku fokus pada olahraga fisik. Hampir tiap hari aku lari pagi, diselingi dengan menu olahra lainnya seperti lompat tali, sit up, push up dan sebagainya. Aku bukan tipe penggila kesempurnaan fisik, namun aku sadar bahwa berdiam lama di rumah seperti ini mempunyai resiko untuk mudah lapar, mudah makan, dan tentu saja mudah gemuk. Aku pun sebenarnya tak terlalu mempermasalahkan kegemukan, hanya merasa tidak nyaman saja jika tubuhku terlalu gemuk. Sekitar delapan hari lamanya aku juga mencoba untuk tidak makan nasi sama sekali, hal yang kupikir akan mampu mengurangi drastis lipatan lemak di perut. Nyatanya berat badanku hanya turun sekitar tiga kilogram, dan terakhir hanya dua kilogram. Lingkar perut tak terlalu banyak menyusut. Kuputuskan untuk menghentikan saja program diet itu. Aku akan mencobanya lagi dengan jeda waktu tertentu, misal tiga hari makan nasi, tiga hari tanpa nasi. Begitulah.

                Kali ini aku mulai mengendurkan latihan fisikku. Mungkin agak jenuh barangkali. Aku mencoba menggantinya dengan kegiatan menulis. Membaca buku bagiku berarti adalah tahap awal untuk meresensi buku itu. Awalnya dulu adalah sarana untuk melatih keterampilan menulisku di organisasi kampus yang sempat aku geluti. Lalu, sempat menjadi tumpuan nafkah ketika aku memutuskan gantung sepatu dari dunia mengajar di sekolah. Waktu itu aku bahkan telah bertekad untuk hidup dari menulis. Berat sekali memang. Jika ada pepatah klise mengatakan “di Indonesia profesi penulis tak dapat diandalkan” maka aku sendiri yang membuktikannya. Setidaknya sebagai penulis pemula yang terlalu berharap banyak. Menjadi penulis penuh waktu, apalagi pemula, di negeri ini berarti “pengangguran.” Setidaknya itu lah yang ada di anggapan masyarakat pada umumnya. Dan aku sempat merasakan pahitnya cap itu. Hanya penulis-penulis yang telah punya nama, dengan karya-karya bestseller yang benar-benar dapat dianggap sebagai “penulis” dalam artian profesi yang menghasilkan.

                Kini aku tak terlalu berharap hidup dari menulis. Rasanya bebannya jauh lebih ringan. Aku sudah memiliki pekerjaan yang menanti, meskipun belum tahu kapan bakal mulai. Menulis akan aku jadikan kegiatan pengisi waktu luang dan mengaktifkan kembali sel-sel kreatifku agar tidak mati muda. Kelak aku akan menghasilkan karya tulisan yang patut dibanggakan, setidaknya setelah aku menggeluti profesi baru yang menantiku ini. Jadi, kini aku bakal menulis tanpa beban. Tidak lagi menulis sambil menahan lapar dan mendengar gunjingan dari ibu kos atas tunggakan sewa kamar seperti beberapa waktu lalu. Tak lagi panas oleh sindiran pacar yang selalu heran dengan ambisi anehku untuk menjadi penulis. Hehe.

-EBN-

 

From → catatan harian

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: