Skip to content

Kena Tilang, Jalan Kaki Paris-Gamping dan Casual Work di Aston Hotel

January 29, 2013

Jogja, 24 Januari 2013

Dalam minggu ini, ada dua kejadian yang cukup menarik untuk kutulis. Yang pertama, aku kena tilang dalam razia lalu lintas di depan restoran Pyramid, Jalan Parang Tritis (Paris). Yang kedua, aku berkesempatan bekerja sebagai casual worker di Hotel Aston, Jalan Solo.

Minggu, 20 Januari lalu aku berencana menuju rumah Anas—salah satu teman sekelasku di Miami Fleet—di daerah Imogiri. Usai mengantarkan ibuku di klinik tempatnya bekerja, aku memacu motorku melintasi Jalan Parang Tritis. Sebenarnya aku tahu bahwa Jalan Paris terkenal akan seringnya razia lalu lintas yang digelar oleh Kepolisian Bantul. Aku sudah mengantisipasinya dengan memasang mata yang awas. Sayang sekali, ketika ku sangka telah aman, rupanya ada razia lalu lintas yang digelar di Restoran Pyramid, tempat yang tidak ku duga-duga. Apes, SIM pun tak ada, STNK entah ke mana—seperti lirik lagu Naif, “Mobil Balap.”

“Mau ikut sidang apa dibantu?” begitu ucap si polisi.

Aku kena dua pelanggaran tentu saja, SIM dan STNK. Aku ingat di dompetku hanya ada selembar lima puluh ribuan dan beberapa lembar dua ribuan. “Sidang saja pak” jawabku. Si bapak polisi nampak ragu-ragu. Aku yakin sebetulnya para polisi tentu mengharapkan para pelanggar lalu lintas memilih untuk langsung membayar denda di TKP. Mereka enggan menyita kendaraan bermotor. Di Jakarta dulu aku pernah mengalami hal serupa. “Bawa saja motornya pak,” begitu kataku. Si polisi cuma diam lalu membiarkanku pergi. Aku pun berharap supaya kali itu si polisi juga membiarkanku pergi. Tetapi tidak. Ia membuatkan surat tilang untukku sambil sesekali memperingatkanku bahwa motor harus ditahan. Aku tak peduli.

Ketika aku sudah mendapatkan surat tilangku, aku mulai menyesali keputusanku. Sidangnya baru akan digelar 6 Februari 2013. Terlalu lama! Aku duduk lama di depan pintu masuk restoran Pyramid yang memiliki desain arsitektur unik itu. Akhirnya aku kembali ke meja si bapak polisi, bermaksud untuk melobinya agar motorku tidak jadi ditahan. Tapi, terlambat sudah. Ia bilang bahwa penahanan itu sudah masuk dalam berkas dan tak mungkin dibatalkan. Aku bahkan menunggu hingga operasi razia itu selesai. Ketika para polisi itu berkemas-kemas, aku mendekati bapak polisi itu kembali untuk memohon agar aku bisa membawa kembali motorku dan membayar dendanya saja. Rupanya tak mempan. Ia bilang bahwa aku kena dua pasal, paling tidak harus membayar delapan puluh ribu. Hmm, mau bagaimana lagi.

Rusak sudah rencanaku untuk reunian dengan teman-teman eks kelas Conquest, Miami Fleet. Beberapa kali teman-temanku meneleponku namun semangatku untuk bersenang-senang sudah sirna. Aku memutuskan untuk berjalan kaki menuju rumahku di Gamping dengan menyusuri ring road. Waktu itu sudah siang dan terik tengah ada di puncaknya. Jarak yang harus kutempuh sekitar 10-15 km. Tak mengapa, kadang memang aku harus berjalan kaki untuk melatih otot-otot kakiku dan melihat lingkungan sekitar dengan lebih teliti.

Dari restoran Pyramid menuju perempatan Jalan Paris yang memotong ring road selatan pun jaraknya sudah lumayan jauh. Belum lagi ditambah terik yang menyengat. Aku berjalan dengan perlahan, mencoba menikmati petualangan kecil itu. Sambil menenteng helm dan jas hujan, ku langkahkan kakiku menyusuri Jalan Paris. Di perempatan ring road selatan, ku lihat beberapa penari tradisional jalanan yang kerap beraksi di lampu merah tengah beristirahat. Tubuh mereka gelap, wajah mereka kusam. Mungkin akibat paparan terik matahari berhari-hari hingga berbulan-bulan. Kulit mereka juga terus-terusan dibalur asap kendaraan bermotor. Apakah nasib para seniman tradisional harus berakhir di jalanan seperti itu? Sepertinya saat ini semakin banyak seniman tradisional yang beraksi di lampu merah. Sebuah fenomena yang menandakan bahwa kini mereka semakin terdesak dan tak mendapatkan panggung di masyarakat. Jalanan pun menjadi panggung harapan mereka.

Keringat mengucur deras di dahiku ketika aku mulai menyusuri ring road selatan. Beberapa kali aku beristirahat di bawah teras bangunan untuk sekadar berteduh dari terik yang makin menyengat. Sebuah bus jurusan Jogja-Wates lewat. Tentu saja dengan bus itu aku bakal tiba di Pasar Gamping hanya dalam beberapa menit. Tetapi, aku sudah bertekad untuk berjalan kaki sampai rumah. Terkadang, kita memang harus memiliki target dan menantang batas kemampuan kita sendiri. Melakukan long march semacam ini pernah pula ku lakukan bersama dua orang teman kampusku, Oby dan Wiru dari Rawamangun, Jakarta menuju Puncak, Bogor. Dua hari lamanya kami berjalan di tengah terik panas dan hujan deras.

Pernah pula kami menempuh rute Jakarta-Puncak Bogor dengan cara hitchhiking alias nebeng kendaraan yang melintas. Cukup sulit untuk menghentikan mobil-mobil pribadi karena memang hitchhiking belum begitu populer di Indonesia, berbeda dengan negara-negara barat yang sudah familiar dengan para pengelana muda atau backpacker yang menghentikan mobil di jalan untuk sekadar nebeng. Solusinya, kami memilih mobil-mobil pick-up atau truk. Sialnya, belum tentu mereka mau berhenti pula. Hanya di kala macet atau di lampu merah lah kami bisa nebeng di bak terbuka mereka. Tentu saja kami meminta persetujuan pemiliknya, tetapi ketika kami telah berada di atas mobil. Pengalaman itu sangat berkesan. Tak hanya karena beberapa kali kami harus mengejar mobil, salah satu dari kami tertiggal, atau kepanasan hingga kulit gosong dan kehujanan hingga menggigil di kawasan Puncak.

Kembali lagi ke perjalananku tempo hari. Aku sebenarnya memiliki cukup uang untuk naik bis, tetapi sengaja aku berjalan kaki untuk mengukur kemampuan fisikku dan memperoleh pengalaman baru. Beberapa bangunan dan detail lanskap pinggir jalan yang selama ini tak pernah ku perhatikan secara seksama ketika naik motor mulai ku perhatikan dengan cermat. Aku baru sadar bahwa banyak sekali detail yang ku lewatkan ketika memacu kendaraan dalam kecepatan tinggi. Seperti itu lah abad percepatan dewasa ini. Kita semakin cepat, namun kita juga semakin kehilangan daya peka kita terhadap lingkungan sekitar.

Aku mampir di warung burjo menjelang kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Rasa haus di kerongkonganku sudah tak tertahankan lagi. Berkali-kali aku membasahi bibirku tetapi seketika itu juga bibirku kering. Rongga mulutku pun rasanya kering sekali. Segelas es jeruk terasa begitu menyegarkan. Aku menyeruputnya pelan dan menikmati tiap tetesnya. Rasanya tak ada kenikmatan apa pun lagi yang dapat menandingi hilangnya dahaga di siang yang sangat terik. Karena cuaca masih sangat panas, aku sengaja duduk di warung itu agak lama. Ketika suhu tubuhku mulai dingin, giliran perut yang terasa melilit. Aku memesan semangkuk mie rebus telor. Puas sekali rasanya. Lalu, kembali aku memesan segelas es jeruk. Sambil menonton highlight sepakbola di televisi, aku memperhatikan langit yang mulai mendung. Waktunya melanjutkan perjalanan.

Sampai di pintu gerbang kampus UMY, langit tak lagi terlalu terik. Mendung mulai berdatangan. Betisku terasa kencang dan telapak kaki pun panas. Aku berjalan dengan pelan saja. Begitu tiba di pertigaan Jalan Wates, aku merasa lega. Di perempatan Pasar Gamping, aku berbelok ke utara dan berjalan sekitar seratus meter. Begitu tiba di rumah, Ucen, keponakanku yang baru berumur dua tahun membukakan pintu untukku. Wajahnya berbinar, lalu bertanya, “Ayo Pakdhe Eko, nonton kereta.” Senyum polosnya meredakan lelahku.

Peristiwa kedua, aku berkesempatan menjadi casual worker di hotel Aston Jogja pada Rabu, 23 Januari 2013 kemarin. Aku tak mengharapkan mendapatkan banyak uang dengan menjadi tenaga tambahan di hotel seperti itu, aku hanya berniat untuk mengenal situasi dan cara kerja di dapur hotel berbintang. Semoga dari pengalaman itu aku pun dapat memiliki gambaran tentang pekerjaan di kapal nanti. Aku berangkat pagi sekali bersama Anna, adikku. Ia akan pergi ke Borobudur bersama teman kampusnya, jadi aku memintanya untuk mengantarkanku ke hotel Aston sebelumnya. Maklum, motorku masih di kantor polisi. Tiba di hotel, aku bingung harus ke mana. Langsung saja aku menuju basement karena menurut Anto pintu masuk para karyawan dapur dan casual worker ada di basement. Begitu bertemu Anto, kami menuju basement 2. Usai mengisi absensi di pos satpam, kami langsung menuju ruang ganti. Akhirnya aku kembali memakai seragam cook putih dengan apron biru yang dulu sering kupakai ketika masih kursus di Miami Fleet.

Dapur tempat kerja kami ada di Ground Floor (GF), dua lantai di atas ruang ganti. Begitu tiba di dapur, ku lihat semua orang sudah sibuk dengan pekerjaannya. Salah satu CDP menyalami kami. Ia meminta Anto untuk membantunya dan aku diminta untuk membantu bagian pastry. Meskipun antusias, aku masih bingung dengan pekerjaanku. Awalnya, aku diminta untuk menyusun kue-kue lumpur di piring-piring lebar. Segala pekerjaan rupanya harus dilakukan dengan cepat dan cekatan. Aku belum mampu mengimbangi kecepatan mereka. Namun, aku berusaha secepat mungkin. Berikutnya, tugasku adalah mengiris buah-buahan menjadi potongan-potongan dadu kecil. Dua plastik nangka ku kerjakan dengan lumayan cepat. Namun, begitu mendapatkan pepaya dan melon, aku kesulitan. Pepaya itu harus dikupas dahulu, dikeluarkan biji-bijinya, dipotong besar, baru dipotong kecil-kecil. Pisau model panjang mirip penggaris besi anak STM yang ku gunakan terasa begitu menyulitkan. Aku memilih menggunakan pisau kecil.

Beberapa kali aku mencoba untuk mempercepat kerjaku, tapi gagal. Potongan-potonganku tak beraturan. Aku berpikir ini baru satu buah, bagaimana jika harus mengupas, memotong dan mengiris berkarung-karung buah seperti di kapal? Aku geleng-geleng kepala. Pantas saja ada beberapa cerita dari mereka yang telah bekerja di kapal yang frustrasi bahkan sampai menangis menghadapi pekerjaan-pekerjaan yang terlihat sepele namun menyebalkan semacam ini. Melihatku yang tak kunjung usai dengan satu buah pepaya itu, Yonas—aku tak tahu posisinya apa, namun ia berada di bagian pastry, membantuku. Ternyata ia juga alumni Miami Fleet dan telah lama bekerja di situ, bahkan ia juga telah menjalani On Job Training (OJT) sebelumnya. Gerakannya cekatan. Aku memperhatikan tekniknya memotong buah. Ia bilang bahwa penting untuk tidak ragu memegang pisau. “Memotong itu harus mantap,” katanya. Ia memotong pepaya dalam potongan besar, membentuknya menjadi kotak besar, lalu membelahnya menjadi potongan-potongan kecil dengan potongan melintang. Ia juga menyayat dari samping mirip teknik fillet untuk memisahkan daging dari tulang ikan.

“Kuncinya jangan takut dengan pisau. Pisau adalah teman bro,” katanya sambil terkekeh.

Aku mengikuti teknik memotongnya, meskipun tentu belum sempurna. Lumayan lebih cepat dari sebelumnya. Anggoro, siswa SMK 6 Jogja juga membantuku. Sudah tiga bulan ia PKL di situ. Tugas-tugasku selanjutnya lebih mudah daripada mengiris buah. Usai mengiris buah naga, aku hanya merapikan dan membersihkan permukaan meja kerja. Beberapa barang juga harus aku pindahkan. Yang cukup melelahkan adalah tak ada waktu untuk duduk, selain juga tak ada kursi di dapur. Pinggul dan lutut terasa kaku sekali. Mungkin aku memang belum terbiasa.

Selain merapikan meja, aku juga membungkus piring-piring berisi snack dengan plastic wrap. Jam 12 aku makan siang di kantin karyawan yang terletak di lantai basement 2. Menunya nasi soto dan ayam goreng ukuran kecil, tempe dan kerupuk. Aku makan bersama Huda dan salah seorang lagi alumni Miami Fleet yang kebagian posisi galley steward alias tukang cuci piring. Tugas mereka berat. Mereka tak hanya bertugas mencuci piring dan gelas yang dipakai para tamu tetapi juga alat-alat dapur lainnya kecuali pisau.

Jam 1 siang aku kembali ke dapur. Hampir tak ada yang bersantai. Mereka kembali ke seksi kerjanya bahkan segera sesaat setelah selesai makan. Aku sendiri usai makan malah ikut nongkrong bersama dua temanku yang perokok di parkiran. Bahkan, ada beberapa orang di bagian hot kitchen yang tak sempat ke kantin. Mereka makan siang di tempatnya bekerja.

Ketika aku bertanya tentang tugasku selanjutnya, seseorang yang mengepalai bagian pastry menyuruhku pergi ke lantai 1. Aku ke sana, bertemu Anto. Kami masuk ke area tamu yang tengah menikmati hidangan. Ternyata tugasku hanya memeriksa apakah ada wadah-wadah yang perlu diisi kembali atau tidak. Aku kembali ke dapur. Tugasku beres-beres lagi. Hingga sore menjelang, tugasku tak jauh dari mengelap, mengepel dan menaik turunkan barang. Melelahkan? Lumayan. Tak beda jauh dengan sesi memasak di tempat kursusku dulu, usai memasak semua siswa diwajibkan membereskan dan membersihkan area dapur. Tak boleh ada sisa makanan yang tercecer karena bakal memancing tikus, semut dan serangga lainnya. Usai mengikuti briefing yang dihadiri oleh semua orang yang ada di dapur termasuk sang excecutive chef, aku dan Anto pamit. Kami pulang sekitar pukul setengah empat sore.

Letak hotel Aston yang di Jalan Solo menyulitkanku. Tak ada bus umum yang beroperasi di situ. Sialnya, tak ada jawaban dari adikku yang ku-sms untuk menjemput. Akhirnya aku putuskan untuk berjalan kaki saja menuju perempatan Mirota Kampus menunggu bus jalur 15. Sambil berjalan aku membayangkan beratnya pekerjaan di kapal nanti. Bukannya takut, tapi justru aku ingin mengantisipasi sejak awal. Aku perlu meningkatkan keterampilanku dalam teknik-teknik dasar memotong dan memasak.

-EBN-

 

From → catatan harian

2 Comments
  1. Ini tambah mantaps pengalaman dan tulisannya…..sy tunggu cerita2 selanjutnya jika sudah di kapal…sukses ya Ko..!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: