Skip to content

Sekali-kali Perlu Menulikan Diri

October 6, 2014

Yogyakarta, 6 Oktober 2014

 

Beberapa hari ini telinga sebelah kanan saya tak bisa berfungsi normal. Pendengaran saya jauh berkurang, hanya mengandalkan telinga kiri saja. Ini terjadi sejak saya mencoba membersihkan telinga saya dengan cotton bud atau biasa orang menyebutnya korek kuping. Entah mengapa setelah selesai malah telinga kanan saya jadi tidak bisa mendengar. Kejadian ini memang pernah saya alami waktu bekerja di kapal dulu. Saya memang terbiasa membersihkan telinga dengan korek kuping. Waktu itu usai membersihkan telinga, justru telinga kanan saya tak bisa mendengar dengan baik. Mau tak mau saya harus memasang perhatian ekstra ketika bekerja untuk mendengarkan instruksi atasan. Seiring dengan waktu, saya biarkan saja masalah telinga itu dan berangsur-angsur membaik sendiri.

Tapi, ini sudah beberapa hari dan saya dibuat frustasi karena pendegaran telinga kanan saya tak kunjung membaik. Entah apakah ada kotoran yang menyumbat atau bagaimana, yang jelas usai memakai korek kuping itu masalah timbul. Saya pernah membaca sebuah artikel kesehatan di internet tentang bahaya memakai korek kuping. Yang paling baik adalah membersihkan telinga menggunakan air hangat saja. Karena, menurut artikel itu, telinga memiliki sistem kebersihannya sendiri. Telinga menghasilkan cairan pembersih yang dapat mematikan bakteri atau kuman yang masuk ke lubang telinga. Tapi, bagi saya rasanya tak enak jika tidak membersihkan telinga dengan korek kuping.

Besok saya akan memeriksakan diri ke bagian THT. Bagaimanapun, ini sudah tidak nyaman. Walaupun masih bisa mendengar dengan telinga kiri, ada semacam bunyi berdengung di telinga kanan yang tidak mengenakkan. Tadi pagi saya coba masukkan beberapa tetes air bersih ke telinga untuk memancing jika ada kotoran yang menyumbat bisa keluar. Ternyata percuma. Saya juga mencoba memakai korek kuping yang sudah dibasahi, tapi malah justru memperparah. Telinga kanan saya hampir-hampir sama sekali tak bisa mendengar.

Saya pernah membaca biografi singkat Thomas Alva Edison, penemu lampu pijar dan ratusan penemuan lainnya. Ternyata, ia menderita setengah tuli di salah satu telinganya, entah kanan atau kiri. Cacat itu ia derita karena pernah dipukul oleh petugas kereta ketika ia bekerja di kereta api di Inggris. Waktu itu ia menjadi pelayan restoran kereta. Karena hasratnya yang tinggi pada teknologi, ia memakai salah satu gerbong kosong menjadi laboratorium eksperimennya. Namun, ia melakukan kecerobohan ketika bahan kimia eksperimennya meledak dan membuat kereta itu nyaris terbakar. Masinis kereta yang emosi memukul kepalanya (entah memakai alat atau tangan kosong), yang jelas Thoas muda menderita trauma pada salah satu telinganya hingga pendengarannya berkurang.

Beberapa waktu kemudian, Edison justru berujar bahwa ia merasa beruntung menjadi setengah tuli. Keadaan itu justru memungkinkannya untuk fokus dan berkonsenterasi dalam pekerjaannya. Ia tak mempedulikan lagi suara berisik dan gaduh di sekitarnya. Ia menjadi sangat fokus dalam percobaan-percobannya dan menghasilkan lusinan paten penemuan yang kemudian mewarnai peradaban manusia.

Hal berharga yang dapat diambil dari kisah hidup Edison di atas, terkadang kita perlu menulikan diri kita sendiri dan fokus pada mimpi-mimpi kita. Jangan hiraukan suara orang-orang di luar sana yang bakal mengerdilkan kita dalam meraih mimpi. Yang tahu benar apa mimpi kita dan bagaimana cara meraihnya ya diri kita sendiri. Orang lain hanya akan menghujat sinis tanpa tahu yang sebenarnya. Tentu dalam hal ini bukan tuli secara harfiah. Namun, sikap seolah-olah tuli, menunjukkan determinasi yang tinggi, atau keteguhan yang ekstra. Hal itu dapat mendorong karakter yang tangguh dan tak mudah goyah. Ingat, Edison saja melihat ketuliannya dengan pandangan yang positif. Ia menyikapi setiap rintangan dengan arif, dan mengubahnya menjadi batu loncatan yang mengantarkannya menuju kesuksesan.

Jadi, mari menulikan diri ketika kita sudah tahu apa yang mau kita capai dalam hidup. Jangan biarkan orang-orang sinis mematikan jiwa besar kita. Tutup telinga, fokus pada apa yang ada di depan kita. Lalu, berjalanlah dengan tegas menuju ke sana.

Sepertinya saya tidak akan seekstrim Edison untuk bersykur degan ketuliannya. Besok saya akan ke rumah sakit dan memeriksakannya. Semoga tidak terjadi apa-apa. Saya masih ingin mendengarkan nada-nada indah. Kalau untuk mengejar mimpi? Saya sepakat, kita harus tuli dari ocehan orang-orang sinis!

From → catatan harian

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: