Skip to content

Sidang Tilang di PN Bantul

February 25, 2013

Jogja, 6 Februari 2013

 

              Hari ini aku mengikuti sidang tilang di pengadilan negeri Bantul. Aku terkena dua pasal, SIM dan STNK. Denda yang harus dibayar sekitar empat puluh lima ribu rupiah termasuk biaya perkara. Beres. Namun, begitu aku mengambil kunci motorku, ternyata terdapat kesalahan. Kunci motor itu justru berlogo Suzuki. Para petugas pengadilan bilang tak tahu menahu sebab hanya kunci-kunci itu lah yang diberikan dari pihak kepolisian. Memang kunci itu masih dapat untuk menyalakan motor, namun untuk membuka jok dan mengunci stang sama sekali tak bisa.

                Aku pun mendatangi Polres Bantul. Jawabannya sama saja: “Wah, ndak tahu e mas, coba cari saja.” Aku pun mencari di antara tumpukan kunci motor di dalam sebuah kaleng. Tak ada kunci motorku sama sekali. Pak polisi tua yang ada di belakang meja menyarankanku untuk sementara memakai kunci yang ada saja dan nanti diperbaiki di tukang kunci. Merasa kesal, aku langsung meninggalkannya begitu saja tanpa berkata apa-apa lagi.

                Aku memesan kunci baru di tukang kunci pinggir jalan tak jauh dari kantor polisi. Dua belas ribu rupiah untuk dua kunci baru itu. Aku heran dengan tukang kunci itu yang dengan bantuan kawat saja untuk ia selipkan di lubang kunci sanggup mengira-ira dan menduplikasi kunci baru mirip dengan kunci asli. Begitu aku mendapatkan kunci baru, segera saja aku menuju arah Manding untuk bertemu temanku, Tri. Kami bertemu di depan Rumah Sakit Umum Manding.

                Rumah Tri begitu asri dengan banyak pohon-pohon rindang. Aku makan banyak buah rambutan yang dipetik langsung dari pohon di pekarangannya. Ia adalah anak terakhir di keluarganya, sehingga rumahnya selalu terlihat sepi karena semua kakaknya telah berumah tangga. Kami pindah ke bagian belakang rumah ketika dua orang tuanya tiba. Di bagian belakang ternyata lebih rindang lagi. Berbagai jenis tanaman tumbuh subur. Ada sungai kecil juga yang mengalir. Ia menunjukkan kandangnya yang berisi bebek, angsa dan ayam. Ada pula kolam ikan di sana. Aku duduk di bangku bambu dan menikmati angin yang berembus lembut. Aku pulang ketika hari mulai sore. Ketika berpamitan dengan ibunya Tri, beliau menasehati kami jika nanti telah berada di negeri orang, jangan lupa untuk sholat dan mengaji. Kami pun hanya menunduk dan tersenyum saja.

From → catatan harian

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: