Skip to content

Ketika Media Terlalu Berkuasa

October 20, 2014

Pernahkah kita sadari bahwa dalam aktivitas kita menonton televisi, mendengarkan radio, membaca koran, majalah, atau menikmati film-film box office kita tengah mendapatkan gempuran budaya yang dahsyat?

Mungkin kita akan sulit menyadarinya karena proses itu terjadi dengan sangat halus dan sedikit demi sedikit. Bayangkan, rata-rata manusia kini menghabiskan 15 tahun waktunya dalam pesona media. Dan selama itu pula mereka terhegemoni oleh kuasa media.

Dalam bukunya yang berjudul Membongkar Kuasa Media, Ziauddin Sardar mencoba menguak seluk beluk media mulai dari definisinya hingga detail bagaimana industri media yang kini menggurita secara global diproduksi. Para pembaca pun juga diajak untuk berselancar dalam sejarah lahir dan berkembangnya studi media. Dengan bentuk grafis yang mirip komik, buku yang “serius” ini menjadi terkesan lebih cair dan menarik untuk dibaca.

Meskipun media memiliki peran yang vital dalam masyarakat demokrasi, namun logika kapitalisme pun juga mewarnai media. Media sebagai industri budaya dapat dianalogikan seperti industri elektronik, perabotan, pakaian dan lain-lain yang tentu saja selalu menuntut kebaruan dan daya tarik agar dilirik oleh konsumen. Imbasnya, media cenderung menghadirkan bumbu-bumbu kekerasan, erotisme, skandal, dan lain sebagainya demi meraup untung semata.

Rating yang tinggi dan jumlah eksemplar yang terjual akan menjadi magnet bagi iklan-iklan yang masuk. Industri film pun tak beda jauh. Monopoli Hollywood dengan kapital raksasanya mengakuisisi studio-studio film kecil hingga jaringan bioskop internasional. Tak ayal, film-film yang masuk jajaran box office adalah film-film dengan pakem Barat dengan budget jutaan bahkan miliaran dolar.

Hubungan simbiosis mutualisme antara media, iklan, dan kapitalisme diatas ternyata tak selamanya menguntungkan konsumen. Media sifatnya adalah memediasi. Dan oleh karena itu yang dihadirkan adalah representasi, bukan kenyataan.

Representasi tersebut akhirnya membentuk pola pikir masyarakat. Padahal, representasi selalu terfragmentasi. Moral panic contohnya. Media menggambarkan anak muda sebagai para pengacau, tidak bermoral dan sebagainya. Di samping itu, stereotype juga muncul di media sebagai citraan yang sepihak. Kesemuanya itu menunjukkan bahwa media tidaklah netral. Ada politik kekuasaan di belakang korporasi-korporasi media, yaitu ideolgi pemilik modal.

Banyak pakar menganjurkan agar studi media diberikan sejak dini pada siswa sekolah. Hal ini tentunya untuk membangun kesadaran kritis terhadap gempuran media yang gencar. Sebagai gambaran, seorang yang berusia 60 tahun setidaknya telah melihat, membaca atau mendengar 50 juta iklan!

Menurut Barthes, representasi simbolik yang banyak muncul dalam iklan menghadirkan mitos di masyarakat. Mitos-mitos tersebut dapat berupa idealisme kecantikan, kesehatan, kebugaran, gaya hidup, religiusitas, dan sebagainya.

Dalam pandangan Baudrillard, batas-batas antara realitas dan ilusi yang kabur dalam simulakrum media, khususnya iklan, telah membuyarkan kesadaran manusia. Itulah mengapa kita sulit sekali untuk tidak membeli apa yang diiklankan, untuk tidak mengikuti gaya hidup selebritas, atau untuk sekadar tidak menonton TV sehari saja.

Buku ini tidak saja menarik bagi mereka yang mempelajari ilmu komunikasi dan media, namun juga masyarakat umum yang ingin mengetahui lebih jauh mengenai industri media dan dampak kulturalnya bagi masyarakat.

Penjabaran teori yang njlimet dari Sardar sedikit terobati oleh kreativitas grafis Borin Van Loon, meski masih menyisakan halaman-halaman yang “terlalu penuh.” Selamat membaca dan menjadi konsumen media yang kritis!

Judul Buku : Membongkar Kuasa Media
Penulis : Ziauddin Sardar
Ilustrator : Borin Van Loon
Penerbit : Resist Book
Tahun terbit : Cetakan I, Juli 2008
Halaman : 174 halaman

cover buku

cover buku

From → review buku

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: