Skip to content

Meresapi Falsafah Hidup Samurai

January 10, 2013

            Samurai Jepang terkenal akan ketangguhannya. Tak kenal kompromi, cekatan dan loyal terhadap tuannya. Tubuh-tubuh lawan ditebas tanpa ragu di medan perang. Tak ayal, kaum samurai adalah prajurit perang paling efektif dan efisien.

Namun, sejatinya seorang samurai adalah pengabdi. Ia tak hanya berurusan dengan tugas-tugas di medan perang, tetapi juga melakukan apa pun yang diperintahkan oleh tuannya, termasuk hal-hal yang remeh sekali pun.

Loyalitas yang dibangun oleh samurai kepada tuannya dapat dikatakan ekstrim. Mereka wajib mengorbankan segalanya demi keselamatan tuannya. Adalah hal yang tabu bagi seorang samurai untuk mempermalukan tuannya, membuka aibnya atau bahkan sekadar membicarakannya meskipun tuannya sudah meninggal.

Bagaimana kaum samurai tersebut menjaga prinsip hidup mereka yang sangat ketat itu? Jawabannya adalah dengan berpegang teguh pada ajaran bushido, semacam kode kehormatan samurai yang menggabungkan nilai-nilai Budhis, Chu-Tsu, Konfusius, dan Shinto.

Buku yang disarikan dari kitab kuno pada masa pemerintahan Shogun Tokugawa ini berisi nukilan butir-butir pemikiran Yamamoto Tsunetomo mengenai intisari ajaran bushido. Ia sendiri adalah samurai yang mengabdi pada Nabeshima Mitsushige, penguasa prefektur Saga.

Tsunetomo menggali hakikat ajaran bushido dengan melakukan perjalanan spiritual bertahun-tahun ketika ia dibebastugaskan untuk sementara waktu oleh tuannya. Dengan menjadi ronin—prajurit tanpa tuan—ia mengembara pada usia belia dan berbicara dengan samurai lain, biksu dan orang-orang yang dapat mencerahkannya.

Ajaran bushido sendiri sudah dikenal sejak abad ke-17. Terdiri dari tiga huruf kanji, bu (perang), shi (orang), do (jalan), ajaran ini seolah menegaskan bahwa jalan seorang samurai adalah di medan perang dan mengabdi pada seseorang.

Ada delapan prinsip bushido, yakni: (1) Jin—memahami orang lain, (2) Gi—menjaga etika, (3) Chu—setia kepada tuannya, (4) Ko—menghormati orang tua, (5) Rei—menghormati sesama, (6) Chi—memperluas pengetahuan, (7) Shin—menjaga kejujuran, (8) Tei—mencintai orang tua dan siapa pun yang harus dikasihani.

Tsunetomo membenci sikap pengecut. Seorang samurai harus menunjukkan keberanian, meskipun ia tahu nyawanya terancam. Di medan perang, haram bagi seorang samurai untuk mati dalam keadaan membelakangi musuh. Ia harus terus melawan, dan mati secara jantan.

Kejujuran juga sangat penting bagi seorang samurai. Jika melakukan kesalahan, tak perlu ragu untuk mengakuinya. Apabila melanggar hukum dan mencemarkan nama baik klan dan keluarga, seorang samurai lebih baik mati terhormat dengan cara sekippu—merobek perutnya sendiri—daripada kabur dan menyelamatkan diri.

Sayangnya, sosok samurai ideal yang memegang teguh ajaran bushido mulai jarang ditemui waktu itu. Ketika Tsunetomo mulai membangun karirnya sebagai samurai muda, Jepang tengah berada dalam masa damai yang panjang.

Perang Sekigahara antara klan Hideyoshi dan Tokugawa telah usai pada 1600. Keadaan yang “adem ayem” itu justru membuat kaum samurai mlempem. Hampir seratus tahun lamanya tak ada samurai yang turun di medan perang. Mereka hanya mengurusi tugas-tugas administratif.

Oleh karena itu lah, Tsunetomo menceritakan kembali kisah-kisah teladan samurai terdahulu yang setia di jalan bushido dan menjalankan perannya sebagai seniman perang. Ia juga mencibir samurai-samurai muda yang terlalu takut membunuh. Keadaan damai memang lambat laun membuat mereka menjadi terlalu feminin.

Buku tipis ini sangat relevan untuk dibaca saat ini meskipun ditulis lebih dari tiga ratus tahun silam. Meskipun petuah-petuah Tsunetomo ditujukan bagi para samurai yang kehilangan arah di masa itu, nilai-nilai pembangunan karakter yang kental dalam buku ini dapat diaplikasikan oleh siapa pun. Maka, tak ada salahnya untuk menerapkan falsafah bushido dalam konteks kekinian. Selamat membaca. Eko B. Nugroho

Data Buku:

Judul               : Hagakure, The Wisdom of Samurai

Penulis             : Yamamoto Tsunetomo

Penerjemah      : Ina Minasaroh

Penerbit           : Oncor Semesta Ilmu

Tahun              : I, Januari 2012

Tebal               : xvii + 136 halaman

From → review buku

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: