Skip to content

Menjaga Konsistensi

September 24, 2014

“I fear not the man who has practiced 10,000 kicks once, but I fear the man who had practiced one kick 10,000 times”

-Bruce Lee

 

Pepatah mengatakan bahwa mempertahankan itu lebih sulit daripada meraih. Manusia pada dasarnya adalah makhluk yang mudah terombang-ambing dan berubah-ubah sesuai mood-nya karena manusia bukan malaikat. Ada kalanya memiliki semangat yang berkobar-kobar, namun ada pula saat di mana ia merasa jatuh ke dalam jurang tanpa dasar. Lalu, bagaimana menjaga konsistensi?

Konsistensi mutlak diperlukan, terutama bagi mereka yang telah memutuskan untuk meraih kesuksesan di bidangnya melebihi pencapaian orang lain. Apa lah arti meraih prestasi sekali lalu tak terdengar lagi gaungnya. Konsistensi bukan berarti stagnan, namun dapat bermakna proses kemajuan yang progresif, dan menunjukkan peningkatan tiap waktu meskipun tak harus dalam waktu yang cepat. Dalam hal ini, konsistensi bukan bermakna garis lurus yang datar-datar saja, namun konsisten untuk terus bertumbuh sepanjang waktu.

Konsistensi erat kaitannya dengan kebiasaan. Sulit rasanya seseorang bisa konsisten mempelajari atau melakukan sesuatu tanpa menjadikan kegiatannya itu sebagai kebiasaan yang secara otomatis dilakukannya sepanjang waktu. Namun, sulit bukan berarti tidak mungkin. Kebiasaan bukan lah sifat yang diturunkan secara genetis. Kebiasaan dapat dipelajari, bahkan diubah. Misal, kebiasaan buruk di masa lalu dapat diubah setelah mempelajari kebiasaan yang baru.

Memelihara konsistensi membutuhkan kesabaran. Seseorang yang melatih kesabarannya dalam proses pertumbuhannya yang menuntut konsistensi, akan mampu melampaui hambatan-hambatan internal dari dirinya sendiri, seperti rasa malas, putus asa, dan rendah diri. Ia pun dapat berdamai dengan dirinya sendiri dan tentu saja jauh lebih mudah untuk menghadang hambatan dari luar. Kita semua telah mengembangkan kesabaran tersebut sejak balita. Bayangkan, bagaimana jadinya jika dulu kita tidak sabar untuk terus berlatih berjalan walaupun berkali-kali terjatuh? Tentu kita akan merangkak sepanjang hayat bukan?

Konsistensi akan melahirkan keahlian atau kepakaran di bidangnya. Bagaimana mungkin seseorang dapat dikatakan ahli penyakit dalam jika ia tidak konsisten mempelajari penyakit dalam selama bertahun-tahun di bangku kuliah dan praktek langsung di lapangan? Keahlian seorang pilot pun diukur dari jam terbangnya, berapa ribu jam terbang telah dilampauinya, bukan umurnya. Seorang pemimpin tentu telah konsisten memupuk jiwa kepemimpinannya sejak belia, ia telah makan asam garam dunia pepolitikan yang mematangkan kemampuan politik dan kepemimpinannya. Lalu, bagaimana dengan orang-orang yang memiliki bermacam-macam keahlian atau bahasa kerennya, multi talenta?

Sah-sah saja seseorang merasa dirinya memiliki multi talenta. Ia berbakat di bidang seni, pintar dalam ilmu eksakta, dan sukses di bidang bisnis. Mungkinkah? Mungkin saja! Karena dia konsisten dalam bidang-bidang tersebut, bukan sekadar asal coba dan main-main. Saya kurang percaya bahwa orang yang penuh talenta itu dilahirkan dalam keadaan memiliki bakat komplit. Mungkin ia memiliki satu bakat sejak lahir. Namun, kemampuannya di bidang lain tentu hasil kerja kerasnya dan konsistensinya untuk menguasai bidang tersebut.

Menurut saya, memiliki bakat saja tidak cukup. Banyak orang-orang berbakat yang hidupnya sulit. Para pengamen di bus-bus antar kota banyak yang mahir bermain musik, mereka layak tampil di panggung dan ditonton ribuan orang. Tapi mengapa tak seperti itu? Sekali lagi, butuh konsistensi. Konsistensi untuk mewujudkan mimpi. Bakat yang didiamkan saja ibarat tambang emas yang tersembunyi di perut bumi.

Ada banyak kisah konsistensi dari para tokoh dunia yang dianggap sukses. Mereka telah melewati rintangan-rintangan hidup yang tak mudah, berjuang untuk terus konsisten terhadap pencapaian mimpinya. Walaupun untuk itu mereka harus membayar mahal di awal-awal proses perjalanan hidup mereka, namun toh berkat konsistensi mereka akhirnya terbayar sudah jerih payah mereka selama ini.

Saya takkan membahas kisah-kisah para tokoh itu karena kini sudah banyak buku-buku yang menjual kisah mereka di toko buku. Anda juga bisa mendownload-nya dari artikel-artikel yang berserakan di internet. Kita beruntung dilahirkan di era media dan informasi, di mana dengan sangat mudah kita mengakses informasi dari berbagai penjuru dunia. Kita dapat mempelajari kisah-kisah para tokoh yang sukses meraih mimpi mereka berkat konsistensi perjuangan mereka.

Jangan pernah mengharapkan keberuntungan atau kesuksesan instant karena hal itu bagaikan mata pedang yang akan berbalik melukai anda. Percaya lah, segala hal yang instant memiliki efek samping yang kadang menyakitkan. Nikmati saja proses yang sedang anda jalani saat ini. Jangan mudah berputus asa. Ketika mood anda turun, atau anda merasa down karena jerih payah anda sepertinya tak juga menunjukkan hasil, bersabarlah. Beristirahat lah dan menjaulah dari apa pun obsesi anda untuk sesaat. Namun, ketika semangat anda kembali, segera lah pacu kembali langkah anda meraih mimpi. Berkembang lah dengan wajar, sedikit demi sedikit tak mengapa. Konsisten lah.

From → tips

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: