Skip to content

Wawancara dengan Pram

October 20, 2014

Satu-satunya sastrawan Indonesia, bahkan Asia Tenggara yang namanya berkali-kali masuk dalam nominasi penerima Nobel adalah Pramoedya Ananta Toer. Meskipun menuai kontroversial, terutama dari kaum Manifesto Kebudayaan yang menilai karya-karya Pram tidak layak untuk Nobel, Pram tetap lah menjadi salah satu sastrawan besar negeri ini.

Meskipun namanya telah mendunia dengan diterjemahkannya karya-karya Pram ke pelbagai bahasa, kehidupannya di dalam negeri berbeda seratus delapan puluh derajat. Pemenjaraan, siksaan, pembredelan, perampasan, bahkan juga penghinaan sudah biasa ia terima di negerinya sendiri

Buku kecil berjudul Saya Ingin Semua Ini Berakhir ini berisi esei panjang August Hans den Boef dan hasil wawancara Kees Snoek dengan Pram semasa hidupnya. Meskipun terbilang mini, namun buku ini menghadirkan sudut pandang ‘berbeda’ mengenai sosok Pram.

Dua intelektual negeri kincir angin tersebut mencoba menghadirkan pribadi Pram apa adanya, jauh dari prasangka dan stereotype yang melekat pada dirinya seperti komunis, atheis dan pemberontak. Karya-karya Pram pun dikritisi oleh Boef dalam eseinya yang secara obyektif tak hanya memuji kelebihannya namun juga memaparkan kelemahan-kelemahan dalam karya sang maestro.

Bagian pertama buku ini adalah esei dari August Hans den Boef, kritikus sastra dan jurnalistik Universitas Leiden. Esei berjudul Penulis Kronik Rakyat Kecil—Tentang Karya Pramoedya Ananta Toer itu mengelaborasi karya-karya Pram mulai dari masa awal kepengarangannya, karya-karya pentingnya, dan tentu saja masterpiece-nya, yakni Tetralogi Buru. Penulis juga menjabarkan riwayat hidup Pram yang keras yang kelak mewarnai corak tulisannya.

Esei Boef tersebut juga menolak tuduhan Orde Baru bahwa karya-karya Pram sarat akan nuansa Marxis. Meskipun beberapa bagian dialog dalam karya-karya Pram memang bernada Marxis, namun Pram sendiri mengaku tak pernah belajar Marxisme. Menurut Boef, Pram memang bukan sengaja untuk menyebarkan paham Marxisme, namun ia berpihak pada kebenaran dan anti penindasan.

Bahkan, Boef juga menganggap karya-karya Pram bukan termasuk dalam genre realisme sosialis seperti yang pernah didengungkan oleh Pram sendiri. Menurut Boef, karya-karya Pram lebih luwes dari sekadar ‘politik adalah panglima’ yang diusung oleh aliran sastra asal Soviet tersebut. Tak jarang, karya Pram berakhir dengan kemuraman yang bertentangan dengan hakikat realisme sosialis yang biasanya diakhiri dengan nada optimisme dan keteguhan untuk tetap berpijak pada revolusi.

Wawancara yang dilakukan oleh Kees Snoek dengan Pram berlangsung pada 1991, masa ketika tahanan rumah dan kota masih diberlakukan oleh rezim represif Soeharto terhadap Pram. Begitu ketatnya pengawasan pemerintah kepada Pram waktu itu hingga intel pengawasnya tinggal tepat di depan rumah Pram di Jalan Multikarya, Utan Kayu, Jakarta Timur. Snoek harus memarkir mobilnya jauh-jauh agar tidak mencurigakan.

Awalnya, Snoek hanya bertugas untuk menitipkan uang honorarium penerbitan karya Pram di luar negeri. Waktu itu, Pram dan keluarganya otomatis hanya mengandalkan kiriman uang dari luar negeri karena cap Tapol yang melekat di diri Pram membuatnya tak bisa bergerak. Buku-bukunya dilarang terbit, dibakar, bahkan anggota keluarganya yang lain juga dipersulit dalam karirnya. Contoh miris dari represi rezim itu adalah dua orang mahasiswa di Yogyakarta yang dijatuhi hukuman delapan tahun karena kedapatan menjual buku-buku Pram.

Wawancara tersebut berlangsung santai dan mengalir. Snoek membagi transkrip wawancara itu ke dalam beberapa sub bab: Remaja dan Masa Kolonial, Masa Pendudukan Jepang (Masa Persiapan Kemerdekaan), Zaman Soekarno, Penahanan dan Masa Kurungan, Pandangan Sosial Budaya.

“Semuanya yang dirampas, belum dikembalikan sampai sekarang, terutama sekali umur muda saya yang kreatif. Bagaimana mengembalikannya?” jawab Pram dengan sedikit emosional ketika Snoek menanyakan tentang kehidupan Pram yang dirampas puluhan tahun oleh tiga rezim penguasa (hal. 164).

Selain berbagai pengalaman Pram yang berdarah-darah sejak masa kolonial hingga Orde Baru, hasil wawancara itu juga memperlihatkan betapa pengetahuan sejarah Pram sangat tinggi. Kegigihannya untuk menguak sejarah bangsa demi rasa nasionalismenya bahkan membuatnya tergerak untuk pergi ke berbagai daerah di Jawa Timur di masa mudanya, berbicara dengan rakyat kecil dan ia rekam dalam kaset-kaset yang telah menumpuk satu peti.

Pram juga memuji Multatuli, nama pena Edward Douwes Dekker, penulis Max Havelaar. Meskipun karya itu ia anggap agak membosankan, namun Havelaar adalah karya pertama yang lantang bicara tentang penghisapan dan penindasan yang dilakukan oleh kaum kolonial terhadap kaum bumiputera. Ia berharap para politikus membaca Multatuli agar kenal sejarah bangsanya sendiri. Namun, ia apatis dengan elit politik saat ini. Menurutnya, “Saya yakin bahwa politisi sekarang ini tidak membaca apa-apa” (hal. 172).

Sejarah bangsa yang wajib dikenal oleh anak bangsanya sendiri terus diperjuangkan Pram. Karya-karyanya bicara tentang sebuah nation, Indonesia. Tetralogi Buru yang awalnya ia kisahkan secara lisan kepada para tahanan di Buru adalah penyemangat hidup di tengah keterpurukan dan hari esok yang tidak pasti. Ia pun hanya berharap, “Saya ingin lihat semua ini berakhir.” Namun, Pram telah menuntaskan tugas hidupnya pada 30 April 2006 lalu.

Judul                       : Saya Ingin Lihat Semua Ini Berakhir: Esei dan Wawancara dengan Pramoedya A. T.

Penulis                   : August Hans den Boef dan Kees Snoek

cover buku

cover buku

Penerbit                : Komunitas Bambu

Tahun                     : 2008

Tebal                      : 174 halaman

ISBN                       : 979-3731-20-6

From → review buku

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: