Skip to content

Kontemplasi

September 23, 2014

Yogyakarta, 23 September 2014

Baru hari ini saya berkesempatan membuka blog ini lagi dan tertarik untuk menulis lagi. Banyak hal yang telah terjadi sejak terakhir kali saya memposting tulisan di blog ini sebelum saya berangkat ke Amerika Serikat dan bekerja di kapal pesiar Triumph milik Carnival Cruise Line. Berbagai pelajaran hidup saya dapatkan dalam kurun waktu sepuluh bulan di kapal berkapasitas 3.500 orang tersebut. Untuk diketahui, saat ini pun saya kemungkinan akan kembali bekerja di perusahaan tersebut setelah sebelumnya saya berpikir untuk putar haluan ke negeri ginseng. Lho kok? Ya, begini ceritanya:

Jujur saja, saya termasuk tipikal orang yang mudah bosan. Tetapi, dalam pekerjaan saya tidak mau setengah-setengah. Bekerja di kapal pesiar tantangan dan tuntutannya sangat besar. Setiap hari bekerja maksimal hingga 10 jam yang kenyataannya selalu lebih dari itu. Tak ada upah lembur, yang ada hanya rasa ingin sesegera menyelesaikan pekerjaan setiap harinya agar lebih cepat istirahat. Begitulah, setiap hari bangun pagi, bekerja hingga sore, makan, tidur. Berulang-ulang seperti itu.

Hampir sembilan bulan saya mendapatkan posisi sebagai assistant cook lido di dek 9 dan dipasrahi tugas menjadi runner. Namanya runner, pasti berurusan dengan lari-larian. Ya, saya harus memastikan buffet di bagian starboard side kapal tak pernah kosong. Mungkin terdengar sepele, namun jangan bayangkan yang antre makan setiap harinya hanya satu dua orang. Puluhan ribu! Ya, puluhan ribu orang mengantrrre di grand buffet setiap hari. Dan para tamu itu tak hanya mengambil secukupnya. Kalau bisa lebih, kenapa cukup? Begitu kira-kira prinsip mereka. Alhasil, sebagai runner kadang saya keteteran. Di awal-awal kontrak dulu, saya pernah saking keteterannya, semua makanan di meja buffet ludes. Chef yang orang India itu marah-marah. Lama kelamaan saya dapat menemukan ritme yang pas agar tidak keteteran lagi. Namun menjadi runner sangat melelahkan. Saya berlari dari sekitar pukul enam pagi, break 10 menit untuk sarapan, berlari lagi, break 15 menit untuk makan siang lalu berlari lagi hingga sekitar pukul setengah empat sore. itu belum termasuk tugas set up dan clear up meja sebelum dan sesudah breakfast dan lunch. Usai itu, di sore hari runner juga harus mengurusi store susu dan yoghurt yang diambil dari store room di dek 0 menuju dek 9.

Setiap malam kaki saya rasanya sakit sekali. telapak kaki pun sudah seperti membeku. Tiap tidur kerap terbangun karena kram otot yang terus terusan. Sialnya saya dulu tak membawa obat-obatan dari rumah. Saya menjadi terbiasa dengan rasa lelah itu. Selesai kerja dan makan, saya selalu manfaatkan waktu untuk tidur saja di kabin. Rasanya waktu istirahat tak pernah cukup. beberapa bulan terakhir tugas saya di dek 9 itu, bahkan saya tak bisa jongkok karena lutut saya terasa tebal, entah terjadi pembengkakan atau apa saya tak tahu.

Sebulan terakhir menjelang jadwal kepulangan saya, saya dipindahtugaskan ke main galley di dek 3 untuk night shift. Sistem kerjanya berbeda jauh dari sebelumnya. Pada waktu menjadi runner, saya tak pernah mengurusi produksi makanan langsung. Paling banter hanya memanggang roti atau memberi garnish karena sejatinya runner hanya sebagai transportasi makanan dari dapur ke buffet. Di main galley saya harus mengerjakan mice en plaz bersama dua rekan lainnya dari Indonesia dan India. Cukup kerepotan juga pada awalnya karena saya belum paham benar cara mengerjakan kerjaan yang rasanya seabrek-abrek itu dengan cepat. Ya, harus cepat karena bekerja di malam hari seperti dikejar waktu. Jika sudah mulai Subuh, maka cook-cook untuk sesi breakfast bakal datang dan memerlukan tempat itu.

Beberapa kali jari saya tergores pisau ketika harus memotong kacang panjang jumlah besar dan roti-roti yang keras. Mem-blanch brokoli pun saya pernah melakukannya terlalu matang sehingga harus dibuang sepertiganya karena tak bisa digunakan. Saya merasa malu sekali saat itu. Apalagi, saya pernah membuang satu tilting pan kaldu yang telah dibuat oleh rekan saya asal India. Saya tak sadar kalau itu adalah air kaldu karena warnanya memang seperti air keruh. Pikir saya, saya harus membuang air itu karena saya juga perlu menggunakan tilting pan untuk mem-blanch brokoli. Betapa rasanya saya ingin pulang saja waktu itu. Bukan karena kesal dimarahi oleh Chef, tetapi justru malu atas tindakan bodoh saya sendiri. Tapi, rekan saya itu tak terlalu mempersoalkannya. Saya tahu ia kesal, tapi keesokannya ia malah tertawa. Katanya, “next time you throw my stock I’ll kill you, Eko!” Saya hanya manggut-manggut saja sambil tersenyum kecut.

Bekerja di kapal harus siap mendengarkan kata-kata yang cenderung kasar. Ya, memang seperti itu lingkungannya. Walaupun sebenarnya ada aturan tak boleh menggunakan kata-kata offensive tapi kenyataannya tak seperti itu. Mungkin memang lingkungan kerja menuntut seperti itu. Ada semacam cultural shock ketika awal-awal bekerja mendapatkan lingkungan yang seperti itu.  Yang tak kuat tentu bakal frustrasi. Bayangkan, pekerjaan sudah berat, dituntut cepat, masih ditambah dengan omelan-omelan kasar dari atasan. Belum lagi jika melakukan kesalahan dengan funtime (mesin absensi). Harus menghadap di kantor Chef dan mengajukan koreksi.
Walaupun pekerjaan di kapal dapat dibilang berat, tapi saya akui bahwa saya mendapatkan keuntungan finansial yang besar. Baru kali ini saya bisa menghasilkan uang sebanyak itu dalam sebulan. Di Indonesia, dulu jika saya ingin mendapatkan jumlah itu harus bekerja selama 8-10 bulan! Dapat mentransfer uang ke rumah terasa membanggakan. Belum lagi saya bisa membeli beberapa peralatan elektronik yang dulu sepertinya hanya mimpi saja. Di rumah pun saya masih bisa membeli sepeda motor, televisi, smartphone, pakaian, dan sebagainya. Pokoknya serasa orang kaya baru.
Saya harusnya tak bisa berlama-lama di rumah. Hanya dua bulan saja jatah liburan. Namun, waktu itu saya bingung karena orang tua menyarankan saya untuk pindah bekerja ke Korea Selatan saja seperti adik perempuan saya. Gaji dan uang lemburan di sana sangat jauh melebihi pendapatan saya di kapal walaupun memang kotor, belum dikurangi keperluan sehari-hari di sana. Di kapal, walau gaji kecil bisa berhemat karena tak perlu pusing biaya makan dan kontrakan.
Saya sendiri pun waktu itu juga merasa sangat berat untuk kembali lagi ke kapal. Membayangkan pekerjaan berat yang menanti di sana, tak ada hari libur, tak ada uang lembur seolah menjerat kaki saya. Dan, setelah istirahat selama sebulan lebih pun kaki saya tak kunjung sembuh. Untuk menaiki tangga saja terasa berat. BAB harus di kloset duduk karena tak mungkin saya jongkok. Bayangan indah bekerja di Korea membuat saya memutuskan untuk tidak lanjut bekerja di kapal. Saya pun mengambil kursus bahasa Korea untuk persiapan tes EPS-Topics, tes seleksi bekerja di Korea.
Sayangnya, saya gagal dalam ujian EPS-Topics di Solo waktu itu. Persiapan yang mepet, ditambah kuota dari HRD Korea yang sangat sedikit membuat banyak peserta tes berguguran. dari sekitar 40.000 peserta hanya 2.400 orang saja yang lulus. Gila!!
Saya sempat down. Bingung akan ke mana lagi. Akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke kapal saja, daripada menunggu ujian EPS-Topics tahun depan yang belum jelas kuotanya berapa orang. saya harus segera bekerja keras lagi karena saya perlu modal banyak. Saya tak ingin menunda-nunda lagi untuk memiliki modal. Usai melapor ke agen, status saya ternyata menjadi rehire karena lama di rumah. Otomatis, saya harus melakukan medical test lagi dan membayar tiket pesawat terbang seperti pekerja first contract. Tak mengapa lah, saya memang masih memiliki sedikit tabungan sisa bekerja di kapal dulu.
Beberapa waktu belakangan ini, saya sibukkan diri dengan membaca buku-buku tentang kewirausahaan dan finansial. Seharusnya dari dulu saya memperbanyak bacaan semacam ini. Saya telah berniat akan memiliki bisnis sendiri kelak usai pulang bekerja dari kapal. Uang tak boleh dihambur-hamburkan. Harus ada aset yang kita punyai demi kehidupan kelak pasca pensiun bekerja. Saya juga ingin segera mengakhiri masa lajang agar ada sesuatu yang baru dalam hidup. Rasa-rasanya, terlalu lama melajang justru membuat kita mudah kehilangan fokus dan pegangan. Entah benar atau tidak, tapi menjelang usia 30 ini saya merasakannya.

From → catatan harian

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: