Skip to content

Lebah Mungil, Havelaar dan Pustakawan Tua

January 18, 2013

Seekor lebah mungil sekarat di sebelahku. Posisinya telentang dan kaki-kakinya bergerak tak beraturan. Sama sekali tidak gagah! Aku menyentuhnya dengan ujung pulpen jelku. Tampak makhluk avertebrata nahas yang namanya disebut-sebut dalam Al-Qur’an itu berusaha keras menggapai pulpenku. Ia berpegangan erat di pulpenku, namun sungguh nista, ia terempas lagi ke permukaan meja yang berdebu. Benar-benar nahas!

Ia telentang lagi, diam dan kaku. Kulekatkan pandanganku padanya. Ternyata kombinasi corak dan warna lebah mungil ini cukup eksotis juga. Kepala kecilnya berwarna oranye dihiasi dua bola mata lonjong yang hitam besar. Lehernya liliput dan pendek. Punggungnya melengkung mulus mirip tangki motor si Rhino Renegade. Di sekujur tubuhnya terdapat komposisi warna kuning menyala diselingi aksen coklat pudar. Pinggangnya benar-benar ramping, khas wanita bangsawan Eropa abad pertengahan lengkap dengan korset ketatnya—tiba-tiba saja bayangan Anna yang diperankan dengan manis oleh si cantik Joddie Foster dalam Anna and The King muncul di benakku.

Dan, tentu saja bokongnya menggelembung seksi, laksana manekin hidup yang sengaja memamerkan motif belang-belangnya. Sepasang sayap transparannya berbentuk seperti mata pisau pemotong apel, tipis namun tajam. Corak loreng cokelat pudar mengintip malu-malu di sela jejari sayap bening itu.
Tapi sayang, ia sekarat, dan mungkin saja segala keindahan itu takkan terlalu berguna lagi. Lebah malang itu sebentar lagi akan mati!

Dari lantai tiga perpustakaan yang murung ini aku bisa menatap keluar melalui kaca jendela yang kusam, dan mendapati ratusan sepeda motor yang diparkir dengan agak sembrono. Beberapa orang berlalu lalang di antara aspal berlubang yang masih basah oleh hujan tadi siang. Salah satu atau mungkin banyak dari mereka tentunya ada yang mengutuki keruwetan itu.

Sekilas mungkin orang akan menganggap bahwa kesemrawutan itu semata demi kehausan menyambangi perpustakaan uzur ini, namun aku bisa pastikan itu salah! Aku tahu betul wajah-wajah usang yang itu-itu saja yang selalu kupapasi di lift perpustakaan ini—lift yang membuatku mual karena gerakannya yang kasar, kadang aku malah khawatir kawat bajanya bakal putus mendadak, membantingku ke lantai dasar hingga gepeng remuk.

Hampir tak pernah ada wajah-wajah baru di perpustakaan ini. Jikapun ada, cuma pemuda tanggung berwajah dungu—namanya Turi kalau aku tak salah ingat, entah apa hubungan historis nama itu dengan nama salah satu kecamatan di Sleman—yang sering datang menggantikan ibunya, aku lupa namanya, si pustakawan tua yang cerewetnya minta ampun.

Kawanan palem di depan tiang bendera aluminium mengibaskan dahan-dahannya dengan genit. Bangku-bangku pemanen berlapis keramik merah marun berjejer di bawah palem-palem mesum itu. Nah, itulah yang menarik orang berduyun-duyun turun dari motor dan parkir sembarangan. Itu saja. Tak ada yang berminat untuk memasuki puri buku berhantu penuh sarang laba-laba ini.

Memang, satu-satunya kemolekan perpustakaan ini hanyalah halamannya yang luas dan asri, yang cocok untuk menikmati senja. Halaman itu juga romantis, aku sering sekali mendapati pasangan-pasangan yang duduk lama di bangku-bangku merah marun itu. Aku yakin bila halaman depan itu tidak batal dikikis oleh proyek pelebaran jalur tol lingkar luar tahun lalu, pasti halaman itu jauh lebih ramai lagi, kontras dengan perpustakaan ini yang begitu sepi.

Aku tak pernah sekalipun menikmati senja seperti orang-orang itu. Selalu saja seperti ini: pemandangan dari balik kusam kaca jendela yang kerap menahan tanganku membalik lembaran buku yang kupegang. Dan ini menjengkelkan! Bukan karena aku mendambakan untuk duduk di kursi-kursi merah marun itu, namun sebab aku mulai terbiasa menikmati kegiatan ini: mengawasi mereka yang memuja senja, kesemrawutan motor-motor, pejalan kaki yang mengutuk-ngutuk, tukang parkir dekil yang terus-terusan meniup peluitnya memainkan sejumput kekuasaan, dan berpasang-pasang kekasih yang berceceran seolah memiliki kapling-kapling pribadi.

Ciiih! Aku muak. Sayangnya, aku sulit mengalihkan perhatianku dari itu semua. Buku-buku bau ngengat ini tiba-tiba berubah menjadi obat penenang yang ampuh, yang membuat mataku berat dan mulutku menguap tiap kali aku berniat membacanya kembali. Akh, manusia memang perlu hingar bingar dunia sebab sepi terlalu menyeramkan dan mudah mendatangkan ingatan akan kematian.

Aku mengalihkan pandanganku ke Max Havelaar lagi—sekarang aku coba membaca versi cetakan barunya, yang memajang potongan-potongan adegan filmnya. Sebenarnya, aku tak terlalu tertarik dengan Havelaar yang kabarnya adalah alter-ego Dekker, penulisnya sendiri. Aku ini terlalu melankolis untuk bisa menikmati kisah-kisah heroik dan altruistik seperti ini.

Sebenarnya, aku cuma ingin mengulang lagi kisah romantisme Saijah dan Adinda yang polos itu. Simak penggalan dialog ini:

“Hitunglah jumlah bulan. Aku akan pergi tiga kali dua belas bulan, bulan ini tidak terhitung; lihat, Adinda, buatlah garis pada lesungmu pada tiap bulan baru. Sesudah cukup tiga kali dua belas garis, sehari sesudah itu aku akan datang di bawah ketapang; berjanjilah bahwa kau akan menungguku di sana.”

“Ya, Saijah, aku akan menunggumu di bawah ketapang di hutan jati jika kau kembali.”

Lihat, betapa naif, betapa sentimentilnya kisah Saijah dan Adinda itu. Juga, lebih tragis dari Romeo-Juliet malah. Saijah kembali dari perantauannya ketika Adinda telah tewas, telanjang dengan luka menganga di dadanya di antara korban perang. Saijah pun akirnnya tewas oleh gagang-gagang bayonet serdadu Belanda setelah ia nekat merangsek menyongsong para serdadu yang bersenjata lengkap itu.

Dan lagi, aku pun tertarik dengan Havelaar semata karena si jenius Dekker itu menyelesaikannya dalam waktu sebulan di sebuah losmen di Belgia. Multatuli, nama samarannya, berarti “aku sudah banyak menderita” menggambarkan betapa pria ini benar-benar nelangsa dalam keterasingannya. Hmm, latar belakang yang cukup menarik bukan?

Tapi, akh, lebah mungil yang merintih sakaratul maut itu mulai menarik perhatianku lagi. Jujur, aku belum pernah seumur hidupku menyaksikan detik-detik kematian seekor lebah. Manusia? Sudah beratus-ratus mayat tersaji di mataku, entah yang utuh atau remuk berantakan. Kameraku yang haus darah itu sudah memangsa ratusan mayat korban kecelakaan, pembunuhan, perkosaan, hingga bunuh diri. Gambar-gambar itu kubidik dari sudut-sudut tertentu hingga terkesan begitu dramatis, atau sadis barangkali. Maklum, kini pembaca kami sudah terbiasa dengan kesadisan sehingga aku dituntut untuk menambah dosisnya lewat gambar. Tapi, sudahlah, aku tak mau membahas lebih jauh pekerjaanku yang menjijikkan itu.

Lebah mungil itu merintih lirih dengan cara yang anggun, seperti bayi yang hendak tertidur lelap di pangkuan ibunya.

Di satu sisi dalam diriku, ada sebuah gejolak rasa senang yang meluap mengikuti desah terakhir nafas lebah itu. Aku selalu menerka-nerka seperti apa rupa kecantikan pada detik-detik menjelang ajalnya.
Di sisi lain, ada duka yang menyayat, sesak yang menyiksa di dada. Persis seperti yang dirasakan seorang pria remaja tanggung yang baru saja ditolak cintanya oleh gadis yang tak tahu diri—bagaimanapun, aku pernah mengalami masa puber yang memuakkan itu.

Sebentar lagi aku akan kehilangan seekor makhluk cantik yang baru beberapa menit lalu kukenal. Aku harus memberinya nama, segera! Aku tak mau mengingat sesuatu yang telah lenyap tanpa nama.

“Oke, serangga mungil, bagaimana kalau kau kunamai Laila?”

Dia diam saja. Dingin. Kaku. Astaghfirullah, mungkin saja ia sudah punya nama. Bisa saja lebih cantik dari sekadar Laila, dan aku telah mempraktekkan kecongkakan khas manusia, menganggapnya sebagai obyek semata. Yah, banyak hal yang mungkin lebih cantik dari sekadar malam. Atau, kekasih hatinya mungkin tidak seperti Majnun sama sekali yang bersyair hingga sinting seperti dugaanku.

Jika ia masih kuat bicara, tentu ia akan menolak nama itu, sebab ia bukan makhluk malam sepertiku. Ia adalah makhluk pegiat hari yang terang benderang. Ia menyongsong matahari dengan terbang belasan kilometer cuma untuk merogoh nektar bunga-bunga yang memperalatnya supaya ia menyemaikan serbuk-serbuk sari di tempat lain. Ia memiliki ketangguhan navigasi yang melebihi radar pelacak panas sekalipun. Jika ia menemukan sumber makanan, ia akan kembali ke hivanya dan membuat tarian melingkar berbentuk angka delapan untuk menunjukkan dimana lokasi sumber makanan itu pada teman-temannya. Hebat, salut! Inilah inti dari commonwealth, bukannya totalitarianisme kaku satu partai atau persaingan bejat tanpa batas seperti yang ditunjukkan oleh peradaban manusia.

“Baiklah, kau mungkin telah punya nama yang lebih bagus dari Laila. Tapi, aku akan tetap menganggapmu sebagai Laila.”

Dia masih diam. Tak ada respon. Aku menyesal…..

“Baiklah, tak ada Laila. Tak perlu nama. Kau adalah lebah mungil cantik yang baru saja kujumpai. Dan kita akan segera berpisah…..” (aku tak mampu melanjutkan kata-kataku, dadaku tiba-tiba sesak dan sesenggukan)

Jangan, jangan menangis! Aku pantang menangis, apalagi untuk sekedar perpisahan. Aku takkan menangis, sebab aku telah berteman lama dengan perpisahan. Kakekkulah yang mengajariku untuk bersahabat dengan perpisahan. Ia menyuruhku mengulum butiran gula aren ketika potongan-potongan organ tubuh kedua orang tuaku ditemukan di balik timbunan longsoran bukit yang menimpa rumah kami. Aku selamat oleh sebuah tiang yang melindungiku ketika gundukan-gundukan tanah yang meluncur 110 km/ jam itu mengamuk dini hari jelang subuh, dua puluh tahun silam.

Kata kakek, manis gula aren bisa menetralisir pahitnya perpisahan. Kakekku mempelajari teknik itu secara otodidak ketika ia, waktu itu masih menjadi kepala desa, mendapat instruksi dari “garis komando” untuk menembak di tempat banyak warganya yang kebanyakan petani penggarap. Kakekku menelan gula aren, namun air mata tetap saja meleleh dari matanya. Ia tak menganggap mereka yang ia tembak itu kriminal atau bajingan. Dosa mereka hanyalah menjadi anggota Barisan Tani Indonesia, yang katanya membunuhi jenderal-jenderal dan tidak bertuhan.

Waktu kakekku meninggal pada sebuah sore yang cerah, akupun lekas-lekas mengulum gula aren. Karena tak tega menatap raut sedih di wajah kakek, aku juga memasukkan sebutir gula aren ke mulutnya yang dingin itu. Sayang, ia tak pernah menghabiskannya sampai kain kafan membalut tubuhnya.

Lebah mungil itu telah mati. Aku gagal menamainya pada detik-detik terakhir. Aku takut takkan mengingatnya terlalu lama jika tak ada nama yang bisa diingat. Paras dua orang tuaku saja sudah kabur dari memoriku seiring dengan nama mereka yang juga tak kuingat. Semua catatan sejarah keluargaku lenyap bersama amarah bumi itu. “Bumi yang sekian lama dizalimi manusia,” kata kakekku dulu yang namanya aku tak pernah tahu selain “kakek” saja.

Serangga itu mati telentang. Ruas-ruas kaki jenjangnya tertekuk rapih. Mungkin aku tak membutuhkan gula aren lagi. Sekarang sudah banyak fasilitas untuk melupakan kesedihan dan perpisahan. Aku bisa merendam tubuhku di bath tub lama-lama dengan air hangat plus aroma terapi. Atau, mungkin pergi ke klub kebugaran dimana aku bisa menyaksikan tubuh-tubuh yang dinamis dan bergairah pada kehidupan bermandi peluh. Mungkin belanja juga alternatif yang menyenangkan. Ada setumpuk brosur promosi dari pusat-pusat perbelanjaan yang memajang diskon gila-gilaan di flatku.

Akh, mungkin tak perlu pergi jauh-jauh. Tinggal duduk manis saja di depan TV layar datar 72 inch dengan ratusan channel dalam dan luar negeri. Aku tak bisa membayangkan betapa hambarnya hidup ini tanpa TV, TV kabel terutama! Tapi pastikan dulu remote di tangan kita, sebab inti menonton TV adalah memainkan jari di tombol remote untuk memuaskan hasrat kita akan kekuasaan.

Ups! Harmpir lupa. Nanti malam aku bisa pergi ke pub. Ada berbagai theme events seru. Rasanya tak sabar lagi untuk menikmati entakan musik racikan si manis DJ Kim di akhir pekan. Fuih! Coba kakek dulu tahu bahwa kini ada lebih banyak pilihan yang bisa dipilih daripada sekedar gula aren yang kampungan itu.

“Pak, sebentar lagi perpustakaan tutup.”

Akh, suara ini seperti alarm menyebalkan yang memaksaku terbangun di pagi-pagi buta.

Pria bungkuk yang tugasnya merapikan buku-buku yang berserakan di meja ini sudah akrab di mataku. Ia jarang bicara, beda dengan pustakawan wanita cerewet yang kuceritakan tadi. Pria tua ini lebih sibuk dengan buku daripada merapikan kumis dan jenggotnya sendiri.

Terkadang, aku memergokinya tengah membacai arsip-arsip tertentu dengan muka serius. Hmm, jangan-jangan ia ini Jacques Pangemanann modern yang memata-matai Minke modern pula. Akh, imajinasiku memang kadang keterlaluan!

Pustakawan tua ini punya kebiasaan yang nyaris rutin tiap hari. Ketika dia memulai tugasnya di sore-sore seperti ini—dia selalu datang sore hari, entah apa yang dikerjakannya di pagi hari—pasti kata-kata “Pak, sebentar lagi perpustakaan tutup” yang menjadi salamnya padaku. Dan akupun selalu membalas salamnya dengan pola yang tak pernah berubah, menganggukkan kepala tanpa sepatah kata pun. Kami tak pernah mengenal. Paradoks.

Pola komunikasi manusia memang selalu paradoksal. Ia mengkomunikasikan sinyal padaku, dan aku meresponnya, lalu memberinya feedback, dan kami dihubungkan oleh semacam sistem kepentingan. Ia harus berbicara padaku sebab berkaitan dengan pekerjaannya, dan tentu saja hidup matinya. Aku menanggapinya karena memang aku telah menggunakan jasa perpustakaan ini. Tak ada keintiman yang hendak dicapai. Rasanya kok kurang manusiawi ya?

Oh, lebah mungil itu……Aku menatapnya getir. Ia hanya akan berakhir di pengki pria bungkuk itu. Tak boleh! Ini tak pantas! Kecantikan seperti itu tak layak untuk diperhinakan dalam akhir yang serupa garong-garong pasar Tanah Abang.

Aku menggenggam jasad kaku itu, lalu memasukkannya ke kantong celanaku. Pustakawan tua itu menatapku sinis dan penuh curiga. Aku menangkap ekspresi kemenangan di wajahnya, ekspresi yang sering ditunjukkan pemuda pengangguran ketika menangkap basah pencuri jemuran tingkat kampung.

“Pak, apa yang anda masukkan ke kantong celana tadi?”, ekspresi kemenangan itu makin nyata.

“Tidak ada kek,” jawabku singkat.

“Tadi saya lihat bapak memasukkan sesuatu di kantong celana bapak!”, kata pria tua itu setengah menghentak.

Tiba-tiba saja aku merasa geli. Wajah penuh selidik si pustakawan tua itu mirip muka seekor mirkat yang mengawasi pemangsanya dari atas lubang persembunyiannya . Kutahan tawaku kuat-kuat, namun pecah juga tawaku.

“Kurang ajar! Ditanya malah ketawa! Kualat kamu!”, ia mulai menunjukkan taringnya sebagai manusia yang sudah makan asam garam, bukan sebagai petugas suruhan rendahan seperti biasanya. Heran juga aku dengan perubahan ini.

“Kek, saya tidak mengambil apapun, sumpah!”

“Jangan bohong kamu!”

“Kalau tidak percaya ya sudah.”

“Keluarkan tanganmu itu dari saku! Aku ingin lihat barang yang kau masukkan tadi! Kau pikir buku-buku buluk ini layak kau sobeki ya? Dasar, aku sudah sering mendapati orang macam kau, yang hobinya cuma menyobeki halaman-halaman buku. Mereka ini orang-orang yang sok gila buku, tapi tak tahu bagaimana caranya memperlakukan buku dengan hormat! Tahu apa kau tentang buku?”

“Kek, saya……”

“Aku sudah mencintai buku sejak aku belum disunat! Aku bisa membedakan judul buku dari aroma lem jilidnya, jenis dan tekstur kertasnya! Aku bisa tahu buku mana yang dikerjakan serampangan oleh percetakan amatir dan buku mana yang dikerjakan dengan teliti oleh percetakan profesional! Aku ini sudah cinta buku sejak sebelum disunat! Kau harus hormati itu, anak muda!”

“Kek, saya tidak mengambil apa pun!”, kataku mengiba sambil menahan tawa. Sedih juga sebenarnya. Pria renta itu adalah contoh pahlawan yang telah kalah. Ia harusnya bisa menjadi semacam santo atau apalah itu. Bagaimanapun, ia sudah membuang sekian massa hidupnya di puri buku berhantu ini. Dan lagi, ia sudah cinta buku sejak sebelum disunat! Namun, di negeri ini orang-orang tak mau peduli. Kita semua terlalu terpaku pada kompetisi. Hmm, kompetisi artifisial dan semu sebenarnya!

“Alah, jangan banyak omong! Cepat keluarkan tanganmu itu!”

Aku mengeluarkan tanganku. Masih mengepal erat.

“Buka genggamanmu!”

“Tapi kek…?”

“Cepat buka!”, pria bungkuk itu mendadak jadi 30 tahun lebih muda. Matanya nanar, memancarkan kemarahan yang mendalam. Aku tak tahu pasti seberapa besar ia mencintai buku-buku usang itu. Aku bertanya-tanya apakah ia tahu sistem desimal Dewey yang dipakai di perpustakaan modern? Apakah ia sadar bahwa kini buku-buku sudah di-scan secara massal dan bisa diunduh dengan mudah di internet?

“Buka tanganmu anak muda! Atau tinjuku melayang ke wajahmu!”, lagi-lagi kakek malang itu menunjukkan sisa kekuatannya.

Aku merenggangkan jemariku. Pria tua itu sudah tak sabar ingin mengetahui apa yang ada di balik genggamanku. Mungkin dalam benaknya ia sudah mendambakan sebuah medali penghargaan, atau sedikit hormat dari kepala perpustakaan yang telah bertahun-tahun memperhinakannya. Atau, setidaknya insiden ini bisa menjadi cerita heroik untuk anak dan cucunya di rumah petaknya yang hambar nanti malam.

Akh, dia seperti Don Quixotte yang berdarah-darah melawan kincir angin. Dan itu membuatku semakin geli. Tawaku pecah lagi.

“Hei, anak muda! Apa yang kau tertawakan! Benar-benar tak tahu sopan santun. Cepat buka genggamanmu!”, tangannya pun meraih kerah kemejaku dengan kasar.

“Baiklah, pak. Cuma ini yang ada di tanganku.”

Jasad kaku lebah mungil itu masih terlihat anggun di telapak tanganku. Begitu damai, begitu bersih dan begitu murni. Haru menyusup seketika di dadaku. Lebah itu mirip the sleeping beauty Rosalia Lombardo, si mumi mungil Sardinia, yang fotonya di National Geographic memukauku selama beberapa menit.

Seketika, pria tua itu kembali ke wujudnya semula. Wajahnya yang garang mendadak murung tanpa ekspresi. Punggungnya semakin bungkuk. Matanya yang berapi-api tiba-tiba sayu lagi. Ia seperti kura-kura yang kembali masuk ke cangkangnya, lalu enggan keluar lagi. Aku jadi ingat Ivan Kapitonich, tokoh dalam cerpen Munafik-nya Chekhov. Cengkeraman tangannya di kerah kemejaku pun melemah, gemetar dan akhirnya luruh.

“Pak, sebentar lagi perpustakaan tutup.”

Aku mengangguk pelan. Jasad lebah malang itu kumasukkan di kantong celanaku lagi. Aku melangkah keluar menuju pintu kaca. Sekilas aku menoleh ke belakang. Pria bungkuk itu merapikan buku-buku dan memindahkannya ke troli. Sesekali ia bacai arsip-arsip yang terserak di meja dengan muka serius. Mungkin pekerjaan itu sudah ia lakukan sejak dua puluh tahun yang lalu. Mungkin lebih lama. Aku tak tahu pasti. Aku menuju pintu lift. Sore sudah semakin gelap. Dan perpustakaan sunyi sekali.

Di dalam lift yang mengkhawatirkan ini, aku merogoh beberapa lembar kertas usang dari balik bajuku. Halaman 274 sampai 298 dari Max Havelaar, bab XVII tepatnya. Tenang, pak tua, aku akan memperlakukan kertas-kertas ini dengan penuh hormat seperti kau memuja buku-bukumu itu.

Rawamangun, 2008
Eko Budi Nugroho

From → cerpen

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: