Skip to content

Kisah Perempuan Ahli Anatomi Pertama di Dunia

October 20, 2014

Mungkin tak banyak yang mengenal nama Alessandra Giliani, gadis remaja asal Persiceto, Italia yang hidup pada abad ke 14. Namanya memang tak setenar Galen atau Ibnu Sina di dunia medis. Padahal, ia adalah perempuan pertama yang mempelajari dan menguasai ilmu anatomi.

Alessandra dilahirkan dalam keluarga berkecukupan. Ayahnya, Carlo Giliani adalah pengusaha percetakan buku. Profesi ayahnya itu memungkinkan Alessandra mengakses buku-buku, sesuatu yang mewah di masa itu. Ibunya meninggal ketika melahirkan anak terakhirnya. Pengalaman pahit itulah yang membuatnya tertarik pada ilmu kedokteran. Ia berpikir harusnya sang ibu bisa diselamatkan.

Carlo menikah lagi dengan Ursula. Ibu tirinya itu membenci Alessandra karena ia mewarisi kecantikan ibu kandungnya. Berbagai tugas dan hukuman yang berat kerap ia terima. Beruntung, ia memiliki kakak lelaki yang selalu membantunya, Nico. Nico mengajarinya mengendarai kuda, menggunakan pisau lipat, dan mencari hal-hal menarik di dalam tanah. Permainan berbau laki-laki tersebut kelak membantu penyamarannya.

Waktu itu Alessandra baru berusia 14 tahun ketika dirinya harus menjalani pingitan. Padahal, ia ingin belajar di Universitas Bologna. Pernikahan untuknya sudah ditentukan. Ia akan dinikahkan dengan seorang lelaki yang belum pernah dikenalnya seumur hidupnya. Setelah menjalani pingitan, ia pun masih harus menjalani persiapan lain di biara.

Perempuan terhormat di masa itu hanya memiliki dua pilihan: menikah muda atau menjadi biarawati. Pekerjaan formal lainnya yang dapat dipilih hanyalah menjadi pelayan. Jika ada perempuan yang terlalu menonjol, ia akan dicap atau dituduh sebagai penyihir. Tuduhan seperti itu dapat berakibat fatal: dibakar hidup-hidup.

Alessandra Giliani menempuh perjalanan berbahaya dan beresiko menuju Bologna. Ia kabur dari biaranya bersama Emilia, pengasuhnya. Di perjalanan, ia mengganti pakaiannya dengan model laki-laki dan memotong rambutnya. Ia menyamar sebagai Sandro, seorang calon mahasiswa kedokteran yang datang bersama pengawalnya, Emiliano.

Sandro kemudian dikenal sebagai sosok mahasiswa cerdas dan cemerlang. Hal itu menarik perhatian Mondino de’ Liuzzi, seorang dokter terkenal sekaligus dosen Universitas Bologna. Ia mengizinkan Sandro untuk tinggal di rumahnya berdampingan dengan dua mahasiswa cemerlang yang lain, Bene dan Otto Agenio Lustrolano.

Rupanya kedatangan Sandro menimbulkan kedengkian di hati Bene yang terlebih dahulu tinggal di rumah Mondino. Keluarga Mondino cenderung lebih menyayangi Sandro. Bahkan, anak gadis mereka, Maxie, jatuh hati kepada Sandro. Bene hanyalah anak petani yang beruntung dapat mengenyam pendidikan tinggi setelah warga desanya mengumpulkan uang untuknya.

Lain halnya dengan Otto. Pemuda tegap dan tampan itu justru menyambut Sandro dengan hangat. Ia memiliki hasrat yang sama di bidang kedokteran. Lewat pertemanan itulah mereka kemudian semakin akrab, hal yang seharusnya dihindari oleh Sandro agar jati dirinya tetap terjaga.

Penyamaran Alessandra sebagai Sandro diketahui oleh Bene secara tak sengaja. Ia mengancam akan membocorkan identitasnya. Terpaksa Alessandra memberikan batangan emas kepadanya. Meskipun ia telah membungkam mulut Bene, kekhawatiran akan kebocoran identitas dirinya selalu menghantuinya.

Dalam sebuah peragaan pembedahan yang dilakukan oleh Mondino di depan para mahasiswa, asistennya tanpa sengaja mengiris jarinya sendiri. Tanpa ragu, Mondino menunjuk Sandro untuk menggantikan asistennya. Padahal, mahasiswa paling senior sekalipun belum tentu mampu melakukannya. Mondino yakin dengan kemampuan Sandro karena ia melihat betapa rapinya sayatan Sandro pada daging bebek. Pekerjaannya cepat dan rapi, khas seorang ahli bedah.

Sementara itu, intensitas pertemuan yang rutin membuat Alessandra makin merindukan Otto. Ia heran, mengapa Otto begitu perhatian kepadanya padahal samarannya sebagai laki-laki belum pernah diketahui Otto. Ketika Otto akhirnya mengetahui identitas asli Alessandra, ia menyatakan cintanya. Keduanya menikah di sebuah gereja di hadapan seorang pendeta.

Ambisi Alessandra untuk mendalami ilmu anatomi makin kuat. Ia membeli dan mempelajari sebuah buku berhasa Arab yang ditulis oleh cendekiawan Damaskus bernama Ibn al-Nafis, ahli dalam bidang hukum, filsafat, dan kedokteran. Buku itu menjelaskan tentang aliran darah dalam tubuh manusia. Ternyata, apa yang diajarkan oleh guru dan dosennya selama ini bertentangan dengan buku itu.

Untuk membuktikan kebenarannya, Alessandra melakukan eksperimen-eksperimen. Beberapa kali ia membedah babi untuk mempelajari pola aliran darah. Ketika ia berhasil membedah seekor babi tanpa membunuhnya terlebih dahulu, ia pun berhasrat untuk membedah tubuh manusia. Dengan bantuan beberapa mahasiswa miskin, ia mendapatkan mayat seorang pelacur yang terlantar.

Dengan menggunakan wax cair berwarna biru dan merah, ia suntikkan cairan itu ke dalam pembuluh darah untuk mengetahui pola alirannya. Ternyata di jantung tidak ada sekat tebal seperti yang diajarkan selama ini. Ia bekerja keras, hampir-hampir tak pernah tidur demi memuaskan hasratnya terhadap ilmu pengetahuan.

Ia kemudian merencanakan sebuah demonstrasi pembedahan tubuh dan mengundang para mahasiswa, dosen dan ilmuwan untuk mengumumkan penemuannya. Tragisnya, ketika ia mendemonstrasikannya, Bene yang masih memendam rasa iri muncul dan merobek pakaian atas Sandro sehingga terkuaklah jati dirinya sebagai seorang perempuan. Otto memukul Bene, namun terlambat. Semua orang yang melihat kejadian itu mencibir Alessandra. Mereka menuduhnya sebagai penyihir.

Karir gemilang Alessandra di usia mudanya itu berakhir singkat. Karena kelelahan bekerja keras dan kurang tidur demi penemuannya, ia jatuh sakit. Dalam usia 19 tahun, ia meninggal. Perempuan ahli anatomi pertama dunia itu telah tiada. Ia dihormati di kalangan ilmuwan, meskipun kemudian namanya terkubur dalam sejarah.

***

Membaca buku ini, kita akan meresapi semangat perjuangan seorang Alessandra Giliani. Ia rela menempuh perjalanan berbahaya dan beresiko meninggalkan kampungnya, Persiceto menuju Bologna demi menuntut ilmu. Mengingat budaya diskriminatif pada masa itu yang menganggap perempuan sebagai warga kelas dua, semangatnya benar-benar luar biasa. Alessandra Giliani berhasil membuktikan bahwa perempuan memiliki kapasitas kecerdasan yang setara dengan laki-laki jika diberi kesempatan yang sama.284576_2150136226767_2176317_n

Eko B. Nugroho, penulis lepas.

Judul buku      : A Golden Web

Penulis             : Barbara Quick

Penerjemah      : Maria M. Lubis

Penerbit           : Atria

Tahun              : Cetakan I, Maret 2011

Tebal buku      : 272 halaman

From → review buku

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: