Skip to content

Novel Tipis Tentang Surealisme, Kegilaan dan Sindiran Sosial

January 28, 2013

                “Baah, apa-apaan ini?” Mungkin komentar itu lah yang akan terlontar dari pembaca yang tak sabaran dan cenderung realis ketika membaca novel karya penulis besar era Meiji negeri Sakura, Ryunosuke Akutagawa. Betapa tidak, kalimat awal pengantar penulisnya saja sudah bernada begini, “Ini merupakan sebuah kisah dari pasien no. 23 di salah satu rumah sakit jiwa di negeri kami.”

                Bayangkan, sejak awal pembaca sudah diperingatkan bahwa keseluruhan dari halaman-halaman novel ini cuma bualan dari seorang pasien rumah sakit jiwa! Namanya orang gila, maka ceritanya pun sudah pasti nyeleneh dari norma-norma kewarasan manusia pada umumnya.

                Namun, bagi pembaca yang lebih tekun dan sabar, novel mungil ini menawarkan perjalanan surealis antara dunia manusia dan dunia makhluk misterius yang menarik, mendebarkan, lucu dan terkadang memuakkan. Kegilaan dari sang tokoh utama dan kewarasan dari manusia-manusia di luar rumah sakit jiwa ternyata begitu tipis. Sindiran-sindiran sosial yang tercerminkan dari dunia Kappa terhadap tatanan masyarakat menjadi nilai lebih karya penulis lebih dari seratus cerpen bermutu ini. 

                Dikisahkan, Kappa adalah sesosok makhluk misterius, antara nyata dan tidak nyata. Wujudnya mirip manusia, kulitnya berlendir licin, dan di atas kepalanya terdapat lekukan cekung. Tinggi badannya sekitar satu meter.      

                Tokoh utama novel ini, yakni pasien no. 23, pertama kali bertemu dengan seekor Kappa pada suatu pagi di musim panas ketika hendak mendaki Gunung Hodaka. Ketika sampai di tepian sungai Azusa, tepatnya ketika kabut tebal turun, tanpa sengaja ia memergoki Kappa yang tengah berburu ikan. Ia berlari mengejarnya hingga terjerembab ke sebuah lubang.

               Ketika siuman dari pingsannya, si tokoh utama telah dikelilingi oleh banyak Kappa. Itu lah awal mula ia memasuki dunia Kappa, di mana terdapat berbagai aspek kehidupan mereka yang mirip, tumpang tindih, bahkan berlawanan dengan dunia manusia.

                Melalui beberapa karakter Kappa, seperti dr. Chak, Bag, Tok, Lap, Mag, Krabach, Gael, Pep, dan masih banyak lagi, Akutagawa menampilkan kejeniusannya dalam menganalisa kehidupan sosial-budaya Jepang di awal modernisasi. Secara satire, kehidupan Kappa yang di mata pasien no. 23 tersebut penuh keganjilan, menjadi refleksi keadaan dan pola pikir masyarakat Jepang kala itu.

                Di era restorasi Meiji, Jepang mulai membuka diri terhadap pengaruh budaya dan ilmu pengetahuan barat demi memajukan bangsanya. Pengaruh budaya barat tersebut tak terkecuali juga merasuk dalam ranah sastra dan filsafat. Akutagawa adalah salah satu sastrawan awal era modern Jepang yang rakus melahap filsafat barat, namun menariknya ia juga dikenal menggilai legenda-legenda dan mitos-mitos Jepang abad ke-11.

                Dalam Kappa, Akutagawa menjelma menjadi seekor Kappa bernama Tok. Di dunia Kappa, Tok dikenal sebagai salah satu penyair yang mengagungkan supremasi seni (seni untuk seni), dan menganjurkan para seniman menganut kehidupan Super-Kappa—melampaui norma-norma konvensional Kappa pada umumnya. Hal ini identik dengan ide tentang Super-Human atau Ubermanch yang berakar dari tradisi pemikiran Nietzhean.

                Berbeda dengan Tok yang merupakan alter-ego sang penulis, Dr. Chak adalah cerminan masyarakat konvensional yang memiliki pekerjaan mapan, berkeluarga, namun terkadang muak dan malu dengan keadaan dirinya sendiri. Terlebih, bayi yang dikandung oleh istrinya menolak dilahirkan karena enggan mewarisi sifat-sifat buruk dari sang ayah. Di dunia Kappa, adalah hal lazim bagi seorang ayah untuk bertanya kepada jabang bayinya menjelang kelahiran, “Apakah kau ingin dilahirkan atau tidak?” Dan si orok akan menjawabnya dari dalam rahim ibunya.

                Krabach adalah Kappa yang berprofesi sebagai pemain piano. Suatu kali, konsernya pernah dihentikan oleh seorang polisi. Beberapa kalangan menganggap itu adalah sindiran terhadap penyensoran seni di Jepang. Krabach pun tetap memainkan musiknya, tak peduli oleh kericuhan di bangku penonton oleh teriakan polisi tersebut dan makian penonton lain.

                Gael adalah tipikal kapitalis yang memiliki modal dan aset melimpah yang menggerakkan industri dan perekonomian dunia Kappa. Ia memiliki pabrik gelas, bahkan mengendalikan media massa dan partai penguasa dari balik layar. Meski pun demikian, ia tetap takluk pada istrinya.

                Gael dan Pep merupakan sarkasme bagi para kelas pemilik modal dan penguasa Jepang pada saat itu. Dalam sebuah percakapan, Gael mengungkapkan bahwa ketika ekonomi lesu dan banyak buruh dipecat, maka negeri Kappa memecahkan solusinya dengan mengurangi populasi. Tentu yang dikorbankan adalah para buruh. “Undang-Undang Penyembelihan Buruh,” begitu jelas Gael dengan santai. Pep yang ahli hukum pun mengamininya.

                Lucunya, di dunia Kappa, para betinanya memiliki tubuh yang relatif lebih kuat daripada pejantan. Perilaku seksualnya pun lebih agresif, bahkan pasien no. 23 yang berjalan-jalan di dunia Kappa kerap melihat para pejantan ketakutan dikejar-kejar oleh betinanya. Secara sinis, Akutagawa pun menggambarkan betapa betina-betina yang haus pejantan itu sering kali mempraktekkan tipuan-tipuan licik seolah-olah mereka lari dari pejantan, dan membiarkan diri mereka tertangkap.    

                Menurut beberapa kritikus sastra, sebagian dari kisah dalam Kappa ini tak lepas dari pengalaman suram masa kecil Akutagawa bersama ibu kandungnya yang menderita skizofrenia. Ibunya dihantui oleh perasaan bersalah selama sisa hidupnya akibat meninggalnya kakak Akutagawa karena meningitis. Ketika melahirkan sang bungsu—Akutagawa adalah anak bungsu—ia pun juga mengalami kekhawatiran yang berlebihan tentang keturunan yang buruk.

                  Pengaruh suram ibunya tersebut dapat dilihat pada satire tentang keturunan buruk yang terpampang pada sebuah poster di negeri Kappa :

                Mari bergabung dalam Pasukan Sukarela Keturunan. Biarkan Kappa-Kappa yang kuat dan besar mengawini Kappa-Kappa yang penyakitan dan lemah untuk membasmi keturunan yang jelek (halaman 61-62).

                Kappa ditulis sesaat sebelum Ryunosuke Akutagawa memilih mengakhiri hidupnya sendiri pada usia 35 tahun, persis seperti yang dilakukan oleh Tok, penyair dari negeri Kappa. Bedanya, para penggemarnya tentu tak bisa memanggil arwahnya untuk bercerita tentang pengalamannya di dunia pasca kematian seperti yang dilakukan terhadap arwah Tok usai bunuh diri.

 

Eko Budi Nugroho, pecinta buku.

 

Data buku:

Judul                     : Kappa

Penulis                 :Ryunosuke Akutagawa

Penerjemah       :Andi Bayu Nugroho

Penerbit               : Interprebook, Yogyakarta

Cetakan               : VII, 2009 (edisi revisi)

Tebal                     : 170 halaman

 

From → review buku

2 Comments
  1. Nampaknya buku yg menarik, dimna saya bisa menemukannya??
    Terimakasih

    • di toko-toko buku seperti gramedia atau gunung agung ada kok, tapi memang novel tipis ini sudah langka. Kalau beruntung, seperti saya dulu, menemukannya di antara buku-buku lain di rak sastra asing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: