Skip to content

Tips Mempersiapkan Diri Bekerja di Kapal Pesiar

October 9, 2014

Saya tidak akan membahas mengenai teknis persiapan dan prosedur yang harus ditempuh seseorang untuk dapat bekerja di kapal pesiar. Informasi itu kini mudah diperoleh oleh siapa pun yang memang berniat bekerja di kapal pesiar. Banyak agen-agen penyalur yang bisa memberikan informasi teknis tersebut dengan jelas. Di sini, saya akan membahas tentang tips-tips persiapan diri sebelum bekerja di kapal pesiar. Saya kira persiapan diri ini jauh lebih penting daripada sekadar paham akan prosedur untuk bekerja di kapal pesiar. Persiapan diri ini penting karena bagaimana pun mereka yang berniat bekerja di kapal pesiar akan menemukan lingkungan, iklim, dan jam kerja yang mungkin jauh berbeda dengan yang ada di Indonesia. Perbedaan budaya, bahasa, dan karakteristik personal juga dapat menjadi hambatan yang cukup merepotkan. Ingat, hampir 50 kewarganegaraan mewarnai kru kapal pesiar. Mereka datang dari negara-negara yang berbeda latar budayanya. Bahkan, mungkin anda akan bertemu orang-orang dari negara yang belum pernah anda dengar namany sebelumnya. Berikut ini tips-tipsnya:

  1. Persiapkan fisik dan mental. Saya kira dua hal ini yang paling penting untuk dipersiapkan sebelum bekerja di kapal pesiar. Anda akan bekerja di sektor jasa yang melayani puluhan ribu tamu tiap harinya. Pekerjaan di kapal relatif menuntut kekuatan fisik yang prima dan gerak yang cekatan. Anda tak bisa berharap belas kasihan dan bantuan dari orang lain karena semua orang sudah punya tugas masing-masing. Memang, solidaritas di kapal cukup tinggi, namun anda tak bisa selalu mengandalkan partner kerja atau orang lain. Jika ingin bertahan dan berhasil di kapal, anda harus memperkuat fisik anda. Ada baiknya sebelum berangkat ke negara homeport kapal pesiar, anda rutin berolahraga untuk memperkuat otot-otot anda. Jadi, ketika nanti di kapal mendapati pekerjaan yang sangat menguras energi fisik, otot anda tak terlalu kaget. Yang kedua, mental. Kesiapan mental juga sangat penting. Jangan pernah bermimpi bahwa bekerja di kapal pesiar itu enak, bisa jalan-jalan keliling dunia, gaji besar, ketemu perempuan bule. Ingat juga bahwa tak ada yang gratis di dunia; gaji besar tentu ada tuntutan yang besar pula. Anda bisa jalan-jalan ke luar negeri, namun tentu tak sebebas wisatawan. Jam keluar kapal anda dibatasi, belum tentu bisa keluar kapal setiap berlabuh, tergantung shift Dan lagi, anda harus bisa menahan rindu kepada kampung halaman,keluarga, dan orang yang anda cintai selama berbulan-bulan. Kehidupan di kapal cenderung monoton, anda bertemu orang-orang yang itu-itu saja, anda tak bisa mengelak jika sewaktu-waktu bos anda memanggil, bahkan ketika anda tidur lelap (ya iyalah, anda mau lari ke mana?). mental anda akan diuji di beberapa bulan awal ketika anda bekerja di kapal pesiar. Atasan akan memarahi anda yang masih kebingungan dengan pekerjaan di kapal, partner anda bukan orang yang menyenangkan, atau mungkin ada konflik dengan kru lainnya. Hal itu lazim terjadi. Bersabar saja, usai melewati bulan-bulan awal itu, anda akan menemukan ritme kerja anda. Dan, atasan anda bakal mulai jarang marah-marah. Tanamkan sikap mental bahwa anda bekerja di kapal pesiar demi masa depan anda, uang yang akan anda tabung sebagai modal bisnis anda kelak. So, tekanan dari siapa pun tak bakal mempan.
  2. Perdalam Bahasa Inggris dan satu bahasa asing lain. Setidaknya anda mengerti bahasa Inggris. Itu modal awal, karena tanpa bahasa Inggris anda hanya akan jadi patung. Tak perlu memperdalam bahasa Inggris yang berkaitan dengan grammar, cukup bahasa lisan yang praktis. Harap diingat, di kapal, bahasa Inggris yang digunakan oleh para kru cenderung kasar dan tidak sesuai akidah tata bahasa. Namun, justru itu lah komunikasi yang praktis memungkinkan pola kerja yang praktis. Tak usah malu dan segan untuk bicara dalam bahasa Inggris, meskipun anda tahu kemampuan bahasa Inggris anda belepotan. Tak ada yang akan protes, yang penting saling memahami. Satu lagi, kapal pesiar didominasi oleh orang India (terutama F&B department). Orang India cenderung lancar bicara dalam bahasa Inggris (ingat, bahasa Inggris menjadi bahasa kedua mereka setelah bahasa Hindi), namun cukup sulit untuk memahami apa yang mereka katakan jika anda belum terbiasa. Jika anda tak mengerti apa yang mereka katakan, tanyalah sekali lagi. Jangan sampai terjadi miskomunikasi yang nantinya akan merugikan anda sendiri. Yang kedua, perlu juga anda untuk mengetahui bahasa asing lain selain bahasa Inggris, setidaknya dasar-dasarnya saja dan sedikit kosakata. Itu penting karena rute kapal pesiar biasanya melewati beberapa negara yang memiliki bahasa yang berbeda pula. Misal, ketika saya dulu tahu bahwa rute kapal saya melewati Meksiko, saya pun mempelajari bahasa Spanyol dasar. Setidaknya, saya bisa menyapa beberapa penjual cindermata di Cozumel dan Progreso. Tapi tenang saja, jika anda yakin dengan bahasa Inggris anda, itu juga sudah cukup. Seiring waktu, anda akan berkenalan dengan kosakata-kosakata campuran dari bahasa asing dalam percakapan di kapal.
  3. Bawa obat-obatan dan suplemen pribadi. Ini yang sempat luput dari persiapan saya dulu. Saya tak membawa satu pun obat, jamu atau suplemen dari Indonesia. Ternyata hal itu sangat penting, karena di kapal, jika anda merasa sakit atau tidak enak badan, prosedurnya cukup tidak nyaman. Jika anda merasa tidak enak badan, anda tidak bisa seenaknya berdiam di kabin dan tidak bekerja. Anda harus meminta ijin terlebih dahulu ke supervisor, lalu memeriksakan diri ke infirmary (klinik di kapal). Jika dokter mengatakan anda harus istirahat, maka baru anda bisa tidak bekerja. Jika dokter mengatakan ok-ok saja, ya berarti anda tetap harus bekerja walaupun anda merasa tidak sehat. Jadi, lebih baik jaga kesehatan saja. Obat-obatan di kapal, menurut saya dosisnya terlalu keras. Saya pernah sekali waktu mabuk laut karena waktu itu sedang musim angin kencang dan dek 9 tempat saya bekerja guncangannya sangat terasa. Pusingnya bukan main, perut pun mual. Malam harinya, saya minum tablet anti mabuk laut yang tersedia bebas di crew mess bersama aspirin dan kondom. Saya langsung tertidur pulas, bahkan bangun kesiangan. Memang badan terasa segar, tapi kepala bagian belakang terasa agak sakit seperti habis dihantam sesuatu. Obat-obatan untuk demam ringan atu masuk angin tidak tersedia di kapal. Rasanya berlebihan jika Cuma masuk angin minum aspirin. Tapi, jika dibiarkan tentu tak nyaman bekerja sambil badan meriang. Untungnya, beberapa teman saya membawa obat-obat dari Indonesia. Ada pula yang membawa tolak angin. Saya menganjurkan siapa pun untuk membawa obat-obatan lokal, karena obat lokal cocok bagi kita. Obat-obatan di luar cukup keras. Suplemen pribadi juga penting karena di kapal anda bekerja keras, bahkan mungkin juga bakal melampaui limit kemampuan fisik anda di Indonesia. Pilih lah yang biasa anda konsumsi. Suplemen juga tersedia di infirmary tapi lagi-lagi, anda belum tentu cocok.
  4. Perbanyak wawasan dengan mengikuti grup-grup pelaut di media sosial dan internet. Sebagai orang baru, kiranya perlu bagi anda untuk memperbanyak wawasan seluas-luasnya tentang bekerja di kapal pesir. Banyak grup-grup pelaut di media sosial maupun blog dan web yang membahas seputar dunia pelaut, khususnya kapal pesiar. Anda dapat bertanya-tanya langsung kepada mereka tentang teknis persiapan keberangkatan, dokumen yang diperlukan, tips-tips ketika tiba di bandara, dan sebagainya. Anggap saja sebagai ajang perkenalan awal dengan mereka yang telah malang melintang bekerja di kapal pesiar. Siapa tahu mungkin salah satu di antara mereka bakal menjadi rekan kerja anda.
  5. Membawa luggage yang ringkas dan ringan. Ini sangat penting sebagai persiapan akhir ketika hendak terbang. Jangan membawa terlalu banyak barang dan pakaian. Secukupny a saja. Di sana, sebagian besar waktu anda akan habis di tempat kerja, ya di atas kapal. Pakaian yang anda kenakan sebagian besar adalah seragam kerja. Jadi, tak usah bawa pakaian yang terlalu banyak. Justru, anda perlu mengosongkan kopor anda karena kelak anda akan membawa banyak barang bawaan dari sana sebagai oleh-oleh ketika anda nanti pulang ke Indonesia. Jika anda berniat untuk membawa beberapa komoditas dari Indonesia untuk dijual di atas kapal kepada sesam kru asal Indonesia, sah-sah saja. Tapi, jangan membawa terlalu banyak. Ada peraturan keimigrasian yang harus ditaati. Teman saya waktu itu pernah membawa rokok merk Indonesia sejumlahbeberapa slop. Padahal, ia tidak berniat untuk menjualnya, hanya untuk konsumsi pribadi. Namun, karena hal itu ia harus membongkar kopornya di kantor imigrasi bandara, menjawab beberapa pertanyaan dan membuatnya kehilangan waktu.
  6. Jangan mengumbar sebelum anda menjalani. Ingat, sekali anda memutuskan untuk bekerja di kapal pesiar, anda harsus menyadari konsekuensinya: bekerja jauh dari orang-orang yang anda sayangi untuk waktu yang lama, tekanan fisik dan mental yang cukup menantang, hingga rasa bosan. Banyak orang yang sukses melewati bulan-bulan pertamanya di kontrak tahun pertamanya di kapal pesiar, namun banyak pula yang berguguran di bulan-bulan pertamanya menginjakkan kaki di kapal pesiar. Lebih bijak jika anda tak perlu terlalu mengumbar niat anda bekerja di kapal pesiar sebelum anda menjalani dahulu pekerjaan itu di sana. Tak perlu sesumbar kepada orang-orang se desa atau sekampung bahwa anda akan bekerja di luar negeri. Jika itu anda lakukan, otomatis orang-orang bakal menaruh ekspektasi tinggi pada anda. Mereka bakal menunggu-nunggu kisah sukses anda mendulang dollar atau euro di negeri orang. Mereka tidak peduli betapa kerasnya anda membanting tulang, berpayah-payah bekerja di kapal pesiar. Mereka hanya tahu anda sukses, bekerja di kapal super mewah, menjelajahi samudra luas, dan jalan-jalan di berbagai kota di luar negeri. Fatalnya, jika seandainya anda ternyata gugur di bulan-bulan awal bekerja, anda kembali ke tanah air tanpa hasil, apa yang bakal dikatakan orang-orang itu? Pikirkan pula perasaan orang tua anda ketika mereka melihat anak yang dibangga-banggakannya kepada tetangga pulang ke rumah, meninggalkan medan perang lebih awal.
  7. Ingat ini: anda bekerja di kapal pesiar bukan untuk selamanya! Tanamkan kata-kata tersebut dalam benak anda sejak anda mulai bekerja di kapal pesiar. Jadi, jangan biarkan sikap anda negatif seolah-olah anda terkurung dan dikutuk untuk bekerja di kapal pesiar selamanya, dengan pekerjaan yang berat hingga uzur. Justru jadikan semangat bahwa anda tak ingin bekerja berat di kapal pesiar terlalu lama. Untuk itu, anda harus memiliki target kapan anda akan pensiun dari kapal dan memulai kerajaan bisnis anda dengan akumulasi modal hasil jerih payah bekerja di kapal. Jangan pula beranggapan bahwa masa keemasan anda memiliki penghasilan per bulan yang besar jika dibandingkan di Indonesia bakal berlangsung lama. Banyak pelaut yang terlena dengan kelebihan materinya. Selama bekerja di kapal, mereka royal sekali membelanjakan uangnya, bahkan menghabiskan simpanan tabungan mereka setiap vacation selama dua hingga tiga bulan di rumah. Lalu, apa hasilnya jerih payah selama bekerja di kapal pesiar bertahun-tahun? Jika seperti itu terus, lambat laun justru mereka takkan bisa lepas dari bekerja di kapal pesiar. Mereka harus membanting tulang hingga uzur untuk bisa bertahan hidup dan memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga mereka yang terlanjur dimanjakan oleh kiriman dolar tiap bulan.

Mungkin baru sedikit itu saja yang bisa saya bagi, karena saya sendiri pun belum punya banyak pengalaman bekerja di kapal pesiar. Saya baru bekerja selama satu kontrak (sekitar sepuluh bulan), dan pengalaman kontrak pertama bekerja di kapal pesiar itu sangat berkesan, ada suka dan dukanya. Jujur, baru pertama kali itu saya bisa mendapatkan penghasilan fantastis tiap bulan. Saya tak peduli ada yang bilang bahwa gaji sebesar itu termasuk gaji terendah menurut standar orang Amerika, yang jelas jika dikonversikan dalam rupiah, saya sudah berkecukupan. Banyak lebihnya malah. Namun, ya itu tadi, penghasilan besar juga menuntut tanggung jawab yang besar. Tak ada yang gratis.

Mereka mendatangkan para pekerja jauh-jauh dari Asia, Eropa Timur, hingga Amerika Latin tentu bukan tanpa alasan. Mereka ingin mendapatkan tenaga kerja kasar yang murah. So, jangan terlalu bangga dengan titel “bekerja di kapal pesiar” karena sejatinya anda adalah buruh kasar di mata para pemilik perusahaan pesiar yang super-super kaya itu. Menggaji anda beberapa ratus dolar per dua minggu itu bukan perkara yang luar biasa bagi mereka. Bersikap wajar saja, bekerja lah dengan baik, tak perlu pamer-pamer ke orang-orang di tanah air, dan jangan mudah menyerah.

From → tips

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: