Skip to content

Jangan Terlalu Kaku Memandang Pendidikan

September 24, 2014

Jika ditanya apakah pendidikan itu penting? Jawabannya sudah pasti penting, bahkan sangat penting. Yang jadi persoalan adalah, bagaimana kita memandang pendidikan itu? Jangan sampai pendidikan justru membelenggu potensi sejati seseorang.

Pendidikan, khususya pendidikan formal, cenderung menyeragamkan para peserta didik menjadi masyarakat satu dimensi. Padahal, tiap anak memiliki keunikan dan kemampuan yang multidimensi. Penyeragaman ini dapat terlihat dari gejala yang mungkin sudah lazim kita jumpai: ketika ditanya “apa cita-citamu?” Jawaban yang muncul dapat diterka, tak jauh-jauh dari menjadi dokter, guru, tentara, PNS, pilot. Apakah ini murni berdasarkan kemampuan nalar si anak untuk menentukan arah hidupnya? Apakah dia memang memiliki passion dalam bidang yang dicita-citakannya itu? Belum tentu. Jawaban-jawaban itu lebih banyak tekonstruksi dari lingkungan dewasa yang mengelilinginya. Orang tua atau orang dewasa lain tentu akan bangga jika anak-anaknya bercita-cita menjadi salah satu profesi di atas. Tanpa sadar, mereka memaksakan kepada anaknya, “nak,belajar yang pintar ya nanti sudah besar menjadi dokter.”

Lalu, bagaimana jika di tengah jalan dalam prosesnya menuju dewasa si anak itu menyadari dirinya “tidak keren” jika menjadi dokter? Ia merasa memiliki mimpi yang jauh lebih indah daripada mengabdi di bidang medis. Namun, prestasi akademiknya bagus. Ia mudah mendapatkan ranking dan memiliki potensi untuk sukses menjadi dokter. Semua orang berharap itu. Hanya dia sendiri yang sadar ia tak yakin tentang hal tersebut. Ia merasa bergairah dalam musik. Dia yakin dirinya dapat berkembang pesat jika terjun di dunia musik. Bakatnya ada, kemauan keras pun ada. Tapi, apa kata orang-orang nanti? Ia bingung. Bagaimana kalau perasaannya itu salah? Tentu ia tak mau menjadi calon dokter gagal yang banting setir menjadi pengamen. Orang tuanya apalagi. Ia tak tega membayangkan raut kekecewaaan mereka jika mengetahui ia tidak menjadi dokter. Hmm, mungkin jalan tengahnya menjalani kedua-duanya, seperti Tompi. Tapi, tak semua orang bisa seperti Tompi. Ada yang harus mengorbankan impiannya demi kenyamanan hidup. Ada pula yang mengorbankan kenyamanan hidup demi impiannya.

Kasus lain, pendidikan yang diseragamkan. Semua anak dianggap memiliki tingkat kecerdasan yang sama dan daya tangkap yang sama pula. Maka, standarisasi pun diadakan. Semua anak harus mengikuti ujian yang sama tingkat kesulitannya. Lalu, bagaimana dengan anak-anak yang terbatas aksesnya terhadap pendidikan yang berkualitas? Di samping itu, penyeragaman seolah-olah melihat bahwa mereka yang unggul dalam bidang eksakta lebih “bergengsi” daripada mereka yang unggul dalam bidang sosial atau bahasa. Padahal, tak ada yang lebih tinggi kastanya. Semua sama, justru penjurusan itu adalah untuk menyelaraskan para peserta didik dengan mina t dan bakatnya. Jangan sampai anak memasuki jurusan yang bukan minatnya hanya karena faktor harga diri atau gengsi. Ini sangat merugikan, sebab ilmu yang diserapnya tidak akan efektif, daya kreativitasnya juga akan menurun karena potensinya tidak tergali maksimal.

Di Indonesia, anak-anak yang seolah-olah memiliki energi berlebihan dan sangat aktif dianggap sebagai pembuat onar. Itu saja, tak ada penjelasan lanjut mengapa anak itu seperti itu, mengapa ia sangat aktif dalam pelajaran, bagaimana lingkungan keluarganya mempengaruhi sikapnya? Alhasil, standar murid yang baik selalu sama di mana-mana: penurut, pendiam, tak pernah membantah, tidak banyak tingkah, pencatat yang baik. Apakah anak-anak pembuat onar itu bakal gagal di kehidupan dewasanya nanti? Belum tentu. Dunia nyata justru menuntut orang-orang yang dinamis, penuh energi, memiliki kepercayaan diri yang tinggi, selalu punya inisiatif, dan tangguh. Ironisnya, poin-poin plus tersebut justru kebanyakan malah dikembangkan oleh anak-anak yang dicap pembuat onar tersebut. Tentu sangat disayangkan jika potensi-potensi itu sudah “dimandulkan” sejak dini oleh aturan-aturan yang terlalu kaku.

Pendidikan seharusnya tak terlalu kaku berkutat pada angka melulu. Demi mencapai target kelulusan yang tinggi, para peserta didik “digeber” dengan latihan-latihan soal yang diacukan pada soal ujian. Silabus dan RPP pun seperti sia-sia belaka. Maka, pembelajaran hanya bertujuan untuk memperoleh nilai tinggi, bukan meresapi ilmu, meningkatkan skill, dan mempraktekkan ilmu yang dipelajari. Tidak, yang ada hanya nilai tinggi dan nilai tinggi. Ketika mereka terbiasa mengejar nilai tinggi di sekolah hingga pendidikan tinggi, justru kemudian mereka gamang melihat kenyataan yang tak selalu diukur oleh nilai tinggi.

Pendidikan itu memang penting. Bagaimana orang bisa sukses jika ia tak mampu membaca, tak kenal berhitung, tak bisa berbahasa yang baik? Tapi, jangan memandang pendidikan formal adalah faktor tunggal penentu kesuksesan. Ada banyak faktor yang menentukan kesuksesan seseorang. Karakter diri memegang peran penting. Apa gunanya memiliki gelar akademik yang tinggi jika ia tak memiliki karakter kuat? Orang yang memiliki karakter kuat akan tahan banting, berkemauan keras, dan memiliki orisinalitas yang akan selalu dikenang orang. Dan hal itu tak selalu didapat dari pendidikan formal di kelas-kelas yang kaku. Mereka yang ingin mengembangkan karakter diri mereka, harus terus mengasah kepekaan mereka dan belajar terus menerus. Long life education!

From → artikel lepas

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: