Skip to content

Jika Coretan Menjadi Sebuah Solusi

October 20, 2014

Dimuat di rubrik Perada Koran Jakarta edisi Selasa, 2 Juni 2009

Bayangkanlah jika berbagai permasalahan pelik perusahaan dapat diselesaikan dalam coretan-coretan sederhana. Tak perlu berlembar-lembar laporan, angka-angka statistik yang ruwet, dan slide-slide presentasi yang membosankan.

Hal di atas mungkin saja terjadi jika kita mempraktekkan cara berpikir visual. Dalam bukunya yang berjudul Picture Intelligence, Dan Roam mengulas berbagai metode memecahkan masalah dengan menggunakan gambar-gambar sederhana.

Tentu saja metode tersebut tidak sembarangan, melainkan mengikuti kaidah pemecahan masalah pada umumnya. Yang perlu ditambahkan hanyalah kepekaan visual dalam melihat, mengenali, membayangkan, dan memperlihatkan (hal. 54).

Untuk mengenali sebuah masalah, ada enam pertanyaan yang dapat diajukan (6W), yaitu What, Who, When, Where, hoW, dan Why yang berhubungan dengan simbol-simbol pemecahan masalah seperti potret, grafik, peta, garis waktu, bagan alur, dan plot multi-variabel. Selain itu, penulis juga merumuskan sebuah formula SQVID—Simple, Quality, Vision, Individual, and Delta. Formula tersebut berarti sederhana, kualitas, visi, individu, dan perubahan.

Untuk menyusun sebuah kerangka gambar menyeluruh yang memetakan akar masalah sekaligus menawarkan solusi penyelesaian, maka dibuatlah daftar gambar-gambar penyelesaian itu dalam sebuah Visual Thinking Codex. Daftar itu merupakan kombinasi antara aplikasi rumus 6W dan SQVID (hal. 198).

Penulis yang telah malang melintang dalam bidang konsultasi manajemen ini nampaknya paham betul dengan teknik berpikir visual untuk menyelesaikan masalah. Ia memberikan beberapa contoh kasus yang pernah ditanganinya sendiri, seperti misalnya kasus yang dialami oleh Sax Inc., perusahaan software pembukuan.

Dengan menggunakan rumus 6W dan SQVID, semua faktor yang menjadi akar masalah dipetakan dalam Visual Thinking Codex. Dalam daftar itu, terlihat bahwa akar masalah adalah munculnya kompetitor-kompetitor baru yang memiliki pola bisnis modern dan fitur yang lebih beragam.
Solusi yang ditawarkannya adalah program pengembangan sekaligus memodernisasi pola bisnis yang memakan biaya tinggi atau sekedar menambah fitur baru. Gambar yang dipakai cukup sederhana dan mudah dipahami, sekalipun bagi orang yang buta akan manajemen perusahaan.

Buku ini aslinya berjudul The Back of The Napkin, sebab Roam sendiri awalnya mendapatkan inspirasi untuk menggunakan kemampuan berpikir visualnya dengan mencoret-coret di selembar serbet (napkin) ketika ia terdesak. Ternyata cara itu cukup manjur dan ia sukses dalam pidatonya di hadapan para ahli pendidikan di Inggris. Roam sendiri berasal dari Amerika Serikat.

Penulis menjelaskan bahwa pada dasarnya semua orang mampu menggambar, sebab kemampuan itu sifatnya bawaan (built in), cuma orang-orang cenderung mengabaikannya ketika beranjak dewasa. Padahal, kemampuan ini jika terus diasah ibarat pisau Swiss Army, yang bentuknya sederhana namun memiliki berbagai jenis mata pisau serbaguna di dalamnya.

1918417_1255388978645_6636377_n

Judul Buku : Picture Intelligence
Judul Asli : The Back of The Napkin
Penulis : Dan Roam
Penerjemah : Fiyanti Osman & Suharsono
Penerbit : Ufuk Press
Tahun terbit : Cetakan I, Mei 2009
Halaman : viii + 385 halaman

From → review buku

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: