Skip to content

Menelusuri Jejak Perjuangan Tjokroaminoto

October 20, 2014

artikel ini dimuat di rubrik Perada, Koran Jakarta (edisi 10 Januari 2012)

Soekarno, Semaoen, Musso, Alimin, dan Kartosoewirjo adalah tokoh-tokoh politik dan pergerakan nasioanl yang turut mewarnai sejarah kemerdekaan Indonesia. Banyak yang tidak mengetahui bahwa bibit-bibit pemimpin bangsa itu sempat “dipoles” oleh Haji Oemar Said Tjokroaminoto.

Buku yang diramu oleh tim redaksi majalah Tempo ini mencoba menghadirkan sosok yang dijuluki “Raja Jawa Tanpa Mahkota” itu dari sudut pandang jurnalistik. Meskipun tanpa metode sejarah yang ketat, namun investigasi jurnalistik yang dilakukan mampu menghadirkan rekonstruksi sejarah yang “enak dibaca dan perlu.”

Tjokro dilahirkan di desa Bakur, Madiun pada 16 Agustus 1882 dari keluarga bangsawan Jawa. Tahun kelahirannya yang bertepatan dengan letusan Krakatau membuatnya dihubung-hubungkan dengan mitos Ratu Adil dalam ramalan Jayabaya, Prabu Heru Tjokro.

Jiwa berani dan berontak Tjokro sudah terlihat sejak kecil di mana ia sering memasukkan teman-temannya ke dalam karung. Menginjak dewasa, ia menolak mencantumkan gelar Raden Mas di depan namanya.

Tjokro muda pun hampir dibunuh oleh ayah mertuanya karena mengundurkan diri dari pekerjaan mapannya sebagai amtenar di Ngawi. Ia gerah dengan praktek feodal yang kental di kalangan pejabat pribumi.

Selain dikenal berani, Tjokro juga “rakus” terhadap ilmu pengetahuan. Meskipun ia berpendidikan tinggi, ia rela menjadi kuli di Surabaya untuk menghayati kehidupan rakyat kecil. Ketika ia mendapatkan pekerjaan mapan di perusahaan milik Belanda, ia mempelajari teknik mesin di malam hari selepas bekerja. Bahkan, ia pun tekun mempelajari Marxisme meski bukan penganut komunisme.

Bakat Tjokro terpantau oleh para pendiri Sarekat Islam (SI) di Surakarta yang saat itu terancam pembekuan oleh pemerintah Hindia Belanda. Samanhoedi, sang pendiri, memerlukan orang yang cakap untuk menyusun anggaran dasar organisasi. Dan, Tjokro adalah sosok yang tepat.

Di SI, karir politik Tjokro melejit. Dengan pendidikannya yang tinggi, menguasai bahasa Jawa, Melayu dan Belanda, serta kecakapannya merestrukturisasi organisasi, SI tumbuh menjadi organisasi terbesar di Hindia Belanda, menenggelamkan pamor Boedi Oetomo (BO) yang lebih dulu berdiri.

Jika BO lebih elitis dan didominasi oleh bangsawan Jawa, SI justru memperlihatkan keegaliterannya dengan menerima siapa saja dari golongan mana pun asal beragama Islam. Tjokro mengatakan bahwa semua manusia sederajat. Sudah bukan waktunya lagi kaum pribumi dianggap sebagai seperempat manusia.

Tjokro menempati sebuah rumah kecil di jalan Paneleh VII, Surabaya. Di sana, istrinya mengelola tempat indekos para pelajar. Soekarno, Musso, Alimin, dan belakangan Kartosoewirjo sempat tinggal di situ. Semaoen, yang bergabung di SI Surabaya pada usia 14 tahun, pun sering mampir.

Di rumah sederhana itu lah, para pemuda tersebut belajar dan berdiskusi mengenai pergerakan nasional. Tjokro adalah prototipe pemimpin modern yang kelak akan ditiru oleh para pemuda itu: tegap, sorot mata tajam, rajin menulis di surat kabar, dan pidato yang menggelegar.

Sayangnya, hubungan guru-murid itu tak selamanya harmonis. Soekarno hijrah ke Bandung dan mendirikan Partai Nasional Indonesia. Semaoen, Musso dan Alimin memilih aktif di Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV), cikal bakal Partai Komunis Indonesia. Sedangkan Kartosoewirjo yang terobsesi dengan Pan-Islamisme akhirnya dicap sebagai pemberontak setelah memproklamirkan Negara Islam Indonesia.

Eko Budi Nugroho, penulis lepas. Tinggal di Rawamangun

cover buku

cover buku

Judul               : Tjokroaminoto, Guru Para Pendiri Bangsa

Penulis             : Tim Redaksi Tempo

Penyunting      : Budi Setyarso

Penerbit           : Kepustakaan Populer Gramedia

Tahun              : I, Desember 2011

Tebal               : xiv + 146 halaman

Harga              : Rp 48.000, 00

From → review buku

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: