Skip to content

Brotowali

January 16, 2013

Jam satu siang. Di ujung terik seperti itulah ia akan muncul. Seperti dulu-dulu, caping kecoklatan, baju berwarna pudar, dan jarik yang melilit pinggang hingga betisnya. Sepedanya onthel warna karat namun kokoh. Entah ia membelinya dari mana. Mungkin ia mewarisinya dari ibunya, kakeknya, atau buyutnya. Melihatnya naik sepeda itu selalu membuatku terharu. Bagaimana bisa betis yang terlilit jarik itu lincah mengayuh di atas plantangan besi yang terlalu laki-laki?

Seketika itu pula aku akan berteriak memanggil ibu. Teriakan yang rutin setiap siang mulai menua. Aku sendiri heran dengan perangaiku sendiri yang kerap berteriak itu. Mungkin karena banyak teriakan di kepalaku. Ibu, seperti biasa, akan tergopoh-gopoh muncul dari dalam rumah, meninggalkan segala urusan dapur yang menjemukan. Ya, aku bisa menatap kejemuan itu di matanya. Mata yang tak lagi bersinar sejak aku sering berteriak.

Aku digendongnya. Lalu dielapnya liurku dengan sapu tangan yang tak pernah dicuci. Orang-orang mengataiku anjing karena mulutku serupa mulut anjing yang selalu berliur. Padahal, aku tak pernah menjulurkan lidah seperti anjing. Aku hanya suka berteriak, seperti anjing yang menyalak. Dengan lembut, selendang itu ibu belitkan di punggungku yang melengkung, di tanganku yang terjuntai lemah, di pantatku yang tepos, dan di pahaku yang bengkok. Lalu, ia tempatkan aku di samping ketiaknya. Selalu di samping ketiaknya. Mungkin agar aku selalu mengingat wanginya.

Tukang jamu itu tahu persis bagaimana rupa burukku ini. Maka ia takkan terperanjat seperti tukang gorengan tempo hari yang langsung meloncat ke belakang sambil mengucap istighfar, atau seperti tukang sate waktu itu yang tercekat melihatku sambil berucap, “amit-amit jabang bayi.” Ia tahu betul keadaanku. Dan, ia tahu betul ibu perlu mengobrol dengannya. Obrolan yang berlama-lama, yang akan melipat harinya yang membosankan bersamaku.

Brotowali. Aku hafal betul cairan pekat itu. Setiap tukang jamu pasti menyimpan mustika pamungkas itu. Hanya bocah-bocah yang enggan menelan nasi saja yang layak menenggaknya. Tukang jamu itu menuangkannya segelas penuh. Mungkin agar sebotol cairan ajaib itu lekas habis. Tak banyak bocah yang suka menenggaknya. Mereka lebih memilih tangis dan menolak kesaktian mustika itu.

Aku meraih gelas itu segera dari tangan ibu. Pahit yang nyaris sempurna. Pertama dulu aku menenggaknya, hujan turun dari sudut mataku. Namun, lama-lama aku menyukai pahit. Pahit selalu membuat manis menjadi terasa lebih manis lagi.

Hebatnya lagi, teriakan-teriakan di kepalaku itu akan sirna ketika pahit menjalari sistem pencernaanku. Pahit itu juga beredar di darahku, menyusup di nadi dan urat-urat terkecil hingga serat-serat otakku. Teriakan-teriakan itu tak suka pahit. Mereka bersembunyi di sudut-sudut batok kepalaku.

Begitulah, berkat brotowali itu aku lalu terdiam. Bisu tepatnya. Aku tak mampu lagi menemukan teriakan-teriakan itu. Tanpa teriakan-teriakan itu, aku hanya akan terduduk, dengan tungkai yang dilipat tak lazim. Tak perlu kujelaskan di sini, sebab jika kujelaskan kau mungkin akan memicingkan mata karena aku melipat tungkaiku bukan dengan cara yang lazim.

Aku menunggu brotowali selanjutnya, namun ternyata brotowali hanya diberikan sekali saja. Ibu menyodorkan gelas kecil padaku. Kadang berisi beras kencur, kadang kunir asem. Memang rasanya lebih memanjakan lidah, namun begitu cairan itu membasahi kerongkongan, teriakan-teriakan itu mulai muncul lagi dari persembunyiannya.

Ketika aku mulai berteriak-teriak lagi karena pahit telah lumer, ibu akan menyuruhku diam. Ia tak mau obrolannya dengan tukang jamu terganggu. Aku tak pernah suka berteriak sebenarnya, namun merekalah yang berteriak, suara-suara di kepalaku itu. Tapi ibu tak mau tahu. Ditamparnya aku di kiri dan kanan bergantian. Aku menangis. Lalu, ketika puncak kekesalan ibu telah di ubun-ubun, dikuncinya aku di gudang belakang. Aku tak suka gudang itu. Gelap  dan pengap. Bau pesing kencing tikus menyeruak. Aku akan terus berteriak-teriak di dalam gudang itu. Eh, bukan aku yang berteriak, tapi suara di kepalaku.

Ibu pasti mendengar teriakanku meskipun gudang itu seperti kedap suara. Aku yakin makhluk gaib di gudang itu membungkam suaraku agar tak ada yang mendengarnya. Mereka bersekongkol, makhluk gaib gudang itu dan suara di kepalaku. Aku bisa mendengar percakapan mereka.

Aku yakin ibu mendengar teriakanku dari dalam gudang itu. Namun, ia pasti bosan mendengarnya dan memilih mengobrol dengan tukang jamu itu. Mereka akan terus mengobrol, hingga matahari benar-benar renta. Kadang terdemgar cekikikan ibu dan tukang jamu itu. Nama-nama tetangga yang ku kenal pun kerap keluar dari mulut mereka. Cekikikan lagi. Lalu senyap. Kemudian pecah tangis ibu. Selalu seperti itu, obrolan yang berakhir dengan tangis ibu.

Ibu akan membuka pintu gudang ketika tak terdengar lagi suara teriakanku. Meskipun mereka masih berteriak di kepalaku, tapi pita suaraku telah kering. Aku tak mau lagi berteriak. Makhluk gaib itu bersembunyi di tumpukan kardus bekas. Oleh ibu, tubuhku dililitinya dengan selendang seperti biasanya, lalu ia taruh aku di samping ketiaknya. Ketika pintu gudang ditutup, aku melihat seringai makhluk gaib gudang itu dari balik kardus.

Hari yang lain tukang jamu itu akan datang lagi. Aku meminum brotowaliku lagi. Hampir-hampir seperti kecanduan. Aku mulai merindukan tukang jamu itu. Tepatnya, rindu pada pahitnya brotowali. Lain dengan ibu. Ia rindu dengan obrolan. Aku tentu bukan teman mengobrol yang baik baginya. Setiap kali ibu mengajakku mengobrol, hanya teriakan dan liur saja yang dapat kukeluarkan dari mulut.

Sebisa mungkin aku tak berteriak ketika ibu mengobrol dengan tukang jamu itu. Kadang aku gagal untuk tak berteriak. Jahanam betul mereka yang menyuruhku berteriak dari balik batok tengkorakku itu. Ibu mengurungku di gudang lagi dan lagi. Makhluk gaib penghuni gudang itu terkekeh, menertawaiku.

Beberapa kali aku berhasil juga membungkam mulutku, memberontak dari suara-suara di kepalaku. Aku ingin mendengar obrolan ibu dan tukang jamu itu. Aku tak mau meminum beras kencur maupun kunir asem terlalu banyak agar pahit brotowali tetap bertahan agar teriakan-teriakan itu kabur. Aku duduk di plesteran semen, melipat tungkai dengan cara yang tak lazim.

Kusimak obrolan mereka. Aku sendiri bingung, meskipun aku tak bisa melafalkan kata-kata, tapi aku paham apa yang mereka bicarakan. Aku tahu apa yang mereka tertawakan cekikikan itu. Pun dengan tangis ibu, tangis yang paling pilu.

Tangis ibu akan pecah ketika obrolan itu sampai pada bagian tentang lelaki itu. Aku tak pernah kenal lelaki itu. Tetapi ibu sering menyebut namanya. Aku cuma kenal wajahnya dari tumpukan foto yang tersimpan di dalam koper. Ibu berniat menyimpannya dalam koper itu tapi ia lebih sering membukanya dan membelai foto-foto itu. Ibu bilang lelaki itu ditelan laut.

Tukang jamu itu pun ikut-ikutan menangis. Tapi ia tak mampu menangis sepilu ibu. Tak bisa! Hanya ibu yang bisa menangis sepilu itu. Tukang jamu itu hanya mampu terisak dan mengusap ingusnya. Ia menuangkan kembali cairan-cairan cerahnya ke dalam gelas ibu. Beberapa botol ia tuangkan sedikit-sedikit, lalu ia aduk. Aku tak pernah merasakan minuman yang diracik dari beragam botol itu. Yang jelas, sesudah ibu menenggaknya, ia kembali tenang meskipun mukanya tetap sembab.

Jelang jam tiga tukang jamu itu akan mengusap-usap kepalaku dan menyungging senyum kepadaku. Senyumnya lebar. Aku bisa melihat dua biji gigi yang tak lagi putih menggantung pasrah di gusi depannya. Ya, hanya dua biji gigi saja yang masih tersisa. Ketika ia tertawa, dua gigi itu selalu bergoyang.

Suatu ketika aku dan ibu menunggu tukang jamu itu. Sudah seminggu ia tak mampir ke rumah. Hari itu pun sepertinya ia tak bakal muncul. Kami menunggu lama. Bahkan, karena aku terpaku pada penantianku, aku lupa pada suara-suara yang menyuruhku berteriak. Ibu menggamitku, melilitkan selendangnya di tubuhku dan menaruhku di samping ketiaknya.

Kami berjalan, meninggalkan rumah. Lama sudah ibu tak mengajakku berjalan jauh dari rumah. Wajah ibu memerah seperti kepiting rebus karena terik. Peluh menghiasi dahinya. Beberapa kali ia menyeka liur yang menetes dari mulutku. Kami terus mencari-cari tukang jamu itu. Tak ketemu.

Kami pulang. Aku berteriak-teriak lagi. Ibu mengurungku di gudang. Aku bosan dengan suasana gudang itu. Bau pesing kencing tikus yang sama, hawa lembab yang bikin paru-paru sesak, suara-suara di kepalaku yang makin nyaring, dan akh, makhluk gaib itu lagi! Makhluk itu muncul dari tumpukan kardus bekas, selalu seperti itu. Makhluk itu hendak bersekongkol dengan suara di kepalaku lagi sepertinya. Aku pun pura-pura tertidur untuk mendengarkan percakapan mereka.

“Hei, kenapa kau ke sini lagi? Mengganggu tidurku saja!” bentak makhluk gaib itu.

“Bukan aku yang ingin ke sini, tolol! Tetapi perempuan itu yang mengurungku di sini.”

“Bhahahaha….rupanya kau mengacau lagi. Apa kau selalu berteriak-teriak seperti itu?”

“Heh, tolol kau! Aku bukan berteriak, aku sedang bicara! Tapi, aku bicara dalam bahasa yang tak dimengerti perempuan itu.”

“Bhahahaha….rupanya hanya aku yang bisa memahamimu,” bangga si makhluk gaib.

“Apa boleh buat…”

“Bhahahaha….”

“Hentikan tawa konyolmu itu! Bosan aku mendengarnya. Aku butuh bantuanmu.”

“Kau butuh bantuanku?”

“Ya, coba kau cari tukang jamu itu.”

“Maksudmu tukang jamu yang biasa mampir di depan rumah?”

“Ya. Coba kau cari dia. Kasihan perempuan itu. Ia murung semenjak tukang jamu itu tak muncul lagi.”

“Bhahahaha….tukang jamu itu sudah mati!”

“Jangan bercanda kau!”

“Aku berkata jujur. Seminggu lalu aku mendapat kabar duka dari temanku yang tinggal di beringin ujung jalan. Tukang jamu itu mati kelindas truk.”

“Aih…. Lalu, bagaimana dengan perempuan itu? Ia pasti akan kesepian. Tak ada lagi yang bakal mengajaknya mengobrol.”

“Perempuan itu sudah pula pergi!”

“Apa maksudmu?”

“Perempuan itu pergi. Ia pergi ke laut. Menemui lelakinya.”

Aku tercekat ketika membuka mataku. Langit hampir gelap. Dan, aku masih berada di gudang. Senyap. Suara-suara di kepalaku menghilang. Pun makhluk gaib itu. Ia benar-benar gaib sekarang.

Aku menyeret tubuhku yang layu. Dengan sekuat tenaga kudorong pintu gudang itu. Rupanya tak terkunci. Ibu lupa mengunci barangkali, atau sengaja tak menguncinya? Aku keluar dari gudang dengan menyeret tubuhku. Pintu belakang rumah terbuka. Aku memanggil-manggil ibu meski hanya parau saja yang keluar dari mulutku yang tak pernah terkatup sempurna itu. Ibu tak ada. Aku tak mencium wangi ketiaknya.

Aku menyeret tubuhku ke kamar. Koper itu terbuka. Foto-foto lelaki yang ditelan laut itu berserakan di lantai. Apakah ibu benar-benar pergi ke laut? Mengapa ia tak mengajakku? Aku mendengar derit ban sepeda. Akh, tukang jamu itu! Akhirnya ia muncul juga setelah berhari-hari menghilang. Aku menyeret tubuhku ke teras rumah. Tukang jamu itu mendekat. Ia putih seputih-putihnya. Sepedanya pun putih. Ia tersenyum, giginya mendadak lengkap dan putih.

“Apa kau melihat perempuan itu?” suara di kepalaku mendadak lantang bicara kepadanya. Aneh, tukang jamu itu mampu mendengarnya.

“Maksudmu, ibumu?”

“Eh, ehm, iya, apa kau tahu di mana ibuku?”

“Dia di laut. Bertemu dengan lelakinya.”

“Bisakah kau antarkan aku kepadanya?”

“Minumlah dulu brotowali ini, selepas maghrib akan kuantarkan kau kepada ibumu.”

Kuraih gelas itu. Cairan pekat yang kurindukan. Aku menandaskannya sekali tenggak. Pahit yang sempurna. Mendadak semuanya gelap. Aku limbung.

Rawamangun, Juni 2011

From → cerpen

2 Comments
  1. trims mas ronny.. salam kenal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: