Skip to content

Berburu Casual Work

February 13, 2013

Jogja, 3 Februari 2013

 

                Jumat, 1 Februari kemarin aku berniat mengambil honor casual work (CW) di hotel Grand Aston Jogja. Usai membawa printer Canon yang lagi-lagi rusak ke tukang service printer, aku bergegas menuju TKP. Maklum, jadwal pengambilan honor CW hanya dibuka hari Jumat dan Sabtu saja.

                Di lantai basement 2, aku bertemu dengan Huda. Rupanya dia juga berniat mengambil honornya. Kami lalu duduk di bangku koridor sambil menunggu Anto yang belum juga tiba. Beberapa staff hotel lalu lalang di depan kami. Ada beberapa yang cantik pula. Hemm…

                Begitu Anto datang, kami segera menuju Ground Floor melewati tangga darurat. Ternyata loket pengambilan honor CW tutup. Kami agak kecewa. Tetapi, seorang karyawan perempuan yang lewat bilang bahwa kami harus mengetoknya saja. Huda langsung melakukannya, dan benar saja loket langsung dibuka.

                “Untuk tanggal berapa ya? Kalau yang di atas tanggal 19 Januari belum ada. Belum dibikin laporannya”, kira-kira begitu jawaban dari mbak di loket ketika kami menanyakan honor cw. Lagi-lagi kami kecewa, tapi sepertinya Huda yang paling merasa kecewa sebab ia tak lagi indekos di Jogja dan jauh-jauh datang dari Magelang demi selembar uang biru itu.

                Kami memutuskan untuk mampir ke kos salah satu teman alumni Miami Fleet (MF). Begitu sampai di sana, rupanya dia tidak ada. Kami akhirnya ke warung burjo. Uang tak di dapat, tapi jajan tetap jalan. Hehe. Sambil makan, kami mengobrol tentang kemungkinan keberangkatan ke Amerika. Tepat pukul 14.00 WIB siang itu beberapa teman kami telah berada di bandara Soekarno-Hatta menuju San Fransisco. Aku memeriksa beberapa status terbaru mereka di facebook yang menggambarkan euforia atas keberangkatan mereka. Rasanya ingin segera menyusul.

                Aku mencoba mengirim sms kepada beberapa teman eks kelas Conquest MF agar datang ke warung burjo itu. Denok, salah satu siswa perempuan di kelasku yang terkenal unik itu membalas. Rupanya ia sedang berada di MF dan mengabarkan bahwa saat ini banyak dibuka lowongan cw di beberapa hotel bintang tiga. Sontak saja aku mengajak dua temanku di warung itu untuk menuju MF.

                Di MF, kami masuk ke front office dan bertemu dengan dua resepsionis cantik MF, miss Rossy dan miss Dewi. Memang benar, ada tiga tempat yang membuka lowongan CW: Hotel Wisanti di Jalan Taman Siswa, D’Omah Hotel di Jalan Parang Tritis, dan Kemangi Terrace Cafe di Jalan Damai. Tak mau melewatkan kesempatan, kami pun berniat mencoba semuanya.

                Keesokan harinya, Sabtu, 2 Februari aku menghampiri Anto di Jalan Agus Salim. Rumahnya berada di salah satu gang jalan itu. Sejak motor Vixion-nya dijual untuk keberangkatan ke Amerika, ia harus bergantian motor dengan istrinya. Dan, hari itu giliran istrinya yang memakai motor. Kami segera menuju MF. Di tengah perjalanan, Anto bilang bahwa lewat forum What’s Up, ia mendapatkan info dari mbak Ayu—karyawan Water Front (WF), agen yang menangani kami—bahwa jadwal keberangkatan berikutnya adalah antara tanggal 19-22 Februari. Reaksiku adalah antara senang, kaget, atau sedih. Semua campur aduk. Ketidakpastian kabar itu justru makin membuatnya sulit diacuhkan.

                Di kantor MF, kami menyerahkan beberapa surat lamaran, CV dan foto. Ternyata, untuk Hotel Wisanti dan Kemangi Terrace Cafe kami harus mengantarkan berkas tersebut langsung hari itu juga. Yudhi, salah satu lulusan MF dari kelas Fantasy tiba-tiba masuk dan ia juga berniat melamar sebagai cw di Wisanti. Namun, untuk posisi housekeeping. Aku dan Anto sendiri melamar posisi cook.

                Hotel Wisanti letaknya tak jauh dari MF. Bangunannya terlihat kecil dari luar. Temboknya berwarna antara oranye dan coklat muda. Terkesan sederhana namun interiornya lebih mengesankan daripada penampakan luarnya. Menurut miss Dewi, hotel ini masuk kategori bintang tiga. Kami hanya sebentar saja di sana. Cukup menitipkan berkas di meja resepsionis yang selalu tersenyum itu, entah tulus atau pura-pura saja.

                Aku dan Anto hendak langsung menuju Kemangi Terrace ketika miss Dewi tiba-tiba meminta kami kembali ke MF. Rupanya, nama manajer HRD yang ia berikan salah. Kami sudah terlanjur menulis Mr Ardi, padahal yang benar adalah Mr Agung. Terpaksa kami harus mengedit sebentar di tukang foto kopi dekat MF. Ternyata, kami juga lapar. Akhirnya kami memutuskan untuk mengisi perut dulu di warung burjo, sekalian menunggu waktu yang tepat karena menurut miss Dewi kami hanya bisa menemui HRD-nya antara pukul 14.00-15.00 saja.

                Usai makan, kami menuju masjid di seberang jalan. Eh, ternyata bertemu dengan beberapa teman sekelas Anto. Jadi lah kami mengobrol lama di bangku warung lotek. Dua orang dari mereka baru saja kembali dari Bali mengikuti interview dengan user dari Star Cruise, perusahaan kapal pesiar yang berbasis di Singapura. Eki, yang sebelumnya pernah gagal ketika interview agen di WF bersamaku, kini gagal lagi. Ia bercerita bahwa interview di Bali kali itu terasa sulit. Interviewer-nya bukan penutur asli bahasa Inggris. Dia bilang perempuan yang seolah menginterogasinya itu adalah orang Cina. Menurutku, kemungkinan ia warga Singapura keturunan etnis Cina. Untuk memahami apa yang diucapkan oleh orang itu saja sulit apalagi menjawab pertanyaan-pertanyaannya yang begitu banyak. Ia juga bilang bahwa berbagai pertanyaan “aneh” seperti naik apa ke Bali, berapa ongkos yang dikeluarkan untuk transportasi ke Bali malah ditanyakan. Aku dan Anto tertawa saja. Pengalamannya berbeda jauh dengan pengalaman kami yang mengikuti wawancara user di Jakarta beberapa waktu lalu. interviewer-nya adalah Sanjay Dahl, asal India yang terkenal kilat dalam mewawancarai. Aku sendiri kala itu hanya ditanya apa posisiku di pekerjaan sebelumnya dan apa saja tugasku. Tak ada satu menit!

                Selesai sholat, langit makin gelap. Kami nekat menuju Jalan Kaliurang. Sayang, baru sampai di Jalan Mataram hujan deras mengguyur. Kami berteduh di pelataran kios oleh-oleh yang tutup. Kami menunggu hujan reda cukup lama. Sekitar pukul setengah tiga sore baru lah kami melanjutkan perjalanan kembali. Jalan Kaliurang yang lama tak kulewati sekarang begitu ramai. Banyak kios-kios baru berdiri di pinggir jalan. Kurang lebih sekitar kilometer sembilan kami berbelok di sebuah gang beraspal yang lumayan lebar, Jalan Damai. Tak berapa lama kemudian tempat yang kami tuju terlihat. Sebuah cafe kecil yang lumayan asri: Kemangi Terrace Cafe. Di sana, kami hanya menitipkan surat lamaran dan CV di front desk lalu bergegas pulang.

-EBN-

From → catatan harian

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: