Skip to content

“Dongeng-dongeng” tentang Watak Manusia

October 20, 2014

Salah satu kekuatan dari karya-karya klasik adalah sifatnya yang everlasting (sepanjang masa). Seperti The Happy Prince and The Other Stories (Pangeran Bahagia), kumpulan cerpen karya Oscar Wilde yang terbit pada 1888. Meskipun ditulis hampir dua abad yang lalu, kisah-kisah di dalamnya tetap relevan untuk dibaca sampai saat ini.

Terdiri dari lima cerpen fabel, Pangeran Bahagia menunjukkan kepiawaian sastrawan serba bisa asal Irlandia itu mengolah imajinasi, ironi, dan satirisme dalam kisah-kisahnya yang sekilas mirip dongeng anak-anak—buku ini awalnya memang ia persembahkan bagi anak-anaknya sendiri.

Dalam cerpen Pangeran Bahagia, dikisahkan tentang pertemanan antara seekor walet dan patung bernama Pangeran Bahagia. Patung itu adalah simbol kemakmuran kota yang dibanggakan oleh Walikota. Berlapiskan emas, memiliki sepasang mata dari batu safir, dan berhiaskan delima di gagang pedangnya. Namun, ia tak bahagia. Patung itu menangis ketika melihat masih banyak orang-orang yang menderita di kota itu.

Burung walet dan patung itu memutuskan untuk menolong orang-orang yang menderita. Sang pangeran merelakan batu delimanya, dua bola matanya, dan lempengan-lempengan emas di tubuhnya dilucuti oleh si walet untuk dibagikan kepada orang-orang miskin yang kelaparan. Malangnya, walet itu mati kedinginan seusai menuntaskan tugasnya demi rasa cintanya kepada Pangeran Bahagia.

Walikota yang melihat patung kebanggaannya berubah kusam dan buruk rupa, apalagi ada bangkai walet di kakinya hanya berujar ringan, “tentunya kita harus membuat patung yang baru, dan patung itu akan berwujud diriku sendiri” (hlm. 25).

Betapa pengorbanan dan ketulusan hati walet dan patung itu bertolak belakang dengan tabiat narsisme Walikota yang hanya membanggakan simbol-simbol dan dirinya sendiri. Tidak jauh berbeda dengan masa kini, di mana banyak rakyat menderita namun para pemimpin rajin muncul di televisi dan banner-banner raksasa untuk mengklaim keberhasilannya. Proyek-proyek megah milyaran rupiah dibangun meskipun manfaatnya tak ada bagi rakyat.

Dalam cerpen Bunga Mawar dan Burung Bulbul, kita akan mendapatkan sebuah kisah tragis tentang pengorbanan yang tak dihargai. Betapa cintanya burung bulbul itu pada seorang pemuda sehingga ia rela mati tertusuk duri-duri mawar untuk menghasilkan mawar merah tercantik di dunia. Pemuda itu senang bukan main. Ia ingin memberikan mawar itu kepada gadis pujaannya. Ternyata, gadis itu lebih memilih pria kaya yang menghadiahinya perhiasan. Kecewa, pemuda itu membuang mawar merah darah itu ke jalanan.

Tiga cerpen lainnya, yakni Raksasa yang Egois, Teman yang Setia, dan Roket yang Luar Biasa lebih mengeksplorasi tema egoisme. Penyakit sosial ini membuat seseorang kehilangan kepekaan terhadap penderitaan sesamanya. Betapa menderitanya anak-anak yang kehilangan lahan bermain hanya karena raksasa yang memiliki taman luas itu melarang mereka bermain di tamannya. Betapa tragisnya nasib seorang petani yang tak sempat lagi mengurusi ladangnya karena egoisme seseorang yang mengaku sebagai teman terbaiknya. Betapa egoisme sebatang roket yang tak mau mengalah dalam perdebatan telah membuat hatinya keras sehingga ia menganggap yang lainnya lebih rendah dan hina daripadanya. Kenyataannya, roket itu tak berfungsi, terbuang, dan berakhir di antara lumpur parit.

Membaca buku tipis ini, kita akan mendapatkan gambaran tentang berbagai watak manusia yang tercermin dalam karakter-karakter tokohnya dalam wujud patung, binatang, tumbuhan, bahkan sebatang roket. Berbagai karakter itu merepresentasikan berbagai watak manusia dalam kehidupan nyata yang acapkali egois, narsis, dan berbangga diri dengan simbol-simbol artifisial. Karya Wilde ini memang kaya, jadi jangan terburu-buru menyimpulkannya sebagai kumpulan dongeng pengantar tidur belaka.

Eko Budi Nugroho, penulis lepas dan penerjemah.298520_2212662869894_945805_n

Judul buku      : Pangeran Bahagia

Penulis             : Oscar Wilde

Penerjemah      : Risyiana Muthia

Penerbit           : Serambi, Jakarta

Tahun terbit     : Cetakan I, April 2011

Tebal buku      : 104 halaman

Harga              : Rp. 25.000,-

From → review buku

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: