Skip to content

A.S. Roma vs Bayern Munchen, Antara Totti dan Guardiola

October 22, 2014

Yogyakarta, 22 Oktober 2014

 

Dini hari tadi saya berniat menonton salah satu partai Liga Champions Eropa, A.S. Roma vs Bayern Munchen. Sayang, SCTV lebih memilih menyiarkan langsung Barcelona vs Ajax. Jadi, saya menunggu laga tim kesayangan saya, A.S. Roma sambil mengantuk menyaksikan tayangan langsung yang kurang menarik itu. Tapi, karena saya mengantuk sekali, akhirnya saya pun tertidur pulas.

Pagi ini saya mengecek hasil pertandingan tersebut, dan di fans page Roma Club Indonesia, saya mengetahui bahwa tim ibukota Italia itu kalah 1-7 di kandangnya sendiri. Setengah kaget dan setengah mafhum saya merasakannya. Kaget karena hasil akhirnya begitu mencolok. Agak mafhum karena memang dari dulu A.S. Roma masih kurang memiliki pengalaman dan mental yang kokoh untuk bersaing di level Eropa. Tentu berbeda rasanya bertanding dalam liga domestik dan berjuang melawan juara-juara lain dari benua biru.

Satu hal yang menarik, pelatih Munchen, Pepp Guardiola, adalah mantan pemain yang sempat merumput di Olimpico pada 2001 kalau saya tidak salah, dan ia pun dulu kalah bersaing di lini tengah skuad A.S. Roma yang saat itu sangat solid sebagai juara serie A. Guardiola hanya bermain untuk Roma selama enam bulan. Pencapaian yang tentunya tidak mengesankan. Ia pun akhirnya pensiun dini empat tahun berikutnya. Bandingkan dengan il capitano Francesco Totti yang di usianya ke-38 masih aktif bermain untuk Roma dengan level yang tinggi.

Tetapi, ketidakberuntungan Guardiola sebagai pemain rupanya berbanding terbalik dengan peruntungannya sebagai pelatih. Ia sukses meramu Barcelona menjelma menjadi tim yang sangat menakutkan, tidak hanya di Spanyol tetapi juga di Eropa. Ia mendasarkan permainan Barcelona pada penguasaan bola yang kokoh dengan tiki-taka-nya yang khas dan variasi serangan yang sulit diterka ketika memasuki area pertahanan lawan. Di Munchen pun ia bisa dibilang sukses. Di musim pertamanya di tanah Bavaria, ia sukses membawa Thomas Muller cs merih titel juara Bundesliga.

Ada banyak hal yang dapat kita maknai dari satu laga dini hari tadi. Saya sebenarnya sangat ingin menyaksikan Francesco Totti bermain. Beberapa kali laga Roma di serie A tidak ditayangkan oleh stasiun TV lokal. Padahal, tentu sangat menyenangkan masih bisa menyaksikan sang legenda hidup itu. Ia adalah produk binaan tim primavera A.S. Roma. Totti sendiri bergabung dengan Roma sejak belia. Ia juga dipercaya menjadi kapten Roma pada usia awal dua puluh tahunan. Hingga kini pun, posisi dan perannya sebagai jenderal di lapangan tak tergantikan.

Totti pernah diincar klub-klub besar Eropa. Tak hanya di serie A, ia pernah diincar Real Madrid, Manchester United, dan lain-lain. Namun, rupanya ia sudah begitu jatuh hati pada A.S. Roma. Ia bertahan di klub ibukota ini, merasakan kejayaan, keterpurukan, dan upaya mengangkat kembali kejayaan itu bersama para pelatih Roma yang datang dan pergi silih berganti. Tak ada pemain yang begitu loyal dan bermain begitu lama untuk satu klub sepanjang karirnya seperti Totti. Bagi saya, ia bukan hanya sekadar bintang lapangan, dedikasi dan keteguhannya layak menjadikan ia panutan bagi siapa pun dalam bidang apa pun.

Guardiola, yang usianya tak terlampau jauh dari Totti, adalah fenomena lain. Mungkin ia adalah salah satu pelatih yang memili otak brilian. Jika dibandingkan pelatih lain, tentu ia masih terlalu muda untuk menangani klub-klub besar dengan sejarah prestasi fantastis semacam Barcelona dan Bayern Munchen. Tetapi, ia membuktikannya dengan segudang prestasi yang diraihnya bersama anak-anak asuhnya. Mungkin ia tidak terlalu sukses sebagai pemain sepak bola profesional, tetapi hal itu tidak membuatnya terpuruk dan meratapi nasib. Masih banyak peluang untuk meraih kesuksesan di bidang yang lain.

Cara Guardiola melirik peluang di bidang yang lain dapat kita jadikan contoh dalam mengupayakan alternatif pilihan dalam hidup. Ia tidak terpaku pada kemandekan karirnya sebagai pemain sepak bola. Cedera yang terus menghantuinya membuatnya sadar bahwa momentum sebagai pemain sepak bola sudah lewat. Ia tentu tak mungkin lagi memaksakan fisiknya yang memang sudah tidak memungkinkan untuk mencapai level tertinggi seperti sebelumnya. Maka, ia melihat alternatif lain. Ia mulai menjadi asisten pelatih Barcelona dan belajar banyak hal baru dari pelatih-pelatih yang lebih senior. Rupanya ia memang cerdas. Tidak membutuhkan waktu lama baginya untuk menjelma menjadi pelatih muda berprestasi yang disegani di Spanyol, bahkan Eropa. Seandianya saja waktu itu dia tidak memiliki keberanian untuk memutuskan gantung sepatu di usia yang masih relatif muda dan banting setir mempelajari ilmu kepelatihan, tentu ia hanya akan menjadi pemain tua yang sakit-sakitan dan rutin menghuni bangku cadangan di klub tidak terkenal. Tapi Pepp menolak itu, ia mengejar takdirnya sebagai orang yang patut dikenal dan disegani.

From → catatan harian

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: