Skip to content

Horor Psikis Edgar Allan Poe

October 20, 2014

Nama Edgar Allan Poe tentu tak asing bagi para penikmat sastra, terutama mereka yang menaruh minat pada sastra asing. Karya-karya Poe dianggap memelopori genre kisah-kisah detektif dan misteri. Walaupun ia hidup di masa Romantik di mana kisah-kisah melankolis romantis menjadi primadoa kala itu, karya-karyanya justru bernuansa horor, suram, gothik, dan humor gelap.

Dalam buku kumpulan cerpen Kisah-Kisah Tengah Malam yang diterjemahkan oleh Maggie Tiojakin dari karya aslinya berjudul The Tales of Mysteri and Terror, pembaca disuguhkan 14 cerpen pilihan karya Poe, termasuk mahakaryanya seperti Gema Jantung yang Tersiksa (Tell-Tale Heart), Kucing Hitam (Black Cat), dan Misteri Rumah Keluarga Usher (The Fall of the Usher).

Kejeniusan Poe dalam menghadirkan suasana horor di setiap karyanya terletak pada kemampuannya untuk mendeskpripsikan psikis karakter-karakternya. Dalam Gema Jantung yang Tersiksa misalnya, Poe mengambil sudut pandang seorang psikopat yang tengah berdebar mengendap-endap di kamar seorang lelaki tua untuk membunuhnya. Alasan si pembunuh menghabisi korbannya sepele, hanya karena ia risih dan jijik dengan mata korbannya.

Ketika para polisi menggeledah rumahnya, sang pembunuh bersikap sesantai mungkin meskipun mayat itu ia sembunyikan di bawah lantai kayu. Nah, di sinilah teror tersebut dimulai. Si pembunuh itu mulai mendengar detak jantung yang makin lama makin kencang dari balik lantai kayu itu.

Dalam cerpen terkenalnya yang lain, Kucing Hitam, teror psikis itu terasa lebih kental. Lewat tokoh “aku” yang gemar menyiksa Pluto, kucing berbulu hitam peliharaannya sendiri, Poe menghadirkan cerita yang menggelikan sekaligus menegangkan. Dari mencongkel mata hingga menggantung kucing malang tersebut karena frustrasi yang tidak jelas penyebabnya, si tokoh merasa puas namun sekaligus berdosa.

Ketika ia menemukan kucing hitam lain, ia pun memeliharanya untuk menebus kesalahannya kepada Pluto. Namun, tabiatnya untuk menyiksa binatang kambuh lagi. Parahnya, ia juga membunuh istrinya sendiri karena menghalanginya membunuh kucing itu.

Horor bernuansa gothik terasa dalam mahakarya Poe selanjutnya, Misteri Rumah Keluarga Usher. Berawal dari undangan berkunjung dari seorang sahabat lama bernama Roderick Usher, sang tokoh utama terjebak dalam kastil kuno bergaya abad pertengahan. Langit-langit yang tinggi, jendela yang kokoh dan runcing, dinding kelabu, dan danau berair hitam menambah suasana mencekam bangunan itu.

Roderick adalah pria muda yang pucat, tak memiliki siapa pun lagi kecuali Lady Madeline, adiknya yang sedang sekarat. Mereka berdua adalah keturunan keluarga Usher terakhir. Keluarga malang tersebut dikenal mempraktekkan perkawinan incest sehingga banyak anggota keluarga Usher yang meninggal akibat penyakit misterius yang dihasilkan dari pemecahan gen tunggal.

Lady Madeline akhirnya meninggal. Sejak itu, keanehan rumah kuno tersebut mulai nampak nyata. Badai yang menderu di malam hari, dan suara-suara gaduh dari ruang bawah tanah terdengar. Tokoh utama dalam cerita ini pun akhirnya lari meninggalkan rumah itu ketika melihat Lady Madeline yang masih belepotan noda darah tiba-tiba muncul dan memeluk Roderick.

Beberapa cerpen lain dalam buku ini mengangkat tema tentang ekspedisi laut. Bahkan, setting tempatnya pun merentang dari Laut Jawa, perairan Norwegia, hingga lautan es di kutub selatan. Hal tersebut menggambarkan betapa luasnya pengetahuan Poe mengenai pelayaran.

Dalam cerpen Mengarungi Badai Maelström, Poe menghadirkan horor di tengah amukan pusaran air raksasa di perariran Norwegia. Fenomena alam tersebut memang benar-benar ada di daerah Norwegia, tepatnya di daerah sekitar Pulau Lofoden dan Moskoe. Kini, istilah Maelström menjadi populer berkat cerpen ini.

Selain meramu kisah-kisah horor psikis dan petualangan, Poe juga menyisipkan satu cerpen yang saya anggap brilian, yakni William Wilson. Ditulis pada 1842, di masa ketika psikoanalisis belum lazim dipelajari. Poe membuat dobrakan dengan mengangkat tema kepribadian ganda (double personality).

Tokoh utama dalam cerpen William Wilson adalah seorang pemuda yang cerdas dan pandai bicara di depan umum. Namun, kepopulerannya di sekolah mulai terusik oleh murid baru yang sama cerdas dengannnya bernama William. Tak hanya itu, si murid baru itu juga memiliki nama belakang sama, Wilson. Bahkan, mereka bertanggal lahir sama pula.

Suatu ketika si tokoh utama menyelinap ke kamar William. Betapa kagetnya dirinya, karena wajah yang tengah terlelap itu adalah wajahnya sendiri. Seketika itu pula ia pindah sekolah dan melupakan kembaran misteriusnya itu. Namun, ternyata William kelak muncul kembali dalam momen-momen tertentu hidupnya. Ia muncul di Venezia, di Paris, di manapun. Kemunculannya selalu berkaitan dengan moral buruknya, ketika si tokoh utama melakukan kecurangan atau kejahatan. Tak ayal, William adalah alter-ego dari si tokoh utama sendiri.

539271_3269940581176_1203154589_n

data buku:

Judul              : Kisah-Kisah Tengah Malam

Penulis            : Edgar Allan Poe

Penerjemah    : Maggie Tiojakin

Penerbit          : Gramedia Pustaka Utama

Cetakan          : I, 2010

Tebal              : 245 halaman

ISBN               : 978-979-22-6537-8

From → review buku

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: