Skip to content

Catatan Kaki yang Mendobrak Batas

October 20, 2014

Pencerahan. Itulah yang pertama saya rasakan ketika membaca buku ini. Ditulis dengan gaya memoar yang renyah, “Footnotes, Hidup Tanpa Batas” mengajak kita untuk bercermin, betapa ketidaksempurnaan fisik bukanlah halangan untuk terus maju dan berprestasi.

Lena Maria telah membuktikan itu semua. Meski terlahir tanpa tangan dan kaki kirinya cacat, ia mampu mengukir segudang prestasi: meraih 4 medali emas kejuaraan renang Eropa, mewakili Swedia di Paralympic Seoul 1988, merilis album dan menggelar konser di penjuru dunia, dan menginspirasi jutaan orang lewat tulisannya ini.

Keputusan Rolf dan Anna, kedua orang tua Lena, untuk merawat anak pertama mereka itu sendiri di rumah meski dokter menyarankan mereka untuk menitipkannya di institusi khusus ternyata tepat. Dengan limpahan kasih sayang dari kedua orang tuanya, Lena kecil tumbuh menjadi anak yang ceria. Sang ibu membiasakannya untuk mandiri, seperti ketika Lena jatuh terjerembab dan merengek minta tolong justru si ibu memotivasinya untuk berusaha berdiri sendiri. Inilah yang kemudian membentuk karakter Lena yang mandiri, kuat dan tidak mudah putus asa.

Setahun setelah kelahiran Lena, adiknya, Olle, lahir. Adiknya ini lahir tanpa kekurangan fisik sama sekali. Meski begitu, kedua orang tuanya tak pernah membeda-bedakan mereka. Mereka sama-sama memiliki hak dan kewajiban yang sama. Sang ayah bahkan selalu mengajak Lena berkebun, beternak dan kegiatan yang biasa dilakukan orang normal lainnya agar si anak tidak merasa dikucilkan dan dibedakan dari anak normal lainnya.

Pada usia 3 tahun, Lena mengikuti program latihan renang dengan metode khusus Halliwick. Dengan metode ini, Lena mampu memaksimalkan kaki kanannya yang normal dan punggungnya untuk melesat di air. Ia terlihat superior di kolam renang dibandingkan anak lainnya, bahkan di antara anak-anak normal di sekolahnya. Ketika ia terpilih mengikuti kejuaraan renang Eropa yang kebetulan berlangsung di Swedia, ia mampu memecahkan rekor dan meraih empat medali emas. Langkah menuju Paralympic Games 1988 pun terbuka lebar. Ia pun berangkat ke Seoul mewakili negaranya.

Di samping bidang olahraga, Lena juga berprestasi di dunia tarik suara. Sejak kecil ia memang telah membaktikan dirinya di paduan suara gereja Habo dan Bankeyrd, tak jauh dari rumahnya yang sederhana di Klerebo, sebuah desa kecil di Swedia. Ia berhasil lolos seleksi masuk Stockholm Music Conservatory School yang terkenal ketat. Di situ, ia mengasah kemampuan olah vokalnya dengan belajar pada penyanyi terkenal Swedia, Lena Ericsson. Kesempatan tampil di depan Ratu Silvia tak disia-siakannya. Sang ratu bahkan terkesan dengannya hingga memberinya beasiswa untuk melanjutkan studinya di Barkeley College of Music di Amerika Serikat.

Torehan prestasi Lena yang mengagumkan itu pun menarik perhatian dua orang pembuat film, Henrik Burman dan Sven-Erik Frick untuk memproduksi film dokumenter yang menggambarkan kehidupan sehari-hari Lena di apartemennya di Stockholm. Film itu memperlihatkan bagaimana Lena melakukan kegiatan sehari-harinya yang mungkin sederhana bagi orang normal, seperti mencuci piring dan gelas, membuat cake, merajut, berdandan, bahkan menyetir mobil. Film itu lalu ditayangkan dalam program Goal in Sight yang mendapatkan respon luar biasa dari penonton, bahkan banyak TV luar negeri yang ingin membeli film tersebut.

Produser TV Asahi, Kaori Asamoto, pun terarik untuk membuat film dokumenter sendiri tentang kehidupan sehari-hari Lena Maria. Acara itu begitu disukai di Jepang hingga membuat Lena sibuk bolak-balik Jepang-Swedia-Amerika Serikat untuk memenuhi undangan wawancara dan menjadi pembicara, disamping menggelar konser musik.

Meski segudang prestasi diraihnya, Lena tak jumawa. Ia masih merasa perlu banyak belajar dari orang lain. Ia pun memutuskan untuk pergi ke India untuk memperdalam teologi. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia mempertanyakan keyakinan rohaninya sendiri. Ia merasa sejak kecil keaktivannya di gereja hanyalah mengikuti kedua orang tuanya, bukan panggilan hatinya sendiri. Toh akhirnya ia pun menemukan fondasi keyakinannya sendiri, bahwa semua hal yang telah diraihnya merupakan bagian dari rencana Tuhan yang mengagumkan.

“Setiap cobaan yang datang pada kita justru membentuk kita sebagai manusia seutuhnya,” begitulah Lena menyikapi hidupnya dengan optimistis. Hingga kini ia telah merilis 15 album musik, bahkan merambah ke dunia seni lukis sejak menjadi murid beasiswa untuk Mouth and Foot Painting sejak 1990. Lena telah membuktikan bahwa kekurangan fisiknya bukanlah halangan yang membatasi dirinya. Sayangnya, masih banyak orang yang secara fisik sempurna namun justru mereka membatasi dirinya sendiri.

Judul Buku : Footnotes, Hidup Tanpa Batas

cover buku

cover buku

Penulis : Lena Maria
Penerjemah : Endang Sulistiyowati
Penerbit : Dastan Books
Tahun terbit : Cetakan I, Mei 2009
Harga buku : 49.000,-
Jumlah hal. : 247 halaman

From → review buku

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: