Skip to content

Petuah Bapak

October 6, 2014

“Hewan pengerat ada di mana-mana, hati-hatilah.”

Nasihat bapaknya itu masih terngiang di telinga Aryo. Entah mengapa suara bapaknya itu seolah tedengar dekat sekali, rasanya seperti dibisiki tak lebih dari lima sentimeter saja. Namun ia baru merasakan fenomena itu beberapa hari ini, sejak ia mendiami sel yang terkutuk ini. Kemarin-kemarin petuah bapaknya itu malah sama sekali dilupakannya.

Aryo merasa menyesal tak menghayati betul petuah itu sejak awal. Memang hubungan mereka tak bisa dibilang harmonis, namun juga tidak renggang. Biasa saja. Terlalu biasa malah. Seperti sebelum-sebelumnya, petuah itu terdengar sangat menyentuh ketika diucapkan langsung oleh bapaknya, namun sehari sesudahnya menguap tak berbekas. Mungkin karena Aryo disibukkan oleh urusan negara dan bangsa yang lebih penting dari sekadar peringatan bahaya hewan pengerat.

Kini, sudah tiga tahun yang lalu sang bapak meninggal. Aryo merasa kehilangan sosok yang dulu selalu dirindukannya setiap sore hari untuk mengajaknya berkeliling kampung naik motor BSA. Bapaknya adalah satu-satunya orang di kampung yang memiliki motor besar klasik itu. Bagi Aryo kecil, itu adalah kenangan yang sangat manis. Ia menyukai pandangan kekaguman orang-orang pada mereka. Namun, seiring karir bapaknya yang menanjak dalam pemerintahan propinsi, jalan-jalan sore hari seperti itu hilang. Diam-diam, Aryo menumbuhkan mimpi untuk menjadi seperti bapaknya sebagai orang yang dihormati.

Aryo muda mulai menunjukkan bakat kepemimpinan di sekolahnya. Ia langganan menjadi ketua kelas dan mulai belajar cara mendapatkan penghormatan dari orang lain. Ia membayangkan dirinya kelak akan seperti bapaknya yang memiliki wewenang luas, dihormati oleh masyarakat, dan memiliki pekerjaan penting demi kesejahteraan rakyat. Ia suka membayangkannya. Terkadang, ia senyam-senyum sendiri melihat bayangan masa depan dirinya: memakai safari, berkacamata hitam, dikawal ajudan-ajudan, lalu bertanya kepada asisten pribadinya tentang agenda kegiatannya.

Mimpi Aryo yang ia pupuk dari kekaguman akan bapaknya itu ia tanamkan kuat. Walaupun bapaknya sendiri jarang mengajaknya bicara tentang pekerjaan pejabat pemerintahan, Aryo menyerapnya sendiri dari pengamatan langsung. Ia kerap memperhatikan obrolan dan diskusi bapaknya dengan para tamunya yang ia anggap sebagai tokoh-tokoh penting. Walaupun belum paham benar isi orbolan mereka, Aryo merasa bahwa percakapan mereka sangat penting, jauh lebih penting dari sekadar film-film superhero atau siswi primadona sekolah. Ia mematangkan dirinya lebih cepat.

Berorasi adalah salah satu kelebihan Aryo sejak sekolah menengah pertama. Ia sangat percaya diri berbicara di depan banyak orang. Intonasinya pas, suaranya lantang dan penuh semangat. Bahkan, mungkin teknik orasinya melampaui para gurunya. Lagi-lagi, ia mempelajarinya secara otodidak dari bapaknya. Ia sering menonton bapaknya berbicara di depan banyak orang dengan sangat mempesona. Ia kagum dengan bapaknya yang seolah-olah bisa menyihir ribuan orang untuk berteriak, bertepuk tangan, dan bersorak sorai.

Banyak sudah lomba pidato dijuarai oleh Aryo muda. Ia menjadi andalan sekolah dan daerahnya untuk menyapu bersih ajang-ajang lomba pidato. Para guru yang melatihnya beruntung menemukan berlian yang sudah setengah dipoles. Mereka tak perlu melatihnya susah payah. Aryo mewarisi DNA orator ulung.

Suatu hari sang bapak mengajak Aryo duduk di sampingnya di ruang tamu. Betapa terkejutnya ia, rupanya sudah ada beberapa orang di sana yang ia tahu sebagai pejabat teras. Ada juga perwakilan investor. Ia memang telah mengenal mereka, karena mereka kerap datang ke rumah. Namun, hari itu berbeda. Aryo didaulat untuk duduk di samping bapaknya, mengikuti langsung diskusi mereka tentang masa depan wilayah pemerintahan sang bapak. Ia merasa tersanjung. Tak perlu lagi mencuri-curi dengar dari balik tembok.

Degup jantung Aryo serasa bergejolak. Ia mendengarkan diskusi rencana penanaman modal di propinsinya. Ia hanyalah siswa SMU yang seharusnya hanya tahu cara menggoda siswi cantik di sekolah dengan motor keren. Tapi, kini ia berada di antara jajaran orang-orang penting yang membahas soal penting. Ia pun ikut merasa penting saat itu. Adrenalinnya mengucur deras. Rasa-rasanya ia juga ingin menyumbangkan pikirannya. Namun, ia hanya diam dan menyaksikan bapaknya memimpin diskusi itu dengan penuh wibawa.

Sejak saat itu, Aryo sering tampil mendampingi bapaknya berdiskusi dengan orang-orang penting di rumah. Ia memiliki tugas baru: menjadi notulen. Dengan tekun, ia mencatat poin-poin pembicaraan mereka. Berangsur-angsur, ia mulai memahami kata-kata rumit yang tadinya sering membuatnya pusing.

Dunia kampus membuka cakrawala baru bagi Aryo. Ia makin mematangkan jiwa kepemimpinannya dengan bergabung di organisasi politik kampus. Ia mengikuti kaderisasi organisasi, diskusi sosial politik, hingga debat senat kampus. Satu hal baru yang ia pelajari dari politik kampus: idealisme yang jauh lebih keras daripada yang ia pahami dari diskusi bapaknya dengan rekan-rekan pejabat. Di kampus, ia mengenal berbagai konsep ideologi yang kadang sangat hitam putih.

“Sosialisme adalah solusi bagi negara kita yang sekarat pak. Kesejahteraan harus merata, jangan yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin,” suatu ketika Aryo membuka diskusi dengan bapaknya.

“Tidak sesederhana itu Aryo. Di luar kampusmu itu, dunia lebih kompleks. Kita tidak bisa memandang kehidupan dengan kacamata hitam putih saja. Sosialisme murni itu aneh. Bapak malah tidak mengerti sebenarnya.”

“Lantas apa ideologi bapak sebagai pemimpin? Bukankah setiap orang harus memiliki ideologi dan idealisme yang kokoh pak?”

“Yang jelas bapak tidak mau berlama-lama di konsep. Bapak hanya ingin bekerja. Itu saja. Bekerja buat masyarakat. Itu idealisme bapak.”

Bekerja untuk masyarakat. Sesederhana itu kah? Aryo merasa tidak puas. Ada banyak senior di kampusnya yang bakal menjawabnya dengan lebih mengesankan. Bayangan akan sosok bapaknya yang mengagumkan dulu berangsur-angsur memudar. Aryo merasa memiliki konsep pemahaman sosial yang lebih mendalam.

Pesona Aryo di organisasi politik kampus kian cemerlang. Ia menjadi mahasiswa yang disegani oleh junior-juniornya dan pejabat kampus. Ketika isu-isu sosial merebak, ia kerap turun ke jalan mengerahkan massa untuk berdemonstrasi. Apa pun isu yang diangkat, bagi Aryo yang harus dibela adalah rakyat kecil. Ia berdemonstrasi menolak kenaikan harga BBM dan TDL, menolak UN, menuntut pendidikan dan pelayanan kesehatan gratis, menolak penggusuran, bahkan bentrok dengan satpol pp untuk membela pedagang kaki lima.

Aryo tersenyum kecut oleh kenangan masa mudanya itu. Sudah puluhan tahun berlalu namun rasanya baru kemarin terjadi. Ia mengalami pasang surut hubungan keharmonisan dengan bapaknya. Ketika ia aktif di organisasi kampus, komunikasi mereka agak renggang. Di samping karena pemikiran Aryo tentang sosialisme yang semakin radikal, ia juga lebih sering menginap di kampus. Namun, ketika mereka bersama di rumah, tidak ada aura permusuhan sama sekali. Bagaimana pun, mereka membutuhkan satu sama lain. Sudah sejak kecil Aryo tak mengenal ibu kandungnya. Tak ada kakak, tak ada adik. Hanya bapaknya lah keluarga yang ia miliki. Yang lainnya cuma pembantu, ajudan, staf ahli, juru masak, pengurus peternakan, dan beberapa orang lagi yang Aryo tak tahu pasti tugas mereka apa di rumahnya.

Aryo menatap langit malam yang agak terang karena cahaya bulan masuk dari ventilasi udara. Tak terasa air mata meleleh. Ia sudah melenceng dari cita-cita masa kecilnya dulu. Padahal, ia dulu hanya berangan menjadi seperti bapaknya, atau setidaknya melampaui bapaknya. Itu saja. Semata karena kekagumannya pada sang bapak ia memutuskan untuk terjun ke dunia politik.

Lulus dari kampus, Aryo mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan karir politiknya di partai politik. Ia mendapatkan pengalaman politik nyata yang jauh lebih riuh daripada di kampus. Ia merasa karir politiknya bakal melampaui bapaknya yang justru mulai menjauhi politik.

“Ingat yo, parpol itu kendaraan politik, bukan tujuan. Kamu boleh mengendarainya, tapi jangan terlena. Jangan leha-leha di limosin yang nyaman, kau tahu perjalanan harus sampai tujuan,” begitu suatu hari bapaknya berpetuah.

Aryo paham maksud petuah itu. Ah, tapi siapa sih yang tak terlena dengan kenikmatan berada di dalam limosin? Fasilitas mewah, perjalanan yang nyaman dan bebas dari panas. Lalu, tujuan pun tak lagi penting. Yang penting, berapa lama ia dapat bertahan duduk di kursi nyaman limosin.

Sang bapak meninggal dalam keadaan yang terlalu sederhana. Aryo merasa kecewa, melihat sang bapak yang dahulu begitu dihormati, selalu dielu-elukan rakyatnya, dan dikenal sebagai pejabat jujur dimakamkan tanpa upacara penghormatan. Memang, bapaknya telah meninggalkan dunia politik. Pensiun dari dinas pemerintahan propinsi, sang bapak mendirikan toko bunga. Aryo tak terlalu menyukai hal itu, walaupun ia tak mengatakannya langsung pada bapaknya. Ia tahu, bunga-bunga itu mengingatkan sang bapak pada mendiang istrinya yang pernah bermimpi memiliki toko bunga.

Aryo memasang target yang levelnya terus naik tiap tahun. Ia akhirnya bisa melampaui jauh pencapaian bapaknya. Ia tak puas hanya menjadi pejabat propinsi seperti sang bapak. Ia terus berlari, mengejar ambisi-ambisinya. Ia tak ingin berakhir seperti bapaknya: mati dengan cara yang sederhana, dimakamkan tanpa upacara penghormatan dan dilupakan. Ia bertekad untuk menjadi orang yang sangat berpengaruh, terkenal, dan dihormati di manapun ia menginjakkan kakinya.

Posisi menteri koordinator diraih oleh Aryo setelah melalui perjuangan berdarah-darah dalam karir politik yang keras. Ia berkembang menjadi tokoh politik yang lihai dan lincah terhadap situasi. Ia mampu mendekati tokoh-tokoh elit partai dan merangkul anak-anak muda sebagai basis dukungan. Tak hanya itu, relasinya dengan kalangan pengusaha pun luas.

Namun, ada satu hal yang disesalkan oleh Aryo. Ketika ia mendapatkan posisi menko, ia merasa semakin jauh dari bapaknya. Bahkan, para pengusaha yang dulu pernah menjadi rekan bapaknya di pemerintahan propinsi dan sangat menghormati bapaknya, juga ikut menjauhinya.

“Bapak nggak suka cara-cara kotormu nak. Kau lupa pada tujuanmu!”

Suatu hari nada keras bapaknya di balik gagang telepon itu seperti petir di siang bolong. Aryo tersentak. Ia tak pernah dibentak sekeras itu oleh bapaknya. Beberapa kontraktor  yang dulu kerap memenangkan lelang proyek pemerintah untuk membangun infrastruktur kota mengeluh pada sang bapak. Mereka tak mendapati lagi persaingan yang sehat. Dulu, si bapak selalu membuka lelang proyek yang terbuka dan adil. Semua proyek pemerintah propinsi berjalan lancar. Namun, kini di bawah kepemimpinan Aryo, hampir semua proyek-proyek besar skala nasional menjadi lahan basah korupsi. Tak ada lagi lelang terbuka yang adil. Siapa yang berani menyogok lebih tinggi, dia lah yang menang.

“yo, kamu nggak seperti bapakmu. Walaupun jabatannya tak setinggi kamu, tapi moral bapakmu jauh lebih tinggi,” kata-kata itu dilontarkan salah satu kontraktor yang kecewa karena dikalahkan oleh pihak lain yang berani melobi maut dengan sogokan tinggi.

“Om, politik sekarang tidak sama lagi dengan masa lalu. Harga politik makin mahal, om. Jangan samakan dengan jaman bapakku. Jangan munafik lah. Om pasti paham berapa setoran partai yang harus saya penuhi agar posisi saya aman.”

“Bukan yo, bukan karena harga politik yang semakin mahal, tapi egomu pada kekuasaan yang semakin mahal.”

Aryo tak pernah mau lagi memakai jasa kontraktor itu lagi. Ia terlanjur sakit hati oleh kata-kata yang diucapkan oleh orang yang sebenarnya telah ia anggap sebagai pamannya sendiri. Aryo merasa sudah bukan masanya lagi beridealisme murni hitam putih seperti di kampus dulu. Bapaknya sendiri pernah berkata demikian, situasi di luar kampus jauh lebih kompleks, tak sekadar benar salah. Ia yakin bahwa ia juga bekerja untuk rakyat seperti yang pernah diucapkan bapaknya dulu. Hanya caranya saja yang mungkin berbeda.

Jabatan sebagai menko berhasil disandang oleh Aryo tanpa gangguan berarti. Bahkan, setelah lima tahun periode jabatannya usai, ia terpilih kembali oleh rezim yang baru. Pengalaman politik yang matang dan jaringan relasinya yang luas membuatnya mampu beradaptasi dengan siapa pun. Terkadang, ia juga tak segan untuk memainkan lobi-lobi politik tingkat tinggi yang sesekali tidak murah.

Menko adalah jabatan yang sangat prestisius. Tetapi, seperti sebelum-sebelumnya, Aryo selalu menaikkan targetnya. Ia berhasrat menjadi orang nomor satu di parpolnya. Basis dukungannya cukup kuat. Ia maju dalam pemilihan ketua umum. Sayang, ia kalah dari calon incumbent. Ketua umum partainya yang tahu betul praktek trik lobi-lobi politik kotor Aryo mulai mewaspadainya.

Dalam pemilihan ketum berikutnya, Aryo yang lebih matang kembali mencalonkan diri. Ia menang telak. Namun, kubu yang kalah menyimpan luka karena cara-cara curang yang dilakukan Aryo dan tim suksesnya. Mereka mulai mencari titik-titik kelemahan Aryo untuk menjegalnya, baik di parpol maupun di pemerintahan.

“Hati-hati, hewan pengerat ada di mana-mana,” lagi-lagi petuah bapaknya itu terdengar di telinga Aryo. Ia menatap sudut sel yang sempit itu, lalu matanya berkaca-kaca. Luntur sudah bayangan kebanggaan pribadinya. Segala pencapaiannya tak sebanding dengan prestasi bapaknya yang bekerja untuk rakyat. Ia merasa cukup bodoh, telah membiarkan anak-anak buahnya bermain anggaran di kementeriannya untuk memperkaya diri.

Awalnya, Aryo mempertunjukkan kemarahan besarnya. Ia mengutuk bawahan-bawahannya yang melakukan korupsi. Ia tak ingin disangkutpautkan dengan mega skandal di kementeriannya. Namun, KPK punya bukti kuat bahwa ia mengetahui semua skandal anak buahnya, bahkan diduga kuat ikut menikmati uangnya. Ia tak bisa mengelak. Memang harga politik semakin mahal. Di akhir masa jabatan periode keduanya tersebut, ia justru tersandung kasus besar. Parpol yang dicintainya pun tak mau menolong. Para musuh politiknya di parpol pun menyerangnya habis-habisan di media massa.

Aryo merasa bodoh telah membiarkan hewan-hewan pengerat beranak pinak di kementeriannya. Imperiumnya keropos, ia tanpa sadar berada di posisi yang rawan karena fondasinya sudah digerogoti oleh binatang-binatang pengerat itu. Sebenarnya, ia memang sejak awal telah mengetahui praktek kotor anak buahnya. Tapi, lagi-lagi, harga politik sudah semakin mahal. Ia justru ikut “menceburkan diri ke lumpur.”

“Maafkan Aryo pak, Aryo tidak bisa seperti bapak, tidak mendengarkan petuah bapak,” suara mantan menko itu terdengar lirih di antara jeruji sel tahanan tipikor.

Eko B. Nugroho

Sleman, 2014

From → cerpen

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: