Skip to content

Menerjemahkan Sepenggal Buku Anthony Bourdain

October 14, 2014

Yogyakarta, 14 Oktober 2014

 

Hari ini saya mencoba untuk menerjemahkan dua bab pertama buku Kitchen Confidential; Adventures in the Culinary Underbelly yang ditulis oleh seorang chef profesional sekaligus host program acara tv CNN’s Parts Unknown, Anthony Bourdain. Program tv itu sangat menarik menurut saya, karena membahas tentang sudut-sudut kota di berbagai penjuru dunia, mengkaji kekayaan budayanya tetapi dari sudut pandang kulinernya. Benar-benar menarik. Saya sering menonton tayangan itu ketika masih bekerja di kapal pesiar. Dalam satu episode misalnya, Anthony berkunjung ke Spanyol dan membicarakan berbagai hal, pertemuan budaya Eropa dan Asia, dan, menarikanya ia menggunakan kuliner Spanyol sebagai pintu masuknya. Di Timur Tengah juga sama. Bahkan, cara makan pun menggambarkan karakteristik masyarakat. Tayangan itu sempat memenangkan beberapa award, saya lupa. Salah satunya adalah best cinematography karena memang tayangan itu menyajikan gambar yang brilian! Seolah-olah kita menyaksikan sebuah film sekelas Hollywood, proses memasak makanan pun direkam secara detail hingga menggunakan kamera beresolusi sangat tinggi. Hasilnya, gambar-gambarnya terkesan dramatis. Adegan menggoreng di wajan ketika di-zoom dan di slow motion dengan sangat lambat namun tidak ada pixel yang pecah benar-benar memanjakan mata. Butir-butir kacang polong yang dilempar ke atas lalu berjatuhan di bawah pun terlihat sangat eksotis. Anthony Bourdain memang seorang seniman kuliner sejati. Ia membuat makanan tak hanya sekadar seseuatu yang disajikan di depan mata seseorang ketika ia lapar—seperti ketika mengisi bensin di SPBU (ini saya mengutip dari bukunya).

Rencananya, saya memang hanya akan menerjemahkan dua bab awal saja dari buku ini dan hendak saya jadikan contoh terjemahan dalam CV saya. Saya hendak melamar sebagai penerjemah freelance ke beberapa penerbit. Saya memang memiliki pengalaman menerjemahkan beberapa teks, meskipun belum pernah menerjemahkan satu buku utuh, namun dulu ketika saya sempat menimba ilmu di kampus UNJ jurusan bahasa Inggris yang saya tinggalkan itu, saya sudah sering mendapatkan order menerjemahkan diktat-diktat mahasiswa S2 yang rata-rata bersumber dari referensi berbahasa Inggris.

Kesulitan yang sering saya temu dalam menerjemahkan teks asing adalah kendala padanan kata yang kadang memang tidak ada. Beberapa penerjemah tidak mau repot dengan hal itu, mereka hanya mencetak miring istilah bahasa Inggris itu. Namun, saya selalu mencoba untuk sebisanya menemukan padanan yang tepat. Jika tidak tepat, ya setidaknya mendekati lah. Atau, setidaknya sesuai dengan konteks bahasa dan budaya masyarakat kita. Misalnya, dalam buku ini tadi, saya menemukan kata “first pussy” yang jika diterjemahkan secara harfiah tentu terlalu vulgar. Saya pun menggantinya dengan “pengalaman seksual pertama.” Di samping itu, susunan kalimat dalam bahasa Inggris sering terdiri dari kalimat induk yang memiliki beberapa anak kalimat. Jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia apa adaya seperti itu, tentu kalimatnya menjadi terlalu panjang dan bisa dibilang “tidak efektif.” Beberapa serapan asing juga kerap ditemui yang jika kita tidak benar-benar jeli untuk memahami konteks kalimatnya, tentu kita akan sulit menerjemahkannya. Buku ini pun demikian. Banyak kosakata-kosakata asing dalam bahasa Perancis seperti nama-nama jenis masakan. Untuk hal ini, saya akan mencetak miring saja, dan mencoba untuk mencari tahu maknanya lewat mbah Google.

Buku ini cukup menarik sebenarnya, mungkin saya tidak akan berhenti untuk membaca di dua bab pertama saja nanti. Mungkin. Hehe. Saya makin penasaran dengan bab-bab selanjutnya karena om Bourdain ini begitu jujur bercerita dalam bukunya. Ia menjanjikan bahwa bukunya ini tidak akan membeberkan kebaikan-kebaikan maupun keburukan-keburukan dunia bisnis kuliner secara hitam putih saja. Ia blak-blakan bahwa ia menulis buku ini dengan resiko karirnya di dunia kuliner selama dua puluh tahun lebih dapat hancur begitu saja namun ia juga dapat mendapatkan pujian bak selebriti. Ia hanya ingin membicarakan makanan dan segala hal yang berputar di sekelilingnya, sisi baik atau sisi buruknya. Ia hanya mengutarakan apa yang nyata benar-benar pernah disaksikannya di dapur-dapur tersembunyi hingga line terdepan.

Buku ini ditulis tahun 2000, dan saya mengenal om Bourdain dari tayangan Part’s Unknown yang tayang di CNN pada 2013. Jadi, jika tahun lalu saja ia malah mendapatkan “job” untuk berkeliling dunia, mengobrol dengan orang-orang dari latar belakang bahasa dan budaya yang berbeda pula, mencicipi masakan mereka, bahkan membahas karakter bangsa dan manusia yang beragam dan kaya dari sudut pandang kulinernya, rasa-rasanya buku ini tidak terlalu berdampak “negatif” pada karirnya.

Awalnya, saya mengira bahwa Om Bourdain ini hanyalah seorang analis CNN yang memiliki pengalaman luas meliput berita dan menulis kolom-kolom tentang kebudayaan di negara-negara ketiga seperti kebanyakan analis Barat lainnya. Dalam sebuah iklan tentang tayangan itu, saya menerka mungkin program tv itu tak akan berbeda jauh dari semacam acara tv di Indonesia seputar icip-icip maknyuss yang dulu dipopulerkan oleh Om Bondan Winarno.

Ternyata, tayangan om Bourdain ini jauh lebih kaya! Padat sekali muatan informasinya. Kita diajak menyelami kehidupan orang-orang di belahan dunia lain, melihat isi hati mereka dan pandangan mereka terhadap orang-orang di belahan dunia lain pula. Semua itu dibahas sambal menikmati hidangan yang dimasak oleh narasumbernya sendiri, dan disorot dengan kamera beresolusi super tinggi, disisipi informasi di setiap detail proses memasak. Keren abiss! Cara makan menggunakan sendok atau menggunakan tangan saja pun ternyata dapat memiliki makna budaya yang dalam.

Om Bourdain ini rupanya memang telah malang melintang di bisnis kuliner selama lebih dari dua puluh tahun. Ia merintis karirnya dari seorang pencuci piring, naik perlahan-lahan hingga akhirnya menjadi sous-chef dan akhirnya chef. Dalam bukunya ini, ia mengaku mulai menemukan sisi lain dari daya tarik masakan ketika liburan dengan kapal pesiar Queen Mary melintasi samudra Atlantik bersama keluarganya. Saat itu, ia baru kelas empat SD dan terheran-heran dengan sup dingin yang disajikan pelayan. Baru kali itu ia menikmati sup dingin tetapi rasanya creamy dan enak. “Vhycissoise,” begitu jawaban si pelayan ketika Bourdain muda menanyakan nama sup aneh tapi enak itu. Kata ajaib itu terus terngiang-ngiang di telinganya, mengikutinya kemana pun ia pergi bahkan ketika ia terbangun dari tidurnya. Sejak itu, ia sadar bahwa lidah manusia memiliki keistimewaan tersendiri. The power of tongue, begitu istilah yang ia pakai. Maka, sejak itu baginya makanan tidak hanya sekadar sesuatu yang disajikan untuk mengganjal lapar. Makanan, bagi om Bourdain, adalah karya seni.

From → catatan harian

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: