Skip to content

Memulai Berinvestasi

October 3, 2014

Yogyakarta, 3 Oktober 2014

 

Hari ini saya memutuskan untuk pergi ke bank. Niatnya ingin mencari informasi tentang produk-produk investasi resiko rendah sebagai awalan untuk terjun ke dunia investasi. Saya sendiri memang masih awam tentang hal itu. Terlebih, saya bukan berasal dari keluarga yang bisa dibilang melek finansial. Lingkungan pertemanan pun juga rasanya masih banyak yang belum sadar tentang pentingnya investasi dan proteksi jangka panjang. Saya baru beberapa waktu ini saja mulai tertarik dengan investasi. Investasi bentuk apa itu, saya sendiri masih meraba-raba.

Saya mulai tertarik untuk berinvestasi setelah membaca buku Untuk Indonesia yang Kuat; 100 Langkah Untuk Tidak Miskin yang ditulis oleh Ligwina Hananto. Di situ dijelaskan tentang perencanaan keuangan jangka panjang dan investasi yang tepat. Saya sendiri sudah punya buku itu sejak lama, tapi baru kali ini tergugah setelah membacanya untuk kesekian kali. Produk-produk investasi itu banyak sekali, dalam buku ini pun saya kira belum begitu rinci penjelasannya. Namun, setidaknya dapat memberikan gambaran pentingnya memulai investasi sejak dini. Sebab, menabung saja tidak cukup. Justru, menabung secara konvensional akan merugikan karena dampak inflasi tiap tahun dan biaya administrasi bank. Dengan berinvestasi, uang dapat diputar dan tumbuh sekian persen.

Niat saya untuk berinvestasi juga makin besar setelah membaca buku legendaris, Rich Dad Poor Dad karya Robert T. Kiyosaki. Intinya, bekerja keras saja itu tak cukup, seseorang harus juga bekerja cerdas. Seimbang lah, antara bekerja keras dan bekerja cerdas. Kemandirian finansial itu layak diperjuangkan. Tentu saja hari tua yang lebih menyenangkan akan didapat oleh mereka yang telah beranjak dari kuadran kiri ke kuadran kanan. Hanya saja, saya tentu tak akan seberani Kiyosaki untuk langsung berinvestasi dalam bidang properti. Namun, itu menarik. Entah mengapa, mungkin pengaruh buku itu juga, kini setiap berjalan-jalan atau tengah menaiki motor, mata saya selalu menangkap tulisan-tulisan di spanduk beberapa gedung di pinggir jalan: “Dijual.” Sepertinya radar otak saya sudah mulai peka dengan peluang-peluang gedung-gedung yang dijual itu. Sayang, modal belum ada. Mungkin nanti. Saya yakin itu. Bahkan, di toko buku kemarin pun tanpa perencanaan saya membeli buku tentang properti. Isinya agak mengecewakan, saya berharap buku itu membahas tentang trik-trik memulai investasi di bidang properti, eh tapi ternyata cuma membahas istilah-istilah teknis dunia properti, peraturan-peraturan, atau definisi-definisi. Mirip buku modul pelajaran tingkat basic.

Singkat kata, tadi pagi saya mampir ke Bank Mandiri yang dekat R.S. Panti Rapih. Sudah lama saya ingin bertanya-tanya tentang reksadana. Beberapa kali saya menemukan istilah ajaib itu dalam artikel-artikel investasi dan perencanaan keuangan, tapi belum ada penjelasan yang memuaskan. Yang saya pahami, reksadana lebih menguntungkan daripada deposito dengan resiko lebih kecil daripada saham.

Sayangnya, kantor cabang bank tersebut tidak melayani produk reksadana. Entah mengapa, mbak cs-nya hanya memberikan informasi bahwa produk tersebut dapat dilayani di kantor bank Jalan Soedirman. Saya agak kecewa. Saya pun beralih pada pertanyaan kedua: kenapa kartu ATM saya tidak bisa dipakai untuk transaksi online dan transfer uang ke Paypal. Beberapa waktu lalu saya memang sudah membuat akun Paypal karena ingin membuat website untuk usaha spa ibu saya. Mbak cs yang ramah itu lalu mengganti kartu ATM saya dan ia bilang bahwa nanti kartu itu kemungkinan bisa dipakai untuk transaksi menggunakan Paypal.

Usai menerima kartu ATM baru, mbak CS itu malah menawarkan saya untuk membuka rekening Axxa Mandiri. Saya kurang paham. Produk itu bukan semata tabungan konvensional, namun juga bukan reksadana atau deposito. Kira-kira, semacam campuran antara produk investasi dan asuransi. Saya dirujuk ke mas Larry yang memang khusus menangai Axa. Ia menjelaskan panjang lebar dengan santun. Usianya sepertinya sebaya atau mungkin malah di bawah saya. Singkat kata, saya akhirnya mencoba untuk ikut produk tersebut dengan setoran Rp 600.000,00 per bulan. Proyeksi tingkat pengembaliannya berkisar antara 5-17% per bulan. Cukup lumayan, dibandingkan dengan jika hanya menabung konvensional. Namun, memang harus diingat bahwa investasi selalu mengandung resiko. Tapi, saya sudah niat untuk mendalami bidang ini. Setidaknya saya mengambil produk yang cukup aman, bukan investasi murni tapi setengah investasi dan setengah asuransi. Ke depan, jika saya sudah kembali bekerja di luar negeri, saya berniat untuk menaikkan setoran bulanan dan tahunan.

Dalam jangka panjang, setidaknya lima tahun, dalam skema yang dijelaskan oleh mas Larry tersebut, jika investasinya bagus, tentu saya akan mendapatkan pengembalian investasi yang lumayan. Saya punya rencana ingin menanam akumulasi modal tersebut dalam investasi tanah atau properti. Proyek jangka panjang sih, tapi yah niat awal dulu kan tidak apa-apa. Saya teringat oleh pameo “taruh telur di banyak keranjang” jadi intinya berinvestasi itu tidak hanya di satu bidang. Harus mampu berinvestasi dalam banyak bidang agar hasilnya pun beragam. Ibaratnya, menaruh telur-telur di keranjang-keranjang yang berlainan, dan ketika menetas nanti siap memanen tiap keranjangnya. Jika hanya mengakumulasi di satu keranjang, besar kemungkinan telur-telur itu justru rusak atau tak sempurna menetasnya. Setidaknya itu sih yang saya pahami. Mungkin juga kurang benar. Entahlah, saya hanya menerka.

Mungkin saya agak terlalu berani dengan langsung ikut program investasi bank tersebut. Mengingat, kini praktis saya hanya mengandalkan uang yang tersisa di rekening saja. Tak seberapa jumlahnya. Terlebih, jika nanti sewaktu-waktu job letter turun, saya harus menyiapkan dana setidaknya sebelas juta rupiah untuk membeli tiket keberangkatan. Jumlah itu pun bisa lebih bisa kurang, tergantung kurs rupiah terhadap dolar dan naik turunnnya harga tiket pesawat. Akh, tapi kalau tidak dimulai dari sekarang, kapan lagi? Setidaknya saya sudah memulai untuk berinvestasi, walaupun dari yang terkecil. Bismillah.

From → catatan harian

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: