Skip to content

Berimajinasi tentang Bisnis-ku di Masa Depan

January 17, 2013

Jogja, 17 Januari 2013

 

Kemarin aku mendapatkan sms dari Anto yang sangat mengejutkan: “ko, jadwalmu sudah turun.” Kontan saja aku sangat kaget, namun sekaligus tidak percaya. Mana mungkin jadwal terbangku telah turun tapi agenku tidak menelepon. Segera saja aku telisik informasi dari temanku yang lain, dan benar saja. Ternyata tanggal 1 Februari 2013 besok baru sepuluh orang yang telah turun jadwal terbangnya, dan tidak ada namaku dalam daftar tersebut. Kecewa? Tidak juga. Sebenarnya aku malah berharap jadwal terbangku tidak terlalu cepat turun. Awal bulan depan rasanya terlalu mendadak dan mengejutkan. Masih banyak yang ingin aku lakukan: banyak menulis lagi, mempelajari bahasa Spanyol hingga mahir, dan persiapan diri dengan baik. Tapi, rasanya sangat senang mendengar kabar tentang keberangkatan teman-temanku itu. Aku merasa giliranku pun tidak akan lama lagi. Membayangkan detik-detik menuju bandara, berpisah dari orang-orang tersayang, naik pesawat untuk pertama kalinya, dan menginjak daratan Amerika sepertinya begitu mendebarkan. Aku di antara sudah tak sabar lagi dan masih ingin punya waktu lagi di sini. Menakjubkan lah.

Tadi malam salah satu teman masa SMA-ku dulu menghubungiku lagi, menanyakan kabar dan sebagainya. Memang beberapa kali dalam sebulan atau dua bulan kami masih sering berkumpul untuk sekadar ngobrol dan bersilaturahmi. Ia sudah menikah dengan teman sekampusnya dan telah menjadi ayah dari putri mungil yang lucu. Dalam beberapa obrolan ia bicara tentang bisnis kuliner yang akan digelutinya. Sebenarnya, keluarganya memang telah lama berkecimpung dalam bisnis kuliner, tepatnya soto di pinggir jalan di daerah strategis pusat kota Jogja. Dulu aku dan teman-teman yang lain sering mampir ke warungnya untuk sekadar mendapatkan soto gratis. Beberapa hari yang lalu ia bercerita bahwa bisnis keluarganya itu tengah mengalami penurunan akibat penggusuran yang menimpa warung soto keluarganya. Beberapa kali mereka coba mencari peruntungan di tempat lain, bahkan hingga ke wilayah Riau namun lagi-lagi, merintis bisnis di tempat yang baru tak semudah berbisnis di tempat lama yang telah mendapatkan pasaran.

Aku bilang kepada temanku itu bahwa aku juga berniat untuk memiliki bisnis di bidang kuliner suatu saat nanti ketika tidak lagi bekerja di kapal. Aku merasa bahwa profesiku nanti akan menolongku untuk belajar secara mendalam seluk beluk dunia kuliner. Meskipun kini aku baru sempat sesekali mencoba memasak, dan sebagian besar berhasil dengan rasa yang lumayan enak, aku yakin bahwa aku dapat mengembangkan keterampilanku lebih tinggi lagi untuk menu-menu masakan barat. Sayang, ketika mencoba membuat pizza tempo hari, aku gagal. Pizza yang kubayangkan bakal lezat itu justru menjadi keras. Entah apa yang salah. Ku rasa aku lebih cocok menangani masakan-masakan utama semacam roasted beef, atau apa pun yang digoreng. Untuk menu-menu yang menggunakan oven aku belum terbiasa , mengingat keterbatasan alat di rumah juga.

Kembali ke temanku itu. Ia bilang bahwa modal menjadi salah satu kendalanya. Untuk menyewa kios permanen, butuh dana yang tidak sedikit. Ia belajar dari pengalamannya, selaris apa pun bisnis kita, jika tak memiliki tempat permanen maka bisnis itu rapuh. Aku juga percaya akan hal itu. Dalam sebuah pertemuan bersama sobat-sobat akrabku beberapa waktu yang lalu, kami membahas berbagai hal, termasuk pesatnya bisnis-bisnis baru di Jogja. Hotel-hotel baru yang terus dibangun, tempat-tempat makan yang unik dan mahal, hingga budidaya jamur dan peternakan. Aku merasa bahwa kami ini terlalu terlambat untuk merintis bisnis. Seharusnya merintis bisnis itu selagi masih muda, ketika masih usia belasan atau awal dua puluhan.

Salah satu temanku yang lain yang pernah kukunjungi dulu, ia memiliki bisnis konveksi yang telah dirintisnya semenjak bangku SMA. Kini ia telah memiliki beberapa karyawan, mobil operasional dan bisnisnya terus tumbuh dengan pesanan-pesanan seragam atau almamater. Namun, terlambat itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Toh, usia kami pun belum terlampau tua. Tahun ini kami bakal sama-sama berusia 28 tahun, usia yang cukup matang. Di antara kami berempat: aku, aphe, zulfa dan cecep, hanya aku dan zulfa yang belum menikah. Masih ada dua teman kami lagi yang dulu termasuk dalam grup ini: ade dan komar. Ade hampir tak terdengar lagi kabarnya semenjak ia hijrah ke Papua. Komar sendiri kudengar telah menikah dan menghilang.

Jika bicara tentang bisnis kuliner, sebenarnya keluargaku pun memiliki pengalaman dalam bidang ini. Ayah ibuku pernah berjualan pecel lele di depan Pasar Gamping ketika aku masih duduk di bangku SD. Waktu itu seingatku baru ayah ibuku yang berani membuka warung makan di depan pasar yang saat itu masih sepi. Aku sering ikut menunggu di warung lesehan itu hingga larut malam. Ku rasa saat itu warung lesehan milik ayah dan ibu sudah mendapatkan beberapa pelanggan tetap dan banyak pula orang-orang baru yang mampir. Entah karena alasan apa akhirnya warung pecel lele itu tidak berlanjut lagi. Padahal, pecel lele saat itu belum selazim saat ini. Masih sangat jarang orang mendengar makanan “pecel lele.” Bahkan, bisa dibilang di sekitar Gamping hanya ada warung pecel lele milik keluargaku itu. Entah lah. Memang, dalam bisnis, terutama bisnis kuliner, diperlukan ketekunan, komitmen dan konsistensi. Tanpa itu, tak akan bertahan lama.

Setelah hampir sembilan tahun ku tinggalkan Jogja, kini kotaku ini dipenuhi oleh tempat-tempat makan baru yang unik dan menarik. Aku tak terlalu tahu banyak soal itu, namun adik-adikku paham betul tentang aneka tempat makan unik dan menarik di Jogja. Membuka bisnis di Jogja itu memang gampang-gampang susah. Membuka bisnis di Jogja, apa pun itu, harus memiliki konsep yang kuat dan menawarkan pilihan yang menarik untuk dipilih oleh konsumen. Bahkan, warnet-warnet di Jogja pun terkenal akan kemewahannya dibandingkan warnet-warnet di kota lain, sekali pun jika warnet itu berukuran kecil dan terletak di pinggiran kota. Di sini, warnet wajib dilengkapi dengan AC, operator yang muda dan cantik, menyediakan snack dan softdrink, koneksi yang cepat, dan masih banyak fasilitas tambahan lainnya. Padahal tarifnya pun juga sama dengan kota-kota lain. Aku geleng-geleng kepala. Tentu saja di Jakarta aku jarang sekali masuk ke warnet mewah semacam di Jogja.

Tempat-tempat makan pun begitu juga. Tak usah melihat restoran, warung bubur kacang ijo (burjo—di Jakarta orang biasa menyebutnya warung kopi—warkop) pun begitu. Aku salut akan aneka ragam menu yang dipajang di warung-warung burjo di Jogja. Bahkan, mereka pun menyediakan nasi sarden dan nasi telor yang tak pernah kujumpai di warkop kota lain. Belum lagi aneka gorengannya, cemilan-cemilannya. Nutrisarinya pun lengkap dengan aneka rasa yang bahkan aku sendiri belum pernah tahu sebelumnya.

Sayangnya, bisnis-bisnis yang tumbuh pesat bagaikan jamur di Jogja mayoritas didominasi oleh warga luar Jogja. Temanku yang berbisnis konveksi di atas tadi juga sebenarnya bukan warga asli Jogja. Ia memproduksi produk-produknya di kota kelahirannya, Klaten dan memasarkannya di Jogja. Nampaknya kasusnya hampir mirip di mana pun, para pendatang mendominasi penduduk pribumi. Aku sendiri tak terlalu memusingkan soal pendatang dan pribumi, karena batas tentang hal itu kabur seiring dengan perkembangan teknologi dan transportasi. Seseorang bisa memiliki berbagai bisnis dan usaha di tempat yang jauh dari tempat kelahirannya. Bahkan, kini dimungkinkan untuk berinvestasi di negara-negara lain yang nun jauh di sana jaraknya yang belum tentu pernah disinggahi oleh investornya sendiri. Globalisasi telah memampatkan bumi secara virtual, meskipun manusia belum dan mungkin takkan pernah menembus batasan ruang fisik secara harfiah.

-EBN-     

From → catatan harian

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: