Skip to content

Sayap Cinta yang Tak Lagi Terkepak

October 20, 2014

artikel ini dimuat di rubrik Perada Koran Jakarta (edisi 18 Juni 2011)

Novel ini pertama kali terbit dalam bahasa Arab berjudul Al-Ajnihah al-mutakassirah pada 1922. Versi bahasa Inggrisnya adalah Broken Wings. Setelah muncul beberapa versi dalam bahasa Indonesia, kini terbit versi terjemahan Sapardi Djoko Damono, penyair kondang negeri ini. Bahasa metaforis Gibran tentu lebih “terasa” dalam terjemahan Sapardi.

Menceritakan kisah percintaan antara seorang pemuda (yang juga narator) dan perempuan bernama Selma Karamy. Keduanya ditemukan oleh takdir, ketika si pemuda berkunjung ke rumah Farris Effandi Karamy, ayah Selma, yang juga teman lama dari ayah si pemuda.

Dalam beberapa kunjungan, si pemuda merasakan getaran cinta terhadap Selma. Malangnya, di malam ketika dua sejoli itu menyatakan perasaan, Farris memberikan kabar buruk bahwa ia harus menerima pinangan Mansour Bey Galib untuk putrinya. Mansour adalah kemenakan dari Uskup Bulos Galib, pemegang otoritas tertinggi gereja. Dalam hal ini, Gibran tak hanya menggali kisah percintaan saja, namun juga kesewenang-wenangan pihak gereja.

Setelah menikah, Selma tetap menemui si pemuda secara diam-diam sebulan sekali di sebuah kuil kuno. Kisah percintaan itu berakhir tragis. Pertemuan rahasia mereka makin dicurigai. Selma pun memutuskan untuk mengakhiri pertemuan itu. “Jangan menaruh perhatian padaku, Kekasihku, dan jangan merasa kasihan padaku sebab jiwa yang pernah melihat bayangan Tuhan, tidak pernah takut akan iblis. Dan mata yang pernah melihat Surga tidak akan dekat dengan rasa sakit dunia,” kata Selma (hlm 144).

Lima tahun setelah pernikahannya, Selma melahirkan bayi laki-laki. Persalinannya berakhir maut. Bayinya yang sudah lama didambakan oleh sang suami, meninggal tak lama setelah dilahirkan. Dengan kesedihan yang dalam, Selma pun berujar, “Ini aku, Anakku, bawa aku, dan mari kita tinggalkan gua yang gelap ini” (hlm 155). Sang ibu pun menyusul bayinya meraih kebebasan dari dunia fana.

Gibran, si narator, mengikuti pemakaman itu dari kejauhan. Kepada si penggali kubur ia berkata, “Di lubang ini Anda juga sudah menguburkan hatiku.” Ketika suasana makam telah sepi, pemuda malang itu pun menjatuhkan diri dan meratap di makam Selma.

Kisah cinta dalam Sayap-Sayap Patah ini tak terlalu istimewa. Lebih sederhana dibandingkan Romeo dan Juliet yang memiliki struktur lebih rumit. Namun, novel ini menawarkan keunggulan lain. “Bahasa yang sangat metaforis,” begitulah Sapardi menjelaskan keistimewaan karya Gibran dalam khazanah sastra dunia.

Peresensi adalah Eko Budi Nugroho, penulis dan penerjemah lepas

255163_2036644669549_6227734_n

Judul : Sayap-Sayap Patah

Penulis : Kahlil Gibran

Penerjemah : Sapardi Djoko Damono

Penerbit : Bentang

Tahun : I, April 2011

Tebal : xiv 162 halaman

Harga : Rp36.000.

From → review buku

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: