Skip to content

Kisah Dua Pemuda Pendatang

January 29, 2013

            Awalnya, dua pemuda itu begitu biasa seperti pemuda lainnya di kampung ini, pengangguran dan santun. Yang mungkin agak nyentrik, asal usul mereka tak begitu jelas. Namun, Ma’ruf, ketua RT kampung ini, pernah bilang bahwa keduanya sempat melapor dan memperkenalkan diri dengan ramah. Mereka juga menyerahkan foto kopi KTP.

               Ma’ruf tak menaruh curiga sama sekali. Alamat asal dua perantau itu jelas. Si Padan berasal dari Wonogiri sedangkan si Gitan berasal dari Gombong. Ma’ruf tahu betul dua daerah itu. Di masa mudanya dulu ia memang sering plesir ke Jawa. Dan lagi, istrinya berasal dari Kebumen, tetangga Gombong.

            Si Padan dan Si Gitan bagaikan paradoks. Padan berbadan jangkung, kurus dengan rambut mohawk dan pipi kempot. Sebaliknya, Gitan berbadan gempal, pendek, dan rambut gondrong awut-awutan. Jika keduanya melintas di gang atau depan warung kopi tempat pemuda kampung dan para tukang ojek nongkrong, pasti lah mereka jadi bahan ceng-cengan. Toh begitu, keduanya tak pernah marah. Sejak mereka menempati kamar kos milik Haji Mahdi, gelagat mereka selalu menyenangkan. Mereka mudah bergaul, kadang ikut nimbrung ngobrol ngalor-ngidul dengan para pemuda. Namun, acapkali mereka tiba-tiba pamit entah ke mana.

            Si Padan pintar bermain gitar. Ia sering diminta tampil dalam acara-acara kampung. Bahkan, karena kepiawaiannya itu lah ia berhasil memikat salah satu kembang gang, Inke. Baru lulus SMA, Inke memancarkan kecantikan mudanya. Ia bekerja sebagai SPG di sebuah department store. Banyak pemuda kampung yang iri dengan Padan yang badannya kering kerontang itu. Namun, memang pesona Padan yang supel dapat mendatangkan simpati dari siapa pun. Tapi, konon Pak Caraka, ayah Inke, tak merestui hubungan mereka. Dua sejoli itu cuma bisa bertemu diam-diam di mulut gang yang jauh dari rumah Inke.

                Ibu-ibu arisan bahkan akhirnya iba pada Romeo dan Juliet kampung itu. Mereka sepakat untuk membentuk sebuah dinas rahasia yang diberi kode “Panci Rolet” alias Pengaman Cinta Romeo-Juliet. Inisiatif ini benar-benar radikal, sebab tanpa sepengetahuan ketua RT, apalagi Sekretaris RT, bu Wulansari, yang sibuk dengan bisnis direct selling-nya. Sebagai ketua operasinya, dipilihlah Wati, anggota perkumpulan arisan yang paling vokal yang hampir setahun ini menganggur karena pabrik tempatnya bekerja pindah ke Cina.

               Pada intinya, operasi Panci Rolet adalah membantu supaya jalinan cinta Romeo-Juliet aman dari Pak Caraka. Caranya, mereka menempatkan agen-agen mereka di tiap sudut gang dan jalanan untuk memantau pergerakan Pak Caraka yang rupanya juga sering berkeliling untuk memastikan anak gadisnya tak dimangsa oleh cecunguk kerempeng macam Padan. Meskipun ibu-ibu arisan bangga dengan petualangan operasi rahasia mereka, diam-diam Gitan lah yang merancang itu semua dari balik layar.         

             Nahas, suatu pagi Romeo-Juliet tertangkap basah oleh Pak Caraka yang rupanya sudah ngumpet di balik semak dekat gang dimana kedua insan dimabuk cinta itu biasa bertemu. Bagaimana Pak Caraka bisa tahu rahasia anaknya itu, hingga kini tak ada yang tahu. Sempat muncul desas-desus bahwa ada pembelot di tubuh Panci Rolet. Ada pula yang berspekulasi bahwa itu adalah perbuatan beberapa pemuda yang sakit hati karena cintanya tak dibalas Inke.

               Pak Caraka langsung menyeret Juliet, Inke maksud saya, kembali ke rumah. Tentu saja adegan itu begitu dramatis, sebab Inke menangis dan Padan cuma bisa gelagapan. Sayang, tak ada adegan centeng suruhan Pak Caraka yang memukul Padan hingga babak belur. Begitulah, kisah Romeo-Juliet itu berakhir cepat, juga Panci Rolet tentunya.

               Kita beralih ke si Gitan, sebab tak adil jika kita cuma bicara tentang Padan. Gitan lebih pendiam daripada teman jangkungnya tadi. Ia jarang keluar dari kamar, namun bukan berarti ia anti sosial. Ia juga bergaul dengan para tetangga dan pemuda kampung. Namun, memang jika ia dan Padan berjalan bersama, Padan lah yang sering menjadi juru bicara bagi mereka. Gitan lebih banyak mesam-mesem dan menyibakkan rambut gondrongnya yang selalu saja ngeyel menutupi matanya.

             Satu hal yang membuat warga kampung mengenali Gitan selain muka dungu dan badan gempalnya adalah, ia jago membetulkan apa saja. Parahnya lagi, ia sudah mau dipanggil ke rumah warga untuk membetulkan barang apa pun dengan imbalan sebungkus rokok. Walah, Gitan memang menjadi teknisi handal sekaligus murah di kampung itu. Banyak yang menyayangkan mengapa ia menyiakan bakatnya dalam elektronika itu. Seharusnya ia dapat memperoleh penghasilan lumayan jika mau bekerja di kios reparasi atau membuka usaha sendiri. Tetapi, sebenarnya warga juga merasa beruntung atas sikap cuek Gitan. Kerusakan apa pun dapat dibetulkan olehnya dengan imbalan kretek atau filter saja.

             Dalam bekerja, Gitan irit bicara. Jika ia sudah mengisap rokoknya, tangannya mulai mengutak-atik barang rusak. Peluh mengucur deras dari wajah dan badannya, namun ia tetap berkonsenterasi dengan pekerjaannya, bahkan terlihat profesional.

                Berbulan-bulan dua pemuda itu tinggal dan mewarnai kehidupan kampung ini. Ma’ruf dan warganya menyukai mereka. Tetapi, mereka juga heran bagaimana dua pemuda pengangguran itu selalu terlihat punya uang entah dari mana. Mereka hampir selalu tak pernah telat makan, jajan dan bepergian.

               Berbeda dengan Padan yang lebih suka memetik gitar, Gitan lebih lengket dengan papan catur. Ia sering bermain dengan para pemuda kampung, bahkan kadang sampai mengadu skill-nya dengan para pemuda terbaik kampung seberang. Gitan memang tak tertandingi di kampung ini. Namun, di kampung tetangga ia kerap kalah melawan GM Karpop, pemuda berusia 25 tahun yang nama aslinya adalah Karpono. GM sendiri bukan gelar grand master, melainkan singkatan dari grand motorist sebab ia adalah pentolan klub motor Astrea Grand.

             Pernah suatu ketika Gitan memenangkan pertandingan melawan GM Karpop dalam waktu kurang dari 15 menit, karena Karpop melakukan kesalahan fatal di langkah pembukanya. Saking senangnya, Gitan melonjak-lonjak dan berteriak girang, berbeda dari kebiasaannya yang kalem. Karpop naik pitam, lalu membanting papan catur. Untuk sesaat, perseteruan dua pecatur kampung itu berubah menjadi perang dingin antar kampung.      

              Itu lah sekelumit cerita tentang dua pemuda perantau yang unik di kampung ini, Si Padan dan Si Gitan. Tak ada yang istimewa sebenarnya. Bahkan, Ma’ruf pun sebenarnya sejak awal memprediksi bahwa mereka tidak akan bertahan lama di kota. Seperti para pemuda tanggung lainnya yang mengadu nasib ke kota, mereka akan kembali pulang ke desa secepatnya dengan tangan kosong.

              Nyatanya, Ma’ruf justru semakin menyukai Padan dan Gitan. Mereka seperti pemuda kebanyakan: pacaran, nongkrong dan terkesan ceroboh dalam memikirkan masa depan. Namun, dalam hal ide-ide segar, mereka tak seperti pemuda kampung pada umumnya. Mereka sering memberikan terobosan-terobosan baru melalui organisasi karang taruna di kampung ini. Meskipun mereka baru aktif, tetapi kiprah mereka rupanya membuat aktivitas kepemudaan menjadi semarak. Berbagai kegiatan, kompetisi dan pertemuan yang telah lama vakum kembali digalakkan. Itu lah yang membuat warga bersimpati kepada dua pemuda tersebut. Para warga dengan senang hati akan membantu keduanya jika mereka butuh bantuan.

               Itu semua sebelum kejadian mengejutkan pada suatu malam yang mencekam. Ma’ruf didatangi sepasukan detasemen khusus anti teror. Mereka meminta kerja sama darinya dan menginstruksikan agar para warga menjauh dari lokasi rumah yang akan mereka sergap. Ia terkesiap. Ma’ruf merasa tak ada warganya yang melakukan kejahatan selama ini. Tergopoh, ia mengikuti gerak pasukan densus itu dari jarak yang aman.

              Sebuah rumah kontrakan yang selama ini dihuni oleh satu keluarga yang memiliki usaha dagang di luar kota disergap oleh pasukan densus. Ma’ruf tahu siapa saja yang tinggal di sana, meskipun memang ia tidak begitu mengenal mereka. Selain karena mereka jarang berada di rumah, ia juga tak ingin dicap sebagai ketua RT yang terlalu mencampuri urusan rumah tangga warganya.

                Adu tembak terjadi. Pasukan densus merangsek maju. Tapi, betapa terkejutnya Ma’ruf dan beberapa warga lain yang sempat menyaksikan operasi penyergapan itu ketika terlihat Si Padan dan Si Gitan berada di barisan depa pasukan densus, ikut menyerbu rumah itu. Mereka terlihat menyolok karena hanya berpakaian sipil dan bersenjatakan pistol revolver saja.

              “Maaf Pak, dua pemuda itu adalah warga saya yang sudah berbulan-bulan tinggal di kampung ini. Bagaimana bisa mereka ikut menyerbu rumah itu pak?” tanya Ma’ruf pada salah satu komandan pasukan densus yang mengawasi dari garis belakang.

               “Oh, maksud Bapak dua orang itu?”

               “Iya Pak.”

                “Mereka itu adalah Briptu Ronnie dan Bripda Benny. Keduanya adalah agen dalam dinas intelijen kami. Mereka termasuk lulusan terbaik dari yang lainnya. Oleh karena itu lah kami memilih mereka untuk operasi pengintaian dengan kode sandi Si Padan dan Si Gitan.”

                Ma’ruf pun cuma bisa manggut-manggut lalu melongo.

 

Eko Budi Nugroho

Rawamangun, 2009

Sleman, 2013    

From → cerpen

2 Comments
  1. saya baru sadar di tengah-tengah bahwa nama tokoh dalam cerita ini sepertinya terinspirasi oleh Pulau Sipadan dan Ligitan, betul?

  2. hehe, iya mas. betul sekali..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: