Skip to content

Leila S. Chudori Mendobrak Tabu

October 20, 2014

Sejak cerpen pertama berjudul Paris, Juni 1988, para pembaca sudah disuguhkan hal-hal yang selama ini dianggap tabu di masyarakat, khususnya dalam kultur budaya timur.

Berkisah tentang seorang perempuan Indonesia terjebak di tengah hiruk pikuk Paris yang sepintas dianggap romantis namun ternyata dingin dan angkuh. Ketika bertemu dengan Marc, seniman bohemian yang gemar melakukan ritual aneh dan terkesan sadomasokistis, perempuan itu pun terkagum dengan perspektif lelaki urakan yang vulgar namun jujur itu. Lewat mural bergambar alat vital pria dengan darah di ujungnya, Marc mendeskripsikan sublimitas cinta sejati yang tak pernah tereguk kecuali hasrat badaniah semata.

                “…..dia tak bisa menguasai gairahku; isi hatiku yang paling dalam. Janou menyadari, jika dia bercinta denganku, dia hanya bercinta dengan tubuhku…..” kata Marc (hlm. 13).

Dalam cerpen kedua berjudul Adila, aroma pemberontakan atas tabu di masyarakat cukup kental. Dengan cerdik, penulis yang sudah 20 tahun “istirahat” dari dunia kepenulisan fiksi ini mempertanyakan segala moralitas dan standar baik-buruk di masyarakat lewat tokoh Adila, gadis remaja yang mengalami krisis identitas akibat kekangan ibunya yang berlebihan.

Menariknya, Leila S. Chudori—penulis buku ini, memasukkan pula karakter-karakter surealis seperti Ursula Bragwen dari novel The Rainbow karya D.H. Lawrence. Ada pula A.S. Neill, pendiri sekolah Summerhill di Amerika Serikat yang menerapkan kurikulum pembebasan. Stephen Dedalus, karakter dalam novel A Portrait of the Artist as a Young Man karya James Joyce pun turut melengkapi parade surealisme dunia Adila. Mereka berdialog dengan gadis remaja itu mengenai moralitas, kebebasan, hingga seks. Di masyarakat, tema-tema semacam itu tentu dianggap tabu untuk diperbincangkan oleh remaja seusia Adila.

Mirip dengan cerpen di atas, cerpen keenam berjudul Keats pun menghadirkan dialog surealis antara Tami dengan John Keats, penyair Inggris awal abad ke-19 dalam perjalanan udara dari Brussels menuju Jakarta. Tami adalah perempuan dewasa yang terjebak dalam pertarungan antara nilai-nilai demokratisme dan humanime Eropa serta budaya patriarkhi dan hipokrisme negara asalnya, Indonesia. Dua nilai itu diwakili oleh dua orang yang dicintainya, yakni Jean—penyair yang menurutnya jujur dalam karyanya, dan Hidayat—penyair tanah air yang selalu tampil putih dan suci dalam syair-syairnya.

                “Dan walau hidup serba sengsara, namun masih saja setia di jalannya yang keras,” bait-bait puisi John Keats berjudul Tentang Mati itu pun menyadarkan Tami bahwa ia harus mengambil keputusan tepat sekaligus berani demi hidupnya. Ia pun memutuskan kembali lagi ke Brussels, melupakan sinisme tante, paman, keluarga besarnya, dan tentu saja Hidayat, calon suami yang sudah dipilihkan untuknya.

Penulis yang juga berlatar belakang jurnalis ini pun rupanya tak hanya mengeksplorasi tema-tema kontemporer. Ia bahkan mampu “meminjam” kisah dari epos Ramayana dalam cerpen ketiga berjudul Air Suci Sita di mana dalam budaya patriarkhi dianggap wajar mempertanyakan kesucian perempuan, namun tabu untuk mempertanyakan kesucian laki-laki.

Dalam epos Ramayana, Sita rela menceburkan diri dalam jilatan api demi membuktikan kesuciannya yang diragukan oleh Rama setelah lama diculik oleh Rahwana. Namun, apakah ia berhak bertanya mengenai kesucian Rama yang lama ditinggalkannya?

Analogi kisah pewayangan muncul pula dalam cerpen kelima berjudul Untuk Bapak. Pun di sini Leila mencoba mendobrak tabu dalam masyarakat bahwa laki-laki yang telah menduda harus mencari istri lagi. Melalui karakter bapak, pembaca disuguhkan sosok ideal lelaki setia yang digambarkan seperti Bhisma yang jauh berbeda dengan beberapa karakter Pandawa lainnya, seperti Yudhistira yang mempertaruhkan Drupadi dalam perjudian dengan Kurawa, atau Kresna yang sering berbohong, dan Arjuna yang tampan namun gemar beristri banyak. Bhisma adalah ksatria penyendiri dan memegang teguh prinsipnya, meskipun ia harus mati oleh hujan anak panah Srikandi di Perang Bharatayudha.

Tabu untuk mengkritik absolutisme negara coba didobrak oleh penulis dalam cerpen terakhir sekaligus masterpiece dari buku kumpulan cerpen ini, yakni Malam Terakhir. Lewat empat tokoh aktivis muda: si Gemuk, si Kurus, si Kacamata, dan seorang perempuan muda yang ditangkap, dipenjara lalu disiksa hingga berdarah-darah, pembaca dibuat merinding dan sadar betapa kekuasaan yang absolut cenderung disalahgunakan oleh rezim penguasa.

Meskipun tak ada jejak sedikit pun dari cerpen Malam Terakhir yang terkait dengan peristiwa serupa di Indonesia, namun setidaknya pesan tersirat yang hendak disampaikan jelas: bahwa absolutisme negara cenderung korup dan membungkam demokrasi. Cerpen ini ditulis pada 26 Juni 1989, masa di mana rezim otoriter Soeharto masih sangat kuat. Perlu keberanian esktra untuk menulis cerpen dengan tema sensitif semacam ini karena bisa saja dianggap subversif oleh intelijen yang saat itu begitu menggurita.

                 “Inilah contoh demokratisasi yang mereka teriakkan ke seluruh dunia. Inilah implementasi dari pembaruan yang sebenarnya tidak pernah baru. Inilah repetisi sejarah di mana kita hanyalah ribuan ulat kecil yang menggelepar mampus dilindas sepatu mereka…”  teriak si Kurus dari balik jeruji besi (hlm. 110).

377118_2451894090525_1276021846_n

Judul                     : Malam Terakhir

Penulis                 : Leila S. Chudori

Penerbit              : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)

Cetakan               : I, November 2009

ISBN                      : 978-979-91-0215-7

Tebal                     : xviii + 117 halaman

From → review buku

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: