Skip to content

Perempuan dengan Boneka Spongebob

October 17, 2014

Tangannya masih belepotan darah. Ia sulut sebatang rokok mild, lalu mengisapnya dalam-dalam. Dengan gusar, ia nyalakan lagi televisi itu. Spongebob dan Patrick tengah mengejar ubur-ubur. Permainan yang konyol, pikirnya. Perempuan itu tertawa cekikikan.

Spongebob dan Patrick mulai tertawa-tawa. Semakin keras dan keras. Perempuan itu mulai gelisah. Spongebob tak juga berhenti tertawa. Khas, melengking dan panjang. Keringat biji jagung meleleh dari dahinya, membasahi mukanya yang terlipat. Darah kering di tangannya basah oleh peluh.

Ia amati karakter kartun kesukaan anaknya itu. Bentuknya kotak, badannya lentur, hidungnya panjang, penuh lubang di sekujur tubuhnya, dan kuning. Ya, kuning yang mengingatkannya pada sepotong senja berlabur tangis silam.

Ia matikan televisi lalu merintih. Mayat bocah di lantai itu masih hangat.

***

Lelaki berkumis baplang itu sekonyong-konyong menampar pipi perempuan itu.

“Perempuan tak berguna! Apa saja kerjamu? Mengurus anak saja tak becus!”

“Anak kita mati, mas….”

“Semua juga tahu anak kita mati! Dan itu semua karena ketidakbecusanmu. Besok aku akan mengurus perceraian kita.”

Dan rentetan kehilangan itu beruntun menabraknya. Sebulan setelah anaknya mati, suaminya pun meninggalkannya. Suami yang sesungguhnya ia harapkan sebagai sosok terakhir yang memeluknya, menenangkannya, dan mengusap tangisnya ketika segalanya terasa musnah.

Selama ini, lelaki berbadan tegap berbulu dada itu terlalu sering meninggalkannya. Ke timur menuju Tuban, Surabaya, Pasuruan, Probolinggo dan Banyuwangi. Ke barat menuju Rembang, Pati, Kudus, Demak, Semarang, Pekalongan, Tegal, Cirebon, Bekasi, Jakarta, Tangerang, Cilegon, dan kota-kota pesisir utara lainnya yang tak pernah sekalipun mampu perempuan itu bayangkan. Seumur-umur, perempuan itu hanya mengenal Lasem, kota kecil kelahirannya. Mengantar sapi Bali, begitu jawaban suaminya ketika perempuan itu bertanya perihal pekerjaan suaminya yang mengharuskannya menghilang berhari-hari.

Sebulan yang silam, perempuan itu bersimbah tangis dan peluh memeluk mayat anaknya.

“Sudah lah, bu, anak ibu sudah meninggal. Relakan dia bu,” kata dokter.

“Tolong selamatkan dia dok.”

“Maaf bu, kami sudah berusaha, namun Allah berkehendak lain.”

Boneka Spongebob masih di pelukan Menuk, bocah mungil itu. Lubang-lubang di boneka itu serupa dengan lubang-lubang di tubuh Menuk. Cacar. Penyakit ini sebenarnya tidak lagi masuk kategori membahayakan semenjak Edward Jenner menerapkan teknik vaksinasi cacar sapi di tubuh manusia pada 1796. Namun, seringan apa pun penyakit, apalagi di masa balita, bila tak ditangani serius dampaknya fatal.

Dan itulah yang kini disesali perempuan muda itu. Ia mengutuki dirinya yang dulu enggan menyerahkan bayinya untuk mendapatkan suntik cacar. Baginya, kulit rapuh bayinya tak boleh ternoda oleh jarum suntik yang menyeramkan. Namun, dalam penyesalannya itu pula muncul wajah suaminya. Ya, lelaki itu tak ada di sampingnya ketika anaknya sekarat. Pun jauh-jauh hari sebelum itu, lelaki yang menanam benih di rahimnya itu telah lama menghilang.

Anaknya meninggal di sepotong senja yang kuning, sekuning Spongebob. Ia masih ingat beberapa hari sebelumnya ketika anaknya tertawa riang menonton karakter kartun kesukaannya itu di televisi sambil menahan gatal dan sakit dari koreng di sekujur tubuhnya. Usianya belum genap dua tahun dan itu adalah masa lucu-lucunya seorang anak.

***

“Apa alasan bapak menceraikan istri bapak?”

“Istri saya tidak becus mengurus anaknya sendiri pak. Anak kami meninggal seminggu yang lalu karena cacar. Saya takut itu akan menimpa anak saya berikutnya pak. Mohon dipertimbangkan.”

“Begitu ya pak? Nah, sekarang saya akan bertanya pada ibu, bagaimana bu, apakah ibu menerima alasan dari suami ibu? Apakah ibu benar-benar tidak mengurus anak ibu dengan becus?”

Perempuan itu membisu. Ia hanya menatap lurus ke depan, ke arah hakim, namun matanya menerawang entah ke mana. Tangan kanannya masih mengelus lembut boneka Spongebob kusam di pangkuannya.

“Nah, lihat kan pak? Istri saya malah sudah gila. Kerjaannya sekarang hanyalah mengelus-elus boneka sial itu! Tak mungkin saya bertahan dengan orang gila!”

Suasana hening. Hakim hendak membacakan keputusan sidang perceraian itu ketika sekonyong-konyong perempuan dengan boneka Spongebob itu sekonyong-konyong mengangkat kursinya tinggi-tinggi. Dalam hitungan detik ia memukulkannya kepada suaminya berkali-kali. Suaminya tak sempat mengelak. Hantaman pertama mendarat di hidungnya, membuat tulang rawannya koyak, darah mengucur bagai air kran. Hantaman kedua merobek pelipisnya. Namun, bukan pengembara Pantura yang tangguh namanya jika ia langsung roboh. Hantaman ketiga mampu ia tangkis. Dengan cara laki-laki, ia tendang perempuan itu sekuat tenaga hingga terjengkang, membentur lantai dan pingsan.

“Lihat sendiri kan? Saya tak mungkin hidup dengan perempuan gila macam dia. Bisa mati saya!” teriak lelaki itu sambil tersedak-sedak oleh darah yang terus mengucur dari hidungnya yang ringsek dan pelipisnya yang coak.

***

“Mas, kamu mau pergi lagi?” tanya perempuan itu pada suaminya suatu malam.

“Iya, dik. Hari raya kurban sebentar lagi tiba jadi banyak pesanan.”

“Ke Banyuwangi lagi, Mas?”

Laki-laki itu menatap istrinya lekat seraya mengancingkan bajunya. Perempuan, sehijau apapun, pasti memiliki naluri cemburu yang kuat, begitu nasihat Cak Kardi suatu hari yang lalu. Dan kini, ia membuktikannya sendiri.

“Iyalah dik. Di Banyuwangi lah biasanya aku menunggu sapi-sapi dari Bali turun dari kapal. Lalu kuangkut di truk menuju kota-kota pesisir pantura. Bukankah aku sudah menjelaskannya berkali-kali?”

“Iya, mas. Tapi kau tak pernah bercerita tentang kegiatanmu selagi menunggu sapi-sapi itu?”

Darah tersasa berdesir cepat di kepala lelaki itu. Akh, ia baru-baru saja mencicipi hasrat kelelakiannya di Banyuwangi, mengapa pula perempuan muda yang seumur hidupnya tak pernah keluar dari kota kelahirannya sendiri ini bisa mencium amis dosanya? Sedangkan Cak Kardi, Cak Sukri, Mas Marto, Kang Bahar dan yang lainnya yang telah lama akrab dengan perempuan-perempuan Banyuwangi itu tak pernah sekalipun dicurigai oleh istrinya.

“Maksudmu? Ya aku biasanya berkumpul dengan Cak Kardi dan yang lain, ngrokok, ngopi di warung. Kadang kami main gaple.”

“Lalu, kenapa Yu Peni bilang di Banyuwangi banyak kembang-kembang wangi?”

“Hah? Jadi kamu sudah teracuni sama si Peni peyot itu? Dia itu hanya kesepian karena suaminya sudah lama tak menyentuhnya!”

“Iya, itu karena kembang-kembang wangi itu kan? Nanti mas juga bakal seperti itu.”

“Enggak, istriku sayang. Kau tentu jauh berbeda lah dengan si Peni. Peni itu tidak mau merawat tubuhnya. Lihat saja, badannya gembrot, mukanya peyot sedangkan kau cantik.”

“Ah, lelaki memang begitu. Kalau istrinya sudah gembrot dan peyot pasti ditinggalkan!”

“Aku tidak seperti itu, dik.”

“Janji?”

“Janji.” Hati lelaki itu agak teriris sebenarnya. Ia telah mengingkari janji itu, bahkan sebelum janjinya terucap.

Keduanya berpelukan. Berciuman mesra. Lalu mereka menatap sosok mungil yang tertidur lelap di kasur. Buah hati mereka yang telah menghadirkan keramaian di tengah rumah kecil yang sunyi itu.

“Mas, Menuk minta dibelikan boneka Spongebob.”

“Ya sudah belikan. Ada uang di lemari. Belikan yang paling besar dan paling mahal.”

Begitulah perempuan itu menjalani bahtera pernikahannya dengan seorang lelaki yang menghabiskan banyak waktunya di jalanan pesisir utara. Beberapa hari bertemu, lalu beberapa hari berpisah. Awalnya, perempuan itu menjalani hari-hari sepinya dengan biasa. Apalagi, ketika Menuk, buah hati mereka lahir. Perempuan itu serasa menemukan penawar dari sunyi yang menggerogoti harinya.

Namun keteguhan itu rontok beberapa waktu yang lalu. Tepatnya, ketika teman-temannya sesama istri supir-supir truk menggunjingkan perilaku suami-suami mereka. Perempuan-perempuan yang lebih tua menasihati para perempuan yang lebih muda agar tak terlalu mempercayai suami-suaminya. Apalagi, jika suami-suami mereka lebih betah menunggui sapi di Banyuwangi daripada menggumuli istrinya.

“Hahaha, sapi? Sapi bergincu barangkali yang bisa membuat suamimu lebih betah di jalanan daripada di rumahmu.”

“Ah, Yu Peni bisa saja nih. Jangan bikin kami ketar-ketir dong Yu. Mas Darno nggak mungkin kayak gitu.”

“Iya, Yu. Jangan sembarangan bicara. Kang Gino juga nggak mungkin. Lha wong shalatnya saja rajin.”

Yu Peni tertawa sinis. Diiringi tawa cempreng Yu Sari, istri supir truk lainnya yang sebaya dengannya.

“Dulu aku juga berpikir begitu, sama seperti kalian. Aku percaya betul dengan suamiku itu, si Marto. Namun, suatu hari akhirnya ia mengakui sendiri bahwa dia sering main perempuan di Banyuwangi. Sudah tiga tahun dia tak pernah menyentuhku lagi. Ya, dia lebih betah dengan sapi-sapi bergincunya.”

Perempuan itu, perempuan yang sejak tadi kita bicarakan dalam cerita ini, hanya membisu. Ia kaget dengan percakapan para istri supir truk itu. Buru-buru ia hendak pulang ke rumah dengan perasaan tak karuan. Menuk merengek-rengek meminta boneka Spongebob yang telah sedari tadi perempuan itu janjikan. Ia menghentikan langkahnya. Hampir saja ia menyeret-nyeret langkah kecil anaknya.

“Iya, ayo nak, kita beli boneka Spongebob yang paling mahal dan yang paling besar.”

***

Lelaki itu menyulut kembali kreteknya. Angin laut berembus ganas. Cuaca sedang buruk rupanya. Kapal-kapal pengangkut sapi itu belum juga terlihat. Dingin menyeruak meskipun jaket kulit telah membungkus tubuh tegapnya. Asap rokok melingkar-lingkar sesaat di atas kumis baplangnya, lalu sirna seketika oleh angin.

Kedai-kedai kopi itu masih juga remang, menggelitiki hatinya yang gamang. Cak Kardi dan supir-supir lainnya sudah sejak sore tadi mangkal di kedai-kedai itu, mengusir bosan dan penat setelah perjalanan jauh. Sapi-sapi bergincu menunggu kita, seloroh Cak Kardi sambil beranjak menuju kedai-kedai yang selalu remang itu.

Ketika tak ada lagi batang rokok yang bisa dibakar, lelaki itu akhirnya mengikuti kakinya menuju kedai kopi. Udara makin dingin, namun dada lelaki itu membara. Ia memesan nasi goreng dan kopi hitam kental. Akh, sapi bergincu, lelaki itu geli sendiri. Menjelang tengah malam, ketika jendela-jendela kedai mulai ditutup dan kopi telah lama tandas, lelaki itu berdiri mematung. Walaupun awalnya ragu, dengan spontan ia menggamit lengan perempuan muda yang sudah sedari tadi berdiri di mulut bilik bambu. Keduanya masuk ke bilik itu. Ombak masih tinggi, dan sapi-sapi belum datang.

***

Spongebob dan Patrick mengejar ubur-ubur. Permainan yang konyol, pikir perempuan muda itu. Menuk, buah hatinya yang menggemaskan itu, tertawa terpingkal-pingkal. Spongebob tertawa keras. Khas, melengking dan panjang. Menuk mencoba menirukan tawa Spongebob. Perempuan itu pun tertawa geli. Dibenamkannya boneka Spongebob yang paling mahal dan paling besar di pasar itu ke tubuh anaknya.

Seandainya tak ada tawa Spongebob dan tingkah lucu Menuk, tentulah perempuan itu meranggas oleh sunyi. Lelakinya, yang berkumis baplang itu, belum juga kembali. Mungkin sapi-sapi memang sedang ramai, begitu benaknya menerka-nerka. Namun, lubang-lubang di tubuh Spongebob telah berpindah ke dada perempuan itu. Begitu Menuk tertidur pulas di dekapannya, bulir-bulir air mata pun meleleh, mengalir menuju lubang-lubang di dadanya.

***

“Sudah kubilang, jangan kau tuduh aku macam-macam!”

“Mas, kalau kamu tidak macam-macam, kenapa mas begitu marah begitu aku ungkit soal perempuan-perempuan Banyuwangi?”

“Kau makin lama makin menjengkelkan!”

“Iya, aku memang menjengkelkan mas. Akui saja aku tak lagi di hatimu mas! Akui itu!”

“Kau ini kenapa sih?”

“Mas, kau main perempuan di Banyuwangi kan? Jujur saja, aku takkan marah. Aku hanya ingin kamu jujur!”

Lelaki itu menatap nanar istrinya. Ketika istrinya hendak bicara lagi, tangan kekar lelaki itu telah mendarat di bibir si perempuan, bibir merekah yang dulu begitu digilainya. Namun, bibir itu kini bagai bisa ular yang terus mengancamnya. Satu tamparan, dan tamparan lain berikutnya menyusul. Lelaki itu meninggalkan rumahnya hari itu juga, hari dimana ia baru saja pulang dari petualangan panjangnya. Perempuan itu menangis. Menuk terbangun, lalu memeluk perempuan itu dan ikut menangis. Terdengar erangan mesin truk yang menjauh.

***

Perempuan itu masih membisu di sofa, menghadap televisi yang baru saja ia matikan. Mendadak ia jengah dengan cara Spongebob tertawa. Darah kering masih menghiasi tangannya. Pisau dapur yang juga belepotan darah itu tergeletak di lantai, tak jauh dari mayat si bocah malang yang berlumuran darah.

Sudah berulangkali ia berteriak pada anak tirinya itu untuk mematikan televisi karena tawa Spongebob tiba-tiba mengingatkannya pada senja yang kuning. Namun, bocah itu tak menggubris. Ia malah ikut tertawa lantang, menirukan tawa Spongebob. Perempuan itu kalap, diambilnya pisau dapur. Ya, ia membuat lusinan lubang di tubuh balita itu, sebanyak lubang-lubang di tubuh Spongebob.

Deru mesin mobil terdengar dari depan rumah. Beberapa saat kemudian, lelaki kantoran yang baru enam bulan ini menjadi suami janda muda itu muncul. “I’m coming, darlling,” sapanya seperti biasa. Namun, lelaki itu tiba-tiba terperanjat. Anak semata wayangnya tegeletak di lantai berlumuran darah. Dadanya berlubang. Perutnya berlubang. Ususnya terburai.

“Anakmu mati mas,” kata perempuan itu lirih sambil mengusap-usap boneka Spongebob-nya.

Eko B. Nugroho (Rawamangun, 13-16 Juni 2011)

From → cerpen

3 Comments
  1. Keren… Memang sudah gila karena sapi bergincu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: