Skip to content

Bikin KTKLN dan Persiapan Keberangkatan

February 25, 2013

Jogja, 18 Februari 2013

 

                Aku mendapatkan kabar mengejutkan dari beberapa temanku bahwa pembuatan KTKLN (Kartu Tenaga Kerja Luar Negeri) akan dipindahkan ke Jogja. Sebelumnya, agen kami mengatakan bahwa KTKLN bakal dibikin satu hari sebelum jadwal terbang di Jakarta. Dalam briefing mendadak di kantor agen, Pak Wisnu menjelaskan bahwa pemindahan itu atas pertimbangan efisiensi biaya dan waktu. Kontan saja kami setuju, karena di Jakarta biaya yang harus dikeluarkan sekitar enam hingga tujuh ratus ribu rupiah, padahal pembuatan KTKLN sejatinya gratis. Di Jogja, kami hanya dihimbau untuk memberikan “uang lelah” saja.

                Maka, pada hari kami berangkat dari kantor agen dengan menggunakan mobil Pak Wisnu. Letak kantor BP3TKI berada di sebuah gang di Jalan Solo. Karena hari sudah siang, banyak orang yang telah mengantre. Formulir dan dua surat bermaterai harus kami lengkapi. Karena minim pengalaman dan kurang persiapan, kami harus repot bolak-balik memfoto kopi beberapa berkas yang diperlukan. Agen kami pun rupanya baru kali itu menangani pembuatan KTKLN langsung karena sebelumnya selalu diserahkan di agen rekanan mereka di Jakarta.

                Nanang yang berasal dari Kediri mengeluhkan kurangnya waktu istirahat baginya. Maklum saja, ia sudah beberapa kali bolak-balik Jogja-Jakarta yang terpaut jarak sekitar tujuh hingga delapan jam perjalanan darat. Belum lagi jika KTKLN kami tidak langsung satu hari jadi. Bagi kami yang warga asli Jogja, tentu keputusan untuk mengurus KTKLN di sini sangat membantu secara finansial. Biaya yang kami keluarkan sekitar seratus lima puluh ribu rupiah. Menjelang Dzuhur, kami mengantre di sebuah ruangan untuk pengambilan foto. Karena sejak pagi belum makan, perutku rasanya sudah keroncongan. Terlebih, kami belum segera dipanggil-panggil.

                Rupanya sebelum difoto, kami diharuskan mengikuti semacam pembekalan singkat di ruangan lain. Seorang pria paruh baya berkepala botak masuk ke ruangan. Ia nampak ramah dan mencoba terlihat akrab. Kami diharuskan membaca sebuah buku panduan kecil dahulu. Namun, karena kami telah lama menunggu sejak tadi dan beberapa di antara kami belum makan, rasanya malas sekali membaca dengan teliti. Aku pun hanya membuka-buka iseng saja buku kecil itu.

                Pria tadi masuk kembali. Ia lalu menjelaskan beberapa hal tentang KTKLN, prosedur yang harus kami lalui, dan lain-lain. Agak formal dan lumayan membosankan. Namun, ketika ia menyebutkan peluang bekerja di Jerman yang bergaji tinggi dengan standar Euro, aku jadi penasaran. Ia agak menyayangkan kami yang bakal bekerja hingga jauh ke Amerika Serikat rata-rata hanya bergaji kisaran 6-7 juta rupiah saja. Aku terkesiap. Jika gaji awal yang ku anggap sudah tinggi itu saja dia anggap kecil, lalu berapa gaji yang diterima para calon tenaga kerja ke Jerman itu? Menurutnya, mereka yang bekerja di Jerman digaji sekitar sembilan ratus euro. Aku tidak tahu pasti nilai kurs Euro, tapi jika dirupiahkan sekitar Rp 13 juta.

                Namun, Nanang, salah satu temanku yang pernah bekerja di Jepang mengatakan bahwa pekerjaan semacam itu sifatnya hanyalah “borongan” atau “musiman” yang bakal berakhir dalam beberapa bulan saja. Memang menggiurkan melihat gajinya yang tinggi, namun kelanjutan karirnya sangat terbatas.

                Selanjutnya, kami pun difoto dan diambil sidik jari. Prosesnya lumayan cepat. Menjelang Ashar, kami mendapatkan KTKLN kami. Semoga dengan kartu ini kami tidak akan menemui kesulitan di luar negeri ketika ada masalah yang menimpa kami. Tetapi, aku pun berharap tak menemui masalah. Aku hanya ingin bekerja, mengumpulkan modal, bukan menambah masalah. Hehe.

                Di kantor agen, kami membahas persiapan keberangkatan ke Jakarta nanti. Tiket kereta ekonomi Progo yang sebelumnya telah kuubah tanggal keberangkatannya bersama Anto di stasiun Lempuyangan aku keluarkan. Tanggal keberangkatan sengaja kami undurkan sehari mengingat di Jakarta kami tak perlu mengurus KTKLN. Jadi, rencananya kami akan berangkat dari Jogja pada tanggal 21 Februari 2013, tiba di Jakarta keesokan harinya dan langsung menuju bandara menggunakan taksi atau bus bandara (DAMRI).

                Aku mempersilakan beberapa temanku untuk mempertimbangkan kembali tiket kereta tersebut karena beberapa dari kami ada yang menginginkan memakai kereta ekonomi AC agar perjalanan lebih nyaman dan dapat beristirahat sebelum menempuh penerbangan jauh. Vano dan Tri terlihat paling ingin menggunakan kereta ekonomi AC. Aku sih terserah saja, namun untuk mengubah tiket itu lagi aku sudah malas ke stasiun dan membayar denda lagi sehingga aku serahkan saja keputusan kepada masing-masing temanku yang ingin mengubah tiket kereta untuk ke stasiun sendiri. Akhirnya disepakati bahwa kami tetap menggunakan kereta ekonomi biasa saja.

                Sebelum pulang, aku membayar biaya sign on passpor sebesar Rp 250.000,- kepada agen karena sign on passpor lama kami telah kadaluarsa. Aku tengok dalam dompetku, uang benar-benar ludes. Mau tak mau uang tiket kereta dan foto kopian yang sebelumnya aku talangi segera aku tagih ke beberapa temanku yang belum membayar. Terasa sekali betapa lembaran seribu rupiah pun begitu berharga.

                Dalam perjalanan pulang, kami mampir untuk makan di sebuah warung di pinggir jalan Selokan Mataram. Sebelumnya, aku dan Anto pernah makan di warung itu, dan kami mendapatkan bonus pramusaji yang seksi. Jadi, untuk itu lah kami berkunjung lagi disamping karena memang ayam gorengnya yang lezat. Hehe.

                Sambil makan lesehan, kami mendiskusikan persiapan akhir kami. Keberangkatan tinggal menunggu hitungan hari saja. Sebelumnya aku sudah mem-packing beberapa keperluan di koperku. Koper itu adalah koper lama peninggalan ibuku ketika dulu bekerja di Hongkong. Agak terlalu besar sebenarnya, namun jika harus membeli koper baru rasanya sayang sekali jika harus mengeluarkan uang yang tak sedikit. Daripada membeli koper yang cuma berguna untuk perjalanan berangkat dan kepulangan sepuluh bulan lagi nanti, aku memilih membeli tas daypack yang kokoh karena mungkin nanti dapat digunakan sesering mungkin ketika kapal berlabuh dalam port of call.

                Beberapa waktu yang lalu aku dan Tri juga pergi ke Pasar Klithikan di sekitar Pakuncen, Wirobrajan untuk mencari perlengkapan yang kami butuhkan. Aku membeli sebuah dompet panjang bermerk Oakley. Tentu saja imitasi. Harganya pun hanya empat puluh lima ribu rupiah saja setelah ku tawar padahal sebelumnya si penjual membandrolnya dua kali lipat. Aku juga membeli enam pasang kaos kaki, tiga putih dan tiga hitam seperti yang disyaratkan. Tri membeli sepasang sandal bermerk Woless yang akan ia gunakan dalam perjalanan berangkat nanti. Agak norak sebenarnya menurutku, namun mungkin selera orang berbeda barangkali. Ia kusarankan untuk membeli sepatu kets sekalian, namun sepertinya ia masih ragu.

                Nanang yang sore itu juga akan pulang kembali ke Kediri mengatakan bahwa ia juga masih belum yakin akan berangkat ke Jakarta dari Jogja. Ia memang telah membeli tiket kereta untuk tanggal keberangkatan bersama kami. Melakukan perjalanan bersama teman-teman memang lebih mengasyikkan, namun jika kupikir-pikir lagi, tentu saja melelahkan jika ia harus berangkat dari Kediri, singgah di Jogja, lalu berangkat ke Jakarta, menunggu di bandara dan langsung terbang. Kupikir mungkin memang lebih baik ia mencari bus rute Kediri-Jakarta saja. Ia bisa turun di terminal Rawamangun atau Lebak Bulus yang menyediakan jasa bus bandara (DAMRI).  

-EBN

From → catatan harian

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: