Skip to content

Kota Amnesia

January 17, 2013

Ini adalah sebuah kisah tentang kota amnesia. Semacam memoar tragis atas tragedi hilangnya ingatan para warga kota. Rumor tentang wabah penyakit amnesia ini telah lama berhembus, tersiar hingga ke seantero negeri, bahkan ke puncak-puncak gunung terpencil sekali pun. Banyak orang penasaran akan kebenaran kabar itu, namun banyak pula yang enggan membuktikannya karena kurangnya nyali.

Namun, beberapa orang yang bernyali tinggi nekat berangkat ke kota tersebut untuk membuktikan rumor itu dan melihat dengan mata kepala mereka sendiri. Para perempuan muda menangisi kepergian mereka, dan para ibu meratapi kesembronoan para pemuda itu. Beberapa ayah dari para pemuda itu terlihat tegar meskipun tentu saja dalam hati mereka juga khawatir. Tetapi, kenekatan lelaki di usia muda dapat bermakna kemuliaan di masyarakat. Jadi, mereka pun berangkat.

Bertahun-tahun kemudian. Rombongan pemuda gagah berani yang telah meninggalkan desa yang silam tak juga kembali. Tersiar kabar bahwa mereka pun terjangkit penyakit amnesia yang makin mewabah di kota. Para perempuan muda yang mulai menua dan telah lama menanti kekasih mereka itu kembali menangis. Para ibu mereka yang telah renta kembali meratapi nasib putra-putranya. Beberapa lelaki paruh baya yang merupakan ayah-ayah para pemuda itu masih menunjukkan ketabahan yang menakjubkan. Meskipun, dalam hati mereka pun cemas. Bagaimanapun, masyarakat memang memaklumi bahwa kepergian para pemuda di tempat asing memakan waktu yang panjang demi proses menuju kedewasaan. Jadi, tak ada yang tahu kapan para pemuda itu bakal pulang lagi ke desa.

Belasan tahun berlalu. Anak-anak lelaki yang dulu masih bocah ingusan kini telah tumbuh besar dan kuat. Beberapa di antara mereka bahkan brebadan jangkung dan nampak seperti lelaki dewasa. Mereka masih menyimpan kenangan tentang kisah heroik kakak-kakak lelaki mereka yang berangkat menuju kota amnesia belasan tahun silam demi sebuah tugas suci: membuktikan rumor tentang wabah penyakit amnesia yang melanda kota.

Kisah heroik para pemuda yang terjadi belasan tahun silam itu telah menjadi semacam mitos atau barangkali juga imajinasi di antara para lelaki muda itu. Mereka yang dulu tak sempat melihat langsung kepergian para pahlawan itu telah mendengar kisah tersebut berkali-kali dari teman-teman sebaya mereka yang dulu menyaksikan sendiri kakak-kakak mereka pergi meninggalkan desa dengan menenteng berbagai perbekalan dan senjata. Begitu gagah, begitu laki-laki. Jadi, para pemuda itu mengagumi kakak-kakak mereka yang telah pergi.

Lalu, tiba lah hari yang amat ditakutkan oleh para wanita yang memiliki putra-putra muda. Hari di mana anak-anak mereka yang dulu masih bocah ingusan itu dan kini telah tumbuh menjadi lelaki muda yang perkasa untuk pergi. Mengapa harus pergi? Entah lah, tak perlu ada alasan untuk itu sebab lelaki memang harus meninggalkan desanya suatu saat. Dan, para pemuda itu menemukan alasan yang tepat untuk pergi: membuktikan rumor wabah penyakit amnesia di kota.

Maka, dengan gagah berani para pemuda itu mengenakan zirah-zirah mereka, memanggul senjata dan aneka peralatan lain untuk bertahan hidup di perjalanan maupun bekal logistik yang akan mendukung pertempuran mereka. Sejarah seakan berulang. Para pemuda itu mulai bergerak meninggalkan desa, para ibu pun terisak di gerbang desa, beberapa perempuan muda yang mungkin saja kekasih dari sebagian pemuda itu meratap, dan para ayah dari para pemuda itu berusaha tetap berdiri tegap setegar mungkin.

***

                Begitu lah kisah yang turun temurun ku dengar mengenai desa ini, Desa Tua. Kau bisa menerka mengapa nama desa ini memiliki nama yang sedemikian tragis. Desa ini kehilangan anak-anak mudanya. Mereka semua tertawan di kota amnesia yang konon hingga kini tak kunjung lepas dari kutukan wabah penyakit hilang ingatan itu. Aku sendiri sebagai anak muda tentu saja sangat penasaran dengan rumor itu. Akh, aku sangat salut pada keberanian para pemuda itu untuk meninggalkan desa ini meskipun apa yang bakal menimpa mereka di kota amnesia tak ada yang tahu.

Seandainya saja aku bisa seperti para pemuda yang telah diceritakan turun temurun di desa ini, tentu bakal ku langkahkan kaki mudaku yang lincah meski rapuh untuk memulai petualanganku.

“Sudah lah nak, tiap hari kok kerjamu melamun saja. Masih berangan-angan tentang pergi ke kota amnesia?”

“Aku ini pemuda bu, usiaku sama seperti mereka yang telah pergi itu. Aku butuh petualanganku.”

“Apa kau lupa? Kau ini hanya selembar daun muda, nak. Petualangan macam apa yang kau dambakan itu? Cobalah untuk hidup wajar, hirup karbon monoksida, terima terik sinar matahari. Kau perlu melatih sel-sel hijaumu itu agar lebih efisien lagi dalam fotosintesis.”

“Lalu apa bu?”

“Lalu apa? Memang apa lagi yang kau harapkan, nak?”

“Apa aku harus mengikuti ibu dan ayah, saban hari berfotosintesis, menebalkan dan membesarkan badanku, lalu hijaku memudar, menguning, dan layu?”

“Aikh, tak setragis itu nak. Kau belum melihat segala energi dari keindahan desa ini, dan kau belum mengetahui betapa buruknya kota amnesia itu. Di sini, kau belum bertemu musim-musim yang lain. Desa ini penuh harapan sebenarnya. Sayang sekali manusia-manusia tua yang masih bertahan.”

“Aku juga akan menua sia-sia seperti mereka bu.”

“Tak ada yang sia-sia dari kehidupan, nak. Bahkan jika kau hanya selembar daun.”

Akh, rupanya ibu pun serupa perempuan-perempuan renta di bawah sana yang cemas akan anak lelakinya. Namun aku takkan menyerah. Aku bagian dari kaum muda yang haus akan petualangan, perlu melihat hal-hal baru di dunia ini.

Sebenarnya aku telah merencanakan sebuah pelarian yang cukup ekstrim bersama salah satu teman sebayaku, ia agak lebih tua sedikit dariku. Ia telah mengetahui perihal cuaca dengan cukup baik. Besok malam ketika langit mengamuk, waktu berton-ton air ditumpahkan, dan angin dari jagat raya dihembuskan, kami akan meminta bantuan mereka untuk melepaskan belenggu kaki kami dari dahan ini. Takkan ada yang curiga, bahkan ibu-ibu kami. Kehilangan satu atau dua anak daun muda karena tiupan angin kencang adalah hal yang lumrah. Sempurna.

***

                “Hei, penjahat kecil, bangun lah. Apa kau lupa rencana kita?”

“Sudah waktunya kah?”

“Belum, sebentar lagi. Kita perlu kombinasi amukan angin dan derasnya hujan yang pas untuk mematahkan belenggu di kaki kita ini. Sebentar lagi.”

“Apakah sakit?”

“Apa maksudmu? Tentu saja sakit. Sedikit sakit. Semua pemuda juga mengalaminya. Ketika tiba waktunya untuk berpisah dari rumah, keluarga dan desa mereka yang nyaman tentu ada rasa sakit. Namun tak perlu cemas. Rasa sakit ini cuma sementara. Sesaat setelah kita terlepas dari dahan ini, rasa sakit bakal terbayar oleh petualangan kita.”

Begitu aku melompat sekuat tenaga ketika temanku itu bilang, “sekarang!” aku merasakan sakit yang luar biasa, bukan hanya sedikit sakit. Tak ku sangka rasanya tercerabut itu begitu menyakitkan. Kami berhasil memanfaatkan kekuatan alam untuk pelarian ini. Kami mendarat dengan brutal di derasnya aliran sungai. Ya, hanya melalui aliran sungai ini lah kami dapat memulai petualangan menuju kota amnesia. Dua pucuk daun muda yang tak berarti terombang-ambing di aliran sungai.

Aku sadar perjalanan ini bakal panjang dan berbahaya. Namun, rasa penasaranku akan kota amnesia begitu tinggi. Gairah berpetualangku mengalahkan segalanya. Agak terkesan bohemian barangkali, namun lelaki muda memang tak jauh dari petualangan dan kenekatan. Kurasa itu lah yang juga dirasakan oleh para pemuda Desa Tua yang melegenda di benak para bocah-bocah lelaki. Kini aku merasakannya sendiri. Kau hanya dapat menghirup udara kebebasan seperti ini sepuasnya jika kau memulai petualanganmu sendiri. Percuma jika aku menceritakannya panjang lebar.

Dalam perjalanan seperti ini, kau akan mempelajari dan menemukan hal-hal baru yang sebelumnya tak pernah kau ketahui. Persahabatan, misalnya. Tak selamanya hal itu berarti keharmonisan. Ada kalanya konflik-konflik yang perlu pecah untuk memperkuat persahabatan. Kami berdua beberapa kali berkonflik ketika harus memutuskan arus mana yang harus diikuti, arus mana yang harus dihindari atau kapan harus minggir ke tepian dan kapan harus berada di tengah-tengah aliran sungai. Itu adalah seni pertemanan. Kini persahabatan kami rasanya lebih mudah lagi.

Akhirnya, setelah berminggu-minggu kami terombang-ambing di aliran sungai yang terkadang deras dan terkadang tenang, kami bakal segera memasuki wilayah kota amnesia. Rupanya aliran sungai di kota ini tak lagi deras. Kami melambat. Sungai yang tadinya dalam di sini menjadi dangkal. Bau anyir menyengat pun mulai menjadi hal yang lazim di sini. Ternyata tumpukan rongsokan dan sisa-sisa makanan yang membusuk ada di mana-mana. Sekuntum kamboja layu berkata bahwa pemandangan buruk itu adalah efek samping dari wabah amnesia di kota.

“Wabah amnesia di kota ini begitu akut, sobat. Tak ada lagi yang memiliki kenangan indah tentang sungai ini. Semua orang telah melupakannya. Tak ada yang sedih soal ini. Jika kalian tak kuat untuk menyaksikan ganasnya wabah amnesia di kota, jangan kalian teruskan perjalanan kalian. Sakitnya luar biasa, sobat.”

Namun kami tetap melanjutkan perjalanan. Ya, kami sudah sejauh ini dan tak ada jalan kembali pulang. Aliran sungai ini membawa kami semakin dalam ke pusat kota amnesia. Bau yang sangat busuk semakin menusuk. Ini kah peringatan awal dari wabah penyakit amnesia yang ganas itu? Kami abaikan kebusukan itu demi rasa penasaran kami. Perjalanan pun tetap berlanjut.

Di pusat kota, kami menjumpai semacam pemukiman yang terdiri dari kandang-kandang muram. Menurut teman seperjalananku, hanya makhluk-makhluk jalang saja yang mau menempatinya. Mereka adalah jenis kumpulan terbuang yang memilih untuk bersembunyi dari benderang matahari dan baru akan menampakkan wujud begitu langit telah gelap. Aku agak bergidik juga mendengar cerita temanku itu. Tetapi, suara parau mengejutkan kami. Ya, suara dari jenis kami sendiri, daun tua yang sepertinya tak lama lagi menemui ajalnya.

“Mengapa kalian ke sini, anak muda?”

“Kami ke sini untuk mengetahui rumor tentang wabah amnesia di kota ini. Kau sendiri bukan dari daerah sini kah?” tanyaku sambil mencoba mencari sebatang pohon yang mungkin saja menjadi asal muasalnya, tetapi sama sekali tak ada pohon berdiri di pinggir sungai ini.

“Aku berasal dari tempat di mana kalian berasal anak muda. Dan aku telah melewati perjalanan panjang penuh rasa penasaran dan jiwa petualang sama seperti kalian. Bertahun-tahun yang lalu. Dan aku telah kandas di sini, di lumpur hitam penuh gundukan sampah ini. Menua dan sekarat.”

Kami tak berlama-lama mengobrol dengannya. Ada aura kengerian yang luar biasa atas penderitaannya, kemudaannya yang terlampau cepat sirna oleh limbah-limbah kota amnesia. Kami harus mengejar arus sungai yang sedang deras untuk terus berjalan, kami tak ingin berakhir di lumpur hitam seperti dirinya.

Aku mulai memikirkan tentang perjalanan ini, akan berujung di manakah kami ini. Tak mungkin untuk kembali, seperti yang telah diperingatkan oleh si tua tadi. Ia juga memperingatkan kami untuk tidak terlalu memasuki kota amnesia, sebab di pusat kota terdapat sumber wabah amnesia yang sangat ganas.

Banjir tiba-tiba menerjang di tengah malam. Kami terombang-ambing di antara amukan liar sungai. Alam mengamuk, mengirim pasukan air dari hulu, dari lereng gunung yang tandus, memporak-porandakan kandang-kandang muram. Memasuki pusat kota, pasukan air menyebar, memasuki rumah-rumah petak, menerjang jalan tol, mengepung daerah-daerah elit, dan melumpuhkan jalur menuju bandara. Rupanya mereka telah muak dengan kota ini. Aku terpisah dari teman seperjalananku. Entah ia ada di mana, mungkin terseret arus, mungkin tersangkut di salah satu puing bangunan.

Banjir bandang meluluhlantakkan segalanya. Sungai meluap, melahap apa pun juga yang ada di depannya. Manusia-manusia berlarian, panik. Mereka saling menginjak, menindih, berusaha menyelamatkan dirinya sendiri. Tak banyak yang selamat. Mereka diterjang oleh arus air yang begitu deras.

“Kau masih hidup rupanya, anak muda.”

Ah, aku kenal suara itu. Si daun tua rupanya. Ia akhirnya terbebas dari lumpur hitam yang telah memerangkapnya selama bertahun-tahun. Ia nampak tersenyum, tak cemas sama sekali akan banjir bandang ini.

“Hanya lewat banjir besar seperti ini lah para warga kota akan tersadar dari penyakit amnesia mereka. Lihat lah, mereka yang berlarian itu adalah anak-anak muda yang dulu kau banggakan itu. Yang pergi menuju kota dan tak kembali.”

“Maksudnya makhluk-makhluk jalang yang tinggal di kandang-kandang muram?”

“Akh, mereka tidak jalang sama sekali nak. Mereka hanya terdesak, terpinggirkan oleh saudara-saudara mereka yang lain, yang juga berasal dari desamu. Mereka yang tinggal di bedeng-bedeng yang kau sebut kandang itu adalah golongan yang kalah.”

“Kalah?”

“Ya, kalah. Begitu kau menginjak kota ini, kau akan kehilangan daya ingatmu. Maka, tak ada lagi saudara, tak ada lagi teman, tak ada lagi daerah asal. Di sini semua hanya mengenal kompetisi nak. Dan kompetisi itu terkadang menyakitkan bagi pihak yang kalah. Mereka akan terdesak jauh hingga ke pinggir-pinggir sungai. Hidup dengan menurunkan derajat mereka, mengais tumpukan sampah, mengharap iba orang lain. Wabah amnesia membuat mereka lupa betapa dahulu mereka bersahaja di desanya. Kota ini diwarnai oleh ribuan kisah semacam itu.”

“Lalu bagaimana dengan pihak pemenangnya?”

“Mereka tentu saja hidup mewah. Namun juga tak luput dari serangan wabah amnesia. Mereka menikmati segala hingar bingar kota, menyerap semua energi dan madu manis dari pembangunan besar-besaran di kota ini. Ah, mereka lupa bahwa mereka dulu berangkat ke kota ini bersama saudara-saudara yang telah mereka kalahkan itu, yang telah mereka desak hingga ke pinggir sungai. Mereka merasa abadi di kota ini. Lupa pada tempat lahir mereka.”

Aku pusing. Wabah amnesia di kota ini ternyata begitu mengerikan. Aku tak pernah membayangkan sebegitu akutnya penyakit amnesia yang diidap oleh warga kota ini hingga mereka saling memangsa satu sama lain, lupa akan persaudaraan mereka. Di antara derasnya arus banjir, aku melihat si daun tua terkoyak dan mati. Ia tersenyum. Aku berdoa agar segera hilang ingatan. Semua pemandangan ini terlalu mengerikan dan tak ingin ku ingat lagi.

 

Ambarketawang, Januari 2013

Eko Budi Nugroho

From → cerpen

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: