Skip to content

Fragmen

October 17, 2014

 Fragmen 1. Di gedung teater mungil

Kau menguap bosan, padahal siang tadi kau bersemangat dengan festival film Rusia ini. Kau bilang Kavkazskiy Plennik bukanlah film yang mengejutkan. Mengejutkan? Hmm, aku sedikit gusar dengan istilah itu.

“Sinematografinya lumayan,” katamu. “Tapi plotnya kurang greget dan adegan peperangan di awal-awal terlihat seperti pekerjaan amatiran,” tambahmu.

Di pertengahan film, kau tertidur. “Gedung itu terlalu dingin dan gelap,” dalihmu. Kau terbangun dan mengomel ketika aku lupa membangunkanmu dalam adegan Vania dipaksa menghadapi petarung Chechnya berbadan besar. Kau mengagumi Vladimir Klitschko, aku tahu itu, dan terobsesi dengan raksasa Kaukasoid berwajah sketsa.

Kau melenguh waktu Vania batal ditembak mati. Entah, apa maksud lenguhanmu itu. Kaukasus, di kiri-kanan pegunungan menjulang diselimuti kabut. Setahuku, lokasi syuting itu berada di Dagestan.

“Bagaimana pendapatmu?,” tanyamu.

Aku diam saja. Dalam hati aku berkata, Sergei Bodrov jenius!

“Aku ngantuk sekali,” lagi-lagi kantukmu datang di waktu yang salah.

Kau bahkan tidak mempertanyakan alasanku untuk diam. Wajah imut Susanna Mekhralieva masih menari di mataku. Kau berjalan di depanku, terhuyung-huyung menuju pintu keluar.

“Sepatuku mana?,” teriakmu panik.

Kurasa matamu masih kaget dengan kontras cahaya di luar gedung. Langit memang terang benderang dibandingkan ruangan gelap dan suram itu.

“Sepatuku, sepatuku, mana sepatuku?”

Aku merasa de ja vu, dan hanya bisa mematung.

“Sepatuku mana?”

Tawanan pegunungan? Hmm, sepertinya aku mulai mengerti makna kesepian yang dirasakan Vania.

“OK, ayo kita pulang!” katamu enteng sambil menyungging senyum setelah menyadari kekonyolanmu sendiri dengan menyimpan sepatumu di balik sebuah pot bunga.

Fragmen 2. Di kedai fastfood

Kau menggerutu. Aku tanya kenapa namun kau hanya bergeming kecil. Aku bungkam. Dan kau tak mau menerima suapanku. Aku penasaran, kau cuma melengos.

“Sebenarnya aku cuma mau french fries, aku malas makan fried chicken.”

Aku beranjak ke meja kasir dengan koreksi pesananmu, namun kau malah berdiri lalu menarik tanganku keluar dari ruangan cerah itu. Hmm, kau mungkin tak lapar, tapi perutku sudah sekarat.

Orange juice-ku! Sori, aku mau habiskan orange juice-ku dulu!”

Aku memesan pepsi biru hanya untuk menemanimu minum. Cepat kutenggak habis cairan yang memanaskan lambungku itu. Ternyata kau masih berjuang menandaskan jusmu. Urat lehermu berdenyut, hijau pudar berpadu dengan terang kulitmu.

Akh, ingin kusayat tipis lehermu hingga kurengkuh indah urat-uratmu…

“Ups, rasanya aku juga ingin minum strawberry punch,” katamu seketika usai menandaskan orange juice-mu.

Segera aku ke meja kasir dan memesankannya.

Fragmen 3. Di atas menara 

Aku  hanya belum terbiasa dengan ketinggian. Tak lebih. Semua orang juga pernah merasakannya. Yang perlu kulakukan hanyalah berusaha merasa nyaman.

“Apa yang harus kubuktikan? Nggak ada yang salah denganku.”

“Tidak!” Katamu. “Kau ini penderita akut akrofobia!,” lagi-lagi vonis kejammu menikamku.

Dan kakiku gemetar begitu menatap cakrawala di ujung utara. Aku cuma sedikit bermasalah dengan ketinggian. Tak perlu didramatisasi!

Tapi kau ngotot bahwa aku punya akrofobia. Di bawah nampak garis-garis saling silang dan tumpang tindih. Di ketinggian ini cuma angin yang berbisik. Matahari menyengat lebih sadis. Sepertinya dugaanmu salah. Orang kebanyakan juga pasti merasa takut di ketinggian seperti ini.

Kau melangkah. Ke tepian menara, dan makin ke tepi. Aku terkencing-kencing. Kau menyiksaku dengan tawamu.

“C’mon Jack, I’m your Rose,” aku merasa kau mengucapkan itu namun sepertinya hanya khayalanku saja.

Aku tak berani menatapmu. Apalagi menyusulmu. Di tepian itu terlalu banyak bisikan yang menyuruhku untuk terjun. Bukan, ini bukan haluan kapal pesiar mewah yang akan terbangkanmu seperti burung. I’m not your Jack!

Fly me away Jack.

            Aku bersimpuh. Memohonmu kembali ke tengah. Bagaimana bila mendadak terjadi gempa, lalu kau hilang keseimbangan, lalu…… Oh, aku tak berani membayangkannya.

Durden ada di depanku. Mukanya berlumuran darah. I want your words, Lou!, katanya.Kepalaku pening. Say your words!  Ia menciprat-cipratkan darahnya ke wajahku sambil tertawa geli. Lalu, aku muntah.

“Benar kan apa yang aku bilang? Kau punya akrofobia! Bahkan kau muntah-muntah sekarang. Ya, kita turun sekarang,” katamu penuh kemenangan.

Aku mengangguk kalah. Kau tersenyum, lalu berlari kecil ke arahku. Memelukku dan mengusap-usap kepalaku.

“Minggu depan aku akan bermain paralayang!”

Dan aku akan terjun bebas dari menara 101 Taipei kalau perlu!

 

Fragmen 4. Di apartemen

Setoples biskuit keju ludes olehmu. Aku menahan kesal. Kau mondar-mandir di dekat jendela, lalu dalam satu kesempatan jendela itu kau buka lebar-lebar. Aku sendiri tak pernah membukanya selebar itu.

Kau tersenyum sendiri, lalu berdendang. Namun, tak lama kemudian kau berhenti bernyanyi dan hanya mendengung samar. Padahal aku masih ingin mencuri dengar nyanyianmu. Tumpukan buku di rak membuat matamu liar bergerilya. Jarimu berhenti di biografi Joan D’Arc. Hmm, selera yang bagus kupikir.

“Apa yang sedang kau kerjakan?”

Pertanyaan itu seolah mengulitiku. Aku tidak sedang mengerjakan apa-apa. Sebenarnya, pagi ini aku baru akan memutuskan ingin mengerjakan apa. Aku bingung menjawab pertanyaanmu. Akh, seandainya tak perlu ada dialog!

Seperti lusa-lusa kemarin, kau tak pernah serius dengan tiap pertanyaanmu. Aku biarkan jawabanku menggantung, dan kau malah larut dalam penyucian Santa Joan yang melebur dalam tiga api.

“Ckckck, umurnya baru 19 tahun!”

“Kisah para martir memang tak jauh dari api,” kataku. “Ibrahim rela dibakar di alun-alun kota demi tegaknya akidah. Shinta terjun ke jilatan api demi pembuktian kesuciannya pada Rama.”

“Maksudmu, seperti halnya Muhammed Bouazizi? Dia juga membakar diri lho.”

“Ya, kurang lebih begitu,” jawabku sekenanya, mulutmu terus mengunyah biskuit-biskuit itu sambil membolak-balik buku.

Aku meraih toples kosong itu dan melemparnya ke tong sampah. Bunyinya sedikit nyaring hingga membuatmu terkejut. Namun, kau merasa tak perlu menanyakan bunyi nyaring kaleng kosong itu. Kau kembali sibuk menziarahi buku-buku di rak itu. Tak ada lagi buku yang kau ambil. Kau hanya membaca-baca judul-judulnya saja. Jarimu berhenti sebentar di Norwegian Wood, namun tanganmu enggan menariknya keluar dari rak.

“Bukankah Norwegian Wood itu judul sebuah lagu?”

“Ya. The Beatles.”

Kau melepas blazermu, lalu rebah di kasur. Cuma na na na saja yang terdengar dari mulutmu sejak nyanyianmu tak tuntas tadi. Rambutmu panjang tergerai. Beberapa helainya sentuh bibirmu. Akh, aku gundah menafsirkan dirimu!

Air Sunyi! Akan kuikat tambang di kedua tanganmu, lalu menambatkannya di ranjang. Akan kujilbabi kepalamu dan kucari wajah ibu disana. Kau gigit jariku putus hingga aku kehilangan huruf “R” di novelku.

“Lapar nih, biskuit kejunya masih ada lagi nggak?”

Aku mengeluarkan sekotak biskuit keju terakhir dari kulkas. Persediaan terakhirku untuk malam-malam tanpa kantuk berikutnya.

“Biskuit ini penuh lemak!”

“Aku nggak akan makan nasi malam ini,” jelasmu.

Fragmen 5. Di Pusat Budaya Perancis

Jean Cocteau membuat otakku ngilu. Sekali lagi kulirik pamflet mungil jadwal pemutaran film. Tertera judul Le Sang d’Un Poete. Ada bisikan, Sudah, keluar saja! Film aneh ditonton! Tapi, suara lain berbisik, Ayolah. Tak ada salahnya sekali-kali nonton film ganjil seperti ini! Namanya juga surealis! Dan aku memutuskan untuk tetap tinggal.  

Lelaki berwajah mafioso itu meluncur dari satu pintu ke pintu lainnya. Di lubang kunci, ia mengintip potongan-potongan kisah yang tak beraturan dan tak berkaitan setelah sebelumnya tersedot ke dalam cermin besar dari dunia nyata. Lelaki itu terlihat kepayahan meninggalkan satu pintu ke pintu lainnya. Hmm, pintu-pintu dan cermin. Apa maksudnya?

Selesai. Ruangan itu kembali terang. Rupanya hanya ada satu penonton lain yang duduk di belakangku. Seorang perempuan berwajah aktivis LSM. Aku melempar senyum kepadanya, dan bermaksud untuk minta pendapatnya tentang film itu. Namun, ia buru-buru keluar dari ruangan itu. Aku masih terduduk di kursiku. Mencoba membayangkanmu.

 

Fragmen 6. Di Plenary Hall

Aku mengira kau akan segera jenuh. Ternyata, perkiraanku salah. Kau malah makin larut dalam buaian Haiku. Aku merasa kecolongan. Bukankah seharusnya aku yang larut di sini?

“Sosok yang menarik,” komentarmu pendek. Ya, untuk seorang pria yang menghabiskan dua tahun hidupnya dengan berjalan kaki sejauh 2.000 km, menyendiri di gubuk, berteman dengan pohon pisang, dan menemukan momen estetik dari katak yang melompat ke dalam air, Basho memang menarik.

“Hmm, pohon pisang. Aku merindukan naungan daun pisang.”

Kata-katamu itu membuatku gelisah. Pohon apa aku ini baginya? Apa aku punya dedaunan pohon pisang yang bisa menaunginya dari hujan dan panas? Atau, cuma sebatang pinus yang kokoh namun daun-daun rampingnya tak menawarkan rasa aman?

Fragmen 7. Di atas bukit

            Rimbun dedaunan teh menghijau seperti karpet. Curam, tapi nampak anggun dari puncak bukit ini.

“Hey, bagiamana penampilanku? Cantik kan?”

Kau berpose di depanku dengan sederet pakaian dan peralatan aneh itu.

Aku suka sepatumu. Mirip sepatu hiking yang dulu kuidamkan di masa sekolah. Tapi, helm itu nampaknya malah memperburuk wajah ovalmu. Lesung di pipimu, akh, dari dulu aku suka.  

“Terima kasih.”

Padahal aku belum mengatakan apa-apa.

Kau sumringah waktu aku memperlihatkan mimik kekagumanku, kacamata Dodge & Gabbana lebar itu pas sekali dengan parasmu. Lalu, kau berpaling kepada instrukturmu. Tapi, hei, kenapa instruktur itu harus ganteng? Dan, sedikit berotot lagi! Dan…..akh, aku menangkap jejak Kaukasoid di wajah sketsanya.

Fragmen 8. Di kafe buku

Gorky mencanduiku. Cuaca yang dingin bersalju, jaket kulit tebal dan kepulan asap dari samovar. Mereka anak-anak muda yang merindukan perubahan. Dan, perempuan renta itu menyerap energi mereka.

“Hai, sudah lama ya?”

Hadirmu kadang membuatku membeku. Bahkan, mungkin aku sudah lama membeku sejak prolog buku ini kubaca tadi.

“Jadi?” Tanyaku pendek. Aku merasa konyol, seperti binatang menjijikkan di bawah ambin. Akh, Gregor Semsa-nya Kafka. Ya, aku tengah menjelma menjadi Gregor Semsa.

“Maafkan aku ris. Aku letih dengan semua ini.”

Seisi ruangan serasa menyempit. Gerombolan mahasiswa tahun pertama duduk di sudut ruangan, memainkan jemari mereka di laptop. Ternyata ada fasilitas wi-fi. Hmm, jadi kafe buku memang bukan sekadar toko buku ya? Inovasi pemasaran yang menarik!

“Kau terlalu susah untuk kumengerti.”

Apakah aku selalu menuntutnya untuk mengerti apa pun tentangku? Sepertinya aku ingin meledakkan tawa geliku.

“Aku suka terbang ris. Aku selalu ingin melihat hamparan daun teh dari langit.”

Mataku menerawang jauh. Aku tak tahu apa yang ada di benakku sendiri. Aku mencoba mendengarkan kata-katanya lagi, namun malah terpaku pada Gorky di tanganku. Apa Gorky memang teman dekat Chekhov? Seingatku, ada sebuah foto mereka berdua di Yalta, Ukraina. Dan keduanya tersenyum seperti sepasang karib.

“Besok aku akan terbang solo. Perdana.”

“Apa kau yakin?” Mendadak aku perlu mempertanyakannya.

“Aku sudah lusinan kali terbang tandem. Dan kini saatnya aku memulai debutku. Nanti, akan kuterbangkan orang-orang yang bermimpi terbang.”

“Instrukturmu itu, siapa namanya?”

“Sudah kubilang ini tak ada kaitannya dengannya.”

“Ya, aku tahu. Aku cuma mudah lupa saja dengan nama. Siapa namanya?”

“Robert. Dan aku tak mau berdebat lagi denganmu tentangnya.”

Kau diam sejenak. Ternyata kecantikanmu makin nyata ketika kau terdiam.

“Cukup ris, aku bosan dengan jejak kaukasoid-lah, muka sketsa-lah, atau badan macho-lah. Dia nggak salah ris, aku yang salah, aku yang…..”, kata-katamu menggantung seperti biasa.

“Pokoknya aku nggak mau dengar kau bicara tentangnya lagi,” katamu kesal.

“Tidak, hari ini aku tidak berminat untuk membicarakan dia.”

“Kalau begitu, boleh aku duduk di sebelahmu?”

“Silakan.”

Sunyi.

“Kau terlalu susah untuk kumengerti, ris. Kau…..dan buku-bukumu, dan film-film aneh itu.”

“Kau tahu apa pekerjaanku kan?”

“Iya aku tahu kau seorang kritikus film dan buku, tapi…..”

“Tapi apa?”

“Aku cuma tak bisa mengenalmu, ris. Kau terlalu egois, kau hidup di duniamu sendiri!”     “Hidup di duniaku sendiri?” Lagi-lagi ada jeda yang sunyi. Dan, aku muak telah menikmati kesunyian itu diam-diam.

“Lalu…..kau…..apa aku tak bisa menuduhmu egois juga?”

“Aku tahu aku memang egois, ris.”

“Nah!”

“Tapi kau terlampau asing bagiku. Selama ini aku tak bisa mengenalmu.”

Kau terdiam. Pandanganmu menatap jauh entah kemana, lalu terhenti lama di Ibunda yang ada di tanganku.

“ris, apa kau tertarik dengan Gorky?”

“Lumayan.”

“Bagaimana dengan Chekhov?”

“Ibarat paralayang bagimu.”

Rawamangun, Oktober-November 2008, Juni 2011 

Keterangan:

Kavkazskiy Plennik (Prisoner of The Mountains, 1996): Film yang disutradarai oleh Sergei Bodrov Sr. yang diadaptasi dari novel Leo Tolstoy, Prisoner of The Caucassus 

 Vania: Nama panggilan Ivan Zhilin, karakter dalam Kavkazskiy Plennik yang diperankan oleh mendiang Sergei Bodrov Jr.

 Susanna Mekhralieva : Gadis Dagestan berusia 13 tahun yang memerankan karakter Dina dalam Kavkazskiy Plennik.

 Vladimir Klitschko : Juara dunia tinju kelas berat asal Ukraina yang berbadan tinggi besar, adik kandung dari juara dunia Vitali Klitschko.

Akrofobia     : Fobia ketinggian.

 Jack dan Rose: Sepasang kekasih dalam film Titanic (1997) yang diperankan oleh Leonardo Di Caprio dan Kate Winslett.

Tyler Durden   : Karakter dalam film Fight Club (1999) yang diperankan oleh Brad Pitt, yang merupakan sosok imajinatif si narator (Edward Norton)

Joan D’Arc (1412 – 1431) : Pahlawan perempuan Prancis yang sempat memimpin pasukan dan mengalahkan Inggris pada usia 18 tahun. Ia dihukum bakar pada usia 19 tahun oleh otoritas gereja karena dianggap menyebarkan ajaran sesat.

Muhammed Bouazizi: Pedagang sayuran di Tunisia yang melakukan aksi bakar diri sebagai protes atas penyitaan barang dagangannya dan memicu revolusi di Tunisia dan Timur Tengah.

 

Norwegian Wood: Novel karya Haruki Murakami yang pertama kali terbit pada 1987, menggambarkan kaum muda modern Jepang di era 60-an dengan latar belakang seks bebas, musik pop, minuman keras dan absurditas hidup.

 Air Sunyi: Karakter yang diperankan oleh Lola Amaria dalam film “Novel Tanpa Huruf R” yang dirilis pada 2003.

 Jean Cocteau (1889-1963): Penyair, novelis, penulis drama, pelukis, esais, pembuat film, promotor tinju asal Prancis yang disebut-sebut sebagai avant-garde aliran surelisme dalam film.

 Le Sang d’Un Poete (Blood of The Poet, 1930): Film garapan Cocteau yang pertama kali mengeksplorasi sisi surealisme dengan menampilkan simbol-simbol darah (penderitaan), cermin (narsisisme), pintu (hubungan antar dunia).

Haiku: Bentuk puisi kuno Jepang yang terdiri dari tiga baris.

Matsuo Basho (1644-1694): Penyair Jepang yang pertama kali mengenalkan Haiku. Nama Basho diperoleh setelah dia tinggal di gubuk yang bersebelahan dengan pohon pisang (basho).

Samovar: Ketel khas Rusia, biasanya untuk menampung air panas.

Maxim Gorky(1868–1936): Sastrawan Rusia yang menulis novel “Ibunda” yang disebut-sebut sebagai gambaran terbaik pergerakan buruh.

Gregor Semsa: Karakter dalam novel Metamorfosis (Verwandlung) karya pengarang Ceko, Franz Kafka (1883-1924).

 Anton Pavlovich Chekhov (1860-1904): Raja cerita pendek Rusia yang biasa menulis cerita-cerita satir tentang gambaran rakyat jelata Rusia dan kadang terkesan lucu.

From → cerpen

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: