Skip to content

“Cah Klithih”

October 17, 2014

Yogyakarta, 15 Oktober 2014

 

Beberapa hari terakhir ini marak isu merajalelanya geng motor yang merasahkan warga Jogja. Nama gengnya RKS (Raden Kian Santang). Isu ini mulai muncul diawali dari tewasnya seorang remaja siswa SMK di Sleman beberapa waktu lalu. Ia meregang nyawa setelah sebelumnya dibacok oleh sekawanan orang bersepeda motor di daerah Sayegan, Sleman.

Setelah peristiwa itu, para netizen ramai membicarakan tentang jalanan Jogja yang rawan di malam hari. Mereka menyebut para gerombolan pengacau itu sebagai “cah klitih.” Sebagian besar anggota geng-geng motor pengacau ini adalah para remaja tanggung dan pengangguran. Sasaran mereka tentu saja para pengendara motor sendirian, terutama wanita.

Awalnya, saya percaya saja dengan isu tersebut. Bahkan, saya jadi tertarik mengikuti perkembangan berita tentang aparat polisi dan geng-geng motor yang inisiatif membentuk barisan patroli untuk memburu “cah klitih.” Tapi, makin lama saya merasakan info-info itu semakin melebar dan terlalu berlebihan. Banyak pula orang-orang yang menyebarkan foto-foto anggota RKS, disertai komentar-komentar sadis di bawahnya. Saya jadi berpikir, apa benar ini foto orang-orang yang bersalah? Bagaimana jika foto yang disebarkan itu adalah foto kita sendiri, atau foto orang-orang terdekat kita yang tanpa sebab yang jelas tahu-tahu disebarluaskan dalam sebuah forum yang isinya adalah penghakiman terhadap seseorang yang belum tentu bersalah?

Memang, atas peristiwa tewasnya pelajar di Sleman beberapa waktu lalu masyarakat berhak untuk “marah” namun bukan berarti marah secara membabi buta. Beberapa orang yang sebelumnya tak tahu menahu tentang masalah yang sebenarnya terjadi pun bahkan ikut berkomentar sadis dalam forum-forum yang saya ikuti. Secara santai, mereka bicara tentang hukuman-hukuman tersadis yang bakal mereka terapkan pada para anggota RKS atau anak-anak geng motor itu. Saya pun heran, Jogja yang dulu adem, ramah, dan nyaman kini jadi semakin rusuh dan kasar?

Hukum sudah ada. Sebaiknya kita serahkan perkara kejahatan kepada pihak yang berwenang. Ada pun inisiatif masyarakat yang dapat dilakukan adalah melaporkan informasi kepada aparat agar mereka dapat lancar bekerja. Saya kira tak perlu lagi ada sweeping seperti yang dilakukan oleh beberapa anggota klub motor 2 tak tempo hari. Justru, hal itu memicu terjadinya gesekan-gesekan antar elemen masyarakat.

Yang membuat saya makin tak terlalu menaruh respek pada isu tersebut adalah, bahwa banyak orang-orang yang justru membumbuinya. Seolah-olah Jogja berada dalam keadaan genting, sangat rawan dan tidak aman bagi siapa pun untuk keluar malam-malam. Ada seseorang yang kemarin menyebarkan isu bahwa seminggu ke depan bakal ada perang antar geng motor yang berseteru. Ini apa lagi? Kayak di Meksiko saja ada perang antar kartel. Masih mending kalau perang antar kartel itu karena demi mempertahankan wilayah kekuasaan mereka karena itu berpengaruh pada perekonomian. Bisnis haram narkoba di Meksiko bernilai milyaran dolar. Lha ini perang antar geng motor apa faedahnya? Berebut wilayah? Wilayah apa? Kok saya menganggapnya konyol.

From → catatan harian

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: