Skip to content

Mengenang Mas Pram

October 20, 2014

artikel ini sempat dimuat di rubrik Pustaka, Media Indonesia (edisi Sabtu, 20 Juni 2009)

Mungkin karena banyak khalayak yang belum mengenal sosok Pramoedya Ananta Toer-lah, selain karya-karya besarnya tentunya, Koesalah Soebagyo Toer menulis memoar tentang kakak kandungnya itu. Bahkan, tak cukup satu, melainkan dua memoar! Setelah sebelumnya terbit Pramoedya Ananta Toer Dari Dekat Sekali, kini muncul Bersama Mas Pram.
Buku yang diluncurkan pertama kali pada peringatan tiga tahun meninggalnya Pram di Goethe Institute pada 24 April lalu ini merupakan tanggapan atas banyaknya keluhan terhadap buku pertama yang dirasa sangat kurang dalam menguraikan sosok Pram. “Ibarat makan bubur, baru sesendok sudah habis,” begitulah kritik dari para penggemar Pram yang disitir oleh Koesalah dalam pengantarnya.
Maka, memoar kedua ini tampil jauh lebih “gemuk.” Soesilo Toer, adik Pram yang lain, turut melengkapi buku ini dalam 36 halaman terakhir. Koesalah sendiri menulis sampai 434 halaman. Belum cukup, pada halaman-halaman akhir juga disisipi dengan beberapa lampiran seperti surat-surat hukum terkait dengan sengketa tanah STN 1 di Blora, surat klarifikasi yang ditulis oleh Pram, dan foto-foto keluarga besar Pram beserta saudara-saudara, anak dan cucu.
Buku ini disusun secara kronologis, mulai dari kehidupan keluarga Toer di Blora, hijrah ke Jakarta, kehidupan Koesalah di Moskwa, masa kisruh politik 1965, penangkapan Pram dan saudara-saudaranya oleh militer, bebasnya Pram setelah 14 tahun dipenjara di Pulau Buru, hingga detik-detik pemakaman sastrawan yang reputasinya diakui dunia internasional itu di Karet Bivak. Di samping itu, detail keseharian Pram semasa hidupnya, proses kreatifnya, bahkan hobi dan kebiasaannya pun dijabarkan dengan gamblang dalam buku ini.
Tak ayal, pembaca akan mendapatkan sisi lain dari sosok Pram setelah membaca buku ini. Saya kira tak banyak yang tahu bahwa Pram memiliki hobi mengendarai sepeda motor Harley Davidson 500 cc, membawa pisau lipat ke tempat kerjanya, pernah melempar kucing karena kesal, mengumpat sebab tamunya tak kunjung pulang, suka mengutak-atik barang, bahkan dengan berani menanyakan pangkat tentara yang sedang menginterogasinya.
Ada pula kisah asmara Pram yang sempat menikah dua kali, sisi humanis Pram ketika bertemu dengan istri dan anak-anaknya semasa ditahan, dan rasa tanggung jawab Pram sebagai anak sulung dan tulang punggung keluarga setelah sang ayah meninggal.

Drama Keluarga Toer
Meski sebagian besar orang akan menganggap buku ini bakal berpusat pada sosok Pram, ternyata memoar ini juga mengungkap “cerita-cerita pinggiran” dari orang-orang di sekitar Pram. Bahkan, di beberapa kisah Pram terasa sangat jauh. Pembaca yang terlalu berharap pada “Pram-sentris” tentu akan kecewa. Kita baru akan menemukan uraian panjang mengenai Pram setelah seratus halaman pertama.
Namun, justru buku ini menawarkan semacam “partai tambahan”, yaitu kisah keluarga Toer yang tak kalah dramatis dari Tetralogi Buru. Diceritakan, Pram dan adik-adiknya dilahirkan dari pasangan sederhana Mastoer Imam Badjoeri (Toer) dan Oemi Saidah. Toer adalah seorang guru IBO (Instituut Boedi Oetomo) yang loyal dan idealis. Ia rela meninggalkan posisi mapannya di sekolah negeri demi panggilan kemanusiaan di IBO yang ditinggalkan oleh pendirinya, Dr. Soetomo. Sedangkan Oemi adalah seorang wanita tangguh yang menjunjung tinggi pendidikan bahkan menekankan anak-anaknya untuk sekolah sampai ke Eropa.
Ketika Pram baru berusia 17 tahun, sang bunda meninggal. Toer yang bergabung dengan pasukan gerilya melawan agresi militer Belanda akhirnya juga kalah oleh TBC dan judi. Ketika Toer sekarat, betapa terlihat bahwa ia sebenarnya sangat menyayangi Pram, putra tertuanya itu. Sebelumnya, mereka terlibat konflik akibat tindakan Toer yang menyuruh Pram mengulang sekolahnya meski dinyatakan telah lulus, sebab sang ayah merasa anaknya itu masih bodoh. Dan dua lelaki beda generasi itu justru berdamai ketika maut memisahkan.
Prahara keluarga itu bergulir lagi ketika pecah kudeta 30 September 1965. Keluarga Toer tercerai-berai. Pram diasingkan ke Pulau Buru setelah berkali-kali dipindahkan. Beberapa adiknya, yaitu Wiek, Liek, dan Coes yang baru kembali dari Moskwa juga dikenai tahanan. Termasuk pula pamannya, Moedigdo. Bahkan, Coek, si bungsu, harus melarikan diri sampai ke Papua.
Kondisi keuangan keluarga pun morat-marit. Koesalah (Liek) yang waktu itu dibebaskan tak lama setelah penangkapannya, harus pontang-panting bekerja menyelamatkan nasib keluarga besar Toer. Yang memilukan, Koen, adik Pram yang lain, meninggal karena TBC. Sedangkan Wiek setelah bebas menjadi pesakitan yang pendiam dan mengasingkan diri. Padahal, ia adalah mantan pejuang yang turut bergerilya melawan Belanda hingga tangannya cacat.

Totalitas Pram
Dalam buku ini, kita bisa melihat totalitas Pram dalam menulis. Koesalah menceritakan bahwa Pram sangat disiplin dan teratur. Setiap hari, ia mulai menulis pukul 17.00 hingga 21.00 setelah tidur siang selama dua jam sebelumnya. Koleksi bukunya, baik yang berbahasa asing maupun lokal sangat lengkap. Pram juga mengkliping artikel-artikel dari koran. Ia juga kerap melakukan wawancara langsung, seperti yang dapat kita lihat dari bukunya “Perawan Remaja Dalam Cengkeraman Militer” yang menceritakan nasib malang para perempuan Indonesia yang dijadikan jugun lanfu oleh serdadu Jepang. Mereka terdampar di Pulau Buru ketika Jepang mengalami kekalahan di Perang Dunia II. Pram mewawancarai langsung korban-korban itu, yang sebagian besar berasal dari Jawa. Mereka telah renta dan tak pernah kembali lagi ke tanah kelahirannya.
Tak heran jika kita membaca karya-karyanya suasana dan tokoh yang ia ciptakan terasa begitu hidup, sebab banyak dari latar belakang dan setting yang dipakai benar-benar ada dalam kenyataan. Lihat saja tokoh Minke dalam Tetralogi Buru yang merupakan representasi Tirto Adhi Soerjo. Meski Tirto sudah meninggal 7 tahun sebelum Pram lahir, Pram mampu menggambarkannya seolah-olah menceritakan karibnya sendiri. Kita tentunya bisa membayangkan betapa tekun Pram mengumpulkan data dan memilah bahan-bahan karyanya, ketekunan yang jarang kita temui dari penulis masa kini.
Semasa menjalani tahanannya di Pulau Buru, Pram tak berhenti menulis. Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) lahir dari segala keterbatasan dan kekerasan yang ia alami di penjara.

cover buku

cover buku

Judul Buku : Bersama Mas Pram

Penulis : Koesalah Soebagyo Toer

Penerbit : KPG

Tahun terbit : Cetakan I, April 2009

Halaman : viii + 504 halaman

From → review buku

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: