Skip to content

Mengadopsi Falsafah Petinju

October 19, 2014

Yogyakarta, 19 Oktober 2014

Pagi ini saya menyaksikan dua partai tinju profesional yang cukup menarik. Yang pertama, partai antara juara dunia asal Filipina, Nonito Donaire versus penantangnya, petinju asal Jamaika, Nicholas Walters. Saya sebenarnya bukan pecinta olahraga tinju karena saya lebih menyukai sepak bola atau moto gp. Namun, kadang saya juga mengikuti tinju, terutama jika yang bertanding adalah petinju-petinju berkelas,atau ada petinju Asia yang naik ring di arena Amerika Serikat.

Sebenarnya, Nonito Donaire, si “Philippino Flash” ini lebih diunggulkan daripada Walters, namun sejak awal saya sudah menerka bahwa sebenarnya Walters lebih berpeluang menang melihat dari kesiapan fisiknya. Tapi, petinju profesional tentu tak ada kata menyerah dengan mudah. Nonito yang wajahnya sudah lebam itu tetap bertahan hinggga ronde ke-6 ketika Walters mengkanvaskannya untuk kali kedua melalui pukulan jab kanan yang menghantam pelipis Nonito sangat keras.

Partai utama, yang mempertemukan Gennady Gennadyevich “Good boy” Golovkin versus Marco Antonio “El Veneno” Rubio hanya berlangsung tiga ronde karena Rubio tak mampu bangkit pada hitungan ke sembilan setelah dikanvaskan oleh Tripple G (julukan Golovkin) melalui pukulan overcut mematikan di kening. Lagi-lagi, saya melihat kesiapan fisik petinju Kazakhstan itu lebih baik daripada petinju Meksiko yang menjadi lawannya.

Petinju tidak setiap bulan naik ring. Mereka memiliki waktu jeda berbulan-bulan sebelum naik ring untuk menjalani pertarungan mandat atau pun perebutan gelar juara. Tidak seperti atlet lainnya semacam pemain sepak bola, pebalap atau atlet lainnya yang berlaga di kompetisi reguler yang menuntut mereka tampil tiap minggu, petinju justru lebih banyak menghabiskan waktu dan tenaganya untuk persiapan menuju pertarungannya.

Petinju yang mempersiapkan diri dengan benar dapat terlihat dari penampilan fisiknya. Ototnya kering, tidak ada timbunan lemak di perut, dan berat badannya ideal. Bagi seorang petinju, kelebihan berat badan satu dua kilogram saja sudah mempengaruhi performanya di atas ring. Itu lah mengapa banyak petinju yang memilih untuk bertahan di kelasnya, karena ia merasa memiliki performa terbaik di berat badan idealnya itu. Lain halnya dengan petinju semacam Manny Pacquiao yang bisa mempertahankan performanya meski pun berat badannya melambung untuk naik hingga lima kelas.

Golovkin terlihat sangat siap tadi pagi. Ia terlihat santai, banyak tersenyum, dan tidak gugup. Beda dengan Rubio yang agak terlihat gugup. Ia sendiri pun mengakui bahwa dirinya gagal mencapai berat badan ideal karena ketika naik ring ia masih kelebihan berat 3 kg. Bayangkan, 3 kg saja sudah membuatnya khawatir!

Dan benar saja, Golovkin menang mudah. Pukulan overcut-nya, jenis pukulan yang belum pernah saya lihat mampu mengkanvaskan petinju, sangat keras menghujam kening Rubio hingga membuatnya terjerembab tak berkutik. Saya jadi makin mengamini istilah ini: Practice Makes Perfect.

Golovkin memukul TKO Rubio, sumber foto: checkhookboxing.com

Golovkin memukul TKO Rubio, sumber foto: checkhookboxing.com

Rasanya falsafah untuk mempersiapkan diri sejak lama seperti layaknya seorang petinju profesional sejati yang memiliki mental juara layak diterapkan dalam kehidupan pribadi kita. Dalam wawancara singkat di akhir pertarungannya, Golovkin mengisyaratkan bahwa ia ingin melawan Miguel Angel Cotto, petinju tangguh lain di kelas menengah. Ia memiliki target yang jelas, dan ia punya program persiapan fisik dan mental yang sudah terencana dengan baik. Saya bisa melihat dari matanya yang fokus.

From → catatan harian

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: