Skip to content

Menyelami Mazhab Pendidikan Kritis

October 20, 2014

Selama ini, pendidikan dianggap sebagai jalan menuju dunia kerja yang diinginkan. Makin tinggi tingkat pendidikan, makin bagus pekerjaan yang didapat. Pandangan ini tak sepenuhnya salah. Hanya saja, ketika pandangan simplistik tersebut menjadi satu-satunya pijakan dalam penyelenggaraan pendidikan, lunturlah hakekat pendidikan untuk “memanusiakan manusia.”

Ideologi pasar saat ini telah mendistorsi nilai luhur pendidikan menjadi sekadar persaingan tak seimbang antara “sang pemenang” dan “si pecundang.” Sang pemenang dengan dukungan kapital melimpah, dengan mudahnya mengalahkan mereka yang lemah kapital. Si lemah hanya belajar di sekolah reyot dengan fasilitas serba kurang. Dalam hal ini, sarkasme “orang miskin dilarang sekolah” tepat sekali menggambarkan mati surinya dunia pendidikan.

Berangkat dari ketimpangan di atas, buku “Mazhab Pendidikan Kritis” yang ditulis oleh Agus Nuryatno hadir menawarkan pandangan alternatif di tengah mandulnya arus pemikiran pendidikan. Pendidikan kritis, yang oleh Henry Giroux (1993) disebut sebagai radical education, bertujuan memberdayakan kaum tertindas dan mentransformasi ketidakadilan sosial melalui media pendidikan (McLaren, 1998).

Agus Nuryatno mengelaborasi tiga basis teori yang melandasi mazhab pendidikan kritis: mazhab Frankfurt,  Gramsci, dan Freire.

Mazhab Frankfurt berakar dari tradisi Kant, Hegel, dan Marx. Yang utama dari teori kritis ini adalah teori sosial harus memainkan peran altof dalam mengubah dunia dan meningkatkan kondisi sosial kemanusiaan di masyarakat.

Sementara itu, Antonio Gramsci lebih memusatkan perhatian pada masalah hegemoni; kondisi sosial di mana semua aspek realitas sosial dikonstruksi dan didominasi oleh kelompok dominan (superior). Hegemoni ini terus didukung dan diperkuat oleh institusi-institusi masyarakat sipil semacam hukum, agama, media massa, termasuk pendidikan itu sendiri. Oleh karena itu, pendidikan sebenarnya tidaklah netral, sebab ada muatan politis dan kepentingan yang bermain di dalamnya.

Basis teori ketiga datang dari pakar politik pendidikan, Paulo Freire. Keberpihakan pada kaum tertindas (the oppressed) adalah poros utamanya. Kaum tersebut bisa dilihat dari dua ciri: Pertama, mereka mengalami alienasi (keterasingan) dari diri dan lingkungannya. Kedua, mereka mengalami self-depreciation (selalu merasa bodoh). Maka, kaum tertindas tersebut perlu diemansipasi dengan kesadaran kritis. Kesadaran ini bermaksud menjadikan manusia sebagai subyek ketimbang obyek. Maka, pendidikan menurut Freire sinonim dengan pembebasan.

Budaya positivistik dalam pendidikan

Dominasi kapitalisme di berbagai ranah kehidupan, khususnya pendidikan melahirkan budaya positivisme. Ilmu yang disuntikkan kepada peserta didik adalah ilmu yang mengorientasikan mereka pada dunia industri. Cara mengajar dan apa yang diajarkan di sekolah pun semata demi mengadaptasikan nilai-nilai dunia industri kepada peserta didik.

Pola pikir positivistik yang muncul adalah rasionalitas teknokratik yang dicirikan dengan konformitas dan uniformitas. Konformitas menghasilkan sikap pasif dan adaptif peserta didik terhadap teks (buku) dan konteks (realitas) yang mendegradasi sifat kritis mereka. Sedangkan uniformitas menciptakan—meminjam istilah Marcuse—pola pikir one-dimensional man and society (manusia dan masyarakat satu dimensi).

Kaitannya dengan mobilitas sosial, pendidikan diharapkan mampu meningkatkan taraf hidup peserta didik. Oleh karena itu, pendidikan yang berlangsung harus bersifat produktif, bukan reproduktif. Sayangnya, selama ini sekolah-sekolah masih berkutat pada aspek reproduktif. Sekolah-sekolah bermutu dan mahal melanggengkan dominasi kelompok yang kuat kapital atas kelompok tertindas dan lemah kapital.

***

Buku ini sangat bermanfaat bagi mereka yang bergelut di dunia pendidikan maupun pemerhati perkembangan pendiidkan. Ulasan yang padat dan detail merupakan nilai lebih buku ini, meski kadang memabukkan dengan teori-teori yang sekilas njelimet. Selamat membaca, dan jayalah pendidikan Indonesia!

Versi artikel panjang dimuat di Majalah DIDAKTIKA UNJ Edisi 36/2008.384797_2546855024489_1836438340_n

Data buku:

Judul: Mazhab Pendidikan Kritis: Menyingkap Relasi Pengetahuan Politik dan Kekuasaan

Penulis: Dr. M. Agus Nuryatno

Penerbit: Resist Book

Tahun: Juli 2008

Tebal: 133 + vii halaman

From → review buku

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: