Skip to content

Berburu Serigala

January 28, 2013

            Hujan sebentar lagi turun. Dan Pras sangat ketakutan. Sore ini memang akan ada hujan lebat, sangat malah. Ia meringkuk di pojok kasur, melipat kaki kurusnya. Kamar ini tak berjendela, namun ia tahu hujan mengancam di luar sana. Gemuruh di langit seperti akan membungkam seisi bumi. Pras menutup mukanya dengan bantal. Sayup terdengar isakannya.

            Pras sudah sebulan tak keluar dari kamar ini. Baiklah, memang akulah yang mengurungnya di sini. Tapi ini demi kebaikannya kok. Pras takkan bertahan di luar sana. Ia hanyalah domba malang, dan orang-orang di luar itu adalah serigala buas. Aku takkan pernah membiarkan Pras celaka.

            Aku mendekatinya. Lututnya gemetaran. Bau pesing tercium di sprei, menyengat. Bukan pertama kali ia ngompol di kasur. Hujan selalu membuatnya ngompol. Perlahan aku menyibak bantal dari mukanya. Ia mencengkram erat bantal itu. Aku meraihnya lebih keras. Pras mengerang, ia tak suka. Namun aku tetap memaksanya untuk menyerahkan bantal itu. Dan ia menyerah. Mukanya sesekali bergetar sesenggukan, air mata terus mengalir.

             Plak! Aku menamparnya. Plak! Sekali lagi. Plak! Plak! Plak! Dan berkali-kali lagi. Lalu aku menyeka air matanya dengan lengan bajuku. Ia diam, namun mulutnya komat-kamit. Matanya melotot seperti kuntil anak. Aku tahu ia marah padaku, dan aku senang ia marah. Ketakutan hanya bisa dikalahkan dengan kemarahan.

            Pras perlu bercukur. Ia sudah terlalu menyeramkan. Rambutnya panjang dan bau. Kumisnya pun menjuntai di mulutnya, dan jenggotnya sudah mirip sabut kelapa.

            “Pras, kau perlu bercukur!”

            Ia tak bergeming.

            “Kau hampir mirip genderuwo!”

            Mendadak ia meraung. Aku sendiri kaget. Ia berteriak-teriak dan mencakar-cakar rambutnya. Beberapa rambut bahkan tercerabut dari kepalanya. Aku mengambil pipa besi dan menenangkannya. Tiga pukulan: dua di lengan dan satu di paha sudah cukup. Ia kembali terdiam sambil komat-kamit.

            “Ingat, kau perlu bercukur. Setelah ini aku akan mencukurmu!”

            “Akan aku bunuh iblis itu! Aku bunuh iblis itu! Mana? Mana iblis itu?

            “Diam!”

            “Akan ku bunuh iblis itu!”

            “Aku bilang diam atau aku buat kau cacat seumur hidup!”

            “Bapak…! Aku tidak bunuh bapakku!”

            “Sudah kubilang diam!”

            Satu gebukan kudaratkan di kepalanya. Ia menjerit kesakitan, namun akhirnya reda juga. Sebenarnya tiap pukulan itu juga melukai diriku sendiri, tapi tak ada pilihan lain untuk menenangkannya. Aku sudah terlalu sering merekam tubuh-tubuh lebam ringsek oleh pukulan benda tumpul.

            Aku lalu melilitkan seutas tambang di sekujur tubuh Pras. Tangan dan kakinya aku ikat dengan tambang lain. Hujan deras itu akhirnya turun. Pras kembali meronta-ronta dalam ikatannya. Ia menggelosor sepeti ulat menuju pojok kasur lalu meringkuk. Bagus, ia bisa kutinggalkan sejenak untuk menyiapkan makan malam. Aku mengelus dahi Pras yang malang sebelum pergi.

              Baiklah, aku tahu kau penasaran dengan Pras-ku itu. Jika janjimu untuk tak menceritakan kisah ini pada orang lain bisa kupegang, inilah rangkuman kisahnya.

***

               Nama aslinya adalah Mardi. Ia teman sepermainanku waktu kecil. Suatu sore warga menangkapnya di pinggir kali. Kira-kira dua atau tiga bulan yang lalu. Waktu itu hujan turun lebat. Ia berdiri mematung sambil membawa parang, tangannya berlumuran darah. Telunjuk kanannya sendiri terpotong. Dan di sebelahnya tergeletak sesosok mayat. Itu mayat bapaknya sendiri.

            “Setan kau Mar, bapak sendiri kamu bunuh!” bentak seorang warga.

            “Ia bukan bapakku, ia iblis yang menyamar!”

            Salah seorang dengan pedang maju menyabet Mardi. Malang, orang itu malah terbelah oleh parang Mardi yang haus darah. Mardi tertawa sambil menjilati parangnya. Ia kesetanan. Kata orang dia kualat gara-gara mempelajari ilmu hitam. Entah, aku tak tahu kebenarannya.  

            “Ayo, maju kalian semua!”

            Tak ada yang berani maju. Hujan makin lebat dan hari sudah surup. Gerbang dunia dedemit baru saja terbuka. Aku lalu maju sedikit demi sedikit. Mardi menghunus parangnya. Aku tetap maju.

            “Mar, serahkan parangmu.”

            “Diam! Siapa kau?”

            “Aku Bayu, teman mainmu dulu. Apa kau tak ingat?”

            “Berhenti! Cukup di situ saja! Kalau maju lagi aku penggal kepalamu!”

            Aku tetap maju pelan-pelan.

            “Mar, letakkan parangmu. Kita bicara baik-baik.”

            “Aku bilang berhenti!”

            Aku masih melangkah ke depan. Mardi mengayunkan parangnya. Beberapa orang di belakangkku menjerit histeris.

            “Aku yakin kamu nggak bersalah. Ayo, bicaralah Mar.”

            Parangnya terhenti di atas kepalanya. Genggamannya mulai goyah. Bola matanya bergerak-gerak tak tentu arah. Sepertinya ia memang tak bersalah.

            “Aku tahu kau tak berniat membunuh bapakmu sendiri. Nyatanya kau potong jarimu sendiri. Kau pasti sangat menyesal.”

            Mardi menangis. Parangnya terjatuh.

            “Aku tidak membunuh bapakku! Aku membunuh iblis yang menyamar! Aku tidak membunuh bapakku! Aku bukan pembunuh!”

            Tangisan Mardi makin kencang. Seseorang mengambil parangnya. Warga yang lain langsung maju ke depan dan mengikat Mardi. Lalu, mereka memukulinya beramai-ramai sampai bibir teman sepermainanku itu koyak. Kurasa hidungnya juga patah.

            Tiba-tiba, entah mendapat bisikan dari mana aku meraih parang yang telah disingkirkan tadi, kemudian menyabet semua orang yang memukuli Mardi. Seolah aku menjelma menjadi juru selamat bagi Mardi, tak ada ampun bagi siapa pun yang melukainya. Aku terengah-engah menggenggam parang lengket darah. Semuanya mendadak merah, kali pun memerah. Hujan menyebarkan bau anyir. Dedemit menari-nari dan bergelantungan di sulur pepohonan.

            “Mar, kau ikut aku!”

            “Aku nggak mau!”

            “Kau mau mati? Warga yang lain akan segera tiba! Dan cuma kamu tersangkanya!”

            “Apalagi yang bisa kuharapkan? Bapakku sudah mati. Biarlah warga menghukumku.”

            “Tidak Mar! Mereka tak boleh menghukummu. Ingat, kau tak salah. Ini cuma kecelakaan! Dan, kau tak sendiri Mar. Masih ada aku!”

            Begitulah akhirnya Mardi kubawa ke kota. Belasan jahitan di mukanya malah mampu menyamarkan dirinya dengan sempurna. Di Purwakarta, identitasnya ku ubah menjadi Prasetya, dengan umur yang lebih tua dan alamat palsu.

            “Mulai kini namamu Prasetya. Tak ada lagi Mardi!”

            Pras cuma mengangguk. Ia menjadi seperti orang linglung begitu keluar dari desanya. Dan Pras benar-benar linglung sejak kami mengontrak sebuah rumah di daerah Penggilingan, Klender. Tetangga-tetangga kami gelisah dengan tingkah lakunya. Ia sering menggoda anak-anak perempuan. Para pemuda yang nongkrong di gang pun menghajarnya tanpa ampun. Giginya sampai rompal satu.

            Lalu, aku mulai mengurung Pras di kamar. Bukan karena aku kesal padanya, namun justru aku kasihan padanya. Ia bakal menjadi bulan-bulanan warga sekitar jika kubiarkan berkeliaran sendiri. Satu set TV dan VCD player menemaninya di kamar. Ia jarang nonton TV, kecuali kartun Tom and Jerry. Ia suka sekali dengan adegan kejar-kejaran dan pukul-pukulan di film itu.

***

            Ups, makan malam kami telah siap. Menu kali ini adalah daging serigala betina, seperti malam lusa, lusa dulu, dan dulunya lagi. Sebenarnya menunya memang selalu daging serigala betina. Daging-daging segar ini akan membuat pikiran Pras jernih. Ia tentu sudah sangat lapar sebab sudah dua hari ia tak makan. Kau tahu, ia paling suka daging segar. Maksudku, daging mentah. Baiklah, memang aku lah yang mengajarinya memakan daging mentah. Sebab, aku memang tak suka memasak. Aku cuma suka berburu dan memotong daging.

              Oke, aku akan sedikit bercerita tentang pekerjaanku biar jelas. Dulu aku sempat bekerja di pejagalan sapi. Di sanalah aku belajar bagaimana caranya menikmati darah yang mengucur dari leher yang terpotong. Ada sisa nafas sapi yang membuat bunyi desahan, lalu darah itu muncrat seperti air mancur. Darah itu merah pekat, kental dan tegas. Darah adalah kehidupan itu sendiri. Anyirnya adalah hasrat dunia yang paling mengesankan sekaligus memuakkan!

             Menguliti daging sapi yang digantung terbalik pun juga menarik. Aku sering melakukannya dengan cepat, sebab aku hafal betul tiap lekukan tubuh sapi. Aku tahu di mana lipatan-lipatan gajih yang akan membuat pisauku cepat tumpul. Kau tahu, aku sering melakukan pekerjaan itu sambil menyeruput kopi pahit. Hmm, aku benar-benar rindu pekerjaan itu lagi.

            Di kota ini aku hanya berburu serigala betina. Aku suka lolongan mereka ketika leher mungil mereka ku gorok dengan pisau lipat. Urat-urat yang membiru di antara putih kulit mereka berpadu dengan merah darah, sangat menggemaskan! Kemudian, berburu serigala menjadi candu baru bagiku.

            “Pras, makan malam sudah siap!”

            Ia tersentak. Tanpa menyahut panggilanku, ia langsung menggelepar-gelepar. Sepertinya ia sudah terlalu lapar.

            “Menu malam ini daging serigala betina lagi. Kesukaanmu Pras.”

            Ia langsung menyerbu meja makan begitu ikatan di tubuh dan tangannya kulepas. Hmm, nampaknya domba ku ini sudah benar-benar doyan makan daging. Di luar hujan sudah reda.

            “Pras, kapan kau mau ikut aku berburu serigala?”

            “Tambah!” Pras makan dengan lahap.

            “Besok ku ajak kau berburu Pras. Ada satu serigala betina muda. Ia baru saja pindah ke kota ini. Aku sudah hafal ke mana saja ia pergi setiap hari. Ia lincah dan menggemaskan.  Kau pasti suka Pras.”    

            Oya, maaf aku belum sempat menawarimu makan. Tapi di meja makan ini cuma ada porsi untuk kami berdua. Jika kau mau, ambillah di kulkas. Aku masih menyimpan satu kepala serigala betina. Kau tinggal mencabuti bulunya saja, dan mencongkel matanya kalau kau tak suka. Sisakan bola mata itu untukku dan Pras. Jika kau ingin mengetahui seperti apa hasil kerjaku, kau bisa amati bagian bawah kepala itu. Bekas potonganku rapih. Tak ada serabut otot yang semrawut. Aku selalu mengasah pisauku. Jadi, tenang saja. Tak ada pisau tumpul berkarat yang menyiksa buruanku.

 

Rawamangun, 27 Oktober 2008      

Eko Budi Nugroho

 

From → cerpen

One Comment
  1. saya sudah membaca empat cerpen di blog ini, yang satu ini benar-benar berbeda ya dari yang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: