Skip to content

Adi Ingin Bersahabat dengan Matematika

January 11, 2013

            Adi adalah siswa yang dikenal pintar dalam pelajaran bahasa Inggris dan olahraga. Nilainya dalam dua mata pelajaran itu tak pernah kurang dari tujuh puluh. Bahkan, ia pernah ditunjuk mewakili sekolah mengikuti lomba pidato bahasa Inggris di tingkat provinsi.

            Sayangnya, prestasi Adi dalam bahasa Inggris dan olahraga tidak sebanding dengan kemampuannya dalam pelajaran matematika. Ketika berhadapan dengan angka-angka, ia seolah-olah berhadapan dengan seekor monster mengerikan. Belum mengerjakan soalnya saja ia sudah hampir pingsan.

            Gara-gara matematika lah prestasi Adi menjadi tercoreng. Meskipun ia sering mendapatkan nilai bagus dalam pelajaran-pelajaran lainnya, tetap saja nilai matematikanya menukik ke bawah. Dalam pelajaran ini lah ia selalu menjadi langganan tetap ulangan remedial.

            Adi bukannya membenci matematika. Hanya saja, ia tidak mudah memahami deretan angka dan rumus yang sulit dibayangkannya. Ia perlu gambaran nyata yang dapat dibayangkannya ketika mengerjakan soal.

            Waktu masih SD, Adi memang cinta dengan matematika yang begitu imajinatif. Soal-soalnya selalu berupa cerita. Misalnya, “Ayah membeli sekeranjang buah dengan uang sekian, harganya sekian, lalu berapakah kembaliannya?”

            Dengan soal model cerita seperti itu Adi akan membayangkan ayahnya membeli sekeranjang rambutan di pasar, warnahnya merah-merah. Buahnya banyak dan mudah dikupas. Harga dan uang yang dikeluarkan ayahnya dari dompet pun mudah ia bayangkan. Sang ayah kemudian menghitung uangnya.

            Si penjual bertanya, “Nggak ada uang pas, pak?”

            “Wah, nggak ada bu. Maaf,” jawab ayahnya.

            Lalu, si penjual buah akan masuk sebentar ke dalam kios mungilnya, membuka tas kusamnya dan mengeluarkan beberapa lembar ribuan dan uang receh. Begitulah cara Adi mengerjakan soal matematika di masa SD-nya. Masa-masa yang menyenangkan bersama matematika, kenangnya.

            Namun, kini? Oh, matematika yang dulu menjadi teman menyenangkan berubah menjadi momok menakutkan. Angka-angka, akar-akar, derajat, titik koordinat, Sin, Cos, Tan. Binatang macam apa pula itu?

             Berulang kali Adi berusaha membayangkan angka-angka itu. Sin, Cos dan Tan ia bayangkan sebagai tiga sahabat akrab. Mereka selalu pulang sekolah, makan dan bermain bersama. Tapi, akh, rupanya khayalan itu tak bisa membantunya banyak. Lagipula, jarang sekali ada tiga sahabat bernama Sin, Cos, Tan di kehidupan nyata.

            Semenjak Adi memasuki bangku SMP, hubungan harmonisnya dengan matematika kian retak. Retaknya hubungan itu berimbas pada retaknya kemampuan Adi dalam menyelesaikan soal-soal matematika. Guru matematikanya, Pak Baskoro, pun heran mengapa Adi yang terbilang siswa berbakat dan pintar di pelajaran lain begitu berbeda ketika berhadapan dengan matematika.

            “Adi, Bapak dengar guru-guru lain sering memuji kamu. Kamu pintar dan tak pernah remedial. Tapi, mengapa di pelajaran bapak kamu sepertinya tak pernah dapat nilai bagus?” tanya Pak Baskoro suatu ketika.

            “Maaf Pak, Adi juga bingung mengapa di pelajaran matematika nilai Adi begitu jelek. Mungkin memang Adi tak berbakat dalam matematika.”

            “Jangan bilang begitu. Semua orang memiliki bakat kok, hanya saja apakah bakatnya itu diasah atau tidak. Mungkin memang cara Bapak mengajar belum bisa kamu cerna ya?”

            “Bukan begitu, Pak. Saya suka kok cara mengajar Bapak. Cuma, matematika di SMP ini terlalu abstrak pak. Saya sulit mengerjakan angka-angka yang tidak bisa saya bayangkan.”

            “Hmm, begitu ya,” gumam Pak Baskoro sambil berpikir sejenak.

             “Berarti kamu ini termasuk tipe visual learner, lanjut Pak Baskoro.

            “Wah, apa itu Pak?”

            “Visual learner itu tipe pembelajar yang lebih cenderung menggunakan penglihatannya. Maksudnya, kamu cenderung mudah belajar dari sesuatu yang bergambar. Atau, sesuatu itu mudah kamu gambarkan di otak kamu.”

            Percakapan singkat dengan Pak Baskoro itu terus terngiang di kepala Adi. Visual learner? Ia masih belum terlalu mengerti.

            Jadi, aku ini tipe visual learner?, gumam Adi dalam hati. Meskipun ia belum paham benar, yang jelas kata Pak Baskoro ia cenderung belajar lebih banyak lewat gambar atau sesuatu yang bisa menghadirkan gambar dalam imajinasinya.

            Malam usai menonton televisi, Adi pun kembali memikirkan kata-kata Pak Baskoro. Ia merenungkan cara belajarnya selama ini. Ia memang bukanlah termasuk siswa yang rajin belajar. Ia bahkan hanya membuka buku pelajarannya di rumah ketika ada PR. Lalu, bagaimana ia bisa mendapatkan nilai tinggi dalam pelajaran bahasa Inggris dan olahraga?

            Jawabannya ada pada kegemaran Adi menonton DVD dan siaran sepak bola di televisi. mas Deni, kakak sulungnya, mengoleksi banyak sekali DVD di kamarnya. Kebanyakan berupa film dokumenter dan serial program Discovery Channel karena mas Deni memang mengambil kuliah sinematografi.  

            Selama ini Adi secara tidak sadar rupanya belajar bahasa Inggris dari setiap DVD yang ia tonton. Mas Deni sering sekali meminjaminya DVD tentang kehidupan pra sejarah, ruang angkasa dan tentang pemanasan global. Kosakata dalam bahasa Inggris dari narasi film itu pun secara tidak sadar terpatri dalam benak Adi.

            Karena hobinya menonton pertandingan sepak bola liga inggris pun Adi juga paham cara bermain bola. Apalagi ketika ayahnya berlangganan majalah olahraga, rasa ingin tahu Adi pun mulai merambah ke bidang olahraga yang lain.

            Adi pun manggut-manggut. Kini ia mulai memahami apa makna visual learner yang dibicarakan Pak Baskoro. Ternyata, menonton DVD dan televisi pun sebetulnya bermanfaat asalkan mampu memilih tayangan yang baik dan berkualitas.

              Untungnya, keluarga Adi tidak suka menonton acara gosip dan sinetron. Bayangkan apa yang terjadi jika seorang anak bertipe visual learner seperti dirinya dicekoki tayangan tak bermutu seperti itu setiap hari. Sudah pasti dengan cepat ia akan menyerap segala yang ia tonton.

            Keesokan paginya, Adi kembali berangkat ke sekolah dengan penuh semangat. Ia bertekad untuk menunjukkan bahwa dirinya bisa bersahabat dengan matematika. Namun, lagi-lagi ia merasa kesulitan untuk memahami soal latihan yang diberikan oleh Pak Baskoro.

             Sebenarnya, cara mengajar guru favoritnya itu cukup menyenangkan. Tak seperti gambaran umum tentang guru matematika yang serba serius, galak dan kaku, Pak Baskoro justru terlihat simpatik, mudah bergaul dan gemar mengobrol dengan siswa.

            Terkadang, ketika suasana kelas membosankan dan siswa dipusingkan oleh angka-angka, Pak Baskoro meminta siswanya untuk berdiri, melingkar lalu permainan ketangkasan pun dimulai. Walaupun hanya sekilas, namun permainan itu bisa mengembalikan semangat mereka. Di waktu lain, Pak Baskoro juga memutar musik instrumental di kelas sehingga rumus-rumus terasa bagai notasi musik yang indah.

            “Pak Baskoro, maaf mengganggu, boleh bicara sebentar?” tanya Adi usai jam pelajaran.

            “Ya, kenapa Adi?”

            “Pak, saya masih belum mengerti maksud visual learner kemarin, bisa dijelaskan lagi?”

            “Hmm, rupanya kamu penasaran ya. Jadi begini. Menurut Howard Gardner, kecerdasan itu beragam. Beliau menyebutnya multiple intelligence. Dan setiap orang memiliki pola belajar yang berlainan. Ada yang visual learner, kinesthethic learner, auditory learner, hortatory learner.

            “Wah, banyak sekali, ya Pak?”

            “Iya. Itulah mengapa si Reza sulit diam ketika di kelas. Dia termasuk kinesthetic learner. Maya cepat mengerjakan soal waktu Bapak memutar musik klasik di kelas. Itu artinya…”

            “Auditory learner!” seru Adi bangga karena mulai paham dengan maksud pak Baskoro.

            “Tepat sekali. Tapi, sebetulnya kita memiliki semua kecenderungan belajar itu walaupun biasanya kita kuat di satu tipe. Kamu, walaupun memiliki kecenderungan visual learner, namun di pelajaran olahraga pun kamu bagus karena kamu suka bergerak. Jadi, kamu juga memiliki potensi sebagai kinesthetic learner.”

            Oo.. jadi maksud Pak Baskoro sering memutar musik dan memberikan permainan di sela pelajaran itu agar semua anak dengan tipe pembelajar berbeda merasa nyaman, gumam Adi.

            “Pak Baskoro, saya ingin bersahabat dengan matematika. Mungkin Pak Baskoro bisa membantu. Saya ingin belajar matematika dengan gambar.”

            Pak Baskoro tersenyum, namun kemudian terlihat mengernyitkan dahi.

            “Hmm, kira-kira begini gambarnya ya Pak?” tanya Adi sambil mengeluarkan secarik kertas bergambar tiga orang bergandeng tangan. Masing-masing darinya bernama Sin, Cos, dan Tan.

            Pak Baskoro tertawa lepas. Ia berjanji akan memikirkan cara membuat matematika menjadi pelajaran yang penuh gambar menarik.

 Rawamangun, 2011

 

Eko Budi Nugroho

From → cerpen

One Comment
  1. Mila Dania permalink

    mirip kisahku,,jeblok d matematika…haha…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: