Skip to content

Jogja yang Lama Ku Tinggalkan

January 13, 2013

Jogja, 13 Januari 2013

 

            Hari Minggu. Aku baru saja mengantarkan Adi—sobat karibku dari Jakarta—ke terminal Jombor. Ia akan berangkat menuju Muntilan untuk menghadiri pernikahan salah satu teman kantornya. Ia sempat menginap di rumahku selama satu malam dan kami membicarakan banyak hal seperti dahulu ketika kami masih indekos bersama di Jakarta. Tadi malam kami bekeliling di seputaran Malioboro dan alun-alun utara Yogyakarta. Ketika mampir di Mirota Batik, aku sadar betapa Jogja telah menjadi magnet eksotik yang menarik manusia-manusia dari berbagai daerah dan belahan bumi lain. Semuanya tumpah ruah dalam ruangan yang tak terlalu luas namun penuh benda-benda antik dan cinderamata khas Jogja itu. Semua dikemas secara menarik dan memikat, namun tetap dipadukan dengan unsur eksotisme Jawa. Sebuah strategi pemasaran yang jitu. Label harga yang tertera di setiap benda yang dipajang pun menurutku relatif mahal. Tentu saja tak masalah bagi para pengunjung yang memang telah berniat membelanjakan uangnya di kota wisata ini.

            Mirota Batik dimiliki oleh seorang transgender yang kini bernama Raminten. Di salah satu sudut pintu masuk, bahkan secara blak-blakan dipajang foto dirinya ketika masih menjadi seorang laki-laki dan perubahannya menjadi seorang perempuan. Semacam kejujuran? Entah lah. Dalam budaya timur isu-isu transgender terkadang masih menjadi hal yang tabu. Namun, untuk kota Jogja yang telah mendapatkan pengaruh-pengaruh budaya lain sebagai konsekuensi atas citra kota pariwisata yang mendunia, nampaknya isu-isu semacam itu mulai dapat dimaklumi oleh masyarakatnya yang sebenarnya juga masih terbagi antara moderat dan konservatif. Di satu sisi, Jogja merupakan sebuah provinsi yang menyandang predikat “Daerah Istimewa” dengan Gubernur yang dijabat oleh rajanya, Sri Sultan Hamengku Buwono X yang salah satu keistimewaannya tentu saja adalah budaya kraton Ngayogyakarta-nya masih kental di sanubari rakyat Jogja. Namun, di sisi lain, pesatnya industri pariwisata dan merebaknya institusi-institusi pendidikan baik negeri maupun swasta menjadi magnet yang kuat bagi masuknya budaya-budaya luar yang dibawa oleh para pendatang dan wisatawan. Pertemuan budaya ini rupanya tidak menimbulkan pergesekan sosial yang riuh dan berdarah, namun menurutku mungkin hal itu juga dipengaruhi oleh budaya dan karakter Jawa yang selalu mengedepankan keharmonisan, memendam konflik dalam-dalam. Kearifan lokal yang menjawab pertanyaan mengapa Jogja selalu jauh dari konflik sosial yang meresahkan. Tetapi, tentu saja memendam permasalahan juga memiliki resiko untuk meledak sewaktu-waktu. Mirip bom waktu. Dalam hal ini, pemimpin yang berkarakter dan berkarisma sangat diperlukan. Dan itu ada dalam diri Gubernurnya, rajanya.

            Setelah sekian lama aku tak pernah berjalan-jalan di selasar pertokoan Malioboro, baru tadi malam aku kembali menyambangi Malioboro lagi. Pertokoan berkembang pesat. Malioboro menjadi salah satu jalan termacet di Jogja. Terutama ketika malam Minggu seperti tadi malam. Ditambah lagi dengan adanya pasar malam Sekaten di alun-alun utara. Jogja memang terus diserbu oleh kendaraan-kendaraan bermotor pribadi, terutama dari luar Jogja. Di akhir-akhir pekan seperti ini, banyak masyarakat yang memilih berlibur ke Jogja dan berwisata belanja di Malioboro. Lihat saja plat-plat nomor kendaraan yang bukan “AB.” Macetnya jalanan Jogja, selain karena jalanan Jogja yang tak pernah bertambah lebar dan luas semenjak dahulu, dan karena banyaknya warga luar Jogja yang berlibur di kota ini, juga dikarenakan minimnya sarana transportasi publik. Aku sudah merasakan sulitnya sarana transportasi publik sejak masa sekolah. Ketika pulang usai mengikuti kegiatan ekstra kurikuler, aku selalu cemas akan bis yang masih ada atau tidak. Rata-rata, bis umum di Jogja hanya beroperasi sampai sekitar pukul lima sore. Setelah itu, hanya ada segelintir bisa saja yang masih berkeliaran. Sekitar jam tujuh malam sama sekali tak ada. Tak ayal, warga Jogja lebih memilih kendaraan bermotor, terutama sepeda motor. Volume sepeda motor di Jogja termasuk tertinggi dibandingkan kota-kota lain. Mungkin orang-orang Jogja adalah orang-orang yang paling menyukai naik sepeda motor. Bahkan, pembalap-pembalap nasional berprestasi pun banyak dihasilkan oleh kota gudeg ini.

            Setelah mengantarkan Adi berbelanja batik dan kaos di Mirota Batik, kami berjalan menuju alun-alun utara untuk melihat keramaian Sekaten. Sayangnya, rintik gerimis mulai turun. Pasar malam itu juga tampak terlalu penuh dan berisik sehingga membuat kami enggan untuk masuk lebih dalam. Kami memutuskan untuk mencari jajanan atau cemilan saja. Baru berputar sebentar, gerimis berubah menjadi hujan. Kami mampir di salah satu warung nasi dan memesan mie rebus saja. Lama benar si penjual menyiapkan pesanan kami. Di sebelahku, nampak dua sejoli yang ngobrol dengan agak serius dalam bahasa Indonesia. Kurasa mereka mahasiswa semester awal dan bukan warga Jojga dari aksennya. Menarik untuk mendengarkan obrolan mahasiswa semseter awal yang penuh dengan impian menggebu dan rencana-rencana untuk mewujudkan idealisme mereka—entah dalam bisnis, pergerakan atau akademik. Terkadang agak lucu juga.

            Menjelang jam sebelas malam, kami nongkrong di depan tugu nol kilometer Jogja. Banyak sekali anak muda yang nongkrong di sana. Bahkan, semakin larut semakin ramai saja. Sebenarnya aku sudah lama sekali tak nongkrong di pinggir jalan seperti itu. Selain sadar akan usia, juga karena tak ada lagi teman yang enak dan easy going untuk diajak nongkrong. Banyak teman seangkatanku yang telah berubah status menjadi bapak. Dan, tentu saja menjadi bapak itu juga berarti menghentikan kebiasaan nongkrong. Barangkali. Ternyata melihat keramaian, menyaksikan energi anak-anak muda yang selalu antusias dalam mengekspresikan diri mereka menghadirkan semacam kesegaran dalam benak. Mungkin memang sesekali aku perlu nongkrong-nongkrong lagi. Sekitar tengah malam kami pun meninggalkan Malioboro menuju rumahku di Gamping. Di atas jok motor, Adi temanku itu beberapa kali senyam-senyum sendiri sambil setengah mengigau, ia berteriak, “Jogja!” “Jogja!” Ini memang kali pertama ia singgah ke kota kelahiranku yang unik ini.

-EBN-

From → catatan harian

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: